Chapter 33
Sejak zaman Prabu Sri Baduga Maharaja, raja Pajajaran pertama (1482–1521 Masehi), telah dibangun semacam "jalan raya" Pajajaran yang menyambungkan wilayah Galuh dengan Pakuan. Jalan raya penghubung kehidupan politik dan ekonomi ini terbentang dari Galuh menuju Kawali, Rajagaluh, Talaga, Sumedang, terus ke utara ke wilayah Sagaraherang (Subang), ke barat menuju Cikao (wilayah Purwakarta), Tanjungpura (Karawang), agak membelok lagi ke selatan menuju Muaraberes (wilayah Bekasi), Cibarusa, Cileungsi, dan kembali menuju arah barat sampai ke ibu kota Pajajaran, yaitu Pakuan.
Dari Pakuan, sebenarnya jalan ini terus bersambung ke wilayah Karatuan Tanjungbarat di tepian Sungai Cisadane dan akhirnya langsung menuju ke wilayah Banten. Jalan raya ini sudah biasa dilalui pedati para saudagar atau perjalanan para petugas negara dalam berkomunikasi dengan negeri-negeri di sepanjang rute tersebut. Namun, karena perubahan politik, jalan raya sepanjang ini kini tidak lagi digunakan secara sambung-menyambung sebab telah dibatasi oleh kepentingan yang berbeda antara Galuh dan Pajajaran.
Rombongan Ki Bagus Sura pantas mengundang perhatian para penjahat karena selain mereka menunggangi kuda bagus, jenis pakaian yang mereka kenakan pun amat menandakan bahwa yang sedang berkuda beriringan adalah kaum bangsawan. Apalagi pada punggung kuda Paman Ranu, baik di sisi kiri maupun kanan, menggantung peti-peti kayu cendana berukir indah. Peti-peti ini oleh Purbajaya diketahui sebagai benda-benda cenderamata yang sedianya akan diserahkan kepada penguasa Karatuan Talaga.
"Ranu, jaga peti-peti itu..." Ki Bagus Sura memperingatkan akan adanya bahaya. "Ya, amankan barang-barang itu," gumam Ki Dita. Namun aneh sekali, mata Ki Dita berbinar-binar seperti bergembira. Mengapa dihadang perampok malah bergembira, pikir Purbajaya. Namun belakangan ia akhirnya sadar. Barangkali ini dianggapnya sebuah peristiwa baik bagi orang-orang yang tengah menjalani latihan. Bukankah pernah dikatakan bahwa pertempuran sesungguhnya merupakan pelatihan paling sempurna? Maklum akan isi hati Ki Dita, Purbajaya tidak ikut maju. Apalagi baik Ki Bagus Sura maupun Paman Ranu, bahkan Ki Dita sendiri, tampak santai duduk di atas punggung kuda.
"Turunlah kalian semua. Dan kalau ingin selamat, serahkan peti-peti berukir itu!" teriak perampok. "Juga uang-uang kalian. Uang apa saja, apakah itu uang logam dari Portugis, Tiongkok, Champa, Persia, atau uang jenis apa pun!" teriak yang lain. "Kuda kalian pun harus ditambat di sini. Haha, itu kuda bagus, cocok untuk digunakan di pegunungan!" "Jangan lupa pakaian mereka, Jaya!" "Ya, betul, tanggalkan pula pakaian kalian. Itu buatan wilayah Hindustan. Di sini barang seperti itu susah!" Semua anggota perampok saling mengeluarkan pendapat yang intinya meminta agar semua harta yang ada pada rombongan muhibah ini diserahkan kepada mereka.
Bergetar hati Purbajaya. Jumlah perampok ada sekitar lima belas orang. Bukan takut pada mereka, toh anggota muhibah yang tujuh orang dirasa cukup untuk melayani mereka. Tapi masalahnya, yang "harus" melawan perampok sudah diputuskan hanya tiga orang saja, yaitu mereka yang sedang menjalani pelatihan. Ketika Purbajaya melirik, tampak tiga orang calon ksatria itu wajahnya tegang. Wista, belum apa-apa, malah sudah mengucurkan keringat deras di seluruh wajahnya yang ceking. Ketika Ki Dita memerintahkan mereka, Aditia dan Yaksalah yang lebih dahulu meloncat. Sementara Wista masih terlihat duduk di atas punggung kuda dengan tubuh mendadak membungkuk.
Purbajaya belum bisa menduga mengapa murid-murid Ki Dita tidak meloloskan senjata masing-masing padahal pedang sudah siap di pinggang. Mungkin mereka tidak berhati kejam dan tidak mau melumpuhkan lawan hingga terluka, apalagi membunuh. Namun, bisa juga karena alasan lain. Dasar gerakan ilmu kewiraan mereka mengandalkan kehalusan. Bila sedang latihan pun, gerakan mereka diiringi petikan dawai kecapi dan alunan suara suling. Sementara golok dan pedang hanyalah lambang dari kekuatan kasar.
Lawan cepat menduga bahwa mereka akan mendapatkan perlawanan. Karena itu, mereka bersiap untuk mengepung. Aditia dan Yaksa sudah bergerak ke depan. Sementara Wista masih tak beranjak dari punggung kuda, kecuali wajahnya yang pucat pasi. Namun tingkah dua orang itu sebetulnya tidak disetujui Purbajaya. Wista amat memalukan, tetapi Aditia dan Yaksa pun amat sembrono. Mereka mendahului melakukan serangan yang amat tidak tepat. Dengan jumlah tenaga hanya terdiri dua orang saja, lebih baik mengambil posisi bertahan ketimbang menyerang. Taktik bertahan tak selamanya berarti tidak menyerang. Dalam bertahan, paling tidak bisa mempelajari gaya serangan lawan. Menurut hemat Purbajaya, kita baru bisa melakukan serangan total kalau sudah bisa mengukur seberapa jauh tingkat kepandaian lawan. Optimiskah Aditia dan Yaksa kalau kepandaian mereka sanggup mengungguli lawan?
Maka pertempuran pun terjadilah. Aditia dan Yaksa menghambur ke depan, disambut pula oleh serbuan yang sama dari pihak lawan dengan senjata terhunus. Aditia dan Yaksa dikepung rapat. Golok dan pedang menerjang kedua orang itu dari kiri, kanan, dan depan. Kalau orang biasa menerima serangan seperti itu, barangkali hanya dalam sesaat tubuhnya sudah tercincang habis. Tidak demikian dengan Aditia dan Yaksa. Dan Purbajaya boleh memuji sebab kedua orang pemuda itu bisa menghindari berbagai serangan lawan dengan cukup baik.
Untuk beberapa lama, pertempuran ini enak ditonton. Para pengepung yang beringas, ditepis oleh gerakan yang amat halus dan indah dilihat. Bagi orang awam, tontonan ini lebih terlihat aneh. Masa sabetan golok dan pedang hanya dielak dengan gerak "tari". Tapi Purbajaya bisa menikmatinya dengan baik. Betapa tarian itu memperlihatkan gerakan taktis dan amat pas. Serangan pengepung ditepisnya dengan elakan-elakan yang tak memerlukan tenaga tapi pas dalam membuyarkannya. Amat indah.
Namun sampai kapan ini akan berlangsung? Nampaknya kedua orang pemuda itu terlalu asyik memperagakan taktik bertahan, padahal dalam gebrakan pertama, justru mereka yang menyerang. Ini amat tidak efektif. Baik Aditia maupun Yaksa telah mengabaikan prinsip bertempur. Harus diingat, bertempur itu untuk mengalahkan. Jadi, kendati yang dilakukan adalah taktik bertahan, namun tujuan utama tetap harus mengalahkan lawan. Apa pun yang dilakukan, tujuan akhir adalah kemenangan. Purbajaya pernah diajari oleh Paman Jayaratu, bahwa setiap kali lawan menyerang, maka akan terkuak kekosongan pertahanan. Itulah peluang kita untuk balik menyerang.
Purbajaya menilai, sebetulnya rombongan perampok ini hanya memiliki tenaga kasar saja dan kepandaiannya pun biasa-biasa, tak ada yang istimewa. Hanya tampang dan gerakan serangannya saja yang ganas sebab tujuannya mungkin untuk menakut-nakuti lawan. Setiap serangan mereka lakukan dengan membabi-buta, kurang terarah, dan terkesan sembrono. Lawan yang begini amat mudah dipatahkan serangannya dengan cara memanfaatkan tenaganya. Namun sungguh aneh, peluang-peluang seperti ini tidak dimanfaatkan oleh Aditia dan Yaksa. Disengajakah ini?
Purbajaya teringat, ketika ia diserang pemuda ini beberapa hari lalu, Aditia malah bernafsu ingin mengalahkan dirinya. Serangannya malah tidak memperlihatkan kehalusan gerak sebab waktu itu Aditia tengah geram dan penuh emosi. Gerakannya ganas dan terkesan ingin melukai, bahkan membunuhnya. Namun kenapa kepada komplotan perampok ini, baik Aditia maupun Yaksa seperti punya perasaan "welas asih?" Barangkali kedua orang murid ini ingat pesan guru bahwa perjalanan ini dianggap sebagai ajang pelatihan semata. Kalau pun musti bertarung betulan, tapi jangan sampai membunuh betulan. Begitu barangkali. Sementara beberapa hari lalu kepada Purbajaya, malah dianggapnya sebagai ajang "sungguhan" dan musti membabat habis dirinya. Sialan benar, pikir Purbajaya sambil terus menyaksikan jalannya pertempuran.
Terlihat ada tiga orang yang sekaligus mencecar Aditia dengan pedangnya. Dua orang datang dari samping dan seorang lagi berada di tengah. Ketiga serangan itu diarahkan ke bagian tubuh paling lemah. Serangan dari kiri sebuah tusukan pedang mengarah perut samping bagian kiri dan serangan pedang kedua datang dari kanan akan mengarah perut bagian kanan. Sementara penyerang dari depan mengayunkan senjatanya untuk memenggal kepala. Dengan amat cepatnya Aditia mundur melangkah sambil doyongkan tubuh ke belakang. Kedua tusukan pedang luput tak mengarah sasaran dan ayunan dari depan yang mengarah leher pun hanya lewat sejengkal saja dari sasaran. Namun ketiga orang itu terus mencecarnya dengan serangan-serangan susulan sehingga Aditia terus mundur, padahal dari belakangnya penyerang lain mulai berdatangan pula. Dari belakangnya, ada tiga tusukan trisula yang sekaligus ingin menerobos ke punggung pemuda itu.
"Wista, bantu aku!" teriak Aditia sesudah menjatuhkan diri ke atas tanah berdebu guna menghindari tusukan tiga buah trisula. "Purbajaya, sialan kau malah diam saja!" giliran Wista yang berteriak kepada Purbajaya. "Lho, aku kan tidak ikut latihan?" jawab Purbajaya masih menclok di atas punggung kuda. "Bangsat! Kau ini pengecut sekali!" Wista mencoba menyabetkan ujung cemeti kuda terbuat dari ekor ikan pari ke arah wajah Purbajaya. Sudah barang tentu Purbajaya tidak mau begitu saja wajahnya kena sabetan ujung cemeti. Dengan memiringkan wajah sedikit saja, cemeti berlalu tak mengarah sasaran. Wista penasaran serangannya gagal. Maka lagi-lagi dia menyerang dengan cemeti, namun juga lagi-lagi dia gagal. Karena kesal, akhirnya Wista malah mengejar-ngejar ke mana kuda Purbajaya beranjak.
Melihat adegan ganjil ini, ada beberapa anggota perampok yang tertawa karena merasa lucu. Namun Ki Dita wajahnya merah padam. Mungkin marah dan malu oleh sikap Wista. "Wista, berhenti kau!" teriak Ki Dita gemas. Namun ujung cemeti pemuda itu sudah terlanjur melayang lagi. Dan kali ini Purbajaya sudah tak sempat lagi menjauhkan kudanya.