Chapter 43
"Tentu tidak mustahil jika pendapatku diterima," jawab Purbajaya.
"Ya, kalau begitu pendapat Si Purbalah yang benar," kata Wista.
"Sialan, kita ditipu mereka!" omel Yaksa sambil memeriksa lukanya.
"Kita kena tipu karena kebodohan Aditia. Coba kalau tadi menurut apa kata Si Purba, takkan begini jadinya," Wista menimpakan kesalahan kepada Aditia.
"Kalau Si Purba pandai, mengapa dia ikut kita juga? Mustinya dia tetap bertahan dengan pendapatnya jika benar-benar merasa yakin," Aditia tak mau disalahkan.
Upaya kembali mencari jalan pedati dilakukan dengan saling menyalahkan. Di sepanjang jalan, Wista terus mengomel sebab akibat dari kekeliruan ini tenaga mereka terkuras dengan percuma.
"Aditia kurang periksa," omel Wista.
"Kau malah dungu. Kenapa dari tadi kerjanya diam saja? Kenapa hanya ikut-ikutan pendapat orang lain? Dasar orang bodoh, dibawa masuk jurang pun pasti mau!" Aditia menghardik dengan berang.
"Kau angkuh dan juga bodoh. Maka yang paling duluan masuk jurang tentu engkau!" Wista membalas menghardik.
Hampir saja dua orang itu saling pukul kalau saja Yaksa tidak melerainya.
"Diamlah! Mengapa jadi saling cakar begini? Hemat tenaga kalian. Jika sebelum bertemu lawan sudah berkelahi, maka nanti tenaga kita tinggal sisanya saja dan mudah digerus lawan," kata Yaksa kesal.
"Jangankan untuk menghadapi perkelahian, untuk sekadar melangkah saja kaki pun sudah demikian payah," jawab Wista sambil memegangi pahanya. "Perutku pun sudah lapar. Sejak kemarin belum diisi," keluhnya lagi.
Purbajaya melihat ke atas. Suasana sudah mulai gelap. Mungkin senja telah menjelang.
"Kita harus berjalan cepat, jangan sampai kemalaman di hutan belukar," kata Purbajaya.
Aditia dan Yaksa tidak menjawab, tapi langkah mereka dipercepat mengikuti gerak langkah Purbajaya. Wista pun terpaksa ikut berjalan cepat pula. Hanya beberapa ratus langkah, Wista sudah jatuh berdebuk. Dia bahkan mogok berdiri.
"Aku sudah tak kuat lagi..." keluhnya seperti putus asa.
Agar tidak kemalaman di dalam hutan lebat, terpaksa Purbajaya kembali menggendong Wista. Aditia mengomel dan mencerca Wista, namun yang dicerca pura-pura tidak mendengar.
Tiba di tepi jalan pedati, malam sudah menjelang. Tidak terlihat bulan ataupun bintang. Yang melayang di angkasa malah gumpalan awan pekat, pertanda hari akan hujan.
"Kita harus segera mencari tempat untuk berlindung," kata Purbajaya sambil menurunkan tubuh Wista.
"Di mana mencari tempat berlindung? Aku tak mau tidur dalam hujan," Wista merengek manja. Tubuh pemuda itu menggigil entah kenapa.
"Ya, kita cari tempat berlindung yang baik..."
"Tapi di mana? Cepat, aku ingin sekali tidur!" Wista mendesak dengan nada marah dan kesal.
"Engkau membuatku panik, padahal aku tak henti-hentinya mencari," Purbajaya akhirnya jadi kesal juga.
"Engkau harus tanggung jawab sebab gara-garamu juga kami jadi begini!" Wista membentak karena tidak sabar.
"Mengapa begitu?"
"Kau dulu tidak membantu dengan baik ketika terjadi pertempuran, jadinya semua luka, bahkan surat daun lontar pun dirampas lawan," tuding Wista.
Purbajaya ingin marah tapi tidak jadi. Sebagai upaya melampiaskan kekesalannya, Wista dia gendong lagi. Purbajaya berkeliling mencari tempat berlindung. Hujan mulai turun. Untunglah ada pohon besar dengan batang yang bolong karena sudah tua. Maka, tubuh Wista dimasukkan ke lubang pohon tersebut. Purbajaya sendiri bersembunyi di balik batang pohon lainnya, namun tidak begitu jauh dari tempat Wista duduk bersandar.
Hujan turun makin lama makin deras seperti air bah yang dikucurkan dari langit. Purbajaya hanya bersandar di batang pohon. Jika ia agak terlindung, itu karena dedaunan yang demikian rimbun. Ia tidak tahu di mana Aditia dan Yaksa berlindung. Purbajaya tidak berniat mencari mereka. Terus terang, hatinya kesal dan kecewa. Murid-murid Ki Dita semuanya tidak ada yang benar. Mereka manja, pemberang, dan sepertinya tidak tahan dengan suasana yang penuh derita.
Ia sangsi, kalau mereka jadi pejabat tetapi tidak tahan uji, bisakah kelak mengurus negeri dengan baik? Purbajaya menghela napas jika memikirkan ini semua. Ketika hujan begini, ia malah teringat teman-teman lainnya yang ditinggalkan. Paman Ranu tergolek di tanah dengan darah bersimbah dari tiap bagian tubuhnya. Entah bagaimana nasib orang tua itu. Waktu itu Paman Ranu tidak bergerak, mungkin pingsan atau mungkin tewas.
Nasib Ki Bagus Sura pun tidak lebih baik. Ketika ditinggalkan, Ki Bagus Sura menderita luka parah di sana-sini. Ya, mereka semua menderita luka. Yang agak baikan hanya Ki Dita saja. Namun dalam hujan deras begini, bagaimana mereka bisa saling menolong dan melindungi? Bisakah Ki Bagus Sura dan Ki Dita saling membela? Menyakitkan memang. Orang baru bisa saling memperhatikan kalau memiliki persamaan nasib dalam penderitaan. Padahal jauh sebelumnya, dua orang tokoh tua itu saling menjauh, berdiam diri, dan terkadang tidak memiliki kesesuaian paham. Itu semua karena dipisahkan oleh kepentingan kelompoknya masing-masing. Ki Dita anak buah Ki Sanjadirja, sementara antara Ki Bagus Sura dan Ki Sanja tidak memiliki kesesuaian paham.
Ki Dita mungkin saja tidak punya kepentingan khusus. Namun, seperti yang ditudingkan Ki Bagus Sura, anjing mana yang tidak setia kepada tuannya? Itulah barangkali yang terjadi pada Ki Dita. Namun dalam penderitaan yang sama dan di saat sang anjing jauh dari tuannya, Purbajaya berdoa agar Ki Dita menemukan kembali jati diri kemanusiaannya dan mau berkorban untuk menolong orang yang sebelumnya dianggap seteru.
Mungkin Ki Bagus Sura dan Ki Dita bisa berbaikan sebab punya penderitaan yang sama. Namun, bagaimana pula dengan keadaan di sini? Sungguh aneh, di saat sama-sama menderita, di antara mereka tidak bisa bersatu. Aditia dan Yaksa benci Purbajaya. Namun, dua orang itu pun kadang-kadang benci Wista. Wista baru baikan kepadanya kalau dilayani dengan baik. Sementara kalau ada "layanan" Purbajaya yang dianggap mengecewakannya, dengan mudahnya Wista membenci Purbajaya. Kalau Purbajaya tidak bisa menjaga kesabarannya, sudah sejak lama ketiga orang itu dilabraknya.
Namun Purbajaya tidak bisa begitu. Dia sekarang ini tengah berusaha menjaga nama baik Wong Cirebon. Orang Cirebon, terutama kaum pemudanya, oleh orang Sumedanglarang tengah disorot berhubung tingkah Raden Yudakara yang dianggap memalukan. Jadi kalau Purbajaya bersikap ugal-ugalan, orang akan mudah menuding bahwa semua orang Cirebon sombong dan tukang ugal-ugalan.
Terhadap Aditia, Purbajaya harus menjaga citra. Aditia sudah punya modal kebencian terhadap dirinya karena urusan wanita. Pemuda itu mencintai Nyimas Yuning Purnama, namun belakangan, sesudah dinikahi dan diceraikan Raden Yudakara, gadis itu malah mencintai Purbajaya. Kalah dua kali oleh "orang Cirebon" membuat kebencian pada diri Aditia susah padam. Itulah sebabnya, Aditia selalu menghina dan merendahkannya. Jadi kalau sikap ini dilayani, permusuhan akan semakin menjadi-jadi.
Perlukah Purbajaya berterus terang kalau sebenarnya Nyimas Yuning tidak benar-benar mencintainya? Susah untuk meyakinkannya sebab gadis itu telah "mengaku cinta" di hadapan banyak orang, bahkan Ki Bagus Sura sebagai ayahandanya pun telah dengan senang hati menjodohkannya. Gadis itu telah mempermainkan banyak orang, pikir Purbajaya. Ya, termasuk dirinya pun telah dipermainkan.
Purbajaya memang mengerti. Kalau malam itu Nyimas Yuning langsung mengaku cinta, padahal beberapa saat sebelumnya ketika berduaan saja dia malah menolak perjodohan, maksudnya hanya menolong keadaan. Namun yang Purbajaya tidak mengerti, belakangan pun gadis itu tetap mengaku kalau dirinya siap dijodohkan dengan Purbajaya. Purbajaya bingung dengan pernyataan gadis itu. Benar-benarkah gadis itu mencintai dirinya, atau hanya karena taat orang tua? Maukah Purbajaya menerima kesediaan gadis itu untuk dinikahi hanya karena alasan tidak mau membangkang kepada keinginan orang tua? Purbajaya tidak bisa mengambil keputusan.
Kebimbangannya pun berkenaan pula dengan tingkah Aditia. Aditia benci dirinya karena "berdosa" menerima cinta Nyimas Yuning Purnama. Cinta kasih itu indah, tapi bisa menimbulkan kebencian bagi pihak-pihak yang dirugikan. Aditia contohnya. Sudah dua kali Purbajaya dibenci oleh pemuda yang "kalah cinta". Dulu ketika di Cirebon, Raden Ranggasena begitu benci kepadanya karena Nyimas Waningyun mencintai Purbajaya ketimbang Ranggasena. Peristiwa kedua kalinya melanda lagi. Kini yang mengajak perang adalah Aditia karena cintanya kedodoran.
Kalau dia jadi Aditia, barangkali dia pun akan sakit hati dan merasa rendah. Bagaimana tidak? Ketika Nyimas Yuning masih perawan, cinta Aditia sudah ditawarkan, namun Nyimas Yuning menolak dengan alasan belum mau menikah. Belakangan gadis itu malah dipersunting pemuda bangsawan Cirebon, yaitu Raden Yudakara. Ketika Nyimas Yuning diceraikan dan jadi janda, saat Aditia datang lagi melamar, lagi-lagi gadis itu menolak dengan alasan tidak akan punya suami lagi. Tapi ketika hadir Purbajaya, serta-merta gadis itu mengaku mau bersuamikan Purbajaya. Itulah hinaan yang tak terkira bagi derajat Aditia. Celakanya, Nyimas Yuning dan Aditia yang berperang, malah Purbajaya yang kena pukulnya.
Purbajaya tidak mau menjadikan dirinya sebagai "musuh baru" bagi Aditia. Maka itulah sebabnya, selama ini dia banyak mengalah kendati pemuda itu terus-terusan menghina dan melecehkannya.
Dalam hujan begini, Purbajaya susah tidur. Selain pikirannya kalut, air hujan pun banyak menerpa. Baru sesudah hujan reda, Purbajaya bisa memejamkan matanya. Dia tidur bersandar di batang pohon. Hanya saja saat dia tidur nyenyak, dia dikejutkan oleh beberapa pukulan dari benda keras yang mengarah ke kepalanya.