Chapter 41
Dia tak bisa pastikan perangai dan isi hati Ki Dita.
Kadang-kadang keras, kadang-kadang lemah.
Tadi dia curiga mengapa orang tua ini tidak diserang habis-habisan oleh pasukan siluman.
Tapi melihat pembelaannya kepada Ki Bagus Sura dalam urusan penyelamatan surat penting, rasa curiga terhapus pula.
Apalagi ketika Ki Dita memuji dia, semakin luluh pula kesan buruk pada orang tua ini.
"Saya tak bisa merawat lukamu, Ki Dita," kata Purbajaya pelan.
"Aku bisa merawat lukaku," jawab Ki Dita pendek.
Maka pergilah Purbajaya mengemban tugas, ditemani Aditia, Yaksa, dan Wista. Ada seorang lagi yang ikut menyertai mereka, yaitu Ki Sudireja.
Aditia dan Yaksa berjalan di depan, sepertinya sengaja menghindar dari Purbajaya. Sementara Wista melangkah sendirian saja. Dia mungkin bimbang. Untuk berjalan bersama dua orang temannya, mereka seperti tidak menyenanginya. Namun, bila bergabung dengan Purbajaya, dia malah jadi tidak enak hati kepada kedua orang temannya.
Sementara itu, Purbajaya berjalan paling belakang, berdua dengan Ki Sudireja.
"Anda pernah ke Carbon?" tanya Purbajaya sekadar memecah kesunyian belaka.
"Untuk melawan Pajajaran, aku bisa pergi dan bergabung ke mana saja," jawab Ki Sudireja pendek.
"Jangan bergabung ke mana saja. Bagaimana kalau ternyata diketahui bergabung dengan kelompok yang hanya mementingkan kepentingan pribadi?" tanya Purbajaya, yang mulai berdebat.
"Sepanjang memiliki persamaan tujuan, kadang-kadang dengan yang tidak sehaluan pun bisa bersatu. Nanti, kalau tujuan yang sama sudah tercapai, otomatis memisahkan diri," jawab Ki Sudireja enteng saja.
Tidak demikian dengan hati Purbajaya. Dia malah jadi melantur ke sana kemari. Dan secara tidak sengaja, hatinya jadi curiga kepada Ki Sudireja ini. Jangan-jangan orang seperti Ki Sudireja bakal masuk kelompok yang sekiranya bisa mengacaukan keadaan. Dia mungkin bisa bergabung dengan Carbon dalam upaya melawan Pajajaran. Tapi siapa kelak yang akan dia ikuti? Bukankah di Carbon sendiri banyak kelompok yang berbeda paham dalam melihat keberadaan Pajajaran ini? Hati Purbajaya tersenyum kecut. Urusan mengenai Pajajaran telah menjadikannya kemelut tersendiri.
Sementara para pemegang keputusan di Carbon sendiri berpendapat bahwa Carbon sudah tidak berniat melawan Pajajaran dengan kekuatan militer. Namun demikian, di antara mereka masih ada yang berambisi untuk mempertaruhkan kekuatan militer guna menghancurkan Pajajaran.
"Pajajaran itu negara besar dan akan lebih besar lagi kalau dilandasi oleh tatanan agama baru," kata Pangeran Suwarga, Manggala (Panglima Perang) Negeri Carbon tempo hari. Ucapan ini sangat mengisyaratkan bahwa Carbon tidak punya keinginan kalau Pajajaran harus hancur.
Tetapi, tidak begitu pendapat sekelompok orang. Bahkan Purbajaya sendiri pun kini tengah "mengemban tugas" dari Pangeran Arya Damar yang amat menginginkan agar Pajajaran segera lenyap. Baik Pangeran Suwarga maupun Pangeran Arya Damar sepertinya tengah bersaing untuk memberikan hal yang terbaik bagi negerinya, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Pangeran Suwarga berpendapat, Carbon akan semakin besar bila memperlakukan lawan dengan arif, sementara Pangeran Arya Damar berpendapat kebesaran Negeri Carbon akan mencuat bila semua negeri yang ada di Jawa Kulon berada di bawah pengaruhnya.
Pangeran Arya Damar punya garis keras. Musuh yang membangkang harus dihancurkan sebab hanya akan mengganggu kelancaran usaha dalam mempertahankan kebesaran Carbon. Tapi bersama Ki Sudireja, Purbajaya jelas tidak mau berdebat soal ini sebab dirasa tidak akan bersinggungan. Yang dia lakukan hanyalah bertanya itu-ini perihal keberadaan orang tua itu selama ini.
"Mengapa dia mengejar terus pasukan siluman?"
"Sudah aku katakan kalau aku tengah memperebutkan seorang anak dengan kelompok itu," jawab Ki Sudireja pendek.
"Oh, ya. Saya dengar engkau membicarakan seorang anak. Anak siapakah gerangan?" tanya Purbajaya penuh perhatian.
"Anak itu kelak akan kudidik guna melawan Pajajaran," jawab pula Ki Sudireja.
Tampak ada hawa kebencian di wajahnya yang gelap.
"Oh, ya..." "Kasihan Si Pragola, bagaimana pula nasib anak itu kini?" keluhnya.
"Kalau mendengar percakapan, anggota pasukan siluman sepertinya tidak akan mengganggu anak itu," Purbajaya berpendapat.
"Benar, anak itu tidak akan dianiaya. Tetapi ada yang lebih kukhawatirkan selain itu. Anak itu khawatir dicekoki oleh kepentingan yang bertolak belakang dengan kepentinganku," potong Ki Sudireja sedikit jengkel. "Pasukan siluman pro Pajajaran. Aku takut anak itu dicekoki untuk menjadi orang Pajajaran. Lebih baik anak itu mati ketimbang menjadi orang Pajajaran," sambung lagi Ki Sudireja.
Purbajaya melihat betapa Ki Sudireja penuh kebencian terhadap Pajajaran.
"Yakinkah Anda kalau pasukan siluman begitu bersimpati kepada Pajajaran?" tanya Purbajaya mengerutkan dahi.
"Mereka adalah kelompok yang bersimpati kepada Nyi Rambut Kasih yang mencoba bertahan dengan agama lama. Padahal siapa pun tahu, pusat kehidupan agama lama ada di Pajajaran. Kekuatan mana yang membantu keberadaan pasukan siluman kalau bukan dari Pajajaran?" kata Ki Sudireja yakin sekali.
"Pasukan siluman dibantu Pajajaran?" tanya Purbajaya lebih menyerupai sebuah pertanyaan untuk dirinya sendiri.
"Aku hanya mengatakan, ada kemungkinan pasukan siluman pun bersimpati kepada Pajajaran. Tapi bukan tidak mungkin mereka pun sebetulnya dikendalikan oleh orang Pajajaran. Mereka ingin mempertahankan keberadaannya. Dengan demikian, mereka pun pasti ingin berbuat kekacauan di wilayah-wilayah negeri agama baru," tutur lagi Ki Sudireja.
"Saya jadi ingin tahu bagaimana watak orang Pajajaran itu..." gumam Purbajaya menatap ke kejauhan.
"Masyarakat Pajajaran pada umumnya punya disiplin yang teguh yang terlahir dari pedoman agamanya," kata Ki Sudireja.
"Apa contohnya?"
"Mereka mempertahankan kejujuran kendati tahu bahwa kejujuran akan merugikan dirinya sendiri. Contohnya, selama mereka tidak pernah mengganggu orang lain, mereka yakin orang lain pun tidak akan mengganggu mereka. Selama mereka tidak menyakiti hati orang lain, maka orang lain pun tidak akan menyakitinya. Mereka hidup bersahaja dan menerima apa adanya. Itulah sebabnya mereka tidak punya rasa iri dan dengki."
"Itu adalah sikap terpuji. Tetapi apa hubungannya dengan pasukan siluman?" tanya Purbajaya bingung.
"Bukankah yang aku katakan tadi adalah sikap masyarakatnya? Sementara itu, tidak begitu dengan orang-orang yang punya keserakahan dalam berpengetahuan. Semakin banyak memiliki pengetahuan, maka semakin banyak pula memiliki kehendak. Agar kehendak terlaksana, maka segala macam jerih payah mereka lakukan. Maka, bila tidak berhasil dengan tindakan wajar, mereka menggunakan tipu muslihat. Perilaku jujur dan lugu yang menjadi ciri khas orang Pajajaran, mereka gunakan sebagai tempat sembunyi. Jadi, kalau pasukan siluman demikian licik tindakannya dan selalu main sembunyi, siapa bakal menyangka kalau kekuatan mereka didukung Pajajaran?" tanya Ki Sudireja.
"Kalau begitu, jelas mereka dikendalikan oleh orang Pajajaran," potong Purbajaya.
"Maksudmu, tentu oleh orang yang telah memiliki akal-akalan (politik)," Ki Sudireja balik memotong. "Aku masih tetap punya keyakinan akan prinsip hidup masyarakat Pajajaran yang asli yang amat menjauhi kejahatan. Melakukan sesuatu sambil main sembunyi untuk merugikan orang lain adalah kejahatan. Dan mereka amat menjauhi sikap itu. Kalau berperang melawan musuh, maka mereka lakukan di tempat terang dan terbuka," sambung lagi Ki Sudireja.
Purbajaya tersenyum mendengar pendapat orang tua ini. Selintas memang kedengarannya cukup ganjil. Di lain pihak, Ki Sudireja benci Pajajaran, dan kalau ada yang mau menghancurkan Pajajaran, dia siap membantu, siapa pun orangnya. Namun, di lain pihak, dia memuji-muji sikap hidup orang Pajajaran itu sendiri. Kalau demikian halnya, maka Ki Sudireja ini sebenarnya orang yang pandai memilah-milah, tidak menggambarkan hitam di atas yang putih, ataupun sebaliknya. Yang dia benci hanyalah para pejabatnya yang dikategorikan Ki Sudireja sebagai kelompok yang sudah mengerti akal-akalan (politik), sementara masyarakatnya sendiri yang lugu dan bersahaja tetap dipujinya sebagai manusia yang memiliki perasaan kemanusiaan.
Namun demikian, apakah sudah pas pula penilaian Ki Sudireja ini? Mengapa kalangan bangsawan dan pejabat pun tidak dia pilah-pilah? Atau apakah memang benar semua pejabat di Pajajaran perangainya sudah sedemikian buruk karena mereka telah terbiasa dengan kehidupan akal-akalan? Purbajaya jadi teringat negerinya sendiri. Di Carbon banyak pejabat dan banyak yang sudah berkecimpung dalam kehidupan politik, namun ternyata nilai keberadaannya masih bisa dipilah-pilah. Menurut penilaian Purbajaya, tidak semua yang mengenal kehidupan politik jadi tidak memiliki nilai kemanusiaan, tetapi juga memang banyak yang mengenal kehidupan politik lantas perangainya menjadi buruk. Dan karena hal ini, seharusnya manusia tidak menilai buruk atau baik hanya karena orang bergelut dalam kehidupan politik. Nilai manusia akan didapat bila bagaimana sebenarnya mereka bisa mengendalikan perangkat kehidupan untuk diabdikan kepada hal-hal yang berguna bagi kepentingan umat manusia.
Begitu yang terpikir oleh Purbajaya ketika itu. Sadar atau tidak, dirinya kini sudah terlibat ke dalam urusan yang bernama politik. Namun agar dia tidak terseret oleh kepentingan-kepentingan yang merusak, maka dia perlu hati-hati dalam memilih kekuatan mana yang mesti dia dukung, kelompok mana yang harus dia ikuti. Sementara Purbajaya sendiri hati kecilnya kurang setuju dengan pendapat Ki Sudireja ini. Dia akan "ikut pada siapa saja" yang sekiranya akan melawan Pajajaran, bukan dilandasi oleh kepentingan politik pula, melainkan hanya berkutat dengan kepentingan dirinya sendiri. Katanya, dia adalah orang yang merasa sakit hati oleh kebijakan penguasa Pajajaran, makanya dia inginkan Pajajaran hancur. Ki Sudireja bukan orang berpolitik dan tidak mengenal politik.