Chapter 47
Paling tidak, aku tak bermaksud membunuhnya.
Yang membuat dia terbunuh hanyalah keberingasannya saja, bantah hati Purbajaya lagi. Ya, sebab kalau pun dia tak membunuh Aditia, urusan belum tentu beres. Aditia akan tetap bertahan pada fitnahnya dan akan tetap menuduh Purbajaya sebagai pembunuh Wista. Mungkin kematian Yaksa pun akan ditimpakan kepadanya dengan alasan bahwa cekcok Yaksa dengan Aditia terjadi karena memperkarakan Purbajaya.
"Ah, aku tak bisa kembali ke Sumedanglarang," keluh Purbajaya.
Mengingat Sumedanglarang membuat Purbajaya teringat Nyimas Yuning Purnama. Hatinya kembali sedih. Sudah semakin jelas kini bahwa dirinya tak mungkin bertemu lagi dengan gadis bermata sayu itu. Atau paling tidak, dia sudah tak mungkin bisa melaksanakan harapan Ki Bagus Sura agar Purbajaya mau merawat dan melindungi kehidupan gadis tersebut.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa," keluhnya lagi berkali-kali.
Yang bisa dia lakukan kini hanyalah mengikuti ke mana Raden Yudakara pergi. Mungkin ini menyebalkan sebab harus selalu berdekatan dengan orang yang tidak disukai. Mungkin ini membuatnya muak sebab harus selalu bersama-sama dengan orang yang selamanya harus dia curigai. Terus-terusan mencurigai seseorang bagi Purbajaya merupakan sebuah siksaan. Namun, suka atau tidak suka, pemuda pesolek yang romantis atau bahkan gila perempuan ini harus terus dikuntit.
Pertama, karena pertalian amanat Ki Bagus Sura agar terus menyelidiki Raden Yudakara jika surat daun lontar milik negara tidak bisa diselamatkan. Kedua, karena Purbajaya kini berada di bawah tekanan pemuda ini. Ya, halus atau tidak ucapan Raden Yudakara, maksudnya tetap satu: bahwa pemuda itu mengisyaratkan agar Purbajaya ikut dengannya. Perbuatan Purbajaya yang membunuh Aditia secara tak sengaja dijadikannya sebuah tekanan agar Purbajaya tetap berada di samping Raden Yudakara.
Purbajaya tak tahu mengapa pemuda aneh itu tidak mau melepaskannya. Apa yang diharapkan Raden Yudakara darinya? Padahal dia tahu, berdekatan satu sama lain bukanlah hal yang cocok. Raden Yudakara selalu banyak bicara, sementara Purbajaya tidak. Raden Yudakara sembrono dan gila wanita, sedangkan Purbajaya selalu bertindak hati-hati dalam hal apa pun, termasuk urusan cinta. Sama sekali tidak ada kecocokan.
Tapi mengapa Raden Yudakara selalu ingin dekat dengannya? Mungkinkah benar pemuda bangsawan ini membutuhkan tenaga Purbajaya untuk melakukan penyusupan ke Pajajaran dengan mengandalkan keahliannya sebagai puhawang (ahli kelautan)? Atau hanya karena ada tekanan dari pihak luar agar Raden Yudakara "menjaga" Purbajaya? Purbajaya ingat, Pangeran Arya Damar pun sama-sama "memerlukan" dirinya dan ia harus ikut misi penyusupan ke Pajajaran. Benar-benarkah ia amat diperlukan, sementara Paman Jayaratu sendiri menekankan agar misi yang dianggap gila ini dibatalkan saja? Segalanya masih misteri baginya.
Namun, justru agar misteri ini bisa terungkap, mau tak mau Purbajaya musti ikut ke mana Raden Yudakara pergi. Dengan perkataan lain, biarkan dirinya dimanfaatkan oleh pemuda aneh ini sehingga dia bisa tahu misi apa yang sebenarnya tengah mereka lakukan.
Satu misteri telah bisa ditelusuri sekalipun masih samar-samar. Raden Yudakara ternyata selalu menguntit ke mana pasukan siluman bergerak. Melihat hal ini, Purbajaya mencoba menarik kesimpulan. Pertama, pemuda itu berusaha menguntit jejak pasukan siluman karena sama-sama merasa penasaran akan kemisteriusan pasukan itu. Kedua, Raden Yudakara pun sama menginginkan surat daun lontar itu. Bila kesimpulan kedua yang benar, maka bisa dipastikan Raden Yudakara sudah tahu kalau surat daun lontar itu isinya membahayakan kedudukannya.
surat daun lontar itu tidak boleh sampai. Ini hanya perkiraan semata sebab hal sebenarnya belum diketahui persis dan baru bisa diketahui bila Purbajaya terus mengikuti dan meneliti tindak-tanduk pemuda aneh ini.
Yang jelas, baik Purbajaya maupun Raden Yudakara sekarang ini sama-sama tengah menguntit pasukan siluman secara diam-diam. Tetapi, kalau surat daun lontar lepas dari genggaman pasukan misterius itu, maka giliran Purbajaya dan Raden Yudakara-lah yang bersaing memperebutkannya.
Perjalanan kedua orang itu akhirnya tiba di persimpangan jalan pedati. Jalan yang lurus ke selatan akan mengarah ke Gunung Cakrabuana, dan yang ke timur akan menuju Karatuan Talaga. Purbajaya jadi terkenang pada peristiwa sepuluh bulan atau setahun yang silam. Waktu itu pun Purbajaya melakukan perjalanan menuju kaki Gunung Cakrabuana. Bedanya, dulu lewat timur melalui Karatuan Rajagaluh, sementara sekarang datang dari sebelah utara. Dulu berangkat dari Cirebon, sekarang datang dari wilayah Ciguling (ibu kota Karatuan Sumedanglarang).
Purbajaya pun jadi terkenang akan gurunya. Ingin sekali dia naik ke puncak dan menemui Paman Jayaratu. Barangkali Purbajaya akan memaksa agar dirinya diterima orang tua itu dan tetap tinggal bersamanya hingga akhir hayat. Kalau ingat ini, Purbajaya merasa bahwa Paman Jayaratu bertindak tidak adil. Dengan alasan masih muda, Purbajaya diperintahkan melakukan pengembaraan agar banyak menerima pahit-getirnya pengalaman hidup, sementara Paman Jayaratu yang sudah tua tinggal menyepi di tempat sunyi dan mengasingkan diri dari kemelut dunia.
Ya, ini tidak adil. Mengapa orang tua boleh menjauhkan diri dari kemelut sementara dirinya yang masih muda malah "sengaja" disuruh mendekatkan diri kepada berbagai permasalahan dunia? Apakah anak muda tidak sah menjadi manusia kalau belum merasakan pahit-getirnya kehidupan? Purbajaya ingin bahagia, tetapi mengapa harus melalui kepahitan dulu? Padahal yang dimaksud kebahagiaan oleh Purbajaya tidak banyak. Dia tak ingin jadi orang terkenal, tak ingin jabatan, ataupun kekayaan. Yang dia inginkan adalah hidup yang tenteram. Dan ketenteraman baginya adalah bila bisa menjauhkan diri dari berbagai permasalahan dunia, menjauhkan diri dari perbedaan pendapat, dan menjauhkan diri dari persaingan hidup.
Selama bersama Paman Jayaratu di wilayah Cirebon, hal itu sudah pernah dirasakan. Purbajaya tak pernah punya masalah sebab Paman Jayaratu tidak pernah memberinya masalah. Masalah mulai hadir ke hadapannya setelah dia banyak berjumpa dengan orang lain yang punya kehendak lain dan pandangan hidup berbeda. Maka di sanalah kemelut terjadi dan di sanalah ketenteraman hidupnya terganggu.
Jadi menurutnya, Paman Jayaratu kejam karena telah menjauhkan dirinya sehingga Purbajaya terlontar ke kehidupan ramai yang begitu banyak ragamnya dan amat memusingkannya. Menurut kata hatinya, pendapat Paman Jayaratu itu salah. Orang tua itu mengatakan bahwa nilai kehidupan yang sempurna adalah bila memiliki wawasan dan pengalaman yang luas. Itu salah. Menurut Purbajaya, pengetahuan dan pengalaman hanya menambah kesulitan belaka. Karena punya pengetahuan jadi punya keinginan. Dan karena punya pengalaman jadi punya penderitaan. Padahal selama bersama Paman Jayaratu, dia tak punya keinginan. Oh, Paman Jayaratu lupa, hanya karena manusia punya keinginan maka akan berhadapan dengan kesulitan dan penderitaan.
Sekarang, mengunjungi Paman Jayaratu rasanya mustahil. Raden Yudakara tidak akan mengajaknya ke puncak. Bagi pemuda bangsawan itu, puncak Cakrabuana adalah mimpi buruk. Betapa tidak, dia yang bertugas memerangi Ki Darma malah sembunyi manakala terjadi pertempuran antara pasukan Cirebon dan pasukan Pajajaran. Betapa memalukannya hal ini. Agar tidak diingatkan pada peristiwa ini, bisa ditebak bahwa pemuda bangsawan ini tidak berniat singgah di Cakrabuana. Nama Paman Jayaratu dan Ki Darma bagi Raden Yudakara bukanlah nama yang boleh diakrabi. Pemuda itu tak akan cocok bergaul dengan kedua orang tua bijaksana tersebut.
Lagi pula, tujuan Raden Yudakara adalah menguntit ke mana pasukan siluman bergerak. Kalau yang dikuntitnya menuju wilayah Cakrabuana, barangkali baru dia mau. Kenyataan yang terjadi, pasukan itu tidak menuju ke wilayah gunung, melainkan lurus ke timur, sepertinya mau menuju ke Bantarujeg atau ke Talaga. Tapi benarkah mereka mau menuju ke sana? Entah ini perjalanan yang menguntungkan atau tidak bagi Purbajaya. Bisa disebut menguntungkan sebab Talaga sudah tak begitu jauh lagi. Dengan demikian, kepada penguasa Talaga, Purbajaya bisa segera menyampaikan hal-hal yang mencurigakan yang dikerjakan Raden Yudakara.
Namun, bisa juga disebut tidak menguntungkan sebab sampai dengan hari ini, Purbajaya belum bisa merebut kembali surat daun lontar dari genggaman pasukan siluman. Tanpa bukti surat ini, berita apa pun sulit dipercaya kebenarannya. Apalagi Purbajaya tidak memiliki identitas apa pun yang bisa diperlihatkan kepada penguasa Talaga. Orang Talaga takkan berani begitu saja ikut mencurigai Raden Yudakara yang menjadi kepercayaan Cirebon selama ini. Waktu semakin sempit, sementara kesempatan untuk mendapatkan kembali surat daun lontar itu belum juga ada.
Malam itu, mereka berdua kemalaman di sebuah hutan. Untuk menjaga diri dari bahaya binatang buas, Raden Yudakara mengajak Purbajaya tidur di dahan pohon. Masing-masing memilih dahan pohon yang sekiranya enak dan nyaman untuk dibuat tempat tidur. Purbajaya sengaja memilih dahan yang jaraknya tak terlalu dekat dengan dahan yang dipilih oleh Raden Yudakara. Sudah diputuskan di dalam hatinya, malam ini Purbajaya akan menyelinap pergi dengan tujuan mencari pasukan siluman seorang diri.