Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 50

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 50

Purbajaya ingat akan perkataan anggota pasukan siluman kepada Ki Sudireja bahwa tiga orang anggotanya tewas karena sang pemimpin tidak senang Ki Sudireja diganggu pasukan siluman. Sementara itu, Purbajaya tahu persis bahwa yang membunuh tiga orang anggota pasukan siluman adalah Raden Yudakara.

"Saya tak menyangka, Radenlah yang mengendalikan semua ini ..." gumam Purbajaya sambil mengusap wajahnya sendiri. Nada suara Purbajaya terdengar bergetar. Getaran itu terjadi karena didorong oleh perasaan kesal, marah, dan juga terkejut. Sejak dulu, dia memang telah merasa kalau pemuda bangsawan itu banyak diselimuti kabut misteri. Tindak-tanduk Raden Yudakara selalu terlihat ganjil dan terkesan banyak memendam rahasia.

"Terlalu banyak memikirkan urusan orang lain tak ada gunanya bagimu. Bukankah dulu di puncak Cakrabuana aku pernah bilang bahwa urusan-urusan besar tak akan mampu dicerna oleh orang sekecil kamu? Tugasmu bukan berpikir, melainkan hanya menaati saja," kata Raden Yudakara masih dengan senyum tipisnya.

Sakit rasanya dikatakan begini oleh Raden Yudakara. Serasa dirinya tak ada harganya.

"Engkau tak bisa ke mana-mana, kecuali ikut bersamaku, Purba ..." kilah Raden Yudakara lagi.

"Mengapa Raden menahanku, padahal engkau barusan bilang kalau saya ini orang tak berarti?" kata Purbajaya setengah kesal.

"Bersamaku, kelak engkau akan banyak membuka mata. Tentu, kau pun akan mengetahui lebih rinci lagi siapa dirimu sebenarnya."

"Saya tahu kalau saya adalah anak penguasa wilayah Tanjungpura dan keluarga saya dibantai oleh pasukan Pangeran Arya Damar. Dengan demikian, saya tidak akan kembali lagi ke Carbon. Tak ada manfaatnya bagi saya mengabdi kepada orang yang membunuh kedua orang tua saya!" kata Purbajaya dengan ketus.

"Kau tak bisa meninggalkan Carbon begitu saja, sebab kalau begitu kau akan dikejar. Ingat, kau punya dosa. Di puncak Cakrabuana kau bersama Ki Jayaratu menempur empat perwira pembantu utama Pangeran Arya Damar. Kalau berita ini sampai ke Carbon, maka secara resmi kau akan dituding pengkhianat. Apa pun yang dilakukan pasukan itu di Cakrabuana, yang jelas itu adalah pasukan resmi yang dikirim pemerintah," kata Raden Yudakara lagi.

Purbajaya teringat lagi kejadian hampir setahun lalu. Betapa dia dan Paman Jayaratu menempur pasukan Carbon karena Paman Jayaratu tak setuju pasukan itu menyerang puncak Cakrabuana. Ucapan Raden Yudakara benar, dia akan dicap pemberontak dan pengkhianat kalau berita ini sampai ke Carbon. Dan kalau urusan lama ini diungkit, hanya punya arti bahwa Raden Yudakara ingin menekan Purbajaya dengan kejadian setahun yang lalu itu.

"Saya tak mau dituding pengkhianat, namun saya pun tak mau ikut engkau, Raden ..." kata Purbajaya.

"Tidak bisa! Engkau harus ikut aku!"

"Mengapa harus ikut engkau?"

"Karena kalau menolak, kau akan kulaporkan sebagai pengkhianat. Sementara bila ikut aku, aku punya rencana besar di Pakuan. Dan itu semua perlu bantuanmu. Ingat, kau adalah keluarga bangsawan di Tanjungpura, wilayah Pajajaran."

"Terus terang saya muak dengan rencana-rencanamu, Raden. Apa yang engkau rencanakan sepertinya hanya membuat kekacauan semata. Lihatlah Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih yang engkau ciptakan, betapa hanya menghasilkan keresahan di lingkungan persahabatan Sumedanglarang dan Talaga. Saya tak mengerti, mengapa kau ciptakan suasana seperti ini?" tanya Purbajaya tak habis mengerti.

"Hahaha! Dengarkan, anak muda ini mempertanyakan kehadiran kalian. Adakah di antara kalian yang ingin menjawabnya?" tanya Raden Yudakara menatap berkeliling.

"Kami adalah keturunan Karatuan Sindangkasih yang merasa simpati kepada kesedihan dan rasa sakit hati Kangjeng Nyimas Rambut Kasih. Putri itu adalah orang yang terasing, terdesak, dan terhempas dari dunianya. Mengapa kami sebagai keturunannya tidak merasa sakit hati?" kata seseorang dari anggota pasukan siluman Nyi Rambut Kasih lantang.

Aneh sekali, kendati lantang tapi nada bicaranya seperti menahan tangis dan haru. Bahkan akhirnya semua anggota menangis sesenggukan. Purbajaya merasa bulu romanya berdiri. Demikian fanatiknya mereka terhadap junjungannya yang bernama Nyimas Rambut Kasih. Padahal, melihat usia mereka yang paling tinggi rata-rata sekitar tiga puluh tahun, mereka takkan pernah mengenal tokoh Karatuan Sindangkasih itu secara dekat, tokoh Nyimas Rambut Kasih telah menghilang tak tentu rimbanya lebih dari enam puluh tahun silam.

"Junjungan kalian puluhan tahun silam memang memimpin Karatuan Sindangkasih. Namun setelah Nagari Carbon berkembang, beliau menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan baru mulai muncul untuk menggantikan kehidupan lama. Beliau rela melepaskan zaman yang dimilikinya untuk diberikannya kepada zaman baru," kata Purbajaya mencoba menyadarkan anggota pasukan siluman.

"Kangjeng Putri adalah wanita yang arif. Beliau tidak meminta apa yang beliau mau dan tidak menolak apa yang beliau tak suka. Segala sesuatu terpulang kepada kita yang memperlakukannya. Apakah kita meminta sesuatu kepada beliau sesuai dengan kelayakan atau tidak? Itulah yang kami sakitkan. Orang melakukan perubahan tanpa menilai apakah orang lain suka atau tidak akan perubahan itu," kata lagi anggota pasukan siluman.

"Sudah, hentikan pertikaian. Sebab yang akan kita kerjakan kelak, bukan mengira-ngira perihal jalan pikiran junjungan kalian, melainkan untuk merencanakan bagaimana perjalanan hidup kita kelak menjadi lebih baik," Raden Yudakara menengahi. "Sekarang kalian boleh pergi. Tunggulah aku di tempat biasa ..." Raden Yudakara berkata sambil membalikkan tubuh membelakangi anggota pasukan siluman.

Seperti sudah mengerti melihat sikap ini, sepertinya benar, ini adalah perintah untuk segera angkat kaki. Buktinya tanpa bertanya ini-itu, semua anggota pasukan segera berloncatan meninggalkan tempat itu. Tinggallah Raden Yudakara berdua dengan Purbajaya.

"Engkau memengaruhi mereka agar punya keyakinan seperti itu?" tanya Purbajaya.

"Hahahaha. Engkau cukup pandai, Purba ..."

"Tidak perlu sambil tertawa. Tapi terangkanlah, Raden, mengapa hal itu musti dilakukan?" tanya Purbajaya dengan nada masih ketus.

"Masih ingatkah ucapan para pembantu Pangeran Arya Damar kepada Ki Jayaratu di puncak Cakrabuana?"

"Apa itu?" Purbajaya mengingat-ingat.

"Bahwa untuk melahirkan pahlawan, maka ciptakanlah kemelut dan engkau pun akan muncul!" kata Raden Yudakara.

"Apa keuntungan Raden menciptakan kemelut di sini?"

"Pangeran Arya Damar butuh permasalahan agar punya alasan menggempur Pajajaran. Maka aku ciptakan Pasukan Nyi Rambut Kasih, dibentuk dari orang-orang Sindangkasih yang tetap rindu akan masa lalu. Orang-orang yang berkutat dengan masa lalu pasti akan membenci masa kini. Orang-orang Sindangkasih pasti membenci Carbon, Sumedanglarang, atau Talaga dan akan berpihak kepada Pajajaran. Inilah sebuah masalah. Tidak salah, bukan, kalau aku bertindak pula sebagai pahlawan dalam menyelamatkan situasi?" tutur Raden Yudakara dengan senyum dikulum namun membuat Purbajaya semakin sebal mendengarnya.

"Engkau dan Pangeran Arya Damar setali tiga uang!" teriak Purbajaya jengkel dan berjingkat meninggalkan tempat itu. Namun belum lagi beranjak, Purbajaya sudah dijegal Raden Yudakara. Tangan kiri Purbajaya ditarik keras sehingga tubuh Purbajaya terjengkang ke belakang. Sebelum tubuhnya jatuh, dia segera salto. Akibatnya, pegangan tangan Raden Yudakara lepas karena terpelintir gerakan salto. Purbajaya beberapa kali bersalto agar segera menjauh dari pemuda jahat itu.

Namun Raden Yudakara terus mengejar, bahkan kini mengirimkan pukulan-pukulan keras. Akhirnya terjadilah perkelahian seru. Sudah lama Purbajaya ingin menguji sejauh mana kepandaian pemuda yang banyak memiliki akal licik ini. Dulu mereka pernah bertanding lari ke puncak Cakrabuana dan rasanya Purbajaya bisa memenangkan lomba itu. Namun adu tenaga seperti itu tidak menjamin bahwa dalam pertempuran pun Purbajaya bakal unggul. Bahkan Purbajaya musti berhati-hati. Kalau Raden Yudakara sanggup memimpin pasukan siluman yang semua anggotanya hebat-hebat, barangkali pemuda bangsawan itu kini semakin memiliki kepandaian hebat. Purbajaya ingat, dari jarak cukup jauh, Raden Yudakara sanggup melukai tiga orang anggota pasukan siluman hanya dengan lemparan batu kerikil.

Purbajaya melawan Raden Yudakara dengan semangat tinggi dan hati tenang. Dia tidak khawatir Raden Yudakara akan mencelakai atau bahkan membunuhnya. Keyakinan ini didasarkan pada perkataan pemuda bangsawan itu sendiri yang amat memerlukan agar Purbajaya tetap berada di sampingnya. Dengan demikian, keadaan ini akan menjamin keselamatan dirinya.

Purbajaya lebih dahulu berinisiatif melakukan serangan. Berbagai jurus dan tipu daya yang pernah dipelajari dari Paman Jayaratu dia kerahkan untuk melumpuhkan Raden Yudakara. Untuk sementara, pemuda bangsawan itu kelabakan. Mungkin dia tak menduga kalau Purbajaya langsung menyerangnya dengan mati-matian. Namun sesudah pertarungan berlangsung cukup lama, akhirnya Raden Yudakara bisa mengimbangi permainan. Bahkan semakin pertarungan berlangsung, suasana jadi semakin berbalik; giliran Purbajaya semakin terdesak. Mungkin setelah beberapa kali bertanding, Raden Yudakara bisa mempelajari jurus-jurus yang dipergunakan Purbajaya.

Yang membuat Purbajaya tidak kalah dalam pertarungan ini adalah karena Raden Yudakara memang tidak berniat mencelakakannya. Ini sesuai dengan dugaan Purbajaya bahwa pemuda bangsawan itu amat memerlukan dirinya. Namun demikian, Purbajaya tak mau berterima kasih karena "kebaikan" ini. Dia sudah tak mau lagi ikut Raden Yudakara. Purbajaya tetap berpendapat kalau tindak-tanduk pemuda bangsawan ini penuh misteri dan membahayakan. Sama bahayanya dengan Pangeran Arya Damar, atau bahkan juga lebih. Ini karena Raden Yudakara bekerja sebagai mata-mata dan punya dua sisi seperti apa kata Paman Jayaratu. Pemuda ini sekali waktu berada di Carbon, namun sekali waktu berada di Pajajaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment