Chapter 45
Punggungnya jatuh berdebuk ke tanah dan Aditia telentang tak bisa bangun lagi. Purbajaya terkejut. Dia memburu tubuh Aditia dan memeriksanya. Wajah Purbajaya pucat pasi dan tubuhnya mendadak lemas ketika dilihatnya dahi Aditia retak dan ada lelehan darah keluar dari luka tersebut.
Purbajaya pun memeriksa jantung Aditia. Ternyata benar sangkaannya, Aditia tewas. Dengan perasaan tak keruan, Purbajaya beralih memeriksa tubuh Yaksa. Pemuda ini belum mati, namun nasibnya sudah amat mengkhawatirkan. Seluruh tubuh Yaksa bermandikan darah dan tangan kirinya buntung. Potongan tangan itu terpisah agak jauh dari tubuhnya. Yaksa mengerang menahan sakit yang hebat. Mengenaskan sekali.
"Yaksa... Yaksa..."
"Purba..." terdengar jawaban, kendati agak lemah. Yaksa masih memiliki kesadarannya.
"Yaksa, aku telah membunuh Aditia."
"Syukurlah... terima kasih..."
"Jangan begitu. Aku tak sengaja melakukan itu. Yang aku maksudkan hanya untuk menolongmu. Tak sangka gerakanku terlalu ganas sehingga menewaskannya..." Purbajaya panik.
"Terima kasih... terima kasih..." suara Yaksa semakin lemah.
"Kau pun harus percaya, aku tak membunuh Wista!"
"Teri...ma... ka... sih..."
"Yaksa! Yaksa!" Purbajaya mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu, namun Yaksa sudah diam tak bergerak.
"Sudahlah, dia sudah mati. Mari kita pergi!" terdengar lagi suara di belakang Purbajaya. Pemuda ini menengok ke belakang. Raden Yudakara!
Untuk sementara Purbajaya bengong. Dia terkejut sekali. Korban berjatuhan untuk mengejar surat rahasia yang kabarnya berisi perihal keberadaan pemuda bangsawan aneh ini, namun kini Raden Yudakara malah berdiri di hadapannya. Mengapa pula pemuda ini secara tiba-tiba bisa berada di sini?
"Raden..." Purbajaya bergumam dengan nada dingin.
"Hahaha! Engkau masih ingat aku. Ini hanya punya arti, kau masih memiliki kesetiaan tinggi padaku," tutur pemuda tampan itu.
Purbajaya tidak mengomentari pujian ini sebab hatinya tak keruan. Panik, bingung, dan marah bergumul menjadi satu. Di sekitarnya, tiga mayat bergelimpangan. Semuanya mati sia-sia karena sebab-sebab yang tak tentu. Mula-mula Wista diketahui mati dan Purbajaya dituding pembunuhnya. Belakangan Aditia dan Yaksa malah saling bunuh hanya karena mempertentangkan cara memperlakukan Purbajaya. Sekarang dua orang pemuda itu tewas mengenaskan. Salah seorang dari mereka malah mati oleh Purbajaya sendiri.
Kemarahan membuat orang tak bisa berpikir waras. Aditia dipenuhi kebencian sehingga semua orang jadi sasaran kemarahan, tak terkecuali temannya sendiri. Purbajaya pun tak bisa mengendalikan pikirannya karena dipenuhi hawa amarah. Betapa dia membunuh orang tanpa dipikirkan jauh sebelumnya. Purbajaya membunuh mungkin karena ada dendam terselubung. Bukankah selama ini Aditia selalu merendahkan dan menghina Purbajaya? Mungkin pikirannya tak bermaksud membunuh, namun nalurinya sudah demikian. Naluri keluar dari dasar pikiran yang terpendam dan bisa muncul begitu saja kalau hati serta kesadaran berkurang. Ya, itulah dendam yang menimbulkan sesal setelah kesadaran pulih kembali.
"Mari kita pergi dari sini!" kembali Raden Yudakara mengajaknya berangkat.
"Pergi? Ke mana...?"
"Ke mana? Kewajibanmu hanyalah ikut aku dan bukan bertanya seperti itu," kata pemuda bangsawan itu tandas.
Purbajaya bimbang. Betul, kewajibannya belum lepas karena dulu ia ditugaskan untuk ikut Raden Yudakara. Tapi itu sudah setahun lalu. Dia kini malah sedang menjadi utusan Karatuan Sumedanglarang. Tugasnya tentu amat bertolak belakang dengan keinginan Raden Yudakara. Bukankah tugas yang diberikan Ki Bagus Sura kepadanya adalah menyelamatkan surat daun lontar yang isinya mengabarkan perihal pemuda ini?
"Kalau kau tak ikut aku, maka kau akan jadi buruan pasukan Sumedanglarang!" kata Raden Yudakara.
"Mengapa begitu?"
"Bukankah engkau telah membunuh salah seorang dari mereka? Barusan bahkan aku dengar, kau dituding membunuh yang satunya lagi. Siapa yang akan membuktikan kalau kau tak bersalah dalam hal ini?" tanya Raden Yudakara.
Purbajaya diam membisu. Ucapan Raden Yudakara masuk akal dan amat merisaukannya.
"Lantas apa bedanya bila saya ikut engkau, Raden?" tanyanya kemudian.
"Jelas ada bedanya. Dari peristiwa apa pun yang sekiranya bisa mencoreng namamu, aku bisa melindunginya. Bukankah kau tak pernah lupa kalau kau mencelakakan para pembantu dekat Pangeran Arya Damar di puncak Cakrabuana hampir setahun lalu? Kau tak bisa pulang ke Cirebon tanpaku sebab di sana kau pasti dihadang berita kalau kau jadi pengkhianat dan melawan pasukanmu sendiri," kata Raden Yudakara lagi.
Purbajaya mengeluh. Peristiwa di puncak Cakrabuana telah amat merugikannya karena dia bertikai dengan empat perwira bawahan Pangeran Arya Damar. Kini dia sadar kalau dirinya ditekan Raden Yudakara. Artinya, apa pun yang terjadi, Purbajaya mesti ikut lagi pemuda aneh ini jika tidak ingin ditekan.
"Saya mesti menguburkan ketiga jasad ini dulu..." kata Purbajaya.
Tanpa meminta persetujuan, Purbajaya menggali kuburan bagi tiga jasad teman-teman seperjalanannya. Hampir setengah hari waktu dihabiskan untuk mengerjakan ini.
"Mari..." ajak lagi Raden Yudakara setelah Purbajaya selesai mengubur jasad. Dengan tubuh lesu, Purbajaya terpaksa ikut pemuda bangsawan itu. Di sepanjang perjalanan, Purbajaya diam seribu bahasa. Beberapa hari lamanya mereka melakukan perjalanan entah ke mana. Purbajaya tak mau tanya dan sebaliknya Raden Yudakara tak bercerita.
Namun yang lebih aneh dari itu, pemuda bangsawan ini secuil pun tidak bertanya perihal apa yang dilakukan Purbajaya selama ini. Tentu terasa aneh, padahal mereka berpisah lebih dari sepuluh bulan lamanya. Kalau Raden Yudakara mengatakan Purbajaya masih diakui sebagai bawahannya, sudah barang tentu pemuda ini mesti menegur atau bertanya ke mana saja Purbajaya selama ini. Aneh juga, Raden Yudakara tak bertanya mengapa Purbajaya ditemukan dalam keadaan terikat. Raden Yudakara pun tak bertanya apa hubungan antara Purbajaya dan ketiga orang pemuda yang tewas itu.
Kalau tidak bertanya, ada dua kemungkinan. Pertama, dia tidak merasa tertarik. Kedua, dia sudah tahu. Sudah tahu? Dari mana Raden Yudakara tahu perjalanan Purbajaya selama ini? Apakah memang dia menguntit terus? Purbajaya tak sanggup berpikir lagi. Apalagi Raden Yudakara selama di perjalanan tak berbicara hal-hal yang penting.
Sampai pada suatu saat, dia dikejutkan oleh suara orang bertempur.
"Ada pertempuran..." kata Raden Yudakara menahan langkah. Purbajaya pun sama menahan langkah.
"Mari kita lihat mereka!" Raden Yudakara meloncat lebih dahulu, lari-lari kecil ke arah suara pertempuran berada.
Purbajaya memuji, kepandaian Raden Yudakara telah benar-benar hebat. Dia bisa berlari sambil mendengarkan suara senjata beradu yang sebetulnya amat sayup-sayup terdengar. Bagi pendengaran orang biasa, suara sekecil ini tidak akan tertangkap telinga.
Sampai pada suatu saat, di depannya terlihat orang bertempur. Pertempuran berlangsung di sebuah dataran agak rendah, sementara mereka berdua mengintai dari tanah yang tinggi, agak tersembunyi karena banyak pepohonan. Purbajaya mengintip dari sela-sela dahan dan dia terkejut. Ternyata yang bertempur adalah Ki Sudireja, tengah dikeroyok anggota pasukan siluman.
Purbajaya hampir saja ikut terjun untuk membantu Ki Sudireja kalau saja tak ingat ada Raden Yudakara di sampingnya. Kalau dia ikut membantu Ki Sudireja, tentu akan amat mengherankan Raden Yudakara. Setidaknya, pemuda itu akan bertanya mengapa melawan pasukan siluman. Tapi kalau dia membiarkan Ki Sudireja dikeroyok, dia khawatir orang itu akan celaka. Sepintas dia saksikan, Ki Sudireja didesak hebat dan tak punya kesempatan untuk meloloskan diri. Semakin pertempuran berlangsung, semakin payah keadaan Ki Sudireja. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja kapan Ki Sudireja akan ambruk.
Untuk kesekian kalinya, kengerian melanda hati Purbajaya. Barangkali sebentar lagi akan terjadi pembunuhan baru. Memang bukan dia yang melakukan, tapi ini pun sama saja karena dia sepertinya akan membiarkan pembunuhan terjadi.
Namun, sesuatu yang tak dia duga malah terjadi. Raden Yudakara serta-merta melontarkan beberapa butir kerikil dengan pengerahan tenaga dalam yang hebat. Batu-batu kecil itu telak menghantam tiga anggota pasukan siluman yang hendak menusukkan senjata mereka, sementara tubuh Ki Sudireja tak berdaya dalam keadaan telentang. Ketika butir-butir kerikil itu mengenai sasaran, ketiga orang anggota pasukan siluman menjerit ngeri dan langsung melosoh di tanah.
Mendapatkan kesempatan yang baik ini, walau pun terlihat wajahnya keheranan, Ki Sudireja segera meloncat pergi dari tempat itu. Yang aneh, anggota pasukan siluman tidak mengejar Ki Sudireja, melainkan berdiri terpaku. Sesudah itu, anggota pasukan pun menghilang dari tempat itu.
"Mari kita lanjutkan perjalanan..." ajak Raden Yudakara seperti tak pernah terjadi apa-apa.
"Ada tiga orang terluka, bagaimana?"
"Ah, biarkan saja..." jawab Raden Yudakara pendek seraya berjingkat pergi.
Mereka terus berjalan dan Raden Yudakara tak membicarakan peristiwa itu. Tentu ini pun sebuah keanehan bagi Purbajaya. Mengapa pemuda itu menolong Ki Sudireja? Apakah dia sudah mengenal orang tua setengah baya itu? Purbajaya memang tak mau bertanya perihal ini. Namun kendati begitu, hatinya tetap bertekad akan menyelidiki semua keganjilan ini. Belakangan Purbajaya bisa mengambil kesimpulan kendati masih samar, bahwa Raden Yudakara sepertinya tengah mengikuti anggota pasukan siluman. Bisa dibuktikan, di mana ada kejadian yang melibatkan anggota pasukan siluman, Raden Yudakara dan Purbajaya selalu bisa memergokinya.