Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 30

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 30

"Aku menyakitimu karena berani menolak perjodohan," bantah gadis itu.

Purbajaya menggelengkan kepalanya.

"Betulkah engkau tidak sakit hati?" Nyimas Yuning masih penasaran.

"Tidak." Sepasang mata gadis itu tampak berkaca-kaca.

Purbajaya tidak tahu mengapa gadis itu justru meneteskan air mata. Hingga gadis itu pergi dan menghilang dari pandangan matanya, Purbajaya tetap belum mengerti makna air mata tersebut.

Masih tersisa satu hari lagi sebelum meninggalkan Sumedanglarang. Ini berarti Purbajaya masih diberi kesempatan bertemu Nyimas Yuning Purnama satu malam lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, gadis itu duduk bersimpuh dengan anggun di atas bale-bale, saling berhadapan dengan Purbajaya.

"Ke mana santri lainnya, Nyimas? Apakah mereka lagi-lagi berlatih kewiraan di padepokan Ki Dita?" tanya Purbajaya heran.

"Yang saya tahu, tidak ada latihan kewiraan di sana. Barangkali mereka masih di perjalanan," jawab gadis itu sembari membenahi kerudung sutra putihnya.

"Kita tunggu saja mereka sebelum pelajaran dimulai," usul Purbajaya.

Sudah beberapa kali dia hanya mengajar Nyimas Yuning. Ini artinya, untuk beberapa kali ini dia hanya berduaan saja dengan gadis itu. Sambil menunggu yang lain tiba, akhirnya kedua muda-mudi ini mengobrol. Purbajayalah yang lebih banyak berbicara.

Setelah ditunggu beberapa lama, para santri lain akhirnya datang. Namun, Purbajaya mengerutkan dahi sebab di belakang mereka ada beberapa pemuda yang ikut serta dengan perangai mencurigakan.

"Kalian kami tunggu lama sekali, ke mana sajakah?" tanya Purbajaya kepada para santri.

Namun, yang menjawab justru pemuda asing di belakang para santri itu.

"Mengapa harus menunggu anak-anak lain, bukankah lebih asyik berduaan saja?" kata salah seorang dari kelompok pemuda itu. Wajahnya tampan, tetapi mimiknya angkuh.

Purbajaya mengamati semua pemuda asing itu. Usia mereka barangkali sebaya dengannya, atau lebih muda satu dua tahun. Wajah mereka cukup tampan dan berpakaian santana (golongan menengah), menandakan bahwa mereka adalah anak-anak orang berada. Karena bisa masuk ke puri sesuka hati, barangkali mereka adalah anak-anak bangsawan setempat.

Purbajaya berhadapan dengan pemuda yang baru saja bicara. Kulit wajah pemuda itu putih bersih. Rambutnya bergelombang hitam dan diikat kain halus warna nila. Matanya tajam serta sepasang alisnya tebal bagaikan sepasang golok melengkung. Hanya saja, Purbajaya tidak menyukai hidung pemuda ini yang melengkung, mengingatkannya pada Raden Yudakara yang berperilaku sombong namun penuh misteri.

"Saya tidak mengerti perkataanmu, Sobat..." kata Purbajaya pelan.

"Aku hanya ingin tanya, apa pekerjaanmu di sini?" tanya pemuda itu sambil bertolak pinggang.

"Tanyalah pada anak-anak santri ini. Kehadiran saya di sini adalah untuk mengajar mereka mengaji," jawab Purbajaya.

"Mengajar mengaji? Mengaji atau mengobrol berduaan di malam hari begini sambil sesekali berbisik dan mengobral senyum?" Pemuda itu tertawa, diikuti oleh tawa teman-temannya.

"Kalian ini bukan pasangan sah. Guru dan murid lagi. Mengapa kerjanya hanya berduaan saja?" tanya yang lainnya. Tampak sekali semua pemuda ini hendak menekan Purbajaya.

"Kami tidak melakukan hal apa pun, apalagi yang dilarang agama," tutur Purbajaya lagi.

Namun, terdengar lagi kekehan mengejek dari para pemuda itu.

"Dengarlah, kawan-kawan, betapa pintarnya si hidung belang ini berkilah. Santri lain disuruh pergi berlatih kewiraan, sementara dia berupaya menggoda janda muda yang cantik! Hai teman, mari hajar si bedebah ini!" kata si pemuda tampan sambil bergerak maju.

Teman-temannya yang berjumlah sekitar lima orang serentak ikut maju. Purbajaya tidak punya kesempatan untuk menghindar, maka bentrokan pun terjadi. Dia seorang diri dikeroyok lima orang pemuda. Purbajaya melompat ke arah tempat yang lebih lapang agar tidak menyulitkan gerakannya. Sementara itu, Nyimas Yuning berseru agar pertikaian dihentikan. Beberapa anak santri justru menyingkir agak jauh, seolah membiarkan pertempuran berlangsung. Santri putri kebanyakan sudah melarikan diri untuk mencari selamat.

Kelompok pemuda ini membentuk lingkaran untuk mengepung Purbajaya. Mereka terus bergerak memutar. Yang aneh, kuda-kuda mereka begitu indah dan gerakannya menyerupai tarian. Purbajaya mengenal beberapa ilmu kewiraan; ada yang diperlihatkan dengan gaya keras, ada pula yang dikemas dengan lembut. Purbajaya bahkan tahu bahwa ilmu kewiraan yang dikembangkan oleh Ki Dita mengutamakan kelembutan gerak. Kabarnya, dalam melatih ilmu ini, jurus-jurus Ki Dita diiringi dawai kecapi dan tiupan suling. Bagi orang awam, gerakan indah itu hanyalah tarian biasa, padahal di balik kelembutan itu terdapat tenaga dahsyat yang membahayakan.

Namun demikian, tenaga dahsyat yang dikemas kelembutan ini harus dimainkan oleh orang yang memiliki kelembutan hati pula dan jauh dari emosi. Purbajaya sangsi apakah kelima orang itu sanggup memainkan jurus ini dengan baik. Purbajaya sedikit terkejut melihat gerakan mereka. Jangan-jangan kelompok pemuda ini adalah murid-murid Ki Dita. Jika benar, dia perlu berhati-hati. Bukan karena takut, melainkan ia khawatir urusan malam ini akan menyulut pertikaian antara Ki Bagus Sura dengan Ki Dita atau majikannya, Ki Sanja, yang memang tidak memiliki kesesuaian paham.

Purbajaya tidak bisa berpikir lama sebab serangan datang beruntun. Serangan itu dilakukan dengan menampilkan tarian lembut. Namun, ketika ada sodokan kepalan tangan mengarah ke ulu hati, Purbajaya merasakan adanya terjangan angin pukulan. Sodokan dilakukan oleh pemuda tampan itu. Mulanya diawali oleh gerakan meliuk telapak tangan kiri dari atas ke bawah. Purbajaya sempat terpesona oleh liukan itu hingga hampir terlupa pada serangan sodokan tangan kanan yang meluncur dari balik tangan kiri.

Purbajaya terkejut, namun tidak merasa khawatir sebab desiran angin pukulan yang dilontarkan tidak terasa deras, menandakan si pelaku tidak menyertakan tenaga dalam yang kuat. Sebenarnya Purbajaya dengan mudah bisa menepis serangan ini jika saja tidak datang serangan lain secara bersamaan dari samping kirinya berupa tendangan lurus ke arah pinggang, serta sodokan lain dari samping kanan.

Purbajaya tidak panik. Ki Jayaratu, gurunya di Cirebon, pernah mengatakan bahwa tubuh manusia dilengkapi pertahanan yang sempurna. Sepasang tangan dan kaki adalah senjata sekaligus alat pertahanan yang ampuh. Dalam latihan bela diri di Cirebon, Purbajaya kerap dilatih menghadapi pengeroyokan belasan hingga puluhan orang. Oleh karena itu, menghadapi enam orang ini, Purbajaya tetap tenang.

Ada tiga serangan yang datang bersamaan. Bila serangan ini ditepis satu per satu, Purbajaya tidak akan sempat. Maka, satu-satunya cara adalah memanfaatkan serangan lawan untuk menyerang balik mereka sendiri.

Ketika sodokan dari depan meluncur, Purbajaya menarik langkahnya ke belakang. Kepalan tangan musuh yang terlanjur menyodok ia tangkap erat dan ia gunakan untuk menangkis pukulan yang datang dari samping kanan. Pemukul dari depan menyeringai kesakitan karena pergelangan tangannya terkena pukulan temannya sendiri.

Sementara itu, dari arah kiri meluncur tendangan keras dan cepat. Namun, tendangan itu justru menyapu dua tangan temannya sendiri dengan keras. Terdengar jeritan dari dua mulut hampir bersamaan. Si pelaku tendangan terlihat kaget tidak menyangka serangannya mengenai teman sendiri. Sebelum rasa kagetnya hilang, dia pun menjerit karena pahanya dipukul keras oleh Purbajaya. Pukulan itu hanya mengandalkan tenaga kasar; jika menggunakan tenaga dalam, paha beserta tulangnya mungkin akan hancur.

Dalam satu gebrakan, tiga orang sudah dilumpuhkan. Kini tinggal tiga orang lagi. Purbajaya menunggu serangan baru, namun setelah ditunggu beberapa saat, serangan tidak kunjung datang. Ternyata tiga orang sisanya sudah menghilang di kegelapan. Sementara tiga orang lainnya mengundurkan diri sambil meringis menahan sakit, persis anjing yang terkena pukul.

Anak-anak santri pun menghilang. Kini tinggallah Purbajaya dan Nyimas Yuning.

"Siapakah mereka, Nyimas?"

"Mereka adalah murid-murid Ki Dita. Yang terlihat begitu marah padamu adalah Aditia, putra tunggal Ki Sanja," Nyimas Yuning Purnama menerangkan dengan nada sedih dan tersirat kekhawatiran.

"Hanya itu, Nyimas?"

"Di kalangan sesama anak bangsawan, Aditia disegani para pemuda lainnya."

"Apakah seharusnya saya pun segan padanya, Nyimas?" tanya Purbajaya.

Nyimas Yuning hanya menjawab dengan helaian napas. Purbajaya masih belum mengerti apa yang dirisaukan gadis ini.

"Barangkali kita akan mendapatkan petaka..." gumam Purbajaya menduga jalan pikiran gadis itu.

Belum sempat kalimatnya berakhir, sekelompok orang datang ke tempat itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment