Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 36

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 36

Di wilayah dekat Karatuan Talaga terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Sindangkasih. Kerajaan ini kini telah berkembang menjadi Majalengka dan diperintah oleh seorang ratu cantik bernama Nyi Rambut Kasih.

Ia sangat setia kepada agama leluhurnya. Meskipun kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Maja, Rajagaluh, dan Talaga sendiri telah memeluk agama baru, Nyi Rambut Kasih tetap fanatik dengan agama lamanya. Namun demikian, ia membebaskan rakyatnya untuk memilih agama yang mereka inginkan. Banyak rakyatnya yang berpindah agama, tetapi ada pula yang mengikuti keteguhan sang ratu.

Sementara itu, dalam peralihan zaman di negerinya, Nyi Rambut Kasih memilih meninggalkan keraton dan mengasingkan diri. Hingga tahun 1490 Masehi, Cirebon menganggap seluruh penduduk Sindangkasih telah memeluk agama baru, kecuali sang ratu yang menghilang tanpa jejak.

“Banyak dugaan berbeda. Namun, penduduk menganggap Sang Ratu telah menghilang secara gaib. Sebab, jika mati pasti ada kuburnya, dan jika hidup pasti diketahui keberadaannya. Maka, orang menyebutnya telah ngahiyang. Hidup di dunia tidak, namun mati pun tidak,” jelas Ki Bagus Sura.

“Tapi, apa hubungannya dengan Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih?” tanya Purbajaya semakin penasaran.

“Aku sudah katakan dulu, komplotan ini disebut siluman karena tindak-tanduknya misterius. Datang dan pergi tak diketahui kapan dan di mana. Tahu-tahu lawan terkalahkan. Ya, seperti kita ini.”

“Tidak perlu dibuat aneh. Mereka melumpuhkan kita dengan siasat licik,” kata Aditia yang ternyata sudah siuman. “Mereka meracuni kita, kan?” lanjutnya.

Wista dan Yaksa pun sudah bangun. Karena Yaksa tidak diikat, ia segera membuka semua ikatan rekannya, walau dengan susah payah menahan sakit. Namun, ia hanya mengikat tali Purbajaya. Paman Ranu menggelengkan kepala, heran dan kecewa dengan sikap Yaksa. Ia sendiri yang membantu melepaskan tali di tubuh Purbajaya.

Purbajaya tidak banyak berpikir mengenai hal itu. Ia malah terus bertanya perihal keberadaan pasukan siluman.

“Ya, belakangan aku tahu, mereka mengalahkan kita dengan uap beracun. Hanya aku penasaran, mereka tidak memberikan kita peluang untuk saling berhadapan,” kata Ki Bagus Sura.

“Padahal kalau bisa saling berhadapan, kita bisa tahu apa sebetulnya yang mereka inginkan,” sambung Ki Bagus Sura lagi.

“Mereka orang jahat. Apa lagi yang mereka inginkan selain harta yang kita bawa?” Wista mulai buka suara.

“Harta yang kita bawa dan bernilai tinggi, berserakan begitu saja. Hanya membuktikan, mereka tidak butuh harta,” kata Purbajaya sambil menunjuk ke arah belukar di mana peti-peti berserakan. Isinya porak-poranda begitu saja.

“Sepertinya mereka melecehkan apa yang sebenarnya kita anggap berharga,” sambung Purbajaya lagi.

“Gan Bagus, lihatlah, golek emas mereka cincang habis-habisan. Mereka memang mau menghina kita,” kata Paman Ranu memunguti benda berharga itu.

Ki Bagus Sura terhenyak. Hatinya mungkin marah melihat barang cinderamata yang sedianya akan dikirimkan sebagai lambang persahabatan antarnegara, dicincang tak berguna seperti itu.

“Benar, mereka sengaja menghina kita, Sumedang dan Talaga…” gumam Ki Bagus Sura.

“Mengapa begitu?” tanya Purbajaya.

“Karena Sumedang dan Talaga bersaudara…”

“Ya, aku pun tahu,” potong Ki Dita. “Kangjeng Sunan Parung, penguasa Talaga, mempersunting salah seorang putri dari Sumedanglarang. Sementara permaisuri Kangjeng Pangeran Santri pun beristrikan putri Kangjeng Sunan. Dengan demikian, Sumedang dan Talaga bersaudara dekat. Hanya saja, apa hubungannya dengan pasukan siluman sehingga mereka membenci dua negeri ini?” tanya Ki Dita, lebih berupa menyelidik ketimbang sekadar ingin tahu. Hal ini sedikit mengherankan hati Purbajaya.

“Aku hanya bisa menduga-duga saja,” gumam Ki Bagus Sura. “Tapi kukira ini erat kaitannya dengan perasaan sakit hati,” lanjutnya setengah berpikir.

“Sakit hati karena apa?” desak Ki Dita.

“Hhh… Kita semua tahu. Kehadiran agama kita tidak selalu mulus diterima semua pihak. Ternyata di Sindangkasih banyak pengikut Nyi Rambut Kasih bersimpati kepada ratunya. Mereka tidak menganggap Sang Ratu mundur dari percaturan kehidupan bernegara secara sukarela, namun pergi sambil memendam kesedihan dan kekecewaan. Mereka yang bersimpati sepertinya merasa ikut sedih. Dari sekadar bersedih menjadi sakit hati dan marah, lantas secara spontan membalas dendam. Kepada siapa mereka balas dendam? Tentu kepada siapa saja yang mereka anggap telah menyakiti ratunya. Salah satu di antaranya adalah Sumedanglarang dan Talaga, yang mereka anggap tidak membela kepentingan Sindangkasih,” tutur Ki Bagus Sura mengeluarkan persangkaannya.

“Mundurnya Nyi Rambut Kasih dari keraton, dinilai para pengikutnya sebagai kekalahan dan keterdesakan oleh kehidupan zaman baru. Ini amat menyakitkan hati mereka. Makanya mereka marah dan mengganggu kita,” sambung Ki Bagus Sura lagi.

“Mereka melakukan pembunuhan juga?” tanya Purbajaya.

“Sejauh yang aku ketahui, mereka tidak membunuh. Namun demikian, mereka meresahkan semua orang. Kaum saudagar terganggu dalam usahanya, begitu pun perjalanan kenegaraan,” ujar Ki Bagus Sura mengeluh.

“Mereka membunuh atau tidak, kalau bisa kita ringkus atau mungkin harus dibunuh! Segala macam pengacau yang meresahkan masyarakat harus kita tumpas habis,” kata Aditia bersemangat.

“Betul. Bunuh mereka!” teriak Wista tak kalah semangatnya.

Namun, baru saja ucapannya berhenti, dari semak belukar muncul seseorang. Ini sungguh mengejutkan semua orang, sehingga secara refleks, Wista meloncat bersembunyi di balik pohon besar.

“Tangkap penjahat!” teriak Aditia sambil cepat berdiri. Selanjutnya, tanpa ragu ia menerjang orang asing itu. Yaksa, yang tubuhnya dibebat karena lukanya, segera memberikan bantuan dan ikut menyerang. Belakangan, Wista pun keluar dari tempat sembunyi dan ikut menerjang lawan. Mungkin Wista sudah mulai hilang rasa takutnya, apalagi lawan yang diserang hanya satu orang saja.

Kejadian ini terlalu cepat sehingga yang lainnya hanya terpaku menyaksikan tiga orang murid Ki Dita mengeroyok seorang asing. Purbajaya khawatir sebab tiga orang muda semberono itu tidak mengukur dulu tingkat kepandaian lawan. Tahu-tahu ketiga orang itu menjerit kesakitan karena tubuh-tubuh mereka terlontar. Tubuh Yaksa dan Aditia terlontar dan menumbuk batang pohon. Tapi, yang paling bahaya adalah nasib Wista. Terlihat ia hendak dipukul telak di bagian dadanya oleh si penyerang asing itu.

Orang yang paling berdiri dekat kepada Wista hanyalah Purbajaya. Dengan demikian, hanya Purbajaya seorang yang memiliki peluang menyelamatkan pemuda itu. Purbajaya pun sadar akan hal ini. Maka begitu pukulan orang itu meluncur deras ke dada Wista, Purbajaya segera meloncat dengan cepat. Dan dengan tenaga sepenuhnya, tangan kanan Purbajaya menyampok serangan lawan. Plak! Pukulan orang itu tertahan dan pergelangan tangan Purbajaya terasa ngilu dan sakit. Namun, nyawa pemuda Wista selamat.

Wista gembira, tapi Purbajaya meringis. Pukulan orang itu sungguh keji, dikerahkan dengan tenaga penuh, dan kalau kena dengan telak, orang yang dipukul pasti tewas. Purbajaya, yang menahan pukulan itu dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya, masih terasa bergetar dan urat-urat di tangan serasa menegang mau putus. Namun, Purbajaya pun melihat betapa lelaki itu pun nampak meringis dan wajahnya menampakkan perasaan terkejut.

Meskipun demikian, orang asing yang usianya kira-kira di atas lima puluh itu seperti tidak merasakan benturannya tadi karena langsung melakukan serangan susulan. Kali ini yang diserangnya adalah Purbajaya. Ternyata gerakan lelaki setengah tua ini cepat dan mantap. Kali ini Purbajaya tidak berani membiarkan tangannya saling bentur dengan tangan lawan. Ia menyadari, tenaga dalam lelaki ini setingkat di atasnya. Kalau selalu memaksakan diri mengadu tenaga dalam, tentu Purbajaya yang akan repot. Oleh sebab itu, kini Purbajaya kerjanya hanya main kelit saja dan baru melepaskan serangan kalau ada peluang untuk itu.

Ki Dita merasa tidak sabar melihat pertempuran kecil yang terlihat bertele-tele ini. Oleh sebab itu, ia segera melibatkan diri ke dalam arena pertempuran. Dikeroyok dua oleh Ki Dita dan Purbajaya, lelaki asing itu tidak menjadikan dirinya gentar. Malah terlihat ia semakin meningkatkan kemampuannya. Dan nyatanya, lelaki setengah baya ini sungguh hebat. Kendati dikeroyok dua, tidak memperlihatkan kepanikan, bahkan sanggup mengatur irama permainan dengan baik sehingga perkelahian jadi seimbang.

Hanya saja Purbajaya bisa menduga, permainan jadi seimbang lantaran antara dia dan Ki Dita tidak bekerja sama. Sekalipun main berdua, tetapi keduanya bekerja sendiri-sendiri, tidak saling menutupi kelemahan teman. Bahkan ada kecenderungan, Ki Dita membiarkan serangan lawan yang mengarah dirinya dan lebih mementingkan serangan dirinya ke arah lawan. Akhirnya begitu pun yang dilakukan Purbajaya. Karena Ki Dita tidak berupaya menutupi kekosongan, maka ia hanya asyik melakukan serangan dan tepisan yang sekiranya menguntungkan dirinya saja. Akibat main sendiri-sendiri, beberapa kali lawan hampir sanggup menerobos masuk, baik ke arah Purbajaya maupun ke arah Ki Dita.

“Dasar anggota pasukan siluman, gerakanmu jahat dan kejam!” teriak Ki Dita gemas.

“Kalian orang Pajajaran kerjanya licik main keroyok!” lelaki itu balas memaki.

“Aku bukan orang Pajajaran!” teriak Ki Dita hendak mengemplang ubun-ubun orang itu, namun bisa dihindarkan dengan enteng.

“Aku pun bukan anggota pasukan siluman!” teriak lelaki itu, balas hendak membabat betis Ki Dita dari bawah.

“Hentikan pertempuran!” teriak Ki Bagus Sura.

Dan ketiga orang itu serentak berhenti.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ki Dita penuh selidik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment