Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 44

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 44

Purbajaya tak sanggup menerka, dalam mimpikah kejadian ini atau memang benar-benar di alam nyata. Dia susah berpikir karena kesadarannya hilang kembali.

Manakala matahari memancarkan sinarnya, baru dia siuman. Namun, pandangannya serasa berkunang-kunang, kepalanya terasa berat serta nyeri. Ketika Purbajaya hendak bangkit, rasanya sulit sekali. Belakangan baru dia sadar kalau tubuhnya diikat oleh semacam serat batang pohon yang amat alot dan kuat.

Siapakah yang mengikat dirinya? Purbajaya mencoba untuk membuka matanya lagi. Kini samar-samar terlihat dua bayangan tubuh berdiri di hadapannya. Sesudah matanya dikejap-kejapkan dan terbiasa menatap, baru dia tahu kalau yang berdiri adalah Aditia dan Yaksa.

"Mengapa aku diikat?" tanya Purbajaya heran sambil mencoba melepas tali yang melilit erat di tubuhnya.

"Engkau kami ikat," kata Aditia dengan suara dingin dan wajahnya amat pucat.

"Ya, mengapa?"

"Engkau telah membunuh Wista!" desis Aditia.

"Apa?" Purbajaya membelalakkan mata. Dia menatap sekeliling mencari Wista. Tubuh Wista terlihat terbaring tak bergerak. Tempatnya sudah berpindah, tidak lagi bersandar di lubang batang pohon.

"Ya, Wista mati. Aditia menyangka kau yang membunuhnya," kata Yaksa penuh selidik. Namun, Purbajaya balik menatap dalam-dalam kepada pemuda ini. Sebetulnya di sepasang mata Yaksa terlihat sorot keraguan. Ketika Purbajaya terus menatap, Yaksa akhirnya memalingkan wajah dan pura-pura menatap ke arah lain.

"Kalau aku tak cegah, mustinya kau tadi sudah tewas di tangan Wista. Tapi aku cegah agar kau punya kesempatan untuk mengaku dosa," kata Aditia. Ketika Aditia bicara begitu, Yaksa menoleh, sepertinya tak senang temannya berkata demikian. "Benarkah kau membunuh Wista?" tanya Yaksa serius.

Purbajaya menggelengkan kepala, terasa sakit sekali. Dia menduga salah seorang dari mereka, atau malah kedua-duanya, telah memukuli dirinya ketika tengah tidur lelap. "Aku tak membunuh Wista," gumam Purbajaya kembali menatap tubuh terbujur kaku.

"Nyatanya Wista mati!" bentak Aditia.

"Ketika Wista dalam gendonganku, tubuhnya menggigil seperti demam. Sepertinya dia menderita sakit," Purbajaya mengingat-ingat.

"Mungkin sakitnya benar. Tapi kematiannya bukan karena sakit, melainkan olehmu!" desak Aditia tetap berang.

"Mengapa aku musti membunuh Wista?" tanya Purbajaya.

"Mengapa? Tentu saja banyak alasannya. Kau kan tak menyukai kami. Tadi malam aku tahu si Wista mengomel padamu dan kau pun marah-marah sama Wista. Dengan demikian, kebencianmu pada kami cukup digunakan sebagai alasanmu membunuh Wista. Mungkin kau sudah berencana untuk melenyapkan kami satu per satu," tuding Aditia. "Benar, kan?" tanyanya meminta dukungan pendapat kepada Yaksa.

"Pikiranku tak sekejam itu," bantah Purbajaya mengerutkan alis karena berpikir keras.

"Yaksa, cabut senjatamu, bunuhlah si bedebah ini!" Aditia memerintah temannya. Namun, Yaksa malah menatap Aditia. "Ayo, cabut Yaksa!"

"Tidakkah sebaiknya dia kita serahkan dan adili di hadapan bale watangan (pengadilan) saja, Aditia?" Yaksa berpendapat.

"Penjahat hina seperti ini hanya akan merepotkan kita semua. Kita banyak pekerjaan. Maka supaya urusan cepat beres, kita bunuh saja dia. Ayo cabut pedangmu dan tusukkan pada lambungnya, pada lehernya, matanya, atau pada bagian tubuhnya yang mana saja. Yang penting bangsat kecil ini musti mati. Bangkainya jangan dikubur, tapi cincang dan sebarkan ke segala arah agar habis dimakan binatang hutan!" Aditia bicara nyerocos dan sorot matanya bagaikan sepasang mata iblis yang sarat dengan kebencian.

Purbajaya khawatir. Memang terlihat ada hawa kebencian pada diri pemuda ini. Untung saja Yaksa terlihat ragu. Dia masih diam terpaku padahal terus ditekan Aditia agar mencabut senjatanya. Karena Yaksa tak mau mencabut pedangnya, maka pedang Yaksa yang masih di pinggangnya secara paksa dicabut Aditia dan digenggamkan kepada pemiliknya.

"Ayo bunuh si bedebah dan nanti akan aku laporkan kau berjasa membunuh seorang pengkhianat. Kau pasti akan segera lulus menjadi ksatria dan barangkali juga akan diangkat menjadi perwira keraton," kata Aditia tetap memaksa.

"Mengapa tidak engkau saja yang lakukan? Bukankah kau sendiri yang katakan bahwa si Purba yang membunuh teman kita?" Yaksa berteriak kesal karena dipaksa-paksa terus.

Demi mendengar bantahan ini, terlihat wajah Aditia merah padam. Purbajaya menduga, pemuda angkuh ini amat tersinggung oleh penolakan Yaksa. Purbajaya tahu, di sepanjang jalan Aditia selalu menempatkan diri sebagai pemimpin. Kerjanya memerintah dan memberikan pengarahan kepada yang lainnya. Sekarang dia amat marah karena perintahnya dibantah keras oleh Yaksa. Dan sungguh mengagetkan, Yaksa yang membangkang secara tiba-tiba diserang oleh Aditia.

"Aditia, ada apa ini?" Yaksa berteriak kaget sambil mundur. Aditia tak memberinya kesempatan. Pemuda ini malah merebut kembali pedangnya yang tadi secara paksa digenggamkan ke tangan Yaksa.

"Engkau manusia dungu! Pembelot! Pengkhianat!" teriak Aditia gusar.

"He, kau memakiku demikian?" Yaksa mendelik.

"Karena engkau pengecut melebihi tikus! Kau pembelot seperti bangau. Dan kau pun dungu serta pemalas seperti buaya!"

"Setan!" teriak Yaksa semakin mendelik marah. "Aku tahu, kau paksa aku membunuh si Purba agar kelak dosanya kau timpakan kepadaku. Kau ingin membunuh si Purba dengan meminjam tangan orang lain. Cih! Aku tak mau itu. Aku bahkan tak mau berteman dengan orang bodoh dan pecundang!"

Dimaki habis-habisan seperti ini, kemarahan Aditia sudah tak bisa ditahan lagi. Dan akhirnya dengan cara yang membabi buta, dia menyerang Yaksa dengan pedangnya. Gerakannya ganas dan tak memperlihatkan jurus-jurus halus yang pernah diajarkan Ki Dita. Tujuannya jelas untuk membunuh temannya sendiri.

"He, kau mau membunuh aku, ya? Mau membunuh aku, ya?" Yaksa berkelit ke sana ke mari. Dan kalau ada kesempatan, dia balas menyerang dengan pukulan. Namun karena serangan Aditia begitu ganas, Yaksa pun akhirnya terpaksa mencabut pedangnya sendiri. Maka terjadilah pertarungan dua murid Ki Dita, hanya disaksikan Purbajaya yang duduk tak berdaya karena tali yang mengikatnya.

"Kau mau membunuh aku?" teriak lagi Yaksa sambil menangkis sabetan pedang sehingga bunga api berpijar karena dua logam baja saling berbenturan.

"Ya, akan kuhabisi nyawamu! Kau calon ksatria cengeng dan malas dan tak patut untuk bekerja di Sumedanglarang!" cerca Aditia masih sambil memainkan gerakan ganas.

"Kalau begitu, Wista pun kau yang bunuh. Bukankah kau yang kerap kali mengumpat dan mengejek Wista yang cengeng, manja, dan bodoh? Ya, kau yang sebenarnya sebal kepada Wista. Kau takut Wista yang lulus uji karena ayahanda anak itu lebih banyak memberikan upah ketimbang ayahandamu yang kikir itu! Pasti kau yang membunuh Wista!" teriak Yaksa dan pedangnya mulai menyerang lawan.

Maka semakin marah pula Aditia karena caci maki pedas ini. Daya serangannya kian ditambah. Aditia bahkan tidak berpikir untuk menangkis, kecuali menyerang dan menyerang. Sehingga suatu saat dia berteriak kesakitan karena bahu kirinya tertusuk pedang Yaksa. Namun, luka ini seperti tak dirasakan. Serangan Aditia semakin gencar. Dia mungkin marah dan terhina. Yaksa yang sebetulnya masih menderita luka, mengapa bisa mendahului serangan yang membuat dia luka, sementara serangan pedang yang dilancarkan dirinya belum berhasil menerobos masuk.

Namun ketika pertempuran berlangsung agak lama, ternyata tenaga Yaksa yang lebih dahulu terkuras habis. Bisa saja ini terjadi karena luka-luka Yaksa yang sebetulnya belum sembuh. Kini Yaksa mulai terdesak hebat. Luka baru dari tusukan dan sabetan pedang Aditia membuat sekujur tubuh Yaksa banyak dipenuhi darah segar. Sementara itu, Yaksa sendiri sudah tak mampu balas menyerang. Jangankan untuk menyerang, bahkan hanya sekadar untuk menangkis saja dia sudah tak mampu. Kalau keadaan dibiarkan berlarut-larut begini, Yaksa lambat laun akan lumat oleh cecaran pedang Aditia yang demikian ganasnya.

"Aditia, jangan bunuh teman sendiri!" teriak Purbajaya beberapa kali. Namun mana Aditia mau mendengar. Hatinya barangkali sudah kerasukan setan dan hawa membunuh sudah lekat di napasnya.

Suatu ketika kedudukan Yaksa amat membahayakan. Tubuhnya jatuh terjengkang dan tangan kanannya yang memegang pedang tertindih oleh pinggangnya. Untuk menahan gerak laju pedang Aditia yang dibacokkan mengarah kepala, Yaksa hanya memiliki tangan kiri yang masih leluasa. Maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan kepala hanya dilakukan dengan jalan menangkis pedang oleh tangan kiri. Maka akibatnya sungguh fatal. Hanya dalam sekejap, potongan tangan kiri Yaksa terlontar ketika terbabat putus oleh gerakan ganas pedang Aditia.

Yaksa melolong-lolong kesakitan. Namun Aditia masih terus mencecarnya. Purbajaya marah melihat keadaan ini. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepas tali. Namun usaha ini sia-sia, padahal di hadapannya tengah berlangsung dua orang bodoh tengah berebut nyawa. Ketika serangan Aditia datang kembali dan pedangnya kali ini mengarah dada, Purbajaya kembali mencoba mengerahkan tenaga untuk memutuskan tali. Usaha ini hampir sia-sia ketika di belakangnya ada suara seseorang.

"Ayo larilah kalau kau mampu mencegah adegan ini!" kata suara itu. Dan *bret, bret*, tali yang mengikat Purbajaya putus di beberapa bagian. Purbajaya tak sempat melihat siapa yang datang memutuskan tali sedemikian mudahnya. Yang dia pikirkan ketika itu hanyalah bagaimana caranya menggagalkan serangan tusukan Aditia agar nyawa Yaksa tertolong. Purbajaya menotolkan ujung jari kaki keras-keras, maka tubuhnya melesat bagaikan terbang mendekati dua orang yang tengah bertempur.

Tusukan pedang Aditia hampir tiba di dada Yaksa. Purbajaya tak bisa menangkis pedang begitu saja, kecuali menendangnya keras-keras. Pedang terlontar keras dan gagangnya menyambar jidat Aditia. *Tuk!* Gagang pedang itu tepat mengarah jidat. Saking kerasnya tenaga lontaran, tubuh Aditia pun terjengkang ke belakang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment