Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 32

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 32

Namun kau bertindak ganjil dan membuat orang lain bingung. Malam itu, sebelum rombongan Aditia datang, kau menolak perjodohan. Tapi di hadapan semua orang, kau malah mengaku kalau saya ini calon suamimu. Coba, di hadapan semua orang. Bagaimana itu?" tanya Purbajaya penasaran.

"Kalau saya mengakui hal itu, mengapa?" Mendapatkan pertanyaan balasan seperti ini, Purbajaya jadi gelagapan. Ya, apa yang harus dia jawab? Akankah dia menolak kenyataan ini? Akankah dia menyinggung perasaan gadis ini? Mungkin pada mulanya dia ingin menolak kehendak ayahnya. Namun, setelah beberapa kali ditimbang, dia memutuskan untuk menerima saja.

"Pengakuan saya malam itu adalah untuk menolongmu dan juga sekalian menolong saya. Saya dihina habis-habisan oleh Aditia. Jadi, kalau saya tidak katakan engkau calon suamiku, maka hinaannya akan semakin menjadi-jadi." Purbajaya melongo dan tidak bisa berkata apa-apa. "Bagaimana, apa Ustaz keberatan dengan ini?" Nyimas Yuning mendesak dan Purbajaya kembali gelagapan seperti mulut kemasukan air. "Saya memang hanya gadis biasa, bahkan sudah tidak bernilai, Ustaz... Kau tentu tahu apa maksud perkataan Aditia malam itu," keluh Nyimas Yuning parau. "Bukan... Bukan itu. Saya tidak berpikir seperti itu," kata Purbajaya. Dia takut sekali kalau dirinya menyinggung perasaan gadis itu.

Nyimas Yuning berbalik dan Purbajaya akan mengejar. Namun, dari beranda depan terdengar suara panggilan untuknya. Suara itu mengatakan kalau semua orang sudah siap untuk berangkat. "Nyimas... Saya harus berangkat!" Sejenak gadis itu menoleh. "Ya... berangkatlah!" ujarnya dan kembali berbalik. Percakapan yang terakhir ini terlalu singkat sehingga Purbajaya tidak bisa meraba apa arti jawaban gadis itu. Sebuah pengharapan agar dia lekas kembali ataukah usiran agar Purbajaya memang "harus pergi"? Ah, ini membingungkan, pikirnya.

Kini terdengar suara Ki Bagus Sura memanggil-manggil. "Ya, saya segera datang!" jawab Purbajaya bergegas. Benar saja, Ki Bagus Sura telah siap menantinya. "Yang lain sudah lama menunggu. Tapi, apakah kau telah minta diri kepada Si Yuning?" tanya Ki Bagus Sura membuat Purbajaya tersipu.

Ki Bagus Sura tampak berpakaian amat ringkas. Pakaiannya jenis yang biasa digunakan oleh kaum santana (golongan pertengahan), yaitu baju kampret dan celana komprang, namun terbuat dari kain halus buatan Negeri Champa. Ikat kepalanya berwarna sama dengan warna bajunya. Keluar dari pekarangan puri, rombongan Ki Dita yang terdiri dari empat orang sudah menunggu, yaitu Ki Dita dan tiga orang muridnya. Semuanya mengangguk seadanya kepada Ki Bagus Sura, namun tidak kepada Purbajaya. Dan hal ini hanya menandakan bahwa mereka masih memendam rasa penasaran kepadanya.

Dengan demikian, rombongan muhibah ini terdiri dari tujuh orang. Mereka naik kuda beriringan. Ki Bagus Sura, Paman Ranu, dan Purbajaya berjalan sejajar, dan di belakangnya Ki Dita, Aditia, serta dua orang teman Aditia yang belakangan diketahui sebagai Yaksa dan Wista.

Seperti sudah diketahui di bagian depan, rombongan ini akan melakukan perjalanan muhibah ke Keratuan Talaga. Talaga sebetulnya masih berada di bawah Sumedanglarang, manakala kedua negeri itu berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Namun, setelah pengaruh Carbon masuk, tahapan kekuasaan ini sudah tidak begitu kentara. Sang Susuhunan Jati yang oleh Wali Sanga dinobatkan sebagai panatagama (penata kehidupan beragama) dan Carbon ditunjuk sebagai pusat bumi agama Islam, sudah tidak menempatkan negeri-negeri yang ada seperti hierarki pemerintahan semula. Dengan demikian, Sumedanglarang pun kini tidak menganggap Talaga sebagai bawahannya lagi, sebab keduanya sama-sama menganggap pusat kekuasaan hanya ada di Carbon saja.

Namun, sudah barang tentu kebijakan seperti ini tidak selamanya diakui. Meskipun jumlah orang yang berpikir berbeda tidak begitu banyak, namun tetap mengganggu. Selama manusia diberi kemampuan untuk berpikir dan berkehendak, tidak selamanya jalan pikiran dan kehendak mereka sama. Ketika Sumedanglarang dan Talaga bergabung dengan Carbon saja, sudah terlihat ada kelompok yang tidak setuju dan memilih minggir dari percaturan politik. Ada juga kelompok-kelompok tertentu yang malah menginginkan baik Sumedanglarang maupun Talaga tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Pajajaran. Baik Kanjeng Pangeran Santri di Sumedanglarang maupun Kanjeng Sunan Parung di Talaga, ingin mencoba menghalau kelompok-kelompok ini dan tetap berusaha menjalin persatuan dan kesatuan. Maka, untuk itulah kedua wilayah secara berkala saling mengirimkan utusan persahabatan.

Perjalanan menuju Keratuan Talaga dilakukan santai saja. Di samping merasa tidak perlu melakukannya dengan cepat karena tidak diburu oleh waktu, mereka pun membutuhkan banyak pengalaman di jalan, terutama untuk keperluan pelatihan tiga orang murid Ki Dita. "Tahun lalu, calon ksatria dihadang perampok," kata Ki Dita. "Ouw! Yang namanya diserang musuh bukan lagi latihan. Itu sungguhan!" Wista yang bertubuh ceking kurus berseru kaget. Purbajaya ingat, pemuda ceking ini adalah pemuda yang pertama kali lari ketika Aditia dihajar Purbajaya. Dia heran, mengapa pemuda bernyali kecil seperti ini bisa "lulus seleksi" dan ikut rombongan ini.

"Dasar kau penakut, Wista!" cerca Aditia yang mencongklang di sampingnya. "Pertarungan sesungguhnya adalah pelatihan paling baik dan paling sempurna," kata Ki Dita membuat ngeri pemuda Wista. "Kalau saja ayahmu bukan pejabat penting, kau tidak akan bisa ikut rombongan ini," Yaksa menyela, membuat wajah Wista merah padam. "Jangan bawa-bawa ayahandaku!" Wista memotong dengan wajah merah padam. "Tapi omonganku benar. Kau jangan memalukan ayahmu," desak Yaksa. "Susah payah ayahmu berjuang agar kau diterima dalam pelatihan ini. Padahal kau tahu, hanya pemuda berkualitas saja yang bisa diterima dalam pelatihan ini," kata Yaksa lagi.

Untuk kesekian kalinya, Purbajaya tersenyum dikulum. Di mana-mana selalu saja ada yang mengandalkan kekuasaan untuk kepentingan diri pribadi. Cita-cita untuk menempatkan anak menjadi ksatria negara memang merupakan dambaan semua orang tua. Para pemuda pun berpikir begitu. Mereka merasa keberadaan dan kebanggaannya akan tercipta bila bisa masuk menjadi jajaran perwira di Sumedanglarang. Kalau ayahnya pejabat, maka sang pejabat akan berupaya memasukkan anaknya menjadi perwira. Perwira adalah batu loncatan untuk menjadi pejabat penting di istana. Jadi, sang ayah mesti mempersiapkan anaknya juga agar kelak menjadi pejabat di sana.

"Dengan masuknya engkau, sebetulnya ada orang lain yang peluangnya tertutup padahal dia lulus seleksi," kata Ki Dita ikut menyela. "Tapi aku sebagai gurumu takkan putus asa. Asalkan engkau sanggup memperlihatkan kemampuan, semua orang tidak akan kecewa kepadamu," sambungnya. Pemuda Wista mengangguk-angguk mengiyakan, meskipun ada rona merah di wajahnya karena banyak diperingatkan orang. "Ini adalah perjalanan muhibah yang cukup berat. Namun, dengan demikian akan merupakan ajang pelatihan yang baik bagi Gan Wista. Saya yakin, sepulangnya dari muhibah ini, Gan Wista pasti punya pengalaman berarti," kata Paman Ranu memberikan semangat sambil melecut kudanya.

Rombongan bertujuh ini masing-masing mengendarai seekor kuda yang gagah dan tinggi besar. Mereka adalah kuda-kuda pilihan, khusus didatangkan dari Sumba melalui Pelabuhan Muara Jati, Carbon. Tentu saja tidak semua orang mendapatkan fasilitas istimewa seperti ini, kecuali orang-orang tertentu yang dihargai pemerintah. Kata Ki Dita dan Ki Bagus Sura, kuda-kuda ini terbaik di negerinya. Bila melakukan perjalanan cepat tanpa henti, maka kuda gagah ini bisa berlari selama dua hari penuh tanpa makan dan minum. Dan bila kuda-kuda ini dipacu, sebenarnya menuju Keratuan Talaga tidak akan menghabiskan waktu dua hari. Namun, kata Ki Bagus Sura, kuda mahal, perawatannya pun mahal. Kalau terjadi apa-apa pada kuda ini, negara akan sangat dirugikan. Justru karena kuda ini mahal, maka mereka menggunakannya dengan sangat apik. Mereka berpendapat, kuda mahal harus dijaga keutuhannya. Jangan sampai sakit, apalagi cedera. Sebab, kalau begitu, perawatan akan lebih mahal mengurus kuda ketimbang orang yang sakit. Lagi pula, semakin santai di perjalanan dan semakin lama menempuh perjalanan, akan semakin banyak pengalaman berharga yang diterima, terutama bagi calon ksatria.

Dan benar saja, karena perjalanan dilakukan berlama-lama, banyak pengalaman dilalui, termasuk pengalaman "penting" yang selalu "dinanti". Di tengah jalan, di tengah hutan pohon pinus, mereka dihadang perampok. Ketika itu, rombongan baru saja memasuki kawasan hutan pinus di tepi Sungai Cimanuk. Di daerah ini, para pedagang antara dua negeri itu kerap kali dihadang perampok. Perampok ini bisa saja penjahat biasa, namun bisa juga karena alasan "politik". Seperti yang pernah diketahui oleh Purbajaya, kemelut berkepanjangan antara Carbon dan Pajajaran telah melahirkan berbagai perbedaan pendapat di kalangan masyarakat.

Melemahnya kekuasaan Pajajaran di wilayah timur dan utara telah menyebabkan banyak negeri kecil di wilayah itu memilih memindahkan kesetiaannya kepada Carbon. Namun, tentu saja tidak semua orang punya pendapat seperti itu. Ada juga kelompok yang tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Pajajaran. Namun, kelompok seperti ini kebanyakan terasing dari percaturan negeri bersangkutan. Dan meskipun tidak terang-terangan dianggap musuh negara, namun mereka terputus komunikasinya dari dunia luar. Di Keratuan Sumedanglarang pun ada yang ingin mempertahankan kesetiaannya kepada Pajajaran. Begitu pula di Keratuan Talaga. Mereka yang berbeda haluan memilih mengasingkan diri. Namun, yang sikapnya keras, memberontak, membuat kekacauan, atau malah menjadi perampok. Mereka tinggal di gunung, di hutan lebat, dan untuk mempertahankan hidupnya, mereka mencegat para pedagang di sepanjang jalan pedati antara Galuh (Ciamis) dan Pakuan (Bogor).

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment