Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 49

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 49

Urat-urat di tubuhnya menegang, siap menghadapi hal-hal yang tak diinginkan.

"Bahkan kami pun tak tahu. Engkau bersusah payah menguntit kami, ada apakah?" tanya si tinggi besar dengan dahi berkerut.

"Serahkan peti surat daun lontar milik Ki Bagus Sura!" Tangan kanan Purbajaya menyodorkan tangan ke depan, seolah-olah menyuruh agar barang yang dimintanya segera dikembalikan.

"Heh, berani-beraninya. Engkau tak punya kepentingan khusus mengenai ini. Pergilah sana!" Telunjuk si tinggi besar mengarah ke tempat yang jauh, sepertinya memang menyuruh Purbajaya pergi dan jangan mengganggu mereka.

"Secara pribadi mungkin benar aku tak punya kepentingan. Namun, aku adalah anggota misi Sumedanglarang yang harus menyelamatkan benda tersebut agar tiba dengan selamat kepada orang yang berhak menerimanya. Cepat serahkan surat itu!" bentak Purbajaya. Namun, ucapannya hanya disambut gelak tawa mereka. Purbajaya merasa marah dan terhina; orang bicara serius malah ditertawakan. Sepertinya Purbajaya hanyalah anak-anak di mata mereka.

"Kalian mungkin orang hebat dan aku tak bisa mengalahkan kalian. Tapi tugas harus aku kerjakan. Mati dalam tugas bukan sesuatu yang tabu bagiku!" kata Purbajaya.

Serentak dengan itu, Purbajaya melakukan serangan tajam. Serangan ini tak main-main. Dia mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya karena tahu lawannya adalah orang-orang hebat. Namun, hanya dalam satu kali gerakan, semua serangan bisa digagalkan si tinggi besar.

"Engkau pemberani dan setia kepada tugas. Kami butuh orang sepertimu, maka bergabunglah, anak muda," kata si tinggi besar sambil terus memainkan jurus-jurus menghindar karena Purbajaya tetap menyerang.

"Keluarkan surat daun lontar dan serahkan padaku!" teriak Purbajaya tanpa menggubris tawaran si tinggi besar.

Si tinggi besar tertawa. Lantas, dari endong (kantung kain) yang tersandang di bahunya, dia mengeluarkan sesuatu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Inikah yang engkau maksud, anak muda?" Purbajaya menatap susunan daun lontar yang terikat rapi dengan benang sutra berwarna merah. Dia memang tak tahu apakah itu benda yang dimaksud, karena sebelumnya dia pun belum pernah melihatnya.

"Isinya tidak akan kau mengerti, kehadirannya hanya akan mengacaukan keadaan saja," kata si tinggi besar masih mengacungkan susunan daun lontar tersebut.

"Kumengerti atau tidak, kewajibanku hanya menyelamatkan benda itu! Cepat serahkan!" kata Purbajaya sambil kembali menyerang. Namun, untuk kesekian kalinya serangan itu luput karena gerakan menghindar si tinggi besar demikian gesit dan ringan.

"Sudah kuangkat tinggi-tinggi benda ini. Kewajibanmu ringan saja, yaitu hanya menggapainya. Mari, anak muda, semua orang perlu berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya," tantang si tinggi besar.

Ini adalah tantangan terbuka. Mereka tak mau memberikan benda itu secara cuma-cuma kecuali melalui sebuah ujian. Purbajaya mengerti, anggota pasukan siluman terus mengujinya dan tidak berniat mencelakakan dirinya. Hal ini justru menguntungkan Purbajaya sebab dia bisa leluasa melakukan serangan tanpa khawatir terluka oleh serangan balik.

Melihat benda yang diincarnya diangkat tinggi-tinggi, Purbajaya segera meloncat bagaikan macan menangkap mangsa. Tangan kanannya mencakar ke depan mengarah wajah lawan, sementara kaki kiri meluncur menendang ulu hati. Namun, lawan sepertinya sudah tahu bahwa gerakan Purbajaya hanyalah pancingan. Sebab, gerakan apa pun yang dilakukan, intinya tetap mengincar benda yang dipegang lawan.

Oleh sebab itu, ketika serangan kaki kiri datang, tubuh lawan hanya mundur satu langkah. Selanjutnya, dia membalas serangan tangan kanan Purbajaya dengan "patukan" tangan kirinya. Purbajaya tidak mau tangannya terkena totokan karena jika mengenai urat nadi, tangannya bisa mendadak lumpuh. Sebagai gantinya, tangan kanan ditarik kembali dan tangan kiri menyodok ke depan dengan telapak terbuka. Namun, serangan ini terpaksa ditarik karena tangan kiri si tinggi besar terus meluncur menjadi pukulan telak ke arah dada.

Purbajaya tidak berniat menangkis karena tahu tenaga si tinggi besar amat kuat. Dia pun menghindar dengan bersalto ke belakang beberapa kali dan mendarat di tempat yang agak jauh. Begitu kakinya menginjak tanah, Purbajaya segera melesat kembali untuk mencoba merebut daun lontar itu.

Si tinggi besar tampak agak terkesima melihat gerakan Purbajaya. Biasanya, orang yang baru bersalto tidak akan buru-buru menyerang karena harus memperbaiki posisi kaki terlebih dahulu. Namun, Purbajaya melakukan sebaliknya. Itulah memang yang diajarkan Paman Jayaratu, yakni mengubah kebiasaan agar tidak mudah ditebak.

Si tinggi besar yang terkejut tidak lagi menghindar, melainkan langsung memapaki serangan Purbajaya. Untunglah, serangan itu sudah diantisipasi. Purbajaya kembali bersalto di udara untuk menghindari adu tenaga. Kali ini, putaran saltonya maju melampaui tubuh lawan sambil mencoba merebut daun lontar tersebut. Namun, isi hatinya sudah terbaca; dengan enteng, si tinggi besar melengos ke samping dan tangkapan Purbajaya luput dari sasaran.

Purbajaya kecewa dan putus asa. Dia marah pada kemampuannya yang terbatas. Padahal, hanya dengan tangan kiri si tinggi besar begitu mudah menghindar dan menyerang, sementara tangan kanannya tetap mengacung ke udara memegang ikatan daun lontar.

Dalam keadaan terhina, Purbajaya teringat gurunya, Paman Jayaratu. Orang tua ini dikenal sebagai mantan perwira Cirebon yang handal dan disegani kawan maupun lawan. Sebagai bukti, Ki Darma yang dikenal hebat di Pajajaran pun tidak sanggup mengalahkan Paman Jayaratu. Kini, kedua orang tua itu hidup damai di puncak Cakrabuana karena menyadari bahwa jika terus bermusuhan, mereka tidak akan pernah bisa saling mengalahkan.

Yang menyedihkan, mengapa Purbajaya sebagai murid terkasih Paman Jayaratu tidak memiliki ilmu sehebat gurunya? Inilah akibatnya; menghadapi lawan yang berilmu tinggi, dia hanya menjadi bulan-bulanan. Kalau saja lawan bertindak kejam, dia pasti sudah kalah sejak tadi. Purbajaya menghargai fakta bahwa meskipun lawannya terkesan sombong, mereka sedikit pun tidak bermaksud melukainya. Kendati dijadikan mainan seperti tikus oleh kucing, tubuhnya selamat tanpa luka, selain rasa malu yang menyesak di dada dan membuat wajahnya terasa panas.

Ini adalah kali kedua Purbajaya bertempur menghadapi pasukan siluman. Dia menyadari mereka tidak memiliki jurus-jurus yang keras dan kejam. Kalaupun Paman Ranu, Ki Bagus Sura, maupun Ki Dita mengalami luka, itu karena tingkat kepandaian mereka memang lebih rendah.

Pasukan siluman memang tidak kejam, namun Purbajaya tidak ingin memberi hati kepada mereka karena perbuatan mereka telah menimbulkan keresahan. Purbajaya ingin menghentikan aksi mereka, tetapi apa daya, kemampuannya belum cukup. Saat dia tengah bersusah payah merebut benda yang diacung-acungkan itu, tiba-tiba muncul Raden Yudakara. Kehadirannya mungkin akan mengubah keadaan, meski di dalam hati Purbajaya masih terselip kecurigaan.

"Raden... bantulah saya!" kata Purbajaya sambil menguji apa yang akan dilakukan pemuda itu. Dia heran bagaimana Raden Yudakara yang tadi tidur mendengkur bisa dengan cepat menemukan tempat ini.

"Ada apa, Purba?" tanya pemuda itu dengan dahi berkerut namun ada senyum tipis di bibirnya.

"Tolonglah... rebutlah..." Kata-kata Purbajaya tak terselesaikan karena dia teringat akan kecurigaannya. Mana mungkin Raden Yudakara mau membantunya sementara dia menduga pemuda itu pun punya kepentingan dengan surat daun lontar tersebut.

"Apa yang engkau inginkan dari orang-orang ini, Purba? Hai, coba kau perlihatkan padaku, benda apa yang barusan kau acung-acungkan itu?" tanya Raden Yudakara kepada si tinggi besar.

Sungguh menakjubkan, dengan serta-merta benda itu dilemparkan oleh si tinggi besar kepada Raden Yudakara yang menangkapnya dengan tenang.

"Inikah yang engkau perlukan, Purba?" tanya Raden Yudakara. Dia mengangkat ikatan daun lontar itu tinggi-tinggi, persis seperti yang dilakukan si tinggi besar sebelumnya.

Degup jantung Purbajaya seakan berhenti karena rasa curiganya semakin kuat.

"Talaga sudah tidak begitu jauh dari sini, sayang surat ini tidak akan pernah sampai, Purba..." gumam Raden Yudakara. Dengan enteng, pemuda itu melemparkan ikatan surat daun lontar ke atas gundukan api unggun yang kian membesar.

Hanya dalam waktu singkat, surat yang diburu dan menimbulkan banyak korban itu berubah menjadi abu. Purbajaya termangu sesaat, lalu rasa terkejutnya muncul kembali. Benar dugaannya, Raden Yudakara memiliki hubungan dekat dengan anggota pasukan siluman. Hubungan itu ternyata benar-benar sangat dekat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment