Chapter 42
Namun malah orang seperti inilah yang sebenarnya bisa membahayakan kedamaian.
Karena buta politik, karena rasa sakit hati pribadi dan kecewa kepada penguasa, maka kebenciannya bisa tumpah kepada siapa saja, termasuk kepada orang yang sebenarnya tidak bersalah.
Ini amat berbahaya.
Ki Sudireja sakit hati kepada Pajajaran karena ketika Talaga, negerinya tempat dia mengabdi, ditaklukkan Carbon, namun Pajajaran sama sekali tak membelanya.
"Daripada berusaha melindungi, malah memerangi," kata Ki Sudireja dengan nada suara mengandung dendam kesumat.
Orang tua ini memberikan contoh, beberapa tahun silam sebuah wilayah kacutakan (wilayah setingkat kecamatan kini), diperangi pasukan dari Pakuan karena wilayah ini dicurigai telah memindahkan kesetiaannya dari Pajajaran ke Carbon.
Yang dimaksud di sini adalah Kacutakan Caringin yang terletak di wilayah utara, berbatasan dengan kekuasaan Carbon.
"Anak kecil berusia tujuh tahun yang aku ingin rebut dari kungkungan anggota pasukan siluman bernama Pragola adalah anak Cutak Caringin.
Dalam peristiwa itu, Cutak Caringin telah kehilangan anak pertamanya, juga seorang anak lelaki.
Dan karena banyak memikirkan peristiwa ini, akhirnya Cutak Caringin mati karena sakit keras.
Belakangan istrinya pun ikut mati.
Maka Si Pragola, anaknya aku urus.
Akan aku didik anak itu agar kelak sesudah dewasa menjadi orang yang bisa melawan Pajajaran," kata Ki Sudireja gemas.
Sepertinya di dalam benaknya tergambar lagi peristiwa di wilayah Caringin itu.
Purbajaya melangkahkan kaki dengan penuh perenungan di benaknya.
"Begitulah kebencianku kepada Pajajaran," gumam Ki Sudireja lagi. "Sabda ratu tak digugu (ditiru) sebab perilaku ratu (penguasa) sudah tidak lagi mencerminkan keinginan rakyat." Percakapan Purbajaya dan Ki Sudireja terhenti karena di depan, Aditia, Yaksa, dan Wista mendadak menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Purbajaya bertanya heran.
"Lihat itu, terdapat puluhan jejak telapak kaki!" Yaksa menunjuk ke arah tanah berdebu.
Purbajaya meneliti keadaan tanah di sekitar itu.
Benar banyak didapat bekas telapak kaki.
Telapak kaki amat mengesankan sebagai bekas serombongan pasukan lewat ke tempat itu.
Belasan atau puluhan tapak kaki itu pada mulanya menyusuri jalan pedati, kemudian ketika jalan pedati terpotong sungai lebar berair dangkal, telapak kaki berbelok memasuki kawasan hutan.
"Mereka memasuki hutan.
Mari kita ikuti terus ke hutan," kata Aditia sambil segera melangkah hendak memasuki hutan belantara yang gelap.
"Nanti dulu!" Purbajaya menahannya.
"Mengapa? Kau takut?" Aditia mengejek dengan dengusan.
"Bukan itu.
Tapi kita jangan terlalu cepat mengambil keputusan.
Belum tentu rombongan berbelok ke hutan," kata Purbajaya.
"Ah, dasar dungu.
Sudah jelas belok ke hutan.
Lantas ini tapak kaki apa? Kaki gajah, gitu?" tanya Aditia masih dengan nada ejekan.
"Bisa saja mereka sebetulnya lurus menyusuri jalan pedati.
Tapi karena terpotong sungai lebar, maka tapak kaki tak terlihat lagi," Purbajaya tetap bertahan dengan pendapatnya.
"Mereka sudah menduga kalau kita menguntit terus.
Jadi mereka pilih jalan yang sulit diikuti," bantah lagi Aditia dengan suara ngotot.
"Ya.
Dan karena punya keyakinan begitu, maka kita dikecoh mereka dan dibawa ke jalan yang salah.
Sementara mereka sendiri berjalan lurus menyusuri jalan pedati," Purbajaya pun masih ngotot.
"Yaksa, Wista, dari sekumpulan orang yang ada di sini, hanya kita bertiga yang asli orang Sumedanglarang.
Hanya kita bertiga yang sadar akan arti pembelaan terhadap negri kita.
Purbajaya jelas orang Carbon, sementara yang satunya kita bahkan tak tahu asal-usulnya.
Oleh sebab itu, kalian harus ikut pendapatku.
Jangan takut, mari kita susuri lebatnya hutan ini.
Kita harus rebut surat daun lontar yang isinya pasti amat penting itu," kata Aditia mengajak kedua temannya untuk memilih jalan yang dianggapnya benar.
"Purba, aku setuju pendapatmu," Ki Sudireja menyela namun bukan menyanggah perkataan Aditia. "Dan karena begitu, aku akan susul mereka lewat jalan pedati.
Sementara itu, kau ikuti saja dulu pendapat anak-anak dungu ini." Bab 11 Ki Sudireja tak menanti jawaban Purbajaya tapi akan segera langsung meloncat dan hendak segera pergi berlari menyusuri jalan pedati.
"Purba, jangan kau memilih apa yang kami pilih hanya karena diperintah orang asing itu.
Kalau pun ikut aku kau harus percaya perhitunganku," kata Aditia.
"Tapi yang penting, engkau ikut kami," Wista menyela dengan penuh harap.
"Ah, kau jangan merengek-rengek minta bantuan orang!" hardik Aditia.
Ki Sudireja mendengus. "Purba, siapakah anak pongah yang selain angkuh tapi juga tidak sopan terhadap gurunya ini?" tanya orang tua itu mendelik.
"Mereka adalah putra-putra pejabat dari Sumedanglarang," jawab Purbajaya.
"Jangan coba menilai diriku," potong Aditia tidak senang. "Diajari atau pun tidak oleh Ki Guru Dita, tak mengubah kedudukanku sebagai anak seorang pejabat.
Sementara Ki Dita sendiri hanyalah pegawai ayahku, kebetulan saja bekerja sebagai guru kewiraan.
Jadi, siapa pun dia bagiku, tetap sama saja hanya sebagai bawahan ayahku," sambung Aditia dengan angkuhnya.
Untuk ke sekian kalinya Ki Sudireja mendengus penuh ejekan.
Sesudah itu, baru dia meloncat pergi.
Sepeninggal Ki Sudireja, Aditia pun segera mengatur rencana dan benar-benar menempatkan dirinya sebagai pemimpin perjalanan.
"Engkau berjalan paling belakang, Purba, untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan di belakang kita.
Sementara tugas mencari jejak harus dikerjakan oleh orang yang teliti," kata Aditia.
"Biar aku yang jalan di muka!" seru Wista.
"Tidak, kau bodoh dan semberono.
Biar aku saja," potong Yaksa.
"Tidak," giliran Aditia yang memotong omongan. "Yang jalan di muka meneliti jejak hanyalah aku," katanya pasti.
Semua menaati, tidak juga Purbajaya.
Maka berjalanlah empat orang muda itu secara beriringan.
Aditia tidak bisa jalan cepat sebab kerjanya meneliti keadaan tanah di depannya.
Dan nyatanya mencari jejak sungguh sulit, apalagi di dalam hutan lebat yang gelap dan terkadang tanah yang diinjak terasa keras karena bercampur cadas.
"Coba lihat, betul, kan?" Aditia menunjuk pada satu jejak kaki.
Aditia senang karena masih tetap berhasil menyusuri jejak yang dia maksud.
Purbajaya pun memang melihat jejak telapak kaki.
Tapi setelah diteliti dengan seksama, jejak itu penuh keganjilan.
"Berhenti dulu," serunya.
Semua orang terpaksa meren-dek.
"Ada apa?" Aditia mengerutkan dahi, kemudian menyeka keringatnya yang bersimbah deras di seluruh wajahnya.
"Aku sangsi kalau mereka betul lewat sini..." kata Purbajaya kemudian.
"Dasar dungu.
Apa tidak kau lihat jejak-jejak ini terus memanjang?" kembali Aditia berang dengan pendapat Purbajaya ini.
"Betul ini telapak kaki tapi keadaannya sungguh ganjil," jawab lagi Purbajaya.
"Ganjil apanya," tanya Aditia.
"Tanah di sekitar sini tidak begitu lembek tapi mengapa jejak telapak kaki demikian dalam?" tanya Purbajaya sambil meneliti jejak-jejak itu.
"Kan mereka adalah anggota pasukan siluman yang punya kepandaian tinggi.
Jadi sudah barang tentu dalam berjalan mereka kerahkan tenaga dalam," kata Aditia berkilah.
"Untuk apa mengobral tenaga seperti itu?" tanya Purbajaya.
Semua diam, tidak terkecuali Aditia.
"Untuk memperlihatkan kepada kita bahwa mereka benar-benar lewat sini? Aneh, tahu dikuntit orang malah sengaja memperlihat jejak sejelas ini?" kata lagi Purbajaya.
Lagi-lagi semua diam, tidak pula Aditia.
Maka Purbajaya melanjutkan perkiraannya.
"Betul juga, jangan-jangan kita dikibuli oleh mereka," Wista nyeletuk.
Namun hal ini amat tidak disenangi Aditia.
"Jadi, tapak apakah ini kalau bukan tapak manusia," tanya Aditia mengejek.
"Kita bukan sedang berbantahan apakah ini tapak manusia atau kera.
Hanya aku katakan kalau mereka sebenarnya tengah mengecoh kita.
Mungkin mereka pernah sampai tempat ini.
Namun ini bukan tujuan mereka untuk lewat sini," kata Purbajaya.
"Aku tidak paham jalan pikiranmu," bantah Aditia.
"Begini," potong lagi Purbajaya. "Mereka berjalan dulu sampai sini, lantas mereka kembali lagi menuju jalan pedati." "Tidak kulihat telapak kaki mereka pulang kembali ke arah berlawanan..." bantah Aditia bingung.
"Memang tidak terlihat sebab mereka menapakkan kakinya kepada bekas jejak mereka sendiri.
Wista, coba kau peragakan," kata Purbajaya menyuruh Wista.
"Harus bagaimana?" Wista bingung.
"Coba jejakkan sepasang kakimu, harus pas di telapak yang ini," Purbajaya memandu Wista untuk menjejakkan kaki di bekas telapak kaki yang sudah ada.
"Ya, sudah.
Lantas, bagaimana?" tanya Wista.
"Sekarang kau berjalan mundur sambil kakimu tetap ikut menapak ke jejak lama," kata Purbajaya.
Wista mengikuti perintah ini.
Dengan hati-hati dia berjalan mundur dan telapak kakinya menginjak pas kepada jejak lama.
"Nah, mereka kembali ke jalan pedati dengan cara seperti itu.
Lihatlah, jejak semakin dalam sebab jejak itu diinjak dua kali," kata Purbajaya pasti.
Yaksa dan Wista bimbang.
Mereka menatap Aditia dan tidak berani salah bicara.
"Mungkin begitu tapi belum tentu begitu..." kata Aditia dengan nada suara yang tidak pasti. "Tapi mari kita ikuti saja sampai ke mana telapak kaki ini melangkah.
Siapa tahu, pendapatkulah yang benar," kata Aditia akhirnya.
"Lanjutkanlah dulu penelusuranmu," kata Purbajaya pada Aditia.
Maka mereka pun melangkah kembali.
Tapi semakin dalam masuk hutan, semakin gelap juga keadaan.
Matahari sudah tidak tembus ke tanah saking lebatnya dedaunan.
Dan yang lebih parah, kenyataan membuktikan, telapak itu bohong sebab terputus begitu saja.
"Mengapa kau meren-dek, Aditia?" tanya Yaksa heran.
"Jejak itu hilang..." Aditia kecewa.
Yaksa dan Wista tampak lebih kecewa lagi.
Mereka berdua mengeluh sambil menyeka keringat deras di wajahnya.
Jejak itu ketika tiba di hutan yang agak terbuka seperti menghilang begitu saja.
Sepertinya para pemilik jejak kaki itu langsung terbang ke langit.
"Mustahil hilang begitu saja..." gumam Aditia.