Chapter 40
Purbajaya lolos dari serangan dua lawannya. Namun demikian, dia tidak bisa bernapas lega karena serangan baru mulai muncul kembali. Pertempuran pun semakin sengit sebab Purbajaya dikeroyok dengan ketat.
Kehadiran Purbajaya sedikit mengubah keadaan; pihaknya kini tidak lagi terlihat terlalu tertekan. Meski begitu, Ki Bagus Sura dan Paman Ranu yang dibantu Purbajaya tampak semakin kepayahan. Paman Ranu, yang selama di perjalanan tidak banyak bicara dan hanya patuh kepada majikannya, kini tergolek lemah di atas tanah dengan darah mengucur deras dari bahu kanannya. Di mulutnya pun terlihat lelehan darah segar. Mungkin dia menderita luka dalam yang cukup hebat.
Nasib yang tidak jauh berbeda menimpa Ki Bagus Sura. Dia terluka parah di bahu kiri sehingga gerakannya tampak kaku dan mulutnya terus meringis menahan sakit. Sementara itu, Ki Dita juga terlihat berdarah, tetapi ia hanya mengalami luka ringan berupa goresan ujung pedang di tangan. Gerakannya masih cepat sehingga lawan tidak memiliki kesempatan untuk melakukan serangan berbahaya.
Pada akhirnya, Purbajaya bahu-membahu dengan Ki Sudireja. Kedua orang itu bekerja sama, saling menutup dan membantu serangan, sehingga lawan tampak tertekan dan mulai kelelahan. Purbajaya menyukai gaya bertarung Ki Sudireja. Tidak disangka, dalam menghadapi pengeroyokan lawan, Ki Sudireja mampu memadukan gerakannya dengan gerakan Purbajaya. Ki Sudireja pun tampak puas dengan penampilan Purbajaya. Kendati ada sedikit tetesan darah, mulut Ki Sudireja tetap tersenyum. Sedikit demi sedikit, mereka berdua mampu menekan para pengeroyok tersebut.
"Mundur!" terdengar aba-aba dari salah seorang pengeroyok.
"Jangan lari, serahkan dulu anak itu!" teriak Ki Sudireja.
"Anak itu dari keluarga Pajajaran. Jangan racuni dia!" jawab salah satu anggota pasukan itu.
"Dungu!" dengus Ki Sudireja kesal.
"Kalian pun harus mengembalikan surat daun lontar..." kata Ki Bagus Sura dengan suara yang lemah.
"Surat ada di tangan kami, tetapi tidak boleh tiba di Talaga!" seru salah seorang dari mereka sambil kembali memberikan aba-aba. Akhirnya, mereka semua berloncatan menuju hutan yang gelap.
Mereka hanya meninggalkan satu orang yang tergeletak lemah dan tengah ditodong ujung pedang oleh Ki Sudireja. Purbajaya bersyukur ada salah seorang anggota pasukan siluman yang berhasil ditangkap. Dengan demikian, dia bisa mengorek keterangan yang diperlukan. Namun, muncul rasa aneh di hatinya. Mengapa pasukan misterius yang serba tersembunyi itu meninggalkan temannya yang terluka begitu saja? Bukankah ini sama saja dengan memberi peluang agar kedok komplotan mereka terbongkar?
Bersamaan dengan menghilangnya pasukan siluman ke hutan lebat, datanglah tiga orang murid Ki Dita. Mereka serta-merta mencabut senjata masing-masing dan melayangkannya ke arah anggota pasukan siluman yang tengah ditodong oleh Ki Sudireja. Purbajaya terkejut dengan peristiwa mendadak ini, namun Ki Sudireja dengan mudah menepis ketiga serangan tersebut. Pedang dan golok beterbangan ke udara disertai pekikan kesakitan dari pemiliknya. Sambil meringis memegangi pergelangan tangan masing-masing, ketiga pemuda itu lantas hendak menyerang Ki Sudireja.
"Kau menghalangi kami membunuh penjahat ini, berarti kau juga komplotan mereka!" kata Aditia berang sambil menyerang Ki Sudireja.
Namun, hanya dengan menggerakkan tangan kirinya, Aditia terlempar ke belakang. Beruntung, tidak ada batang pohon di dekat tempat jatuhnya tubuh Aditia. Yaksa dan Wista hendak bergerak, tetapi giliran Purbajaya yang menahan mereka.
"Tidak perlu melakukan pembunuhan," kata Purbajaya.
"Dia harus dibunuh!" teriak Aditia yang sudah bangkit kembali.
"Kurasa mereka bukan penjahat..." gumam Purbajaya.
"Mereka adalah kelompok yang berbeda pendapat dengan kita, dengan penguasa di negeri kita!" ujar Aditia lagi.
"Tetapi berbeda pendapat bukan berarti jahat, bukan?" tanya Purbajaya.
"Pendapatmu aneh dan kacau, Purba. Aku hanya mau bilang bahwa pasukan siluman ini adalah pengacau dan pengganggu ketertiban. Mereka sangat meresahkan masyarakat. Jika kita katakan mereka berbeda pendapat dengan kita, maka itulah kejahatan, karena perbedaan itu membuat kita menjadi resah," tutur Aditia.
"Keresahan karena perbedaan pendapat bisa kita redam dengan memberikan penjelasan sebaik mungkin, sehingga mereka akhirnya mengerti bahwa tujuan kita baik. Jika mereka sudah tahu makna perjuangan kita, rasanya mereka tidak akan terus-menerus mengganggu kita," kata Purbajaya.
Pertikaian pendapat itu tidak berlanjut karena tiba-tiba tawanan tersebut bangkit dan menubrukkan tubuhnya ke mata pedang yang ditodongkan Ki Sudireja. Semua orang tercengang dan tidak sempat mencegah kejadian itu. Tak ayal, tubuh tawanan itu tertembus pedang dan ia tewas seketika.
Purbajaya baru mengerti mengapa teman-temannya membiarkan orang itu tertinggal sendirian. Rupanya, semua anggota pasukan siluman sudah bersepakat bahwa jika peluang untuk kabur sudah tidak ada, mereka akan bunuh diri demi menjamin kerahasiaan pasukan.
"Purba..." tiba-tiba terdengar Ki Bagus Sura memanggil dengan lemah. Dia terlihat telentang di tanah dengan darah bersimbah di beberapa bagian tubuhnya.
Purbajaya segera memeriksa. Sebenarnya tidak ada luka yang membahayakan, namun karena darah yang keluar cukup banyak, Ki Bagus Sura menjadi sangat lemah.
"Purba... aku gagal mengemban tugas..." katanya lirih.
"Perihal surat daun lontar itukah?"
"Benar. Itu surat sangat penting dan harus sampai ke Talaga. Isinya mengenai keberadaan Raden Yudakara. Ah... aku tidak bisa menyampaikannya..." keluh Ki Bagus Sura. Air mata tampak meleleh di pipinya.
"Saya bersedia menyelamatkan surat itu," kata Purbajaya. Dia sangat tertarik karena isi surat itu dikabarkan membahas keberadaan Raden Yudakara. Purbajaya menyatakan kesanggupannya demi menenangkan hati Ki Bagus Sura.
Namun, wajah Ki Bagus Sura tetap tampak muram. Purbajaya sadar bahwa sebenarnya Ki Bagus Sura tidak percaya dia bisa melaksanakan tugas ini dengan baik. Bukankah sudah terbukti bahwa dengan orang sebanyak ini pun upaya merebut surat dari tangan perampas sangat sulit dilakukan? Apa daya Purbajaya seorang diri sehingga berani menyatakan sanggup melakukan tugas seberat itu?
"Aditia, ke sinilah..." kata Ki Dita setelah mendengar percakapan tersebut. Aditia memang sempat terluka karena benturan di punggungnya, tetapi jika dibandingkan dengan yang lain, kondisinya masih cukup baik.
"Ada apa, Ki Guru?" jawabnya setelah menghampiri.
"Kau, Yaksa, dan Wista harus menemani Purbajaya mengejar surat daun lontar yang kini dikuasai pasukan siluman. Camkan, barang berharga itu harus bisa diselamatkan," kata Ki Dita dengan nada memerintah.
"Tanpa Purbajaya pun, saya bisa bergerak sendiri!" jawab Aditia angkuh.
"Diam kau, dan hilangkan sikap sombongmu itu!" teriak Ki Dita jengkel. "Hanya karena keangkuhanmu dan ketidakmampuanmu menahan emosi, kita jadi begini."
"Mengapa saya yang disalahkan?" Aditia memberengut.
"Kau serta-merta menyerang Ki Sudireja dan kemudian terluka. Akibat lukamu, kau tidak bisa membantu kami dengan baik. Untuk berjalan cepat ke sini saja kau sudah keteteran," cerca Ki Dita lagi.
"Saya sudah melakukan beberapa kali pertempuran, tentu saja banyak luka. Tetapi coba Ki Guru lihat si Purbajaya ini, kapan dia berupaya mempertahankan pasukan kita? Sedangkan musuh sudah dikuasai pun dia malah menghalang-halangi kita untuk menumpasnya. Tidak masuk akal. Saya curiga orang ini bersekongkol dengan musuh atau mungkin seorang pembelot," jawab Aditia, mencoba menyudutkan Purbajaya.
"Huh, malu aku memberikan ilmu tempur yang mengandalkan kehalusan budi. Perangaimu kasar dan tidak mungkin lulus dalam pelatihan ini. Aneh sekali, mengapa perangai halus justru terlihat pada diri Purba, padahal dia bukan muridku?" keluh Ki Dita. Dia menjambak rambutnya sendiri karena sangat kesal.
"Guru, jangan marah begitu. Kami akan menaati kehendakmu. Sekarang pun kami berempat siap berangkat," Wista memotong ketika melihat Ki Dita sangat jengkel terhadap Aditia.
"Purba... cepatlah berangkat," kata Ki Bagus Sura dengan suara yang semakin lemah.
"Tetapi saya harus merawat luka kalian dahulu," pinta Purbajaya.
"Sudah tidak ada waktu lagi. Biarlah kami merawat diri sendiri. Yang penting, surat itu harus diselamatkan..." desak Ki Bagus Sura. Ia terbatuk sebentar dan mengeluarkan sedikit darah segar.
"Bagaimana jika surat itu tidak terselamatkan?" Purbajaya mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tidak ia sukai.
"Hanya satu akibatnya, tugasmu akan semakin berat..." desah Ki Bagus Sura kepayahan. Lalu ia melambaikan tangan agar Purbajaya mendekatkan kepalanya.
"Jika surat tidak terselamatkan, kau sendirian harus menyelidiki keberadaan Raden Yudakara. Tugasmu ini bukan untuk kepentinganku semata, bukan pula untuk Sumedang dan Talaga, melainkan untuk kepentingan Cirebon dan ketenteraman di wilayah Jawa Kulon secara keseluruhan..." Kata-kata Ki Bagus Sura terdengar semakin pelan.
Kalimat terakhir itu sungguh memukau hati Purbajaya. Siapakah sebenarnya Raden Yudakara sehingga keberadaannya begitu dirisaukan oleh orang Sumedanglarang?
"Mari kita berangkat!" ajak Yaksa, tidak sabar melihat Ki Bagus Sura dan Purbajaya saling berbisik.
"Dan ingat... rawatlah anakku, Yuning. Hatiku akan tenteram jika anak itu bisa tinggal bersamamu..." bisik Ki Bagus Sura lagi. Kini sepasang matanya terpejam. Air mata terus meleleh di pipinya yang berdebu.
"Berangkatlah, Purba..." kata Ki Dita. Purbajaya menatap sejenak orang tua itu.