Chapter 39
"Kau ke sana ke mari mau jual jasa, bagaimana bisa gendong semua orang?" tanya Wista tiba-tiba.
"Tentu tak sekaligus semua. Kan aku bisa gendong satu-satu. Sampai ke satu tempat di depan, orang pertama saya turunkan, lantas lari lagi ke belakang untuk menggendong kedua dan seterusnya."
"Kau katakan, orang kedua dan seterusnya. Maksudmu, aku pun mau kau gendong, Wista?" tanya Wista bergairah.
"Mengapa tidak. Kan aku tadi hanya menawari, kalau ada yang capek dan bukan kalau ada yang luka," jawab Purbajaya.
Mata Wista berbinar, tapi Aditia dan Yaksa malah kian cemberut.
"Apa aku kelihatannya capek, Purba?" tanya Wista ragu-ragu.
Purbajaya meneliti. Ada keringat deras di wajah Wista, ada uap putih semakin tebal di hidung Wista, karena napasnya sengaja ia kembang-kempiskan.
Lantas Purbajaya berkata, "Menurut hasil pemeriksaanku, kau memang tampak capek. Tapi mungkin aku salah duga. Kalau aku salah menuding nanti aku disemprot kemarahan lagi," kata Purbajaya bergurau.
"Tidak, aku memang capek, Purba..." Wista merengek, membuat kedua temannya kesal.
"Wista, jangan banyak bicara dengan pemuda pembual dan pemogoran ini," teriak Aditia, tak bisa menahan rasa kesalnya.
"Aku hanya menguji si dungu ini saja. Dia kan menyangka kalau aku tak punya kemampuan apa-apa. Lihatlah, aku punya ilmu lari cepat dan bisa mengejar guruku!" teriak Wista.
Dan mulutnya menghitung sampai tiga. Pada hitungan ketiga, Wista pun melesat lari. Purbajaya pun ikut lari di belakang Wista. Namun baru saja beberapa saat, napas pemuda itu terengah-engah dan uap putih keluar lebih banyak dari hidung dan mulutnya. Sebentar saja ia pun sudah berhenti berlari dan duduk bersandar pada sebuah batu terjal.
"Aku sebenarnya tak bisa ilmu lari cepat, Purba..."
"Mungkin gurumu tidak sungguh-sungguh memberimu ilmu lari cepat," hibur Purbajaya.
"Memang belum diajarkan, sih..."
"Sepulang dari muhibah ini, pasti dia memberikannya."
"Mengapa kau begitu yakin?"
"Loh, semua guru akan memberikan apa yang terbaik buat muridnya," jawab Wista.
"Ah, Ki Guru hanya lebih mementingkan pembayaran yang tinggi saja, sementara aku tak dilatih dengan benar," keluh Wista.
"Ah, masa iya?"
"Kau tak tahu, dari ayahku dia dapatkan rumah kediaman yang pantas. Dia pun diberi kuda yang baik, bahan makanan berlimpah, pakaian dari negeri lain, bahkan setiap bulan ada kiriman uang logam Negeri Parasi. Coba, kurang apa ayahku? Sementara aku, begini-begini saja," Wista memberengut.
Purbajaya tersenyum. Mungkin benar omongan Wista, mungkin tidak. Biasanya orang yang ingin menutupi kelemahan dirinya suka menjelekkan orang lain, sehingga terkesan kelemahan dirinya itu karena kesalahan orang lain.
"Mari kita berangkat lagi. Coba lihat, dua sahabatmu sudah bisa menyusulmu," ajak Purbajaya, menarik tubuh Wista supaya berdiri.
"Aduh... kakiku terkilir, Purba!"
"Wah, celaka!"
"Aku pasti tak bisa jalan, Purba..."
"Wah... wah!"
"Jangan wah-wah-wih-wih saja! Cepat gendong aku!" desak Wista, dan kedua tangannya sudah merangkul punggung Purbajaya. Terpaksa Purbajaya menggendong pemuda cengeng ini.
"Kau tak biasa jalan jauh rupanya," kata Purbajaya sambil menggendong Wista.
"Itu lantaran kesalahan kedua orang tuaku. Sejak kecil aku disuruh diam di rumah melulu. Jauh sedikit aku dicari ke mana-mana," jawab Wista.
"Kasihan..."
"Lho, apa aku ini orang papa sehingga musti kau kasihani?" Wista tersinggung.
"Maksudku, kau musti dikasihani sebab hidup hanya menerima rasa manja orang tua."
"Diberi kemanjaan tandanya disayangi orang tua. Itulah hidup beruntung. Kau kuat berjalan jauh, apa kau tidak pernah menerima kasih sayang orang tua, Purba?"
Selintas ucapan Wista ini lucu. Namun bagi Purbajaya terasa amat pahit. Benar ucapan Wista, Purbajaya tak pernah menerima kasih sayang orang tua. Jangankan kasih sayang, diberi kesempatan bertemu muka pun tidak. Purbajaya sedih. Dan untuk menekan rasa sedihnya, ia berlari cepat, cepat sekali. Sampai-sampai Aditia dan Yaksa pun tertinggal semakin jauh. Sampai-sampai tubuh Wista pun seperti menggigil tanda ia memang kedinginan karena angin kencang menerpa tubuhnya.
"Tenagamu hebat, Purba," Wista memuji sejujurnya, sambil kedua tangannya berpegang erat pada bahu Purbajaya.
"Gurumu pasti sakti sekali," kata Wista lagi.
"Tapi gurumu pun hebat," jawab Purbajaya.
"Aku malu, masa guruku hebat aku sendiri letoy begini," keluh Wista.
"Aku dilatih Ki Guru sudah lama. Kau pun lama-kelamaan akan memiliki kepandaian hebat. Mungkin kelak bisa melebihiku. Dan itu bergantung kepada keteguhan usahamu, Wista," kata Purbajaya lagi.
Wista ingin terus mengajaknya bicara, namun Purbajaya malah memberikan tanda agar pemuda itu menutup mulutnya. Bersamaan dengan itu, Purbajaya menghentikan lari cepatnya.
"Ada apa?" tanya Wista heran.
"Ada pertempuran..."
"Di mana?" Wista celingukan ke kiri dan ke kanan.
"Saya baru dengar suaranya saja," jawab Purbajaya, memiringkan kepalanya dan memejamkan mata.
"Aku tak dengar suara apa-apa..." potong Wista, ikut memiringkan kepala.
"Ada... Ada kudengar dan tidak begitu jauh," kata Purbajaya lagi, sambil menurunkan tubuh Wista dari gendongannya.
"Wista, kau tunggu di sini," kata Purbajaya lagi.
"Ah, aku pilih ikut saja!"
"Kau akan terlibat pertempuran, padahal hari-hari belakangan ini kau terus-terusan bertempur," kata Purbajaya. "Itu tak baik bagi kesehatanmu," sambung Purbajaya, bicaranya cukup serius. Namun Wista memberengut, sepertinya tak suka Purbajaya berkata begitu.
"Saya harus cepat-cepat membantu mereka. Saya rasa gurumu dan Ki Bagus Sura dikeroyok orang," tutur Purbajaya.
"Apalagi begitu, aku harus bela guruku!" desak Wista.
Purbajaya tersenyum. Mungkin baru kali ini Wista merasakan bahwa keberanian itu suatu kebanggaan. Oleh sebab itu, Purbajaya tak menahannya. Ia mengangguk mengiyakan, dan setelah itu ia melesat pergi menuju suara yang didengarnya. Ia inginkan, semakin cepat meninggalkan Wista, bakal semakin cepat pula ia tak memberikan peluang bagi pemuda itu untuk melibatkan diri dalam pertempuran. Purbajaya yakin Ki Bagus Sura, Ki Dita, dan Paman Ranu tengah menghadapi lawan-lawan berat. Kalau Wista yang kepandaiannya belum seberapa ikut terjun, khawatir akan jadi gangguan saja.
Tempat di mana pertempuran terjadi memang tak begitu jauh. Kalau tadi tidak terlihat, karena jalan pedati banyak kelokan. Dan ketika tiba di tempat pertempuran, memang benar Ki Bagus Sura, Ki Dita, dan Paman Ranu tengah dikeroyok belasan orang. Yang amat aneh, Ki Bagus Sura dan Paman Ranu mendapatkan tekanan berat sebab dikeroyok lawan dengan jumlah lebih besar ketimbang pengeroyokan terhadap Ki Dita. Purbajaya agak sedikit lega ketika Ki Sudireja pun ada di sana dan sama menghadapi para pengeroyok. Siapakah yang tengah dihadapi Ki Bagus Sura? Tidakkah mereka anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih? Purbajaya lebih mendekatkan dugaannya ke arah itu.
Belasan orang yang dilawan Ki Bagus Sura kepandaiannya rata-rata tinggi dan memiliki gerakan aneh yang tak biasa dilakukan oleh ahli-ahli yang telah dikenal di Negeri Carbon, misalnya. Gerakan mereka aneh dan sedikit ganas, dan sepertinya tak memberikan peluang bagi lawan untuk balas menyerang. Mereka melakukan pengeroyokan dengan membentuk kerja sama yang amat baik, saling menutup dan saling memberi peluang agar teman bisa melakukan serangan dengan baik. Mereka bahkan bisa membentuk sebuah formasi tempur yang baik sehingga kepungan rapat yang mereka lakukan sulit ditembus, baik oleh Ki Bagus Sura maupun oleh Paman Ranu. Hanya Ki Sudireja seorang yang sanggup mengimbangi gempuran para pengeroyok. Kendati ia tak bisa balas menyerang, namun serangan lawan bisa dihambat. Ki Dita pun sama dikepung. Namun jumlah pengepungnya tak begitu banyak dan mereka tidak membentuk formasi tempur khusus. Ini adalah pertempuran "tak adil". Masa Ki Bagus Sura dan Paman Ranu begitu ketat menghadapi perlawanan, sementara Ki Dita santai-santai saja. Sepertinya kelompok penghadang ini hanya akan menitikberatkan perhatiannya untuk menyerang Ki Bagus Sura dan Paman Ranu saja.
Purbajaya tidak bisa banyak berpikir sebab ia harus segera menerjunkan diri ke kancah pertempuran untuk membantu Ki Bagus Sura. Orang tua ini sudah nampak kepayahan. Di sana-sini sudah terlihat luka berdarah karena goresan senjata tajam. Paman Ranu bahkan lebih parah lagi. Bahu kanannya banyak mengucurkan darah karena tertusuk pedang. Purbajaya harus berhati-hati sebab baik gerakannya maupun tenaga dalamnya, para pengeroyok terlihat hebat. Dalam satu gebrakan saja Purbajaya hampir terluka oleh tusukan pedang dua orang lawannya yang melakukan serangan hampir berbareng. Mereka melakukan serangan dari dua jurusan, masing-masing mengarah kepada bagian tubuh yang lemah. Purbajaya agak sulit untuk memastikan serangan lawan sebab ia baru saja meloncat ke dalam arena. Menerima serangan secepat itu, seharusnya tubuh Purbajaya mundur dengan jalan menotolkan ujung kaki menjauh ke belakang. Namun usaha seperti itu akan percuma saja. Selain ketika tadi meloncat ke tengah arena tubuhnya doyong ke depan juga karena serangan lawan dari depan demikian cepatnya. Satu-satunya cara dalam memecahkan serangan ini bukan dengan menghindarinya, melainkan dengan menyampoknya. Oleh sebab itu Purbajaya segera melakukan tindakan cepat. Ketika serangan pedang meluncur mengarah mata, Purbajaya mengangkat tangan kanannya. Bukan untuk merebutnya, melainkan untuk menyampok punggung pedang keras-keras dari atas mengarah ke bawah. Si penyerang seperti terkejut menerima perlawanan seperti ini. Dan kesempatan ini digunakan oleh Purbajaya untuk kian menekan lawan. Tenaga tangkisan dan sampokan dilakukannya sepenuh tenaga. Menerima sampokan amat keras ini, batang pedang meluncur ke depan, tersampok ke bawah dan membentur pedang temannya yang juga tengah meluncur mengarah perut Purbajaya. Akibat benturan dua logam keras, bunga api berpijar ke sana kemari.