Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 34

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 34

Maka, satu-satunya jalan ialah menarik ujung cambuk keras-keras.

Tak ayal, tubuh Wista terjengkang ke depan.

Celakanya, tubuh ceking itu malah jatuh di tengah arena pertempuran.

Maka akibatnya, Wista pun menjadi sasaran penyerangan para perampok.

Baru saja Wista berdiri, ia sudah disambut hujan serangan.

Pemuda ceking ini berteriak dan matanya membelalak saking terkejut serta ngeri.

Dia jumpalitan beberapa kali ke belakang dan jatuh berdebuk di atas tanah keras berbatu.

Sambil menyeringai kesakitan, Wista mencoba duduk.

Namun, baru saja hendak bernapas, serangan lain datang mencecarnya.

Untuk kedua kalinya, tubuh Wista jumpalitan lagi.

Boleh jadi Wista penakut.

Namun, gerakan saltonya sebetulnya boleh juga.

Walaupun lintang-pukang dan terlihat tak tenang, nyatanya dia berhasil menggagalkan semua serangan lawan.

Menurut penilaian Purbajaya, pemuda ini sebetulnya punya bakat juga.

Hanya saja, yang membuat gerakannya buruk karena ketenangannya diganggu rasa takut.

Yang tampak mengkhawatirkan perasaan Purbajaya malah nasib pemuda Yaksa.

Dia memang pemberani, namun semberono, tak berbeda dengan Aditia.

Mungkin juga karena didasarkan pada sikapnya yang agak pemberang.

Beberapa hari lalu, pemuda ini ikut mengeroyok Purbajaya di taman puri Ki Bagus Sura.

Pemuda ini terlihat garang, dan kalau bicara selalu mengejek.

Hal ini menandakan Yaksa adalah orang tinggi hati.

Menurut Purbajaya, orang boleh berani, namun sikap hati-hati tetap harus dijaga.

Di sepanjang jalan, Yaksa suka berkilah kalau kejahatan tak boleh dibiarkan.

"Engkau juga orang jahat karena suka menggoda wanita!" katanya kepada Purbajaya.

Yaksa tetap menuduh kalau Purbajaya telah berlaku cabul, atau sekurang-kurangnya telah mencoba merayu wanita sebab malam-malam mengobrol berduaan di taman, dan itu melanggar etika sopan santun.

Mengingat ini, Purbajaya tersenyum sendiri.

Lelaki mengobrol dengan wanita masuk ke dalam tindak kejahatan.

Begitulah dalam kamus Yaksa.

Makanya tak heran, malam itu Yaksa amat marah, sama marahnya dengan Aditia.

Yaksa amat bernafsu untuk memukul dan mencederai Purbajaya.

Sekarang, dalam menghadapi perampok, alasan untuk melenyapkan kejahatan dari muka bumi semakin jelas.

Makanya, Yaksa bertempur penuh semangat, walaupun dilakukan dengan semberono.

Bila Aditia berhati-hati saking tak mau menyerang, Yaksa adalah kebalikannya.

Dia terus-menerus menggempur lawan kendati tak memikirkan risikonya.

Banyak pukulan telak menghunjam tubuh lawan, namun tak urung dia pun terkena beberapa sabetan senjata tajam.

Kini, suasana sudah amat membahayakan ketiga orang itu.

Kepungan semakin rapat dan serangan semakin gencar.

Bila keadaan dibiarkan berlarut-larut, tentu akan berakibat buruk kepada nasib para pemuda itu.

Purbajaya ingin meminta izin untuk bergabung dan terjun ke arena pertempuran.

Namun, pada saat yang sama, Ki Dita sudah turun tangan.

Hanya dalam waktu yang singkat, belasan anggota perampok itu lintang-pukang dihajar Ki Dita.

Para perampok bagaikan daun kering tertiup angin.

Tubuh-tubuh mereka beterbangan ke sana kemari, sisanya menjadi bulan-bulanan ketiga orang muda itu.

Tak ada yang mati memang.

Tapi, tubuh para perampok bergeletakan.

Beberapa di antaranya berguling-guling sambil mengerang kesakitan.

Yang tersisa mungkin yang agak jauh dari arena saja.

Dan manakala melihat banyak teman-temannya rontok, mereka pun segera mengambil langkah seribu, membiarkan yang luka begitu saja.

Aditia dan Ki Dita menghampiri Yaksa yang terluka di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara Wista bergegas menghampiri Purbajaya.

"Selamat. Kau hebat, Wista..." Purbajaya ingin menyalami pemuda itu.

Namun Wista mengelak.

Dan "plak-plak!", tangan Wista melayang dua kali menampar pipi kiri dan kanan Purbajaya.

"Huh, dasar pengecut!" teriak Wista berang.

Purbajaya menatap pemuda itu dengan senyum masam.

"Kau patut dicurigai. Barangkali engkau memikirkan kami mati di sini!" teriak Wista lagi, marah sekali.

Yaksa banyak menerima luka berdarah.

Namun demikian, Purbajaya mendapatkan kalau itu sebenarnya hanya luka biasa dan tak membahayakan nyawanya.

Untuk mengeringkan luka itu, Purbajaya sengaja mengumpulkan daun-daun sirih yang kebetulan banyak terdapat di sekitar hutan.

Sesudah itu, dia menghampiri Yaksa.

"Mau apa kau ke sini?" Wista yang tengah merawat luka temannya berkata ketus.

Purbajaya segera menyodorkan lembaran daun sirih.

"Tidak perlu. Pergi sana!" kata Wista, menepiskan sodoran tangan Purbajaya.

Purbajaya tak banyak bicara, berjingkat menghampiri Paman Ranu.

"Paman, tolong tumbuk yang halus lembar daun sirih ini. Lantas borehkan pada luka Yaksa," kata Purbajaya menyodorkan daun sirih.

Dengan sigapnya, Paman Ranu mengerjakan apa yang diminta Purbajaya.

Sesudah itu, ia memborehkan ramuan itu ke setiap bagian tubuh Yaksa yang luka.

Melihat Yaksa mau menerima pertolongan yang bukan dari Purbajaya, Purbajaya hanya tersenyum masam.

Aneh sekali, pikirnya.

Hanya karena satu masalah saja, orang bisa punya kebencian sebesar itu.

Hanya satu masalah? Hanya sebesar itu? Benarkah? Purbajaya ingat ucapan Nyimas Yuning Purnama.

Betapa Aditia sakit hati karena beberapa kali cintanya ditolak, sementara gadis itu "mandah" saja dipermainkan lelaki lain.

"Tapi Aditia merasa bermasalah dengan kita bukan melulu urusan Si Yuning saja," kata Ki Bagus Sura di saat-saat istirahat di tengah perjalanan. "Sebetulnya itu juga bawaan dari masalah ayahnya juga," lanjut orang tua itu.

Aditia itu anak pejabat penting di Sumedanglarang bernama Ki Sanjadirja.

Sesama pejabat ada yang bersaing ingin duduk paling dekat dengan Kangjeng Pangeran Santri.

Untuk itu, mereka berupaya untuk menjadi orang terpercaya.

Tahun-tahun sebelumnya, Ki Sanjadirja banyak diutus untuk melakukan kunjungan muhibah ke beberapa negara.

"Entah mengapa, belakangan tugas ini diserahkan Kangjeng Pangeran kepadaku," tutur Ki Bagus Sura.

Tugas yang dipindahkan seperti ini tentu amat merisaukan Ki Sanjadirja.

Dia punya kesan seolah-olah kemampuan dirinya tak terpakai.

Tapi belakangan, mereka pun malah menuduh Ki Bagus Sura yang punya gara-gara.

Katanya, Ki Bagus Sura melakukan tindakan tak terpuji.

"Aku dituding cari muka dan katanya telah menjelek-jelekkan mereka. Padahal, permasalahannya bukan itu. Ketika berkunjung ke wilayah Tanjungpura, pernah terjadi salah paham sehingga pejabat di sana merasa tersinggung oleh perilaku Ki Sanja. Akibatnya, tugas selanjutnya aku yang jalankan. Maka, ditambah lagi oleh penolakan cinta anaknya kepada Si Yuning, semakin runyamlah hubungan kami," tutur Ki Bagus Sura lagi.

"Pantas kalau begitu...." gumam Purbajaya. "Tapi, adakah cara pemecahannya agar pertikaian tidak berlarut-larut?" tanya Purbajaya.

"Ini bukan sekadar piring yang pecah, namun karena kami telah berseberangan paham. Sanjadirja itu orangnya penuh ambisi. Dia menginginkan menjadi orang kuat dan hanya dia yang dipercaya pihak penguasa. Dengan seperti itu sulit akur, kecuali kita mau berada di bawah pengaruhnya dan jangan mencoba menentang kehendaknya atau bahkan menjadi pesaingnya," kata Ki Bagus Sura.

"Mengapa Ki Bagus malah menjadi pesaingnya?" tanya Purbajaya.

"Aku tak bermaksud begitu. Tujuanku hanya mengabdi. Itu saja. Kalau belakangan Kangjeng Pangeran lebih mempercayaiku, itu bukan sebuah dosa," jawab Ki Bagus Sura.

"Hubungan Ki Bagus dengan Ki Dita bagaimana?" "Ki Dita itu, menurutku, orang baik. Kelihatannya dia ingin netral. Tapi, urusan kewiraan Ki Sanja yang memegang. Jadi, otomatis dia ada di bawah kendali Ki Sanja. Maka, tak ada anjing yang tak setia kepada tuannya," kata Ki Bagus Sura lagi.

Purbajaya pun bisa melihat betapa di dalam perjalanan ini, hubungan antara Ki Bagus Sura dan Ki Dita seperti terhalang pagar tembok.

Ki Dita lebih banyak bercakap-cakap dengan ketiga orang muridnya, dan sebaliknya Ki Bagus Sura banyak mengobrol dengan Purbajaya atau Paman Ranu.

Namun demikian, Purbajaya bisa merasakan bahwa hanya Aditia dan dua orang temannya saja yang benar-benar memperlihatkan sikap permusuhan.

Ki Dita tidak memperlihatkan sorot kebencian, kecuali bersikap acuh tak acuh saja.

"Tidak bersahabat, tapi kok mau melakukan perjalanan bersama?" tanya Purbajaya heran.

"Kami sama-sama mengemban tugas. Sungguh tak baik di hadapan Pangeran memperlihatkan kurangnya persatuan," jawab Ki Bagus Sura menghela napas.

Sesudah dirasa cukup beristirahat dan sesudah dilihatnya pemuda Yaksa bisa melanjutkan perjalanan, mereka pun menaiki kuda masing-masing untuk meneruskan perjalanan.

Ini adalah hari kedua, hari yang bila perjalanan lancar seharusnya sudah tiba di tempat tujuan.

Namun berhubung perjalanan dilakukan dengan santai, ditambah oleh gangguan keamanan di tengah jalan, diperkirakan perjalanan baru menempuh sepertiganya saja.

Kata Ki Bagus Sura, perjalanan dua pertiganya lagi mungkin bisa diselesaikan dalam waktu dua hari perjalanan.

Apalagi, perjalanan menjadi bertambah lamban sebab Yaksa yang masih luka tak bisa dibawa cepat.

Tadi malam, tubuh Yaksa bahkan menggigil karena demam.

Sementara, usaha Purbajaya dalam memberikan bantuan pengobatan selalu ditolaknya.

"Kalau kau tidak acuh tak acuh, barangkali Yaksa tak akan terluka parah," Wista masih memendam rasa sesal yang mendalam kepada "ketololan" Purbajaya yang tak mau membantu.

"Sudah, jangan merengek seperti itu. Ini hanya akan membuat orang sombong ini menjadi semakin tinggi hati," kata Yaksa mendelik kepada Purbajaya.

"Siapa yang bilang kalau kita butuh bantuan dia?" giliran Aditia yang mendelik dengan sorot mata panas.

"Diamlah kalian. Merasa tak bisa menari, jangan lantai yang disalahkan," Ki Dita menengahi. "Mungkin benar Yaksa terluka karena tak ada bantuan dari pihak lain. Tapi, kesalahan paling mendasar adalah karena kelemahan dan ketololan kalian juga. Camkan ini, Karatuan Sumedanglarang tidak membutuhkan ksatria lemah dan dungu, serta yang kerjanya hanya merengek atau menyalahkan orang. Aneh sekali, pemuda Purbajaya ini aku tak tahu entah siapa yang mengajarnya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment