Chapter 29
Namun, waktu sesingkat itu telah mengubah segalanya.
Nyimas Waningyun sudah dipersunting Raden Yudakara, dan Purbajaya telah menjadi guru mengaji.
Karena sudah menjadi guru, perilakunya pun berubah, menjadi "dipaksa" untuk dewasa.
Mana mungkin seorang guru berbuat menggoda murid wanitanya?
Itu aib namanya.
Maka dari itu, Purbajaya lebih terkesan sebagai seseorang yang pendiam dan tutur katanya selalu serius.
Senyum tentu masih membekas, namun jauh dari keceriaan seorang belia.
Purbajaya ingin mengaku, semua perubahan ini tentu karena figurnya seorang guru, dan bukan karena sisa-sisa cinta yang terpuruk.
Kendati menyukai Nyimas Yuning Purnama, secuil pun ia tidak berniat menggoda gadis itu dengan celoteh lucu dan bengal seperti hari-hari sebelumnya.
Ia memang sedang menatap paras gadis cantik itu, tetapi bukan tatapan penuh berahi.
Tatapan ini lebih berkesan sebagai pelampiasan rasa kasihan dan iba hati.
Gadis itu bernasib malang.
Kecantikan parasnya tidak membawa berkah baginya, kecuali menjadi permainan keserakahan laki-laki semacam Raden Yudakara.
Kini, oleh ayahandanya, sepertinya gadis itu akan "diserahkan" kembali kepada lelaki lainnya.
Mungkin Purbajaya tak sekejam Raden Yudakara.
Mungkin saja Purbajaya sanggup memberikan penghargaan kepada gadis itu dengan rasa cinta yang tulus.
Namun demikian, ia tetap merasa iba.
Kalau pun ada cinta, itu hanyalah cinta yang berdasarkan iba semata.
Betapa karena ingin melihat gadis itu terobati lukanya, ia diserahkan oleh ayahandanya kepada Purbajaya.
Bila Nyimas Yuning akhirnya dipersunting, Purbajaya bukannya bahagia, melainkan menjadi sedih, sedih karena nasib gadis itu yang buruk.
Purbajaya tak habis mengerti, mengapa Ki Bagus Sura tidak pernah mencoba menguak perasaan putrinya.
Mungkin hati kecil gadis itu tidak suka dianggap benda mati yang bisa digeser ke sana kemari.
Cinta sebenarnya tidak untuk dipaksakan.
Tidak pula bagi seorang janda.
Purbajaya kembali menatap wajah gadis itu.
Ia anggun, ia cantik.
Kasihan kalau keanggunan dan kecantikannya hanya digilir ke sana kemari tanpa perasaan cinta ikut serta.
Namun Purbajaya tahu, gadis itu tentu tak kuasa menentang kehendak ayahnya. "Ya, kalau ibunya telah tiada, kepada siapa lagi ia akan menurut dan mengabdi kalau tidak kepada ayahandanya?" pikir Purbajaya. Ia tahu banyak anak gadis kehilangan cinta kasih remaja hanya karena ingin berbakti kepada orang tuanya.
Malam ini gadis itu tidak terlalu banyak bicara.
Kecuali suara lantunannya yang merdu di malam yang sepi ini.
Purbajaya menduga, gadis ini tak banyak bicara karena mungkin sudah tahu kehendak ayahandanya dan ia tak suka keputusan itu.
Kalau benar begitu, Purbajaya jadi tidak enak hati.
Kalau benar begitu, Purbajaya harus segera berbicara lebih dulu dan mengemukakan isi hatinya.
Ia harus mengatakan yang sebenarnya agar tidak menjadi siksaan bagi gadis itu.
Ya, harus malam ini, sebab esok hari Purbajaya diajak Ki Bagus Sura untuk melakukan perjalanan muhibah ke Karatuan Talaga.
Sebelum ia pergi, isi hatinya yang sebenarnya harus diketahui dulu oleh Nyimas Yuning Purnama.
Suara merdu Nyimas Yuning Purnama berhenti.
Mengajinya selesai.
Setelah menghirup udara sejenak, gadis itu menatap Purbajaya.
Kebetulan pemuda itu pun sedang menatapnya, sehingga tak pelak dua pasang mata beradu pandang.
"Nyimas..."
"Ustaz..."
Keduanya bertatap muka lama kembali.
Namun Nyimas Yuning kalah lebih dahulu.
Gadis itu menunduk dengan rona merah di wajahnya.
Belakangan Purbajaya pun ikut menunduk dan sepasang pipinya terasa panas.
Lama mereka saling berdiam diri, dan hal ini tidak membuat hati Purbajaya semakin tenang.
"Nyimas... sepertinya ada yang ingin kau katakan padaku," kata Purbajaya pada akhirnya.
"Malah saya yang menduga, Ustazlah yang sepertinya punya sesuatu yang akan disampaikan kepada saya," Nyimas Yuning balik bertanya.
Kembali Purbajaya menunduk.
Untuk beberapa lama lidahnya kelu kembali.
"Mengapa, Ustaz?"
"Ada memang yang akan saya katakan. Tapi saya khawatir, engkau tidak akan senang mendengarnya," kata Purbajaya sejujurnya.
Pemuda ini memang jadi berpikir lain. Bagaimana seandainya gadis itu sebenarnya ingin dipersunting olehnya? Bukankah bila ia tidak mengakui mencintai gadis itu, maka akan terjadi musibah derita yang kedua bagi gadis itu? Ah, Purbajaya jadi serbasalah.
"Nyimas... silakan engkau saja yang berbicara lebih dulu," akhirnya Purbajaya memutuskan.
Kini giliran Nyimas Yuning Purnama yang terlongong-longong diam.
Sepertinya gadis itu memendam perasaan bingung untuk menyampaikan sesuatu.
"Mengapa, Nyimas?"
"Kalau saya sampaikan, takut menyinggung perasaanmu, Ustaz..." jawab gadis itu berani menatap Purbajaya.
Purbajaya kembali menatapnya.
"Tentu ini menyakitkan sebab tak biasanya seorang gadis mengemukakan kehendak," ujarnya lagi.
"Katakanlah apa adanya, Nyimas," potong Purbajaya tak sabar, sebab ucapan gadis ini semakin membuatnya penasaran.
Namun ditantang seperti ini, malah gadis itu kembali menundukkan kepalanya.
Dan hal ini semakin menambah rasa penasaran Purbajaya.
"Jangan ragu, ucapkanlah, Nyimas," Purbajaya mendesak.
Ia sudah menduga kalau pada akhirnya gadis itu akan tunduk kepada keinginan ayahandanya, yaitu pasrah untuk dijodohkan dengannya.
Barangkali juga tidak sekadar menaati keinginan orang tua semata, melainkan juga karena hasratnya.
Sekali lagi Purbajaya berkeyakinan bahwa sudah umum gadis di sini mengharap dipersunting oleh pemuda asal Carbon.
Setelah agak lama membisu, akhirnya Nyimas Yuning berkata juga.
Rentetan kalimatnya tenang, tak tergesa-gesa, dan ada kesan diucapkan dengan penuh kehati-hatian.
"Saya sudah diberitahu perihal maksud Ayahanda..."
"Oh, ya? Tentang apa?" Purbajaya pura-pura terkejut.
"Tentang rencana pertalian jodoh kita," Nyimas Yuning Purnama berkata dengan nada agak bergetar.
"Hm... lalu, bagaimana?"
"Bolehkah saya mengemukakan keinginan?"
"Engkau adalah orang merdeka, tentu boleh saja mengemukakan apa pun yang ada di hatimu, Nyimas," kata Purbajaya mulai mencoba memecahkan teka-teki.
Lalu Nyimas Yuning Purnama terdiam lagi sejenak.
Ia menghirup udara dalam-dalam seolah-olah ingin mengumpulkan tenaga agar kata-kata yang akan diluncurkannya kelak tidak mandek lagi di tengah jalan.
Lama sekali.
"Ucapkanlah, Nyimas..." Purbajaya kian tak sabar.
"Kalau boleh saya punya keinginan, saya ingin menolak pertalian jodoh ini..." Nyimas Yuning Purnama berkata sambil tetap menunduk.
Sepertinya betul ia takut ucapannya menyinggung perasaan orang yang mendengarnya.
Purbajaya terhenyak untuk seketika.
Duduknya tegak namun diam mematung.
"Tersinggungkah Ustaz oleh ucapan saya ini?" tanya gadis itu kemudian.
Tampak sekali ada mimik penuh khawatir di wajahnya.
Namun Purbajaya malah senyum dikulum.
Ia mengangguk-angguk.
Dan senyumnya tetap tidak hilang.
"Mengapa mesti tersinggung?" Purbajaya masih juga tersenyum.
Ditatapnya wajah gadis itu lama-lama.
Tadinya ia pun ingin mengatakan kalau dirinya sebenarnya kurang setuju dengan keinginan Ki Bagus Sura, namun maksud ini ia urungkan.
Ia tetap khawatir kalau gadis itu malah yang tersinggung.
"Sungguh, saya tidak tersinggung oleh ucapanmu, Nyimas..." ungkap lagi Purbajaya.
"Kalau begitu, tentu Ustaz tidak mencintai saya..." potong gadis itu.
Purbajaya menghentikan senyumnya.
Inilah memang salah satu keanehan seorang wanita.
Mengapa ada pertanyaan seperti itu yang meluncur keluar dari benaknya, padahal menurut hemat Purbajaya tidak perlu dikemukakan.
"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Yang penting, saya sekarang tahu bahwa Nyimas menolak urusan perjodohan," jawab Purbajaya memotong harapan gadis itu.
"Saya pasti menyinggungmu..."
"Tidak. Bahkan saya bahagia. Engkau punya keberanian dalam mengemukakan kehendak. Saya berkeyakinan, siapa pun berhak mengemukakan apa yang ada di lubuk hatinya, termasuk dalam urusan cinta kasih. Sudah terbiasa memang, orang muda berkorban dalam cinta hanya karena berbakti kepada orang tua. Padahal, jangan campur adukkan cinta kasih dengan bakti kepada orang tua. Cinta kasih adalah urusan pribadi. Yang akan melakukannya pun pribadi masing-masing dan bukan perintah dari pihak lain. Kalau kau tidak suka, maka tidak perlu memaksakan diri. Cinta kasih adalah kebahagiaan dan bukan pengorbanan. Maka dari itu, tidak baik perasaan cinta dilalui dengan duka," ujar Purbajaya lirih dan panjang lebar.
Nyimas Yuning menatap lama, setelah itu tersenyum cerah, sepertinya ia mendapatkan dorongan moral dalam mengukuhkan pendapatnya.
"Tapi saya ini tetap saja seorang wanita. Kepada Ayahanda, saya tidak bisa bicara seperti ini," keluh gadis ini.
Dan Purbajaya mengerti maksudnya.
"Biar saya yang membantumu bicara," potong Purbajaya.
"Bagaimana caranya?"
"Tentu akan saya katakan bahwa sebenarnya saya tidak mencintaimu. Jadi, perjodohan ini harus dihapuskan. Begitu kan, beres?"
Nyimas Yuning merenung sejenak, sepertinya tengah mempertimbangkan usul ini.
"Engkau yang merugi sebab Ayahanda pasti menyalahkanmu," gumam gadis itu kemudian.
"Yang penting, Ayahandamu semakin menyayangimu, Nyimas. Betapa menyakitkan seorang gadis secantikmu ditolak pria. Dan Ayahandamu pasti semakin iba padamu sebab disangkanya kau terus-menerus dirundung malang," kata Purbajaya tak sadar.
Belakangan ia baru tahu kalau ucapannya ini membuat wajah gadis itu murung.
"Tapi maafkan ucapan saya ini, Nyimas," sambung Purbajaya.
"Tak apa, Ustaz. Namun sebetulnya saya malu kalau ada orang mengatakan saya gadis malang," jawab gadis itu.
"Jodoh adalah urusan Tuhan. Apa pun yang dikehendaki Tuhan, pasti itu yang terbaik bagi umat-Nya. Jadi, saya tidak berani berkata kalau keputusan Tuhan dianggap sebuah kemalangan," sambungnya.
Terasa ditampar pipi Purbajaya oleh pendapat gadis itu.
Ya, ia bodoh.
Mengapa seorang guru agama malah tidak becus berbicara benar dan melantur ke mana saja.
"Maafkan sekali lagi, saya menyakiti hatimu, Nyimas."
"Tidak. Malah saya yang harus kau maafkan."