Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 38

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 38

Dia sadar kalau dia pun sebenarnya ikut mendesak agar Ki Bagus Sura membeberkan isi surat rahasia.

Sungguh tak pantas memaksa orang yang karena misinya dipercayai atasan untuk memendam sebuah rahasia.

Aditia dan teman-temannya memberengut sebagai tanda tak puas.

Namun Ki Dita sendiri tidak menampakkan wajah kecewa.

Malah sebaliknya, wajah orang tua ini cerah.

Sesuatu yang tak dimengerti oleh Purbajaya.

"Kita harus berpacu melawan waktu.

Semakin cepat kita mengejar, akan semakin besar peluang kita untuk bisa menyusul mereka," Ki Bagus Sura mengajak semua orang untuk berangkat.

Namun, perjalanan kali ini mungkin semakin sulit, mengingat kuda mereka semuanya lenyap entah ke mana.

Mungkin kabur, mungkin juga dirampas pasukan siluman.

"Sebaiknya kita kuntit Ki Sudireja.

Sebab bukankah orang itu pun tengah mengikuti jejak pasukan siluman?" kata Purbajaya berpendapat.

Dan pendapatnya ini diiyakan oleh Ki Bagus Sura.

Semua pun akhirnya sepakat untuk mengikuti jejak Ki Sudireja.

Hanya saja, Wista dan Yaksa di sepanjang jalan mengomel panjang-pendek lantaran hilangnya kuda-kuda mereka.

Dengan lenyapnya tunggangan itu, mereka akan berjalan kaki.

Dan bagi mereka, ini amat menyebalkan.

Perjalanan kembali dilanjutkan.

Mula-mula mereka harus berusaha menemukan kembali jalan pedati.

Dan Purbajaya harus memuji kebolehan pasukan siluman.

Mereka sanggup membawa tawanan dalam keadaan pingsan ke sebuah tempat yang jauh dari jalan dan sulit untuk dirambah.

Mereka harus membawa tawanan menuruni ngarai dan menyeberangi sungai berbatu dengan airnya yang jernih dan deras.

Berapa orangkah jumlah mereka sehingga sanggup mengangkut tujuh orang yang pingsan? Untuk apa pula mereka mengangkut tawanan sejauh ini? Barangkali tak ada maksud tertentu kecuali sengaja memperlihatkan bahwa mereka orang-orang hebat.

Sungguh misterius pasukan itu.

Namanya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri.

Pasukan Siluman? Sungguh menakutkan.

Apakah Nyi Rambut Kasih pun sama menakutkan? Mendengar nama pasukan yang menyertakan istilah siluman, seolah menunjukkan bahwa masih ada dendam dan ketidakrelaan "Nyi Rambut Kasih" akan kehadiran kekuatan baru di muka bumi ini.

Namun, betulkah demikian? Bukankah Nyi Rambut Kasih telah mengundurkan diri dari percaturan dunia? Bukankah sudah dikatakan oleh semua orang bahwa Nyi Rambut Kasih secara baik-baik mundur dari kehidupan guna memberikan kesempatan kepada sebuah zaman yang baru? Peristiwa ini sudah lama berlalu, sudah lebih dari enam puluh tahun lamanya.

Kalaupun Nyi Rambut Kasih ada, barangkali hari ini usianya sudah sedemikian lanjut.

Mungkinkah seorang nenek renta bisa memimpin sebuah pasukan yang demikian hebat? Mungkinkah seorang tua masih memendam dendam dan emosi sehingga bisa menggerakkan sebuah pasukan? Pengalaman membuktikan, banyak ratu (pemimpin) dituding bersalah padahal belum tentu dia sendiri yang melakukannya.

Ratu punya abdi dalem (aparat).

Kalau perintah ratu bisa dijalankan dengan benar oleh abdi dalem, maka nama baik sang ratu akan terpelihara.

Namun sebaliknya, bila aparat tak bisa menjalankan amanat dengan benar, maka sang ratu pun akan terkena getahnya.

Bukan sesuatu hal yang mustahil ada abdi dalem yang bekerja sendiri dengan selera sendiri dan diabdikan untuk kepentingan sendiri, tetapi akibat dari perbuatannya, ratulah yang mesti bertanggung jawab.

Penguasa Pajajaran bernama Sang Prabu Ratu Sakti yang tengah memerintah kini (1543–1551 Masehi) banyak dipersalahkan rakyatnya karena gaya kepemimpinannya keras dan menekan rakyat.

Rakyat menderita karena kabarnya selalu ditekan oleh penarikan upeti (pajak) yang berat.

Namun, selentingan juga mengatakan bahwa tindakan-tindakan keras ini dilakukan secara sendiri oleh para abdi dalemnya.

Mereka menginginkan tugas yang diamanatkan oleh ratu bisa berjalan dengan baik dan hasilnya besar.

Semakin besar kesuksesan pekerjaan seorang abdi dalem, maka akan semakin besar pula kepercayaan dan penghargaan sang ratu kepadanya.

Maka untuk mengejar "upah" seperti ini, abdi dalem bersikap menekan kepada yang di bawah.

Mungkin demikian halnya dengan Nyi Rambut Kasih.

Barangkali benar, sang ratu di Sindangkasih ini secara sukarela telah memberikan kesempatan bagi penguasa hidup untuk mengisi zaman baru.

Namun, tak demikian dengan aparatnya.

Hilangnya sebuah negeri bagi sang aparat berarti hilangnya sebuah kesempatan bagi keberadaannya.

Tergantikannya suksesi pemerintahan sepertinya juga menggantikan kekuasaan aparat di bawahnya.

Jadi, agar kekuasaan tidak hilang, maka dicari akal untuk mempertahankannya atau merebutnya, atau menyabotnya kalau ternyata dia terhempas oleh perubahan kekuasaan itu.

Maka, kendati sudah diumumkan bahwa seluruh penduduk Sindangkasih ikut agama baru, belum tentu istilah "seluruh" itu berarti semua.

Yang tak setuju dengan keadaan ini memilih memberontak.

Dan agar mendapatkan dukungan massa, maka mereka mengatasnamakan tokoh mereka sendiri yang populer di masa itu, namun hidupnya "teraniaya".

Begitu kira-kira yang tengah dipikirkan dan yang jadi dugaan hati Purbajaya.

Namun, benar atau tidak dugaannya ini, yang jelas, Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih memang ada dan terasa mengganggu ketenangan masyarakat.

Keutuhan persahabatan antara Sumedanglarang dan Talaga pun terganggu oleh kehadiran pasukan misterius ini.

Purbajaya amat bergairah dalam mengikuti upaya pengejaran ini.

Mungkin dia ingin ikut menyelesaikan masalah keberadaan kelompok ini, namun bisa juga hanya karena rasa penasaran semata-mata.

Siapa orangnya yang tak tertarik pada masalah yang bersifat misteri? Ya, Purbajaya ingin sekali menguaknya.

Kalau urusan ini bisa dia ikut selesaikan dan dilaporkan kepada penguasa di Cirebon, mungkin dia akan dapat acungan jempol.

Atau setidaknya, orang tahu bahwa kehadiran dirinya di Cirebon tidak percuma.

Sesudah cukup lama keluar-masuk belantara, akhirnya rombongan pun bisa menemukan kembali jalan pedati.

Rombongan tujuh orang dengan dua orang luka ini mulai menempuh perjalanan kembali dengan jalan kaki berhubung kuda mereka hilang.

Namun Wista tetap rewel dan menyayangkan kalau kuda mereka yang bagus-bagus hilang tak tentu rimbanya.

"Sudahlah.

Mengapa kau kerjanya mengeluh saja?" Yaksa mengomel.

"Bukannya aku mengeluh karena aku tak bisa naik kuda, tapi itu kan kuda mahal.

Kau sendiri tak mungkin mampu beli," bantah Wista sambil berjalan tertatih-tatih, padahal Purbajaya tahu pemuda ini tak menderita luka apa pun.

"Tidak apa.

Kuda hilang dan kita jalan kaki, ini adalah bagian dari pelatihan," kata Ki Dita menengahi.

"Tapi apakah lukanya Aditia dan Yaksa pun bagian dari pelatihan, Ki Guru?" Wista penasaran.

Aditia memang luka memar di punggung karena bantingan Ki Sudireja ke batang pohon.

Yaksa malah lebih parah lagi.

Sebelum dia dibanting ke batang pohon seperti Aditia, dia telah banyak luka bacokan ketika melawan komplotan perampok.

Menerima pertanyaan yang lebih terasa sebagai rasa penasaran dari Wista, Ki Dita hanya menghela napas.

"Aku anggap itu sebagai pelatihan juga, sebab kehidupan penuh bahaya bagi seorang ksatria di masa-masa mendatang pasti lebih besar lagi daripada hanya diganggu perampok," jawab Ki Dita akhirnya.

"Kehilangan kuda malah tak berarti apa-apa ketimbang kehilangan nyawa," Ki Bagus Sura ikut menimpali.

"Dan kau harus membiasakan diri bisa berjalan kaki sebab perjalanan di masa-masa mendatang pun tak selamanya menggunakan kuda," kata Ki Dita lagi.

"Saya tak mencemaskan saya pribadi.

Tapi lihatlah dua orang sahabat saya, mereka kepayahan," Wista memberi alasan.

Dan alasan ini memang tepat.

Dibawa berjalan jauh seperti ini, Aditia dan Yaksa tampak kepayahan.

Namun demikian, Ki Dita perlu meneliti. "Bagaimana, apa kalian kuat melanjutkan perjalanan?" tanyanya kepada Aditia dan Yaksa.

"Sebetulnya saya kuat, tapi..."

"Ya, cukup menderita," jawab Yaksa.

"Saya pun kuat, tapi amat payah..." Aditia ikut mengeluh.

"Kalau begitu, kalian berdua tidak perlu ikut," kata Ki Dita.

"Kalau kami tak perlu ikut, mesti tunggu di mana?" tanya Aditia.

Rupanya ia pun tak senang kalau kemampuannya dilecehkan.

"Kita ini tengah mengikuti jejak orang yang berjalan di depan.

Kalau kita berjalan lamban seperti kalian, orang yang kita buru akan semakin jauh jaraknya dari kita yang di belakang ini," kata Ki Dita lagi.

"Saya mungkin bisa berjalan cepat," jawab Yaksa.

"Saya pun mungkin bisa," Aditia tak mau kalah.

"Bagus kalau begitu," jawab Ki Dita sambil mengajak yang lain untuk berjalan cepat.

Semua orang mempercepat langkahnya.

Baru beberapa ratus depa saja, Aditia dan Yaksa sudah kepayahan.

Begitu pun Wista yang tak menderita luka, keringatnya sudah membanjir di sekujur tubuhnya.

Napasnya pun terdengar *ngos-ngosan* dan dari mulut serta hidungnya keluar uap putih seperti ular naga dalam dongeng.

Karena jarak ketiga orang itu semakin lama semakin terpisah jauh dari kelompok yang berjalan cepat di depannya, Purbajaya memilih berjalan paling belakang.

Dia tak percaya kalau Aditia atau Yaksa bisa mengimbangi langkah orang yang berjalan cepat di depan.

Baik Ki Bagus Sura ataupun Ki Dita adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian, begitu pun Paman Ranu.

Dengan demikian, kemampuan berjalan kaki ketiga orang itu pasti bagus.

Aditia dan Yaksa, walaupun diberi kesehatan, belum tentu bisa mengimbanginya.

Dalam waktu yang singkat, ketiga orang tua itu sudah jauh dan tak terlihat ketika jalan mulai berkelok-kelok.

"Kalau salah satu dari kalian ada yang capek, saya sanggup menggendong," kata Purbajaya yang berjalan di belakang.

"Cih, memangnya aku anak kecil?" Yaksa mendelik dengan suara ketus.

Ketika mendengus, ada uap putih keluar dari hidungnya, lucu sekali kelihatannya.

"Saya tak mempersoalkan anak kecil atau bukan.

Orang dewasa kan bisa capek?" jawab Purbajaya.

Yaksa tak mau menimpali.

"Barangkali engkau yang sudah capek, Aditia?" Giliran Aditia yang ditawari.

Namun Aditia menjawab pun tidak.

Dia hanya memalingkan wajah dengan cepat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment