Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 31

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 31

Mereka adalah pemuda, termasuk Aditia, yang diikuti oleh seorang tua di belakangnya.

Nyimas Yuning berbisik bahwa orang tua itu adalah Ki Dita.

Begitu berhadapan dengan Purbajaya, para pemuda itu langsung saja memarahi dengan berapi-api.

Semua telunjuk mereka diarahkan ke hidung Purbajaya.

"Ki Guru, inilah dia Si Anak Bengal itu.

Lihatlah, Si Muka Tebal ini meskipun sudah kami usir, namun tetap saja merayu Nyimas Yuning.

Diberi peringatan, dia malah marah-marah dan memukuli kami.

Dia pasti pemuda jahat dan menyelundup ke sini berpura-pura menjadi guru mengaji!" kata salah seorang dari para pemuda itu sambil menunjuk-nunjuk hidung Purbajaya.

Pemuda itu bertubuh ceking, seperti kurang makan.

Ki Dita yang bertubuh gemuk dengan wajah bulat dan berkumis tebal itu tidak langsung menyambut pengaduan ini.

Dia hanya meneliti Purbajaya dengan tatapan tajam.

Purbajaya tidak membalas tatapan.

Bukannya ia takut kepada Ki Dita.

Tetapi ia berpikir, alangkah tidak sopan membalas tatapan pada orang tua, apalagi Ki Dita adalah seorang guru yang disegani di sini.

Namun, sebelum kejadian selanjutnya berlangsung, tiba-tiba datang pula Ki Bagus Sura.

Dia tampak tergopoh-gopoh mendatangi tempat di mana banyak orang berkumpul.

"Ki Guru Dita, ada apakah ini?" tanyanya sambil mengerutkan alis.

Ki Bagus Sura bertanya dengan nada halus, namun kerutan alisnya menandakan bahwa orang tua ini tidak senang ada orang bergerombol memasuki wilayah purinya.

Ki Dita belum menjawab, kecuali memandangi para muridnya satu per satu.

Terakhir, ia memandangi Aditia seolah-olah Ki Dita meminta agar anak muda itu yang mewakilinya berbicara.

Dan benar saja, sebab Aditia maju dan langsung menyampaikan apa yang terjadi.

"Ki Bagus, apakah engkau tidak tahu bahwa pemuda culas ini setiap malam pekerjaannya merayu putrimu?" tanya Aditia ketus.

Kemudian, matanya yang tajam dan penuh kebencian itu diarahkan kepada Purbajaya.

"Maksudmu, Purbajaya tidak sopan kepada putriku?" tanya Ki Bagus Sura.

"Betul begitu!" "Tidak benar, Ki Bagus," Purbajaya menyela.

Ki Dita menatap bergantian ke arah Aditia dan Purbajaya, seakan-akan ia ingin tahu perkataan siapa yang benar.

Demikian pula Ki Bagus Sura menatap mereka bergantian.

"Tapi Purbajaya adalah guru mengaji putriku," cetus Ki Bagus Sura kemudian.

"Nah, apalagi begitu! Uh, sangat menjijikkan!" Aditia mencibir.

"Dia calon suami anakku." "Apa?" Aditia terbelalak, seolah-olah amat kaget dengan apa yang didengarnya.

"Benar, pemuda ini calon suami Nyimas Yuning," Ki Bagus Sura menegaskan kembali.

"Bohong. Nyimas Yuning sudah bilang padaku bahwa ia tak mau lagi punya suami. Betul, kan, Nyimas?" Aditia menoleh kepada Nyimas Yuning.

Yang ditatap hanya menunduk.

"Betul, kan?" Aditia mendesak.

"Betul. Kakang Purba adalah calon suami saya..." kata Nyimas Yuning akhirnya.

Purbajaya dan Aditia sama-sama melongo mendengar jawaban ini.

"Nyimas, betulkah itu?" tanya Aditia.

Purbajaya pun sebetulnya hampir mengatakan ucapan yang sama, namun keburu dibatalkan.

"Kau... Kau bohong padaku, Nyimas..." wajah Aditia tampak merah padam.

Sepasang tangannya bahkan terkepal.

"Aditia, mari pulang!" ajak Ki Dita dengan wajah tak senang.

Namun, pemuda itu masih mengepalkan tinjunya, sangat berang.

"Kau memalukan. Sepertinya gadis di dunia hanya dia seorang!" kata Ki Dita lagi.

"Bukan itu yang saya pikirkan. Memang masih banyak gadis yang jauh lebih cantik, lebih sempurna, dan lebih utuh. Yang tidak enak bagiku, betapa mudahnya ia membual. Ketika saya pinang, ia bilang belum saatnya. Namun belakangan, ia menikah dengan Raden Yudakara. Hanya sebentar saja, ia sudah dicampakkan. Dan aku ingin menolongnya agar menjadi istri yang baik, namun pinanganku ditolaknya untuk kedua kalinya dengan alasan tak mau punya suami lagi. Nah, sekarang, nyatanya ia masih ingin dipermainkan orang Cirebon. Rupanya ia masih belum kapok dipermainkan begundal dari Cirebon!" teriak Aditia berang.

"Sudah. Mari kita pulang saja!" Ki Dita tidak sabar dan menarik tangan Aditia.

Aditia terpaksa beranjak, namun wajahnya memberengut marah.

"Anak muda, suatu saat kita saling menguji kepandaian," kata Ki Dita kepada Purbajaya.

Tinggallah tiga orang itu.

Namun, rupanya Ki Bagus Sura tidak mau tinggal terlalu lama.

Buktinya, dia segera beranjak dari tempat itu.

"Lain kali jika ingin mengobrol berlama-lama, lebih baik di dalam rumah saja," kata Ki Bagus Sura.

Purbajaya ingin berbicara, seandainya Ki Bagus Sura salah sangka.

Namun, orang tua itu keburu pergi.

"Nyimas, saya heran akan sikapmu tadi..." gumam Purbajaya menyesali sikap gadis itu.

Nyimas Yuning tidak menjawab, melainkan ia pun segera berlalu dari tempat itu.

Purbajaya menerima kabar bahwa Ki Bagus Sura akan mengemban tugas muhibah ke wilayah Karatuan Talaga.

Entah apa penyebabnya orang tua itu mengajaknya pergi.

Namun, tentu saja Purbajaya merasa gembira diajak serta.

Pada dasarnya, pemuda ini senang memiliki pengalaman.

Pengalaman baik ataupun buruk baginya adalah pengetahuan yang bisa menambah wawasannya.

Karatuan Talaga sebetulnya tidak begitu jauh dari Sumedanglarang.

Bila berkuda dengan santai, paling lama hanya menghabiskan waktu sekitar dua hari perjalanan, atau mungkin tiga hari saja.

Namun begitu, sebetulnya Purbajaya belum tahu betul di mana persisnya letak ibu negeri Talaga ini.

Beberapa bulan silam, ia memang pernah melakukan perjalanan bersama Raden Yudakara, namun hanya sampai ke lereng timur Gunung Cakrabuana lewat wilayah Rajagaluh dan terus ke Guranteng.

Sekarang, dia diajak serta melakukan perjalanan ke tempat itu, tentu saja hatinya berminat.

Ki Bagus Sura mengajaknya, barangkali karena menganggap Purbajaya telah dianggap "orang sendiri".

Namun, yang membuat Purbajaya merasa ada ganjalan adalah Aditia dan teman-temannya akan ikut serta.

Ketika ditanyakan kepada Ki Bagus Sura, dia mengatakan bahwa perjalanan muhibah ini pun harus diikuti oleh rombongan Ki Dita.

"Banyak murid Ki Dita dipersiapkan untuk menjadi calon perwira Sumedanglarang. Secara periodik, para calon mendapatkan pelatihan mental dan fisik. Muhibah dalam mengunjungi negeri-negeri di luar Sumedanglarang adalah bagian dari kewajiban mereka dalam memenuhi persyaratan untuk diangkat sebagai perwira," kata Ki Bagus Sura.

Purbajaya mengerti akan penjelasan ini. Dia pun pernah mendengar kabar bahwa sasana kewiraan yang dipimpin oleh Ki Dita ini telah banyak menghasilkan lulusan dan kini banyak menjadi perwira kerajaan.

Pemuda Aditia dan beberapa teman-temannya tentu diharapkan akan menjadi perwira andal kelak.

Itulah sebabnya perlu menerima bekal pengalaman agar kelak bisa mengabdi kepada negara dengan baik.

Purbajaya mengerti hal ini.

Namun karena hal ini pula, maka kegembiraannya dalam melakukan perjalanan ini menjadi sedikit terganggu.

Peristiwa tadi malam tentu sulit dilupakan, terutama oleh pemuda Aditia.

Dalam perkelahian singkat, dia dan teman-temannya dipecundangi oleh Purbajaya.

Namun, yang juga amat menyakitkan hati Aditia, bukan hanya sekadar kalah bertarung, melainkan juga kalah dalam "rebutan cinta".

Betapa bencinya mereka kepada Purbajaya.

Sekarang, Purbajaya malah akan menjadi teman seperjalanan.

Maukah mereka? Namun sungguh di luar dugaan, ketika mereka tahu bahwa Purbajaya ikut serta, mereka malah tampak gembira.

Mengapa gembira? Itulah misteri, sebab Purbajaya menerimanya dengan penuh curiga.

"Mungkin sudah mereka lupakan peristiwa malam itu," tutur Ki Bagus Sura.

Dugaan Ki Bagus Sura ini tidak melegakan Purbajaya.

Dia tetap merasa bahwa mereka sebetulnya masih memendam rasa penasaran kepadanya.

Namun demikian, Purbajaya tidak mau mengemukakan hal ini.

Ki Bagus Sura tampaknya tidak memiliki perasaan curiga apa pun.

Malah malam itu, yang menjadi orang bersalah sepertinya Purbajaya sendiri.

Malam itu, jelas-jelas Ki Bagus Sura seperti menyesali Purbajaya perihal tudingan Aditia.

Mungkin Ki Bagus Sura menganggap laporan itu benar adanya.

Hati Purbajaya mengeluh.

Untuk kesekian kalinya, dia bertemu lagi dengan pemuda yang mudah emosi dan mudah merasa iri.

Mereka menyatroni dirinya malam itu karena iri saja.

Iri karena ada gadis di negerinya yang dipersunting pemuda negeri lain.

Aditia seperti memendam dendam kepada "wong grage" sebab mereka pikir semua pemuda Cirebon tukang mempermainkan wanita.

Mengingat ini, Purbajaya menjadi sedih.

Hanya karena perbuatan Raden Yudakara, maka semua pemuda Cirebon terkena getahnya.

Hari ini adalah hari pemberangkatan rombongan muhibah.

Subuh itu Purbajaya baru turun dari surau ketika di pelataran taman dilihatnya Nyimas Yuning berdiri menghadang.

Gadis itu seperti sengaja mencegatnya.

"Ustad..." gadis itu menyapa pelan.

"Nyimas, saya pergi hari ini..." gumam Purbajaya sambil mengingat peristiwa malam itu.

"Ini sebungkus makanan, khusus untuk bekalmu di perjalanan." gadis itu menyodorkan sebuah bungkusan penganan.

"Yang lainnya, bagaimana?"

"Ayahanda serta Paman Ranu sudah disediakan oleh para dayang lain," jawab gadis itu.

"Aditia dan teman-temannya?"

Nyimas Yuning menunduk.

"Saya tidak mau ada orang yang iri. Perasaan iri sering mendatangkan musibah," kata Purbajaya.

Nyimas Yuning menghela napas.

"Maafkan saya, Ustad..." kata gadis itu akhirnya.

"Engkau berurusan dengan mereka, Nyimas?"

"Benar. Tadinya ini hanya urusan saya, tapi menjadi melibatkanmu juga, Ustad."

"Soal apa, sih?" tanya Purbajaya meskipun sudah tahu.

"Ya, karena saya menolak cintanya..."

"Mengapa menolak?"

"Mengapa kau pertanyakan itu, sepertinya ada kewajiban setiap pria harus dilayani?" Nyimas Yuning balik bertanya.

"Engkau gadis pemberani. Namun pada akhirnya, saya nilai kau pun gadis biasa juga," kata Purbajaya sedikit menggores.

Nyimas Yuning tidak tersinggung, malah tersenyum tipis.

"Saya memang gadis biasa. Tapi apa sebenarnya maksud perkataanmu, Ustad?" tanya gadis itu menatap tajam.

"Ya, engkau gadis biasa dan terkadang terkesan lugu dalam membuat keputusan," kata Purbajaya.

"Adakah yang keliru dalam keputusan saya?"

"Bukan sesuatu hal yang keliru."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment