Chapter 51
Siapa yang benar-benar tahu bahwa dia bekerja untuk kepentingan Carbon? Bagaimana kalau yang terjadi itu malah sebaliknya? Tanda-tanda ke arah itu memang belum didapat. Namun demikian, Purbajaya mendapatkan bahwa gerakan-gerakan yang dibuat oleh pemuda ini bisa membahayakan keberadaan Carbon. Sebagai contoh, Raden Yudakara telah menciptakan keresahan. Dia menghimpun orang dari Sindangkasih agar memiliki fanatisme kepada leluhurnya.
Oleh Raden Yudakara diciptakan citra seolah-olah Nyimas Rambut Kasih, penguasa Karatuan Sindangkasih, memendam rasa sakit hati kepada perubahan zaman yang dihembuskan oleh Carbon. Raden Yudakara telah membangkitkan rasa permusuhan orang Sindangkasih kepada Carbon dan sekutunya. Orang-orang yang tergabung ke dalam Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih menjauhi Carbon dan mendekatkan diri kepada Pajajaran, serta membuat kekacauan dan meresahkan masyarakat di wilayah kekuasaan Carbon.
Dengan adanya situasi demikian, Raden Yudakara sepertinya berharap akan ada kebijakan lain dari penguasa Carbon dalam menangani "kekacauan yang ditimbulkan oleh sekelompok simpatisan kehidupan masa lalu". Semakin resah keadaan, semakin diharapkan adanya kebijakan baru dalam menindas lawan. Dan para penganut garis keras, seperti Pangeran Arya Damar misalnya, akan punya peluang untuk memilih jalan keras dalam menguasai situasi. Banyak yang berlomba untuk menyelesaikan dan meredam situasi ini sebab bila berhasil, tentu dia akan keluar sebagai pahlawan. Begitu kira-kira yang dicita-citakan oleh Raden Yudakara.
Kendati surat daun lontar yang sedianya dikirim oleh penguasa Sumedanglarang untuk Kangjeng Sunan Parung di Talaga tidak pernah diketahui isinya, namun Purbajaya bisa menduga, surat itu pasti memperbincangkan perihal ini. Orang-orang di Sumedanglarang tentu sudah mencium kegiatan Raden Yudakara yang dianggapnya membahayakan ketenteraman. Menduga ke arah itu menyebabkan Purbajaya semakin sebal kepada pemuda bangsawan tersebut. Itulah sebabnya, hari ini dia bertekad melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Purbajaya sudah tak mau ikut Raden Yudakara, apa pun yang diamanatkan Paman Jayaratu.
Namun, Purbajaya harus berjuang mati-matian untuk bisa melepas genggaman pemuda bangsawan ini. Raden Yudakara memang berilmu tinggi. Gerakannya cepat dan ganas. Jurus-jurus yang dia keluarkan diarahkan untuk membunuh. Namun, kalau saja Purbajaya sejauh ini tidak terluka, itu karena dugaannya tadi, yaitu Raden Yudakara membutuhkan Purbajaya. Karena hal ini, maka pertempuran menjadi alot. Purbajaya tak bisa mengalahkan, namun Raden Yudakara sebaliknya tak mau melumpuhkan. Sampai matahari muncul dari timur dan kabut tebal mulai hilang, pertempuran tidak juga selesai.
"Berhentilah, engkau tak bisa mengalahkan aku!" teriak Raden Yudakara menangkis beberapa pukulan Purbajaya.
"Tapi kau pun tidak bisa membunuhku!" Purbajaya balas berteriak. Keringat sudah bersimbah di seluruh tubuh.
"Ya. Karena itu, hentikanlah perlawananmu, sebab kita hanya akan menghabiskan tenaga sia-sia. Ingatlah, perjalanan kita masih jauh!" kata Raden Yudakara.
"Aku tidak akan ke mana-mana!" jawab Purbajaya sambil menjatuhkan diri saking lelahnya.
"Tidak. Kau akan ke wilayah Pajajaran!"
"Tidak mau!"
"Coba sekali lagi, pilihlah, hai manusia dungu," teriak Raden Yudakara dengan bertolak pinggang dan sepasang matanya menyorot tajam ke arah Purbajaya. "Bila kau pergi ke Pajajaran, kau akan jadi manusia terhormat. Sebaliknya, bila kau tak ke mana-mana, hukumanlah ganjarannya. Kau akan dicap pemberontak dan pengkhianat. Itu adalah derajat paling rendah yang terdapat pada diri manusia. Apa kau sanggup bertanggung jawab kepada gurumu?" sambung Raden Yudakara.
Purbajaya menatap tajam kepada Raden Yudakara.
"Sekali lagi kutegaskan, hidupmu tergantung padaku. Begitu pun derajatmu. Hanya aku yang tahu pengkhianatanmu di Cakrabuana. Jadi dengan amat mudah aku bisa mencampakkanmu. Namun sebaliknya, aku pun dengan mudah mengangkat derajatmu bila kau tetap ikut aku, sesuai yang diperintahkan Carbon."
Purbajaya menjadi bimbang mendengar perkataan Raden Yudakara ini. Kalau tadi dia bertekad memisahkan diri, kini malah timbul keraguan. Memang benar omongan pemuda bangsawan itu, posisi Purbajaya tergencet. Kalau dia memisahkan diri dari Raden Yudakara, semua orang akan mudah menuduhnya sebagai pengkhianat. Tanpa dilaporkan perihal peristiwa di Cakrabuana pun, kalau Purbajaya tak ikut Raden Yudakara, ini sudah pengkhianatan sebab dianggap melanggar perintah negara. Kalau dia tetap menolak ikut Raden Yudakara, dia mungkin terlunta-lunta sebab tak mungkin kembali ke Carbon, Sumedanglarang, atau ke mana pun.
Pulang ke Sumedanglarang pasti akan dihadang pertanyaan mengenai tewasnya tiga calon ksatria itu. Kalau Ki Bagus Sura masih hidup, Purbajaya pasti tak tahu bagaimana musti bertanggung jawab. Amanat dan keinginan orang tua itu tidak satu pun yang bisa dikerjakan dengan baik. Satu-satunya jalan terbaik tentu hanya ikut ke mana Raden Yudakara pergi.
"Bagaimana...?" tanya Raden Yudakara.
Tanpa menjawab sepatah pun, Purbajaya bangun dari duduknya. Namun demikian, Raden Yudakara sepertinya mengerti akan pilihan Purbajaya. Buktinya, dia segera berjalan duluan. Dia yakin betul bahwa Purbajaya akan mengikutinya dari belakang.
***
Dengan amat lesunya Purbajaya melangkah di belakang Raden Yudakara. Sementara pemuda bangsawan itu kelihatannya kalem-kalem saja. Dia sepertinya tak mau tahu atau pura-pura tak tahu kalau selama ini Purbajaya enggan ikut bersamanya. Raden Yudakara tak mau tahu kalau selama dalam perjalanan Purbajaya membisu seribu bahasa. Sementara itu, Raden Yudakara bersenandung selama di perjalanan. Senandungnya memang merdu dan enak didengar, kendati isi lantunannya Purbajaya tak suka.
"Kalau tidak mendapatkan cahaya matahari, tidak apa. Cahaya rembulan pun tak apa. Kalau tidak ada cahaya rembulan, tidak apa tanpa cahaya pun. Hidup susah dicari dan hidup mudah dicari. Yang susah kalau bertahan dengan kejujuran, yang mudah kalau penuh keberanian. Bukan berpikir untuk hari esok, tapi berpikirlah esok, sebab yang namanya hidup adalah hari ini!"
"Hmm... Tak bertanggung jawab!" Purbajaya mencemooh.
Raden Yudakara menghentikan langkahnya sejenak. Lantunan nyanyiannya pun mendadak berhenti. "Mengapa tak bertanggung jawab?" tanyanya melirik ke belakang.
"Orang yang hanya berpikir tentang hari ini saja dan sambil menolak kejujuran adalah kejahatan!" Purbajaya hanya bicara seperti kepada dirinya sendiri. Balas memandang kepada Raden Yudakara pun dia tidak.
"Hahaha! Hidup ini persaingan. Bersaing sesama lawan hanya berpikir tentang bagaimana caranya agar hanya kita yang memetik kemenangan. Jangan katakan tipu muslihat sebagai kejahatan sebab itu hanyalah sebuah perangkat dalam mencapai kemenangan," kata Raden Yudakara sambil tersenyum renyah menatap matahari pagi yang menyongsong di kanannya.
Purbajaya tak bersemangat untuk menyimak pendapat serakah ini. Yang paling tak bersemangat, perjalanan kali ini akan kembali menuju ke utara. Mungkin akan kembali merambah wilayah Sumedanglarang. Sebab seperti yang telah dikatakan Raden Yudakara, mereka akan melakukan perjalanan ke barat, ke wilayah Pajajaran, untuk menjalankan "misi negara" seperti versi yang dikemukakannya.
Bagaimana Purbajaya tidak akan merasa lesu? Perjalanan kali ini serasa penuh tekanan. Ada pemaksaan kehendak dari Raden Yudakara. Pemuda itu menekan Purbajaya dengan berbagai kesulitan. Dan memang tekanan itu sungguh tepat. Purbajaya tak bisa tidak musti ikut keinginan pemuda aneh itu. Kalau dia tak mau, maka tak akan ada jalan kembali. Pulang ke Carbon akan dimintai pertanggungjawaban mengenai peristiwa di Cakrabuana. Begitu pun kalau dia kembali ke Sumedanglarang, sama-sama akan dihadang oleh pertanyaan mengenai peristiwa terbunuhnya tiga orang calon ksatria murid Ki Dita.
Satu-satunya lubang yang bisa menyelamatkan dirinya adalah melanjutkan misi penyusupan ke wilayah Pajajaran. Bila dia menaati kehendak Raden Yudakara, maka dia dijanjikan menerima perlindungan dari pemuda itu. Maka walaupun dengan terpaksa, tentu saja pada akhirnya Purbajaya memilih ikut kehendak Raden Yudakara. Memang serasa terpaksa sebab gerakan-gerakan pemuda itu dalam melaksanakan misi Carbon telah mendompleng cita-citanya sendiri. Purbajaya malah menilai keamanan sudah menjadi rawan karena kepentingan-kepentingan pribadi ini.
Kemunculan Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih misalnya, jelas-jelas direkayasa guna mendukung kepentingan tertentu dengan memanfaatkan dan mengipasi tuntutan sebagian kecil orang Sindangkasih. Ini yang amat membahayakan sebab dengan demikian terjadi adu domba di antara kelompok-kelompok yang sebenarnya tidak perlu bertikai. Ini sungguh menyebalkan. Kalau saja Purbajaya tak tertarik dengan sebuah urusan, mungkin dia lebih memilih mati ketimbang melibatkan diri ke dalam kancah politik jahat ini.
Ya, di hati Purbajaya ada juga sedikit rasa penasaran. Dia ingin menguak kabut misteri yang menyelimuti dirinya. Orang mengatakan kalau dirinya adalah anak seorang kandagalante di wilayah Tanjungpura. Benarkah kedua orang tuanya terbunuh dalam pertempuran antara pasukan Carbon dan Pajajaran? Benar atau tidak, yang jelas hati kecilnya memendam rasa penasaran yang sangat. Dengan adanya misi ke wilayah Pajajaran, maka sedikit banyaknya Purbajaya akan bisa menyelidiki perihal keberadaan dirinya. Itulah sebabnya, biar pun sebal, dia ikut juga.
Namun yang hatinya tak enak, perjalanan menuju utara ini akan mengingatkan dirinya kepada peristiwa terbunuhnya tiga orang calon ksatria Sumedanglarang. Bagaimana dia mempertanggungjawabkan kejadian ini kepada Ki Dita sebagai guru mereka? Bagaimana pula musti bertanggung jawab kepada orang tua mereka dan kepada penguasa Sumedanglarang? Tokh bagaimana pun, ketiga orang calon ksatria itu tengah melaksanakan tugas negara.