Chapter 35
Namun yang jelas, dia berjiwa halus dan tidak banyak bicara.
Sementara kalian ini, lahir dari keluarga terhormat malah kerjanya uring-uringan saja.
"Kalian harus tahu, ilmu yang kumiliki ini mengandalkan gerakan halus. Dan gerakan halus hanya bisa dilakukan oleh orang berperangai halus juga," kata Ki Dita dengan nada penuh sesal.
Baik Aditia maupun Wista tampak melongo demi mendengar Ki Dita menyumpahi mereka. Bahkan Yaksa pun yang sedang luka terlihat terkejut dengan kenyataan ini. Purbajaya bisa merasakan kekecewaan ketiga pemuda ini. Menurut pikiran mereka, seharusnya Ki Dita membela mereka dan bukannya malah menyumpahi sambil balik memuji "lawan".
Purbajaya merasa sedikit senang dipuji Ki Dita. Namun, rasa khawatirnya pun menjadi bukan kepalang. Bukankah dengan kejadian ini akan semakin menyulut kebencian ketiga orang muda itu terhadapnya? Purbajaya jadi merasa tidak enak dibuatnya.
Sesudah percakapan ini, semuanya jadi berdiam diri. Ketiga orang itu membisu seribu bahasa. Demikian sampai perjalanan memakan waktu hampir setengah hari. Hanya desah kuda mereka yang terdengar, atau hanya kicauan burung walik di dahan-dahan kareumbi yang terdengar berceloteh.
Kini mereka sudah memasuki kawasan hutan pinus lagi dan jalanan menanjak. Perasaan Purbajaya jadi tidak enak sebab perjalanan ini mengingatkannya kepada ucapan Ki Bagus Sura. Kata orang tua itu, penghadangan oleh kaum perampok sebetulnya sudah dianggap biasa dan kebanyakan bisa ditepis karena kepandaian mereka tidak seberapa. Namun yang paling mencemaskan adalah penghadangan yang dilakukan oleh orang-orang yang bermasalah dengan negara karena urusan politik.
"Mereka rata-rata punya kepandaian hebat sebab dulunya pun di negeri ini termasuk orang penting juga," kata Ki Bagus Sura.
Yang paling dicemaskan oleh Ki Bagus Sura adalah dikenalnya sebuah organisasi gelap yang ramai disebut-sebut sebagai Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih. Mereka selalu mengacaukan keamanan di sepanjang jalan antara Sumedang dan Talaga. Mereka adalah kelompok yang sakit hati, baik kepada Sumedanglarang maupun kepada Talaga.
"Mereka sakit hati karena Karatuan Sindangkasih dibiarkan takluk kepada Cirebon. Padahal keinginan mereka, baik Talaga maupun Sumedanglarang harus bisa melindunginya sebagai negeri bawahannya," kata Ki Bagus Sura.
"Begitu kuatkah pasukan itu?" tanya Purbajaya yang merasa khawatir.
"Benar. Disebut pasukan siluman sebab tindak-tanduknya penuh misteri. Mereka menyerang secara gelap dan melarikan diri secara gelap pula. Dalam melakukan serangan, mereka jarang menampakkan diri. Makanya setiap orang yang akan melakukan perjalanan di sepanjang Sumedang-Talaga mesti berhati-hati."
"Hebat sekali mereka..." bisik Purbajaya terkesan.
"Kabarnya mereka dibantu oleh orang-orang pandai dari Pajajaran," jawab Ki Bagus Sura.
Jalanan semakin sempit dan menanjak. Di kiri kanannya kalau bukan hutan belukar, tentu jurang menganga. Sementara jalan yang dilewati terdiri dari debu tebal dan sepertinya akan menjadi lumpur tebal pula bila terjadi musim hujan.
Kini semua anggota rombongan semakin membisu. Tak banyak bicara bukan karena urusan cekcok tadi, melainkan karena rasa tegang. Tak ada wajah ceria lagi, baik di wajah Ki Dita maupun wajah Ki Bagus Sura. Hanya Paman Ranu yang tampak biasa. Mungkin begitu pembawaan orang tua setengah baya ini.
Agar tidak terpengaruh oleh kekhawatiran semua orang, Purbajaya malah sedikit memajukan langkah kudanya. Yang berjalan di muka sekarang adalah Ki Dita dan Wista. Dengan demikian, kini Purbajaya berjalan sejajar dengan Wista. Namun ketika didekati Purbajaya, Wista hanya memalingkan wajah bahkan mencoba menarik kendali kuda agar maju agak ke depan. Hanya saja tindakan itu segera diurungkannya manakala di depannya ada hal-hal yang mencurigakan.
Matahari tak pernah tiba ke tanah di wilayah ini sebab dedaunan hutan ini begitu lebatnya. Yang ada waktu itu hanya kabut tebal melayang-layang di antara dedaunan. Purbajaya merasakan betapa dinginnya hawa di sekitarnya. Mungkin lembah yang mereka lewati begitu dalam dan tiupan angin begitu kencang di bagian dasar lembah.
Kesunyian amat mencekam. Tak ada suara burung ataupun binatang hutan di sekitarnya. Demikian miskin penghunikah hutan berkabut ini? Purbajaya menarik tali kekang kudanya sehingga binatang itu tertahan langkahnya.
Rupanya yang menahan kaki kuda bukan Purbajaya seorang. Ki Dita dan Ki Bagus Sura pun sama-sama menghentikan langkah kudanya masing-masing. Yang lainnya serentak berhenti karena mengikuti yang lain. Purbajaya menduga, baik Ki Bagus Sura maupun Ki Dita sudah mencurigai keadaan sekeliling yang dirasa ganjil.
Purbajaya sejak tadi memang curiga. Mustahil di tengah hutan lebat seperti ini tidak terdengar suara binatang apa pun. Kalau sekelompok burung menjauh, binatang melata sirna, dan serangga tidak ada, itu hanya menandakan bahwa ketenteraman mereka diganggu sesuatu. Apakah itu? Purbajaya saling pandang dengan Ki Bagus Sura. Sementara Ki Dita sudah lebih dahulu mengeluarkan pedangnya.
Bila Ki Dita saja sudah mempersiapkan diri, itu hanya menandakan bahwa bahaya besar sedang menghadang. Dan kalau dalam menghadapi perampok saja Ki Dita tampak tenang, maka mudah diduga kalau bahaya kali ini jauh lebih berbahaya ketimbang perampok.
Berdebar dada Purbajaya. Dia teringat penjelasan Ki Bagus Sura mengenai gangguan apa saja yang terdapat di tengah perjalanan ini. Kini semua orang sudah menghentikan langkah kudanya masing-masing. Semuanya duduk terpaku, tidak ada yang berani membuka suara. Bahkan kuda-kuda pun sama-sama tidak bergerak, kecuali ekornya yang dikibas-kibaskan.
Ketegangan dan rasa cemas terlihat jelas di wajah Ki Bagus Sura. Bahkan di dinginnya udara hutan berkabut ini, jidat Ki Bagus Sura tampak mengucurkan keringat.
"Benar... Merekalah yang datang!" desis Ki Bagus Sura parau.
Sepasang mata Ki Bagus Sura menatap tajam ke arah pepohonan. Purbajaya jadi penasaran apa yang dilihat orang tua itu. Yang dilihat di pepohonan sebenarnya hanyalah kabut tebal. Namun di sela-sela kabut warna putih, terlihat pula ada kabut warna hijau melayang tipis di sekitarnya.
Kabut apakah ini? Kabut hijau ini pada mulanya hanya melayang tipis saja. Tapi makin lama makin tebal sehingga seluruh kabut berwarna hijau.
"Tutuplah hidung dan mulut!" teriak Ki Bagus Sura.
Warna hijau semakin tebal dan menutupi seluruh pandangan. Purbajaya mencoba menahan napas. Namun sampai kapan kuat bertahan, dia tidak yakin sebab kabut hijau semakin tebal saja. Hanya selintas Purbajaya melihat teman-temannya secara beruntun melorot jatuh dari atas kudanya masing-masing. Sesudah itu, pandangan matanya pun jadi gelap dan kepalanya pusing setelah menghirup bau wewangian yang aneh tapi membuat dirinya mabuk.
***
Ketika sadar, Purbajaya mendapati dirinya sudah terikat di batang pohon. Masih terletak di tengah hutan lebat, namun bukan di tepi jalan pedati. Melihat sekelilingnya hutan yang amat lebat, itu hanya menandakan bahwa selagi pingsan mereka diseret dari jalan pedati, entah ke daerah mana.
Siapa yang menyeret mereka? Purbajaya menoleh ke sana kemari. Dia bersyukur. Kendati mereka sama-sama dalam keadaan terikat, namun semua anggota rombongan dalam keadaan utuh, tidak kurang suatu apa pun. Di hadapannya terlihat Ki Bagus Sura dan Ki Dita terikat di pohon berlainan. Sementara dia sendiri berdampingan dengan Wista dan Aditia yang juga sama-sama terikat di batang pohon berbeda.
Perihal Yaksa, pemuda itu tubuhnya tergeletak begitu saja beralaskan semak belukar. Purbajaya semula terkejut. Dia menduga Yaksa telah menjadi mayat. Namun setelah dilihatnya pernapasan Yaksa turun-naik dan bahkan terdengar suara dengkur, itu hanya menandakan pemuda ini sedang tidur pulas. Yaksa tidak diikat karena si penyerang nampaknya melihat Yaksa sebagai orang lemah karena luka-lukanya.
Suasana masih sunyi. Purbajaya tetap berdiam diri. Dia menunggu beberapa lama kalau-kalau si penyerang ada di sekitar itu. Namun ditunggu lama, tidak ada gerakan mencurigakan. Dengan demikian, Purbajaya akhirnya berkesimpulan kalau mereka sebenarnya telah ditinggalkan begitu saja oleh si penyerang.
Siapakah lawan-lawan mereka yang begitu tangguh ini? Perampokkah mereka? Purbajaya mesti menarik sangkaannya ini. Kalau perampok, mestinya menjarah harta. Namun peti-peti berukir berserakan begitu saja. Demikian pun pundi-pundi miliknya yang berisi uang logam negeri Cina, masih terasa utuh karena berat di pinggangnya tidak berkurang.
Kepala Purbajaya masih terasa pening. Pandangan matanya pun masih berkunang-kunang. Dia ingat, sebelum tiba di tempat ini ada terpaan kabut aneh berwarna hijau dan baunya aneh memabukkan. Sesudah menghirup kabut hijau, semuanya jatuh pingsan. Sekarang secara tiba-tiba sudah berada di sini dengan tubuh terikat di pohon.
Purbajaya menduga mereka bukan komplotan perampok. Barang berharga berserakan begitu saja, itu hanya menandakan bahwa mereka sebenarnya tidak butuh harta dan bukan berniat menjarah harta. Lantas, apa yang mereka inginkan?
Sementara hati Purbajaya bertanya-tanya seperti itu, tampak Ki Bagus Sura dan Ki Dita sudah tersadar dari pingsannya. Seperti Purbajaya, mereka pun pada mulanya meneliti sekelilingnya dan memeriksa tubuh masing-masing yang terikat di batang pohon.
"Perbuatan merekakah ini?" tanya Ki Dita menatap Ki Bagus Sura.
"Barangkali benar mereka..." suara Ki Bagus Sura hampir berupa bisikan.
"Siapakah yang dimaksud, Ki Bagus?" tanya Purbajaya penasaran.
Ki Bagus Sura dan Ki Dita saling pandang. Rupanya mereka baru tahu kalau Purbajaya pun sudah siuman dari pingsannya.
"Yang memiliki serangan uap hijau hanya satu, yaitu anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih..." kata Ki Bagus Sura dengan suara penuh rasa khawatir.
"Nyi Rambut Kasih?" Purbajaya bergumam.
"Engkau tidak akan mengenal tokoh ini sebab Nyi Rambut Kasih hidup sekitar enam puluh tahun yang lalu," kata Ki Bagus Sura.
Sambil menunggu yang lainnya siuman, berceritalah Ki Bagus Sura.