Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 48

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 48

Purbajaya menduga, bila Raden Yudakara mengajaknya beristirahat, itu adalah pertanda kelompok yang tengah dibuntutinya berada di dekat situ. Purbajaya sudah memperhitungkan, saat pemuda itu tertidur pulas, di situlah dia akan meninggalkannya. Tengah malam di saat cuaca dingin berkabut, terdengar dengkur keras pemuda bangsawan tersebut. Purbajaya sebenarnya sedikit iri; orang seperti itu oleh Tuhan diberi kemudahan untuk menikmati tidur dalam keadaan apa pun. Kata orang, mereka yang mudah tidur dan mendengkur bebas hanya menandakan bahwa orang itu tidak punya permasalahan berat dalam hidupnya. Sementara Purbajaya sendiri, jika hendak tidur, susahnya bukan main. Mata mengantuk, tetapi pikiran terus berjalan, memikirkan hal-hal yang ruwet. Nanti, saat lelah dan malam hampir berganti pagi, barulah ia bisa terlelap.

Malam ini, Purbajaya tidak tidur barang sekejap. Makanya, ia tahu persis kalau Raden Yudakara sudah mendengkur dengan aman. Oleh sebab itu, ia segera melorot turun dari dahan dengan amat hati-hati. Begitu hati-hatinya, sampai-sampai upaya menuruni batang pohon itu memakan waktu lama. Purbajaya tak ingin ada gerakan sekecil apa pun. Ia tidak ingin serangga malam yang tengah berbunyi mendadak berhenti karena adanya gerakan asing. Kalau serangga malam berhenti berbunyi, Raden Yudakara pasti curiga. Namun, walau dengan susah payah, akhirnya Purbajaya bisa melorot turun.

Sambil tetap menjaga kewaspadaan, Purbajaya meninggalkan tempat itu menuju ke daerah yang agak tinggi. Kendati malam terbungkus kabut, samar-samar Purbajaya sebenarnya sudah sejak tadi melihat adanya cahaya. Cahaya itu samar dan amat tipis sekali. Namun, kalau diamati dengan baik, cahaya yang bagaikan setitik kunang-kunang itu bisa diyakini sebagai cahaya api. Kunang-kunang akan bercahaya kuning kehijau-hijauan, sementara cahaya api kemerah-merahan. Purbajaya menduga itu adalah cahaya api unggun. Memasang api unggun di saat malam gelap berkabut dengan cuaca begitu dingin memang amat cocok.

Namun, siapakah yang memasang api di tengah hutan begini? Tadi siang Purbajaya meneliti bahwa di sini tidak terdapat perkampungan penduduk, tidak juga ada petani yang menjaga huma. Satu-satunya perkiraan Purbajaya, yang memasang api unggun di malam berkabut ini tentulah anggota Pasukan Siluman. Dengan perasaan tegang, Purbajaya mencoba mendekati tempat itu. Namun, ia harus merambah bukit kecil sebab cahaya itu sepertinya datang dari lereng bukit. Ketika ia mendekati daerah itu, semakin nyata kalau ada orang yang sedang menyalakan api unggun.

Purbajaya berpikir kalau anggota pasukan siluman ini amat melecehkannya. Betapa tidak, gerakan mereka selalu dilakukan secara misterius dan main sembunyi. Datang dan pergi tanpa ada orang yang tahu kapan dan di mana. Namun, kali ini mereka tidak memperlihatkan kebiasaan itu. Menyalakan api unggun di tengah malam menandakan bahwa mereka tidak takut pada siapa pun. Kendati lawan demikian tangguh, Purbajaya akan tetap berusaha. Keputusannya sudah bulat untuk merebut kembali kotak surat daun lontar yang sempat dirampas pasukan siluman. Dia harus melaksanakan amanat Ki Bagus Sura yang menginginkan keberadaan Raden Yudakara yang penuh misteri terkuak dan diberitakan kepada penguasa Karatuan Talaga.

Kini Purbajaya semakin mendekati cahaya api. Dari jarak yang tak begitu jauh, Purbajaya melihat belasan orang tengah berkumpul mengelilingi api unggun di hamparan tanah miring perbukitan. Melihat jenis pakaian mereka yang menggunakan kain serba hitam dengan ikat kepala yang hampir menutupi jidatnya, bisa dipastikan mereka adalah anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih. Api menjilati kayu bakar dan membuat suasana semakin benderang. Bunga api beterbangan ke udara karena api sengaja disulut semakin besar; sepertinya mereka memang sengaja membuat suasana terang agar orang yang tengah mengintip bisa leluasa melihat mereka.

Apakah ada orang yang ditunggu? Rasanya benar, sebab walau mereka duduk berkumpul, cara duduknya seperti membentuk kuda-kuda, siap melakukan gerakan mendadak.

"Ah, yang datang bukan pimpinan kita. Tapi hai, Ki Silah (saudara) yang bersembunyi di semak, silakan hadir ke sini untuk sama-sama menghangatkan tubuh," kata seseorang dari anggota pasukan siluman.

Purbajaya amat terkejut. Ia ingin bangkit dari tempat persembunyiannya sambil celingukan. Dengan pipi terasa panas karena malu diketahui musuh, Purbajaya akan segera berdiri ketika tiba-tiba dari rimbunan pohon di arah sana, ada orang lain yang berdiri dan kemudian meloncat mendekati tempat anggota pasukan siluman berada. Purbajaya bernapas lega. Ternyata yang kepergok mengintip bukan dirinya, melainkan orang lain. Hanya saja, Purbajaya terkejut sebab yang baru saja meloncat adalah Ki Sudireja. Ia heran, orang tua itu begitu tangguh tapi ternyata ceroboh sehingga diketahui lawan saat tengah mengintip.

"Lho, malah Ki Sudireja yang datang. Tak apa. Mari ke sini. Malam sungguh dingin dan membuat tulang serasa ngilu," kata orang dari pasukan siluman.

"Jangan banyak basa-basi. Aku hanya menginginkan anak bernama Pragola kembali ke tanganku," kata Ki Sudireja tanpa menerima sambutan hangat.

"Ah, anak itu masih terlalu kecil. Anak usia tujuh tahun jangan kau bawa-bawa ke dalam urusan akal-akalan (politik)," jawab anggota pasukan siluman sambil menambah kayu bakar ke bara api.

"Mau dibawa ke mana anak itu, aku yang bertanggung jawab, sebab akulah yang tengah dan akan membesarkannya," jawab Ki Sudireja kaku.

"Sikap mau menang sendiri seperti ini amat berbahaya. Apa kau tak merasa khawatir kalau anak itu kelak selamanya berada dalam marabahaya?"

"Justru bila anak itu berada di dalam kungkungan kalian, maka anak itu akan berada dalam bahaya. Kalian hidup dalam kurungan mimpi. Entah setan apa yang memengaruhi kalian sehingga kalian tak menghargai hidup masa kini," kata Ki Sudireja tandas.

"Jangan mengolok-olok. Semua orang punya keyakinan dan semua orang hanya beranggapan, keyakinan dirinyalah yang benar dan baik."

"Memang benar. Tapi sejauh mana keyakinan itu punya arti? Benarkah selama ini engkau mendapatkan wangsit (amanat) dari Nyi Rambut Kasih? Siapa di antara kalian yang pernah bertemu dengan putri Sindangkasih yang telah menghilang puluhan tahun silam itu?" tanya Ki Sudireja.

Tidak ada yang menjawab.

"Kalian telah diracuni oleh jalan pikiran sendiri," cerca Ki Sudireja lagi.

"Tidak. Kami punya pemimpin."

"Kalau begitu, pimpinan kalianlah yang meracuni!"

"Diam! Kau tak punya hak menilai pemimpin kami. Orang yang jauh dan tak mengenal seseorang tak mungkin bisa menilai baik buruknya seseorang itu. Sudahlah, nyawamu di tangan kami. Hanya karena pemimpin tak menginginkan kau mati, maka nasibmu baik hingga kini. Tempo hari kami kehilangan tiga orang anggota hanya karena pemimpin kami tak menyukai kami menganiayamu. Sekarang pergilah sebelum pemimpin kami berubah pikiran!" kata seorang anggota pasukan siluman bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam legam, yang rupanya pemimpin dari kelompok itu. "Pergilah, kami jamin anak itu selamat tak kurang suatu apa," katanya lagi.

"Di mana anak itu?"

"Di wilayah Sindangkasih."

"Aku ingin bertemu pimpinan kalian!"

"Tidak bisa. Cepatlah pergi, kami tak mau kehilangan nyawa anggota kami lagi. Hanya satu kesalahan saja, maka pemimpin kami tak tanggung-tanggung membunuh kami seperti tempo hari!" kata si tinggi besar itu, yang membuat hati Purbajaya terkejut setengah mati.

"Pergilah cepat!" untuk kesekian kalinya anggota pasukan siluman mengusir Ki Sudireja.

Orang tua setengah baya itu pun tahu diri. Sesudah mendengus sebentar, Ki Sudireja meloncat pergi dan menghilang di kegelapan malam. Purbajaya pun sebenarnya setuju Ki Sudireja pergi, sebab pengalaman tempo hari saat dia melawan anggota pasukan siluman, dia terlihat amat payah karena dikeroyok dengan ketat oleh lawan. Kalau saja Raden Yudakara tidak menolongnya dengan menyambit tiga orang anggota pasukan siluman, mudah diduga kalau Ki Sudireja akan kalah dan mungkin tewas. Namun, wajah Purbajaya kembali pucat saking terkejutnya saat mengingat ucapan pasukan siluman bahwa pemimpin mereka telah menewaskan tiga orang anggota sendiri karena tidak setuju Ki Sudireja dianiaya. Sudah gilakah jalan pikiran Purbajaya jika kali ini ia menduga Raden Yudakara adalah pemimpin anggota Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih?

"Hai, engkau yang jongkok di semak, cepat ke sini!" tiba-tiba terdengar teriakan dari si tinggi besar yang amat mengejutkan Purbajaya.

Kembali Purbajaya celingukan. Mudah-mudahan saja kejadiannya seperti tadi, yaitu orang-orang itu bukan memanggil dirinya. Namun setelah ditunggu lama, tak ada orang lain yang muncul dari semak. Dengan demikian, kini Purbajaya yakin kalau dirinyalah yang barusan dipanggil. Perlahan, Purbajaya keluar dari semak. Semua orang menatap dirinya dengan penuh ejekan.

"Sebetulnya sejak tadi engkau aku panggil, tapi yang datang malah orang lain. Kenapa dari tadi kau mengintip kami?" tanya si tinggi besar dengan berkacak pinggang.

Purbajaya tersipu malu. Jadi benar, mereka orang hebat. Ketika dia baru datang pun sebetulnya mereka sudah tahu kehadirannya. Itulah sebabnya api unggun semakin dinyalakan. Namun, barangkali Ki Sudireja tadi salah menyangka; disangkanya kedatangan dirinya telah diketahui lawan, sehingga ia langsung terjun memperlihatkan diri.

"Dia dari kelompok Ki Bagus Sura!" teriak salah seorang dari mereka sambil menudingkan telunjuk.

"Ya, aku pun tahu. Tapi yang aku bingungkan, mengapa pula pemuda bodoh ini menguntit kita?" tanya si tinggi besar masih dengan berkacak pinggang.

"Kalian pasti sudah tahu maksud kedatanganku!" jawab Purbajaya tandas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment