Chapter 37
"Kalian pun siapa? Aku mengira malah kalianlah anggota pasukan siluman sebab kalian berada di tempat tersembunyi seperti ini," kata lelaki asing itu balik menduga.
"Sudahlah, hentikan pertikaian," cegah Ki Bagus Sura. "Aku tahu, di antara kita semua telah terjadi salah paham," ujarnya lagi.
Maka ketegangan pun menurun. Perhatian kini dialihkan untuk menolong Aditia dan Yaksa yang terluka karena tubuhnya menumbuk batang pohon. Ternyata mereka luka cukup parah, terutama Yaksa karena sebelumnya pun dia sudah terluka.
"Tak ada tulang patah, kecuali memar-memar," kata Purbajaya sesudah memeriksa tubuh dua orang itu.
"Memang hanya luka memar. Tapi di tubuh pemuda satunya lagi ada luka sabetan senjata tajam, aku tak tanggung jawab," kata si lelaki asing ikut memeriksa.
"Dia terluka diganggu perampok kemarin," jawab Ki Bagus Sura yang juga sedang memeriksa luka.
"Tak diduga, kami terus-terusan diganggu orang jahat..." kata Ki Dita jengkel.
"Hati-hati kalau bicara, aku bukan orang jahat. Lagi pula, kalianlah yang duluan menyerangku," bantah lelaki asing itu kembali berang.
"Maksud kami, selain diganggu perampok, kami pun diganggu pasukan siluman. Lantas kau datang, makanya kami cepat menduga kalau kau adalah salah seorang dari mereka..." Ki Bagus Sura memberikan penjelasan sehingga kemarahan orang pemberang itu hilang kembali.
"Hahaha..."
"Kenapa kau ketawa?" Ki Dita heran dan bercuriga lagi.
"Kalau kalian diganggu pasukan siluman, aku bisa duga kalian tentu orang Sumedang atau orang Talaga," kata orang itu masih tertawa.
"Kami memang datang dari Sumedang..." jawab Ki Bagus Sura.
"Pantas..."
"Tapi tak sepantasnya orang-orang dari pasukan siluman mengganggu kami," potong Ki Bagus Sura. "Mungkin maksudnya mengganggu orang Talaga."
"Tapi malah kami yang diganggu. Lihatlah, barang cendera mata terbaik dari negeri kami untuk dipersembahkan kepada penguasa Talaga sudah berantakan begini. Mau dikemanakan muka kami di hadapan mereka?" tanya Ki Bagus Sura putus asa.
"Itulah tujuan anggota pasukan siluman, agar hubungan dua negeri kalian terganggu," kata orang asing itu.
"Kurang ajar!" teriak Aditia geram.
"Engkau sendiri ada di pihak mana?" tanya Ki Dita kembali, matanya penuh selidik.
"Mengapa tanya begitu? Sepertinya orang harus memihak sesuatu?" si lelaki asing malah balik bertanya.
"Memang tidak harus begitu. Tapi engkau memandang kami penuh ejekan. Mengejek berarti tak menyukai. Dan tak menyukai sama dengan memusuhi. Di zaman kini, orang harus memilih keberpihakan," kata Aditia lantang dan bertolak pinggang, padahal jelas bokongnya sedang sakit.
"Tidak, tidak begitu. Puluhan tahun aku memihak Talaga. Dan ketika Talaga bergabung dengan Cirebon, aku pun ikut dengan Cirebon. Namun demikian, tidak berarti aku memihak Cirebon. Aku ikut menyerang Pajajaran bukan mau membela Cirebon, tapi karena benci Pajajaran. Itu saja," jawab lelaki asing itu.
"Anda menyebut-nyebut Cirebon, siapakah Anda sebenarnya?" Purbajaya ikut bicara.
Sebelum menjawab, lelaki itu memandang tajam kepada Purbajaya. "Sedikit-sedikit aku hafal gerakanmu tadi. Kau mirip orang Cirebon," lelaki itu malah bicara begitu.
"Saya memang orang Cirebon. Nama saya Purbajaya, murid Paman Jayaratu," jawab Purbajaya.
Mendengar ucapan Purbajaya ini, nampak lelaki asing itu sedikit terkejut. "Sebetulnya aku kenal orang tua itu walau tak akrab benar. Namaku Sudireja," jawabnya.
Purbajaya coba mengingat-ingat kalau-kalau pernah mendengar nama orang ini, namun dia tidak ingat. Pemuda ini pun lantas meneliti Ki Sudireja. Lelaki setengah tua ini memiliki cambang bauk yang pendek dan jarang. Barangkali tadinya habis dicukur namun dikerjakan asal-asalan saja. Bulu-bulu di cambang bauknya sudah banyak memutih karena uban, namun rambut kepalanya yang digelung ke atas dan diikat selembar kain kasar warna hitam malah bebas dari uban. Rambut yang subur itu berwarna hitam legam. Yang khas dari Ki Sudireja, bulu uban malah tumbuh subur di lubang hidungnya. Sepasang matanya cekung dan dalam, menandakan bahwa lelaki setengah tua ini sudah banyak merasakan pahit getirnya kehidupan di dunia.
Kata Ki Sudireja, dia pun kenal Paman Jayaratu walaupun sedikit. Bisa jadi begitu sebab Paman Jayaratu pada tahun 1530 pernah ikut serta menundukkan Talaga. Di pihak manakah Ki Sudireja ketika itu? Purbajaya hendak mencoba bertanya namun Ki Sudireja nampaknya akan segera pamit.
"Tunggu. Beri kami kabar perihal keberadaan pasukan siluman," kata Ki Bagus Sura.
"Aku pun tengah mencari keterangan perihal mereka. Mereka harus kubunuh bila berani mengusik ketenanganku!" katanya berang.
Ki Sudireja meloncat dan menghilang di balik rimbunan pohon. Maka tinggallah rombongan muhibah yang kebingungan. Mereka bingung untuk melanjutkan perjalanan. Bukan saja karena Aditia dan Yaksa menderita luka, namun karena barang cendera mata yang tak bisa terselamatkan. Semuanya rusak dan tak mungkin dikirimkan kepada yang berhak.
Untuk yang pertama kalinya Ki Bagus Sura dan Ki Dita berunding memecahkan persoalan. Mereka mencari jalan pemecahan bagaimana tindakan selanjutnya. Apakah akan dilanjutkan menuju Talaga dengan risiko mendapat malu, ataukah kembali pulang tapi juga menerima teguran keras dari Kanjeng Pangeran lantaran tak sanggup mengerjakan titah dengan baik.
"Tapi kukira kita semua harus melanjutkan ke Talaga," kata Ki Bagus Sura dengan wajah nampak terkejut. Dengan tergopoh-gopoh dia memburu peti-peti cendana berukir indah itu untuk meneliti sesuatu. Dan sesudah melakukan hal itu, mendadak wajahnya pucat pasi.
"Ada apa?" tanya Ki Dita.
"Ada yang hilang..." gumam Ki Bagus Sura masih pucat pasi.
"Kukira lengkap. Tak ada peti yang hilang."
"Ya, tapi isinya ada yang hilang," kata lagi Ki Bagus Sura.
"Semua benda berharga jumlahnya ada enam, sesuai dengan jumlah peti enam buah. Jadi, benda apa yang hilang?" Ki Dita jengkel dengan penjelasan Ki Bagus Sura yang dianggapnya membingungkan ini.
"Ya, peti seluruhnya berjumlah enam buah dan masing-masing diisi sebuah benda cendera mata, kecuali satu peti ditambah oleh sebuah surat daun lontar yang disusun rapi dalam sebuah ikatan benang berwarna. Itu adalah surat penting dari Kanjeng Pangeran dari Sumedang buat Kanjeng Sunan di Talaga," Ki Bagus Sura menerangkan.
"Tidak pernah kudengar sebelumnya. Kau merahasiakan satu hal kepada kami, Bagus," kata Ki Dita tersinggung.
"Itu yang diinginkan Kanjeng Pangeran. Surat itu bersifat penting dan rahasia. Supaya bisa sampai ke tujuan, maka harus dirahasiakan pula. Makanya hanya aku yang tahu. Belakangan, ternyata pasukan siluman pun tahu..." kata Ki Bagus Sura bingung dan panik.
"Kalau begitu, pasukan siluman mencegat kita karena mau merebut surat itu, Ki Bagus," kata Purbajaya.
"Kukira benar begitu," gumam Ki Bagus Sura.
"Artinya mesti ada yang memberi tahu kalau rombongan ini sebetulnya tengah membawa surat penting untuk Talaga," kata lagi Purbajaya.
"Ya, siapa yang memberi tahu?" Wista meneliti semua orang tapi matanya malah paling lama hinggap di mata Purbajaya. "Ada anggota pasukan siluman di antara kita. Paling tidak, salah seorang pasti berlaku khianat," kata Wista kembali meneliti wajah semua orang dan lagi-lagi hinggap paling lama di wajah Purbajaya sehingga amat menyebalkan perasaan Purbajaya sendiri.
"Kita harus mengejar pasukan siluman," kata Ki Bagus Sura mengepalkan tinju.
"Apa? Kau katakan kita, Ki Bagus?" tanya Ki Dita.
"Aku tak mau ikut," bantah Aditia.
"Kita harus mengejar mereka. Di perjalanan kita sehidup semati. Lagi pula kita ini satu kesatuan dalam mengemban misi," Purbajaya ikut menyela.
"Misi pelatihan bolehlah. Dan kau lihat betapa tubuh kami tambal sulam begini, ini hanya menandakan bahwa kami sudah selesaikan tugas dengan baik. Tapi urusan tugas yang dirahasiakan, hanya yang tahu saja yang mesti bertanggung jawab!" kata Aditia.
Semua teman-temannya mengangguk setuju kepada ucapan Aditia. Mendengar perkataan Aditia, Ki Bagus Sura mengangguk dengan wajah kecut.
"Tak apa kalian tidak ikut sebab memang hanya aku yang tahu akan tugas rahasia ini," Ki Bagus Sura memutuskan.
"Kita semua harus ikut," kata Purbajaya berpendapat.
"Ayo ikutlah engkau agar lekas mati dibantai pasukan siluman," kata Aditia sinis. "Tapi aku sama sekali tak berminat. Mengapa semua orang harus bertanggung jawab sementara jauh sebelumnya kami tak diberi tahu akan adanya tugas amat penting ini? Kalau jauh hari kami diberi amanat, barangkali akan sama-sama menjaganya sampai titik darah penghabisan."
"Engkau mungkin benar. Maka tinggallah di sini," kata Ki Bagus Sura.
"Saya ikut..." kata Purbajaya menyela.
"Kita semua memang harus ikut. Apa pun jadinya, pada akhirnya kita semua harus bertanggung jawab," Ki Dita memutuskan.
Aditia bimbang. Dia menatap bergantian kepada dua orang sahabatnya. Tapi baik Yaksa maupun Wista melangkah mendekati Ki Dita, barangkali sebagai isyarat kalau mereka berdua terpaksa setuju pada pendapat gurunya.
"Baik. Paling tidak kita harus tahu benda apa yang oleh kita mesti dipertaruhkan dengan darah dan nyawa ini," Aditia memberi kelonggaran kepada pendapatnya sendiri.
Namun ucapan Aditia ini seperti ada benarnya. Buktinya semua orang terpengaruh ucapannya dan sama-sama menatap tajam kepada Ki Bagus Sura. Rupanya semua orang sama-sama merasa penasaran, surat penting apakah itu sehingga pasukan siluman pun tertarik untuk menjegalnya di tengah jalan. Ki Bagus Sura mungkin sadar kalau tatapan mata semua orang menekannya.
"Bagaimana mungkin sesuatu yang bernama rahasia mesti diketahui banyak orang? Tapi percayalah, isinya adalah untuk kepentingan kita bersama: Sumedang Larang dan Karatuan Talaga. Namun bila surat daun lontar itu jatuh ke tangan orang yang tak berhak, akibatnya akan berbahaya. Itulah sebabnya kita mesti berupaya merebut surat itu," kata Ki Bagus Sura menghindari tekanan.
Purbajaya menundukkan wajah.