Chapter 46
Hanya saja, bila pasukan siluman terlihat mengganggu para saudagar dan merebut hartanya, Raden Yudakara tak mau ambil pusing. Selama ini, pemuda itu hanya bersikap mengawasi tindakan anggota pasukan siluman tanpa mau mengganggunya. Tentu saja, tindak-tanduk seperti ini pun diperhatikan oleh Purbajaya.
Raden Yudakara, yang memilah-milah permasalahan menyangkut tindak-tanduk anggota pasukan siluman, menjadi perhatian khusus pula. Purbajaya ingat perkataan Ki Bagus Sura bahwa isi surat daun lontar ada menyinggung keberadaan Raden Yudakara. Bila Ki Bagus Sura demikian tidak senang kepada Raden Yudakara, hal itu menandakan bahwa isi surat tersebut bukan mengenai hal-hal baik tentang pemuda misterius ini.
Tidakkah Raden Yudakara tahu bahwa anggota pasukan memegang surat yang merugikan dirinya? Dari mana pula dia bisa tahu perihal ini? Dan apa pula keinginan anggota pasukan siluman sehingga bersusah payah mempertahankan surat daun lontar yang sedianya mesti dikirimkan ke penguasa Talaga? Purbajaya tidak bisa menebak teka-teki ini.
"Bila begitu halnya, aku harus tetap ikut pemuda ini," katanya di dalam hati.
Ya, bila dia terus mengikuti Raden Yudakara, diharapkan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan mengikuti pemuda ini, Purbajaya bisa terus menyelidiki apa yang sebenarnya tengah dilakukan Raden Yudakara. Bahkan, dengan mengikuti Raden Yudakara, Purbajaya pun bisa menguak tabir yang menyelimuti keberadaan Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih. Dia bisa mendompleng kepentingan ini pada usaha Raden Yudakara yang terus-terusan menguntit anggota pasukan tersebut. Dengan demikian, Purbajaya diharapkan bisa menjalankan apa yang diamanatkan Ki Bagus Sura.
Hanya saja, yang membuat Purbajaya sedih adalah keinginan orang tua itu agar dia mau merawat dan melindungi putrinya, Nyimas Yuning Purnama. Purbajaya amat menyesal karena dirinya tak akan sanggup melaksanakan amanat yang satu ini. Ini karena Purbajaya akan terus-terusan mengikuti Raden Yudakara dan akan memakan waktu tak terbatas. Entah bisa selesai, entah tidak.
Raden Yudakara tetap menganggap bahwa Purbajaya adalah petugas yang tengah berupaya menyusup ke wilayah Pajajaran. Alasan yang tak kalah rumitnya, Purbajaya tetap ingin berjanji bahwa antara dia dan gadis itu sepakat untuk tidak saling mencinta, seperti apa yang dipercakapkan ketika hanya berduaan saja. Sementara ketika gadis itu bicara lain dan amat bertolak belakang dengan ketika berbicara di hadapan umum, Purbajaya akan tetap menganggap itu ucapan bohong belaka karena hendak menolong keadaan dari tekanan fitnah Aditia.
Tapi bagaimana dengan ucapan yang ketiga yang sepertinya Nyimas Yuning mulai menerima perjodohan ini? Ah, ini hanya ucapan seorang anak yang tak mau menolak keinginan orang tua saja. Dan kalau pun Nyimas Yuning menerima perjodohan ini, hal ini bukan untuk dirinya, tapi untuk orang tuanya semata. Dan kalau benar begitu, maka jelas Purbajaya tidak mau. Bukan begitu caranya seorang pria dan wanita menempuh perjalanan sebagai suami-istri.
Tapi benar pulakah gadis itu tidak mencintai Purbajaya? Ada sepasang mata jernih, tapi dengan sorot yang amat sayu. Hati dan perasaan Purbajaya terguncang dan ada getar berahi meresap ke dadanya. Namun aneh, manakala getaran itu ditelusuri, getaran itu tak diakuinya sebagai getaran. Nyimas Yuning Purnama bisa jadi benar tidak sepenuhnya mencintai Purbajaya. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah Purbajaya merasakan kalau dia mencintai gadis itu? "Ah, aku pun harus sama-sama mengaku kalau aku pun tidak mencintainya," pikir Purbajaya.
"Aku takut dengan yang namanya cinta sebab cinta selalu membawa nestapa," katanya dalam hati.
Ya, betapa menyakitkan cinta itu. Aditia tersiksa batinnya sebab selama dia melihat Purbajaya berduaan dengan Nyimas Yuning, rasa bencinya bergolak memecah dadanya. Betapa tidak nyaman perasaan hati Raden Ranggasena. Setiap saat dia harus berseteru dengan Purbajaya karena selalu kalah bertarung dalam memperebutkan perhatian Nyimas Waningyun. Lantas, Purbajaya sendiri pun memendam kesedihan yang dalam ketika perasaan cintanya kepada Nyimas Waningyun begitu saja dirampas oleh Raden Yudakara. Sungguh tidak berperasaan hati pemuda bangsawan itu.
Purbajaya mengeluh dan meminta tolong kepadanya agar ikut memikirkan perasaan cintanya kepada Nyimas Waningyun. Namun yang terjadi belakangan, malah Raden Yudakara sendiri yang mempersunting gadis itu. Betapa sakitnya punya kekasih direbut orang. Betapa sakitnya. Oh, betapa sakitnya!
Jadi, amat beralasan bila Aditia membenci Purbajaya habis-habisan. Sungguh bisa dimengerti bila Raden Ranggasena dari Cirebon begitu memusuhinya. Sementara Purbajaya sendiri tidak ingin punya musuh dan tidak ingin memiliki dendam hanya karena urusan cinta kasih. Itulah sebabnya, sesedih apa pun karena cinta, Purbajaya tak mau terikat oleh yang namanya cinta.
Ketika suatu malam sebelum berangkat tugas, baik di Cirebon maupun di Sumedanglarang, Purbajaya selalu dilepas oleh tatapan mata indah seorang gadis. Baik Nyimas Waningyun maupun Nyimas Yuning Purnama, keduanya sama-sama melepas Purbajaya dengan menyembunyikan sebuah perasaan berat bernama cinta. Namun Purbajaya mencoba menulikan telinga dan membutakan mata agar langkahnya tidak terhambat dan agar wajahnya tak berpaling ke belakang untuk menguak kenangan. Segala masalah dilewatkan begitu saja, hanya menghasilkan hilangnya dendam dan benci di hati.
Itulah sebabnya Purbajaya sanggup mengikuti ke mana Raden Yudakara pergi. Tanpa perasaan dendam di hati, maka penyelidikan bisa berjalan dengan lancar. Paling tidak, Purbajaya bisa mencari kebenaran tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi. Itu pula sebabnya, berhari-hari Purbajaya bersama Raden Yudakara, tidak secuil pun dia bertanya perihal Nyimas Waningyun. Dia tak ingin tahu mengapa pemuda bangsawan yang dititipi amanat malah memakan isi kebun yang mesti dijaganya. Purbajaya tidak bertanya sebab kalau bertanya hanya akan menguak luka lama saja. Satu-satunya kepentingan Purbajaya mengikuti Raden Yudakara hanyalah untuk menyelidiki misteri yang menyelimuti pemuda bangsawan itu.
Ada satu masalah lagi yang menjadi teka-teki hati Purbajaya. Kematian pemuda Wista membuat hatinya penasaran. Ketika jasad pemuda itu mau dia kuburkan, di leher mayat Wista terdapat luka memar. Ini hanya menandakan pemuda itu tewas karena dibunuh orang. Ada orang membunuh Wista dengan sebuah pukulan telak di leher. Siapa yang membunuh pemuda itu? Aditia memang menuduh Purbajaya yang membunuh Wista hanya karena alasan dialah yang tidurnya dekat dengan Wista. Namun, Purbajaya pun bisa menuduh kalau Aditia-lah yang membunuh Wista dan tanggung jawabnya ditimpakan kepada Purbajaya. Purbajaya bergidik sendiri kalau dugaannya sampai sejauh itu.
Benarkah Aditia yang membunuh Wista? Hal ini memang amat memungkinkan. Aditia mungkin marah kepada Wista yang mulai akrab dengan Purbajaya, padahal Aditia punya keinginan semua teman-temannya memusuhi Purbajaya. Bisa saja kebencian Aditia kepada Wista semakin berlipat setelah Wista kerap kali menyalahkan tindakan Aditia yang dianggapnya ceroboh dan sebaliknya jadi memuji-muji Purbajaya karena Wista banyak menerima bantuan.
Menurut perkiraan Purbajaya, Aditia punya orang yang bisa dikambinghitamkan dalam upaya melenyapkan nyawa Wista, yaitu dirinya. Waktu itu Wista banyak mengomel kepada Purbajaya dan kemudian Purbajaya balik membalas dengan omelan pula karena Wista manja dan cengeng. Maka, pertengkaran ini digunakan Aditia sebagai peluang dalam membunuh Wista sebab kelak yang akan dituduhnya adalah Purbajaya. Oleh sebab itu, siang harinya setelah Wista mati, Purbajaya langsung dituduh sebagai pembunuh Wista.
Akan halnya Yaksa yang akhirnya dibunuh Aditia, mungkin pemuda ini pun akhirnya jadi sasaran kemarahan Aditia karena ragu-ragu dan bimbang saat diperintah untuk balik membunuh Purbajaya. Apalagi kemarahan Aditia semakin memuncak ketika Yaksa malah balik menuding kalau Aditia mungkin pembunuh sebenarnya. Aditia marah merasa dikhianati oleh kedua orang temannya, padahal menurut hemat dia, kedua orang temannya mesti membantunya dalam membenci Purbajaya habis-habisan. Kalau benar Aditia membunuh dua temannya, maka jelaslah sudah, alasan utamanya adalah kecewa karena sikap dua temannya yang plin-plan dalam memusuhi Purbajaya. Baik Wista maupun Yaksa dianggapnya sudah tidak mendukung lagi dan ini amat tidak disukai Aditia.
Namun benar atau tidak sangkaan ini, yang jelas peristiwa ini telah menyeret Purbajaya ke jurang kesulitan. Bagaimana tak begitu, secara tidak sengaja dia telah terlibat pembunuhan. Aditia telah terbunuh hanya karena Purbajaya tidak bisa menahan emosi. Bagaimana kelak dia mesti mempertanggungjawabkan perkara ini kepada Ki Dita, kepada Ki Bagus Sura, bahkan kepada penguasa Sumedanglarang? Semuanya akan menuntut dia dan mungkin akan menghukumnya.
Purbajaya jadi susah untuk menemui mereka sebab Purbajaya tidak punya apa yang mesti jadi bahan yang bisa menjelaskannya. Ki Dita pasti akan marah besar dan akan mudah saja menuding kalau ketiga muridnya dia yang bunuh sebab selama ini antara ketiga orang muridnya dengan Purbajaya tidak punya kecocokan. Ki Bagus Sura memang benar tidak menyukai ketiga orang murid Ki Dita. Namun dalam menghadapi urusan ini, orang tua itu akan menderita kesulitan dalam membela Purbajaya. Barangkali dia pun akan ikut terseret oleh masalah ini mengingat antara Ki Bagus Sura dengan para orang tua ketiga orang muda itu tidak pernah akur pula. Hubungan Ki Bagus Sura dengan ketiga orang tua anak muda yang tewas itu akan semakin memburuk juga. Jelas, urusan ini akan membuat posisi Ki Bagus Sura menjadi terganggu. Buruk, memang buruk. Dan ini terjadi hanya karena Purbajaya tidak bisa menahan diri. Memang benar kata Paman Jayaratu, orang cepat marah hanya akan merugikan dunia.
"Ah... kalau saja aku tak membunuh Aditia," keluhnya.
"Tidak! Aku tidak membunuh dia," bantah hatinya lagi.