Chapter 28
Tak ada yang melarang Nyimas Yuning Purnama belajar mengaji berlarut-larut, apalagi belajar dilakukan di lingkungan puri. Ki Bagus Sura pun bahkan terlihat bangga putrinya sungguh-sungguh mendalami agama. Sampai pada suatu saat Purbajaya mendapatkan kenyataan yang mengejutkan.
"Aku bersyukur kau mau membimbing anakku. Namun akan lebih bersyukur lagi kalau pada suatu waktu, engkau pun mau menerima anakku satu-satunya sebagai istrimu," kata Ki Bagus Sura.
Nyimas Yuning Purnama cantik, sama cantiknya dengan Nyimas Waningyun. Bedanya, Nyimas Waningyun bermata binar bagaikan bintang pagi dan sebaliknya Nyimas Yuning Purnama bermata redup namun menyejukkan hati. Nyimas Waningyun panas dan agresif menantang gejolak berahi hati muda, sementara Nyimas Yuning Purnama sendu namun membuat hati berdebar. Ya, Nyimas Yuning cantik secantik purnama dan memaksa siapa pun untuk berkasihan kepadanya. Purbajaya pun berkasihan dan bersimpati. Namun untuk perasaan cinta, dia masih ragu kendati peluang terbuka dengan lebarnya.
Purbajaya mengerti keadaan ini. Sudah dia ketahui sejak hari kedatangannya, bahwa sementara orang Sumedanglarang begitu bangga kepada orang Carbon yang dianggapnya banyak memiliki ilmu agama dan bisa membimbing orang menjadi baik. Semua orang bahkan percaya kalau Nagri Carbon itu dikukuhkan oleh Sang Wali Sembilan sebagai puser bumi agama Islam dan seluruh penghuninya orang-orang salih semua dalam menjunjung kiprah agama. Itulah sebabnya kalau hampir semua orang tua bercita-cita memiliki mantu lelaki Carbon.
Namun yang Purbajaya tak habis mengerti, Ki Bagus Sura malah dikecewakan oleh bangsawan yang datang dari Carbon. Dan lebih tak dimengertinya lagi, mengapa Ki Bagus Sura sepertinya "tak jera" menghadapi kekecewaan ini. Buktinya, kini hadir "pemuda Carbon" lain dan langsung percaya saja.
Di lain pihak, Purbajaya memiliki rasa bangga tersendiri. Namun di pihak lain, dia pun merasa prihatin. Prihatin oleh sikap Ki Bagus Sura. Dia adalah orang tua yang mudah tergoda oleh pengharapan. Harapan lamanya yang musnah, begitu saja tergantikan oleh harapan yang baru. Mungkin dia menginginkan nasib putrinya terangkat. Namun demikian, tetap saja dia telah mengorbankan kepentingan putrinya sendiri.
Dulu barangkali Nyimas Yuning tak mencintai Raden Yudakara. Tapi hanya karena ketaatan dan pengabdian kepada orang tua semata, maka dia terima keinginan Ki Bagus Sura. Sekarang, gadis itu malah sudah akan "dioper" kepada Purbajaya tanpa Nyimas Yuning dimintai pendapatnya. Ini yang membuatnya prihatin.
"Aku sadar, putriku sudah tak berharga lagi. Ibarat sekuntum bunga, dia sudah dipetik orang. Mungkin disimpan di sebuah jamban, namun bisa saja tergeletak begitu saja di rumpun kering. Keinginanku ini lebih didasarkan pada sebuah permohonan ketimbang sebuah cita-cita. Si Yuning ini hidupnya sedang goncang. Dia butuh orang untuk membimbingnya," tutur Ki Bagus Sura panjang-lebar.
"Sekarang pun saya tengah berusaha untuk membimbingnya..." kata Purbajaya pelan dan tak berani menatap orang tua itu.
"Yang aku maksud, dia butuh pelindung dan penjaganya. Dia butuh ketentraman hidup. Hidup seorang wanita baru terasa tentram kalau ada yang mengayominya. Dia butuh seorang lelaki. Bukan hanya berupa seorang ayah, namun jauh lebih berarti dari itu..."
"Tapi mengapa musti saya?"
"Engkau terlihat memenuhi harapanku, anak muda. Kendati usiamu masih sangat muda, tapi kau berpikiran dewasa. Kendati kau bukan seorang bangsawan, tapi wawasan berpikirmu sungguh luas. Engkau juga amat sederhana dan tak sombong akan kemampuan diri," Ki Bagus Sura habis-habisan memuji Purbajaya yang menjadi kikuk karenanya.
"Maafkan aku terlalu berani mengemukakan hal ini, padahal sudah aku katakan tadi bahwa putriku tak berharga..." akhirnya Ki Bagus Sura "tahu diri".
"Bukan itu maksud saya..." Purbajaya jadi serba salah. Dia takut kalau Ki Bagus Sura jadi keliru menafsirkan dan malah tersinggung dengan sikapnya ini. Dan Purbajaya semakin khawatir ketika orang tua itu nampak menunduk lesu sepertinya harapannya didepak sudah.
"Berita ini terlalu tergesa-gesa datangnya," kata Purbajaya termangu. Ki Bagus Sura kini baru mau menatap Purbajaya. Sepertinya dia kembali memperoleh harapannya lagi.
"Kuakui memang tergesa-gesa. Aku sadar kalau urusan seperti ini tidak seyogyanya dilakukan secara begini. Engkau perlu waktu untuk mempelajarinya terlebih dahulu," kata Ki Bagus Sura.
"Begitu kira-kira yang saya maksud..."
"Ya, pikirkanlah hal ini, Purba. Namun engkau harus tahu bahwa ini adalah harapanku yang amat sangat kepadamu," ungkap orang tua itu sepenuh hati. Purbajaya mengangguk dan mencoba akan berusaha memikirkan "tawaran" ini.
Malam hari Purbajaya jadi susah tidur. Obrolan di senja hari bersama Ki Bagus Sura ini ternyata amat mengganjal hati dan perasaannya. Tidak diragukan, sebenarnya Purbajaya pun senang melihat kecantikan Nyimas Yuning Purnama. Hampir semua pemuda di Sumedanglarang kabarnya sama mendambakan kasih gadis itu. Hanya menandakan bahwa Nyimas Yuning memang gadis yang punya nilai lebih dibandingkan dengan gadis-gadis istana lainnya. Kalau tak begitu, tak akan nanti semua pemuda bangsawan saling berebut ingin memilikinya.
Purbajaya sebagai pemuda normal, tentu sama dengan yang lainnya, yaitu melihat Nyimas Yuning Purnama sebagai gadis istimewa. Gadis itu penampilan karakternya sungguh bersahaja dan tak mengada-ada. Tutur katanya sopan, tidak pula terhadap dayang pengasuhnya. Wajahnya jauh dari sederhana walau pun pupur yang dikenakan di wajahnya amat sederhana. Justru kesederhanaan pupurnya ini semakin memperlihatkan kecantikannya yang asli. Sudah Purbajaya katakan bahwa orang tuanya memberikan nama "Purnama" karena wajah gadis itu bak purnama di subuh hari. Redup namun cemerlang tanpa gangguan awan.
Ya, sebagai pemuda normal, Purbajaya tentu tertarik kepada gadis ini. Namun di hati pemuda ini banyak tabir menghalangi. Salah satu di antaranya adalah trauma terhadap apa yang bernama cinta-kasih. Tak bisa disembunyikan lagi kalau peristiwa yang menyangkut nama gadis Nyimas Waningyun telah dan selalu membekas hingga kini. Purbajaya bukan merasa iri gadis itu digaet Raden Yudakara. Bila benar mereka bergandengan tangan berdasarkan cinta-kasih, Purbajaya akan merelakannya. Namun yang segalanya jadi membekas sedih di hati Purbajaya, betapa susah sebenarnya menimba cinta-kasih itu.
Purbajaya tak boleh gegabah. Tak boleh asal-asalan. Tak boleh memiliki aji-mumpung. Mumpung diberi kepercayaan, maka bagaikan kucing melihat tikus, tidak dipikir dua kali langsung diterkamnya dengan rakus. Purbajaya tak suka itu. Cinta tak boleh dilakukan hanya karena terkuaknya peluang. Betapa Nyimas Waningyun gadis bangsawan Carbon rela menyerahkan jiwa raganya. Namun belakangan ternyata gadis itu bukan jodohnya. Sekarang peluang terkuak lagi. Namun Purbajaya tak boleh semberono menerimanya.
Cinta-kasih itu bukan permainan benda mati. Ada hati dan perasaan yang ikut berperan dan itu yang menentukan segalanya. Purbajaya memang amat menyukai kecantikan anak bangsawan Bagus Sura ini. Namun cintakah dia kepada Nyimas Yuning Purnama? Dan lagi hal lain yang sama-sama tak boleh diabaikan, cinta jugakah Nyimas Yuning kepadanya? Antara Nyimas Waningyun dan dirinya mungkin terjadi cinta sehingga keduanya sepakat akan berbuat hal-hal yang dianggap akan merunyamkan keadaan. Namun dengan Nyimas Yuning belum tentu ada tali benang merah yang mengikat kendati sikap orang tuanya begitu menyetujuinya.
Memang akhir-akhir ini gadis itu semakin dekat kepadanya. Tapi hal ini punya alasan lain, yaitu gadis itu ingin mempelajari agama lebih dalam. Atau, benar-benarkah belajar mengaji hanya digunakannya sebagai batu loncatan agar gadis itu selalu berdekatan dengan dirinya? Pemuda itu menampar pipinya sendiri. Gila, lamunan itu terlalu jauh!
***
Malam ini bulan kembali benderang. Anak-anak santri yang lain kembali "tergoda" untuk memilih latihan kewiraan bersama Ki Dita. Ini hanya punya arti bahwa untuk ke sekian kalinya di paseban hanya tinggal Purbajaya berdua dengan Nyimas Yuning Purnama. Untuk ke sekian kalinya duduk saling berhadapan, hanya terbatasi oleh bantal berlapis kain satin biru buatan Negri Campa sebagai alat penopang Kitab Suci. Tentu tak begitu jauh. Jadi Purbajaya bisa leluasa menatap wajah anggun gadis itu.
Nyimas Yuning memang tengah tak sadar kalau wajahnya ditatap terus Purbajaya sebab dia tengah tekun membaca lafadz Kitab Suci. Suaranya pelan namun merdu mengalun. Sepertinya gadis itu tengah bernyanyi melantunkan lagu indah. Bibir itu bergerak-gerak mungil bagaikan menantang. Hidungnya yang kecil mancung kembang-kempis karena desahan. Amboi, hidung itu bersemu merah dan sesekali disekanya dengan setangan sutra yang sejak tadi dipegangnya di tangan berjari-jari lentik.
Purbajaya menahan napas. Kalau peristiwa ini terjadi beberapa bulan silam dan bukan di saat mengaji seperti ini, tentu gadis itu sudah digodanya. Betapa tidak. Purbajaya pada dasarnya adalah seorang periang. Dia teringat masa-masa indah bersama Nyimas Waningyun. Pertama berkenalan dengan gadis itu dilaluinya dengan cara-cara yang lucu dan konyol. Ketika gadis itu tengah bersampan di kolam Taman Petratean Istana Pakungwati, secara diam-diam Purbajaya melubangi lunas perahu. Akibatnya, semua penumpang berteriak-teriak karena perahu akan tenggelam. Penumpang berloncatan panik namun tak bisa berenang. Purbajaya segera tampil sebagai "pahlawan" dan menyelamatkan Nyimas Waningyun. Itulah saat pertemuan dengan gadis manis dan periang itu. Belum berlalu setahun.