Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 52

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 52

Perasaan tak enak menderanya kembali saat ia teringat Ki Bagus Sura. Jelas, ia telah gagal melaksanakan keinginan orang tua itu. Purbajaya tidak bisa menyelamatkan surat daun lontar, pun tidak bisa memenuhi amanat orang tua itu untuk menikahi Nyimas Yuning Purnama. Jangankan bisa mempertanggungjawabkan amanat tersebut, sekadar merawat luka Ki Bagus Sura saja ia tidak mampu. Sungguh memalukan!

Jika harus menuju wilayah Pajajaran melalui Sumedanglarang, hati Purbajaya memang terasa berat. Namun, apakah Raden Yudakara berani melewati Ciguling, ibu kota Sumedanglarang? Purbajaya sangsi pemuda itu berani menampakkan diri di pusat keramaian karena Raden Yudakara pun diduga memiliki masalah. Bahkan, bisa jadi masalah yang ia hadapi di Sumedanglarang jauh lebih berat ketimbang masalah Purbajaya. Bagaimanapun, Raden Yudakara jelas sudah dicurigai pihak penguasa Sumedanglarang. Walaupun tidak sampai ditangkap, mungkin pemuda itu akan ditolak masuk jika diketahui berkeliaran di Ciguling.

Jika demikian halnya, Purbajaya menduga pemuda itu tidak akan membawanya ke pusat ibu kota Sumedanglarang. Itu berarti mereka harus menyisir jalan yang lebih berat guna menghindari jalan pedati yang sering dilalui orang. Purbajaya mengeluh. Tidak melalui jalan umum berarti mencari penyakit lagi. Ia sudah bosan harus bertemu dengan kelompok orang jahat dan bertempur dengan mereka. Purbajaya merasa kelak akan kembali dihadang penjahat di daerah sunyi dan terpencil.

Benar dugaan Purbajaya, Raden Yudakara tidak membawanya ke jalan besar, melainkan memotong ke arah jalan setapak yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan. Raden Yudakara sungguh berani, padahal cuaca mulai mendung oleh kabut tebal karena senja telah tiba. Keberanian ini cukup mengundang pujian dalam hati Purbajaya. Hanya orang yang memiliki keyakinan kuat yang tidak pernah ragu-ragu dalam setiap tindak-tanduknya. Jika mengingat hal ini, sebetulnya Purbajaya boleh merasa malu kepada Raden Yudakara. Perilaku antara dirinya dan pemuda bangsawan itu sungguh jauh berbeda. Raden Yudakara serba optimistis dan penuh keyakinan dalam menghadapi persoalan apa pun, sementara dirinya selalu dipenuhi banyak pertimbangan.

Apakah memang benar orang yang terlalu berkutat dengan pertimbangan sulit untuk maju, sementara yang memiliki keberanian akan mudah menggapai cita-cita? Purbajaya tidak bisa memastikannya. Yang jelas, dirinya telah banyak gagal hanya karena terlalu banyak perasaan dan pertimbangan, sementara Raden Yudakara banyak meraih kesuksesan hanya karena mengandalkan keberanian dan rasa optimistisnya. Namun demikian, Purbajaya tidak percaya bahwa kesuksesan yang diraih oleh Raden Yudakara mewakili kebenaran. Ambil contoh keberhasilan pemuda bangsawan itu dalam mempersunting Nyimas Waningyun. Ia memang berhasil, namun keberhasilan ini tidak dilalui oleh perbuatan yang mengatasnamakan kebenaran. Ia bisa merebut sukses, tetapi tidak terhormat. Baginya, yang penting adalah menang, bagaimana pun caranya.

Rupanya begitu pula yang dilakukan terhadap Nyimas Yuning Purnama. Gadis yang jujur dan baik hati ini tidak merasa perlu berhati-hati terhadap keteguhan seorang lelaki bernama Raden Yudakara. Ia menyangka pemuda bangsawan berwajah tampan ini memiliki hati yang tampan pula. Mengapa seseorang yang berhati jujur harus mencurigai orang lain? Begitulah kebiasaan berpikir orang Pajajaran. Mungkin cara berpikir seperti ini pula yang dimiliki oleh Nyimas Yuning yang lugu dan jujur itu. Dan mungkin itu pula kiat kesuksesan Raden Yudakara; ia memanfaatkan kejujuran dan kepercayaan yang diberikan orang lain untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Pemuda itu menenggak kesuksesan dari pengorbanan dan kejujuran orang lain.

Berjalan di tengah hutan lebat saat senja menjelang memang perlu keberanian. Bukan saja binatang buas yang akan menghadang, tetapi juga orang jahat. Namun, setelah cukup lama merambah hutan dan malam pun tiba, mereka berdua tidak mendapatkan gangguan yang berarti, kecuali kegelapan dan tebalnya kabut dingin. Berjalan di kabut yang pekat, kedua orang itu harus bertindak amat hati-hati sebab jalan setapak di hutan pegunungan ini meniti tepian jurang.

Sungguh Purbajaya tidak mengerti sikap pemuda bangsawan ini. Menurut hemat Purbajaya, sebaiknya perjalanan dihentikan guna beristirahat dan dilanjutkan esok hari. Namun, kelihatannya Raden Yudakara sengaja melakukan perjalanan malam guna mengejar waktu. Apa yang ia kejar, Purbajaya sungguh tidak tahu. Purbajaya menghentikan lamunannya ketika secara tiba-tiba Raden Yudakara memberi aba-aba agar Purbajaya menghentikan langkahnya.

"Di sini dia rupanya..." gumam Raden Yudakara.

"Ada apa?" tanya Purbajaya heran.

"Lihat cahaya di mulut gua itu..." Raden Yudakara menunjuk sambil bicara pelan.

"Memang itu cahaya api," jawab Purbajaya ikut bicara pelan.

"Kau pergilah sana, cari tahu!" perintah pemuda itu.

Purbajaya tercenung sebentar. Raden Yudakara memang cerdik. Untuk hal-hal yang membahayakan, ia tidak mau sembrono menantang maut dan menyerahkannya kepada orang lain. Dengan hati dongkol, Purbajaya terpaksa menaati perintah ini. Ia berjingkat hendak pergi ketika tangannya ditarik kembali oleh Raden Yudakara.

"Kau hati-hatilah. Tugasmu hanya mengintip siapa di dalam. Setelah itu, kau kembali lagi ke sini," perintahnya lagi.

Purbajaya berendap-endap kembali mendekati mulut gua. Itu adalah gua batu, namun banyak ditumbuhi semak pohon paku dan terlihat rimbun sekali. Hanya karena cahaya api, Purbajaya bisa melihat di mana arah mulut gua. Purbajaya terus bergerak dengan amat hati-hati. Ia khawatir jika yang ada di dalam gua adalah orang jahat berkepandaian tinggi. Sebentar kemudian, ia sudah sampai di mulut gua. Purbajaya berhenti sejenak untuk mengatur pernapasan sambil menunggu, apakah penghuni gua mengetahui kedatangannya atau tidak. Setelah yakin bahwa tidak ada gerakan mencurigakan dari dalam gua, Purbajaya segera melanjutkan pengintaiannya.

Hati Purbajaya terkejut ketika ia tahu siapa yang ada di dalam gua. "Ki Dita..." bisiknya pelan sekali. Purbajaya heran, mengapa Ki Dita berada di sini seorang diri? Lantas ke mana Ki Bagus Sura dan Paman Ranu? Namun tentu saja, untuk langsung memasuki gua dan menemui Ki Dita, ia tidak berani. Di samping Raden Yudakara tidak memerintahkan demikian, juga karena terselip perasaan curiga. Jangan-jangan Raden Yudakara berjalan di gelap malam secara terburu-buru adalah untuk bertemu dengan Ki Dita. Karena pertimbangan itulah, Purbajaya secepatnya kembali menemui Raden Yudakara.

Sungguh mencengangkan, ketika Purbajaya melapor siapa yang ada di dalam gua, Raden Yudakara gembira. "Sudah aku duga, dia menunggu kita di sini..." gumamnya. Kemudian, serta-merta ia meloncat dari tempat persembunyian dan menuju arah gua. Purbajaya pun mengikutinya dari belakang dengan perasaan ingin tahu.

Ki Dita yang tengah duduk di dalam terlihat bersila mengatur pernapasan. Ia terkejut sekali ketika secara tiba-tiba ada yang datang. Namun, setelah tahu yang datang adalah Raden Yudakara, wajah orang tua itu terlihat tegang.

"Raden..."

"Betul, ini aku."

Untuk kedua kalinya Purbajaya terkejut. Nyatanya, antara Raden Yudakara dan Ki Dita sudah saling kenal.

"Kau telah melaksanakan tugas dengan baik, Dita," kata Raden Yudakara gembira.

Namun, yang dipuji tampak murung. "Tapi engkau keterlaluan, Raden. Mengapa ketiga orang murid saya engkau bunuh?" keluh Ki Dita menunduk.

"Aku hanya membunuh satu. Satunya lagi dibunuh si Purba ini," Raden Yudakara menunjuk hidung Purbajaya. Nada bicaranya enteng saja, sepertinya ini hanya urusan membunuh hewan piaraan.

Mendengar ucapan Raden Yudakara, Ki Dita celingukan seperti tengah mencari seseorang. Rupanya, Ki Dita tidak melihat bahwa yang datang adalah dua orang sebab Purbajaya berdiri di belakang tubuh Raden Yudakara. Wajah Ki Dita berubah beringas ketika pandangan matanya beradu dengan mata Purbajaya. Ia cepat berdiri dan menghambur ke arah Purbajaya.

"Dia anak buah Ki Bagus Sura, tak kusangka membunuh muridku!" teriak Ki Dita menyerang Purbajaya.

Sudah barang tentu Purbajaya gelagapan diserang mendadak. Namun, ketika Ki Dita melayangkan pukulan, tangan kanan orang tua itu segera tertahan oleh cekalan erat tangan Raden Yudakara. Cekalan itu disertai tenaga dalam. Buktinya, Ki Dita tampak menyeringai karena kesakitan. Purbajaya mengeluh dalam hatinya. Ternyata, kepandaian Raden Yudakara berada di atas tingkat kepandaian Ki Dita. Padahal, jika dirinya bertanding melawan Ki Dita, belum tentu ia memenangkannya.

"Jangan serang dia. Si Purba bukan anak buah Ki Bagus Sura!" teriak Raden Yudakara.

"Tapi dia telah membunuh murid saya!" teriak pula Ki Dita penasaran.

"Maksudmu, engkau pun kelak akan membunuhku? Ingat, aku pun telah membunuh muridmu!" kata Raden Yudakara.

Dikatakan begini, Ki Dita menjatuhkan tubuhnya dan meluruh tidak bertenaga. Ia menutupi wajahnya, sedih dan kesal.

"Ada memar biru di leher Wista. Saya hafal, Radenlah itu yang berbuat. Anak itu tidak berdosa, mengapa harus dibunuh?" keluh Ki Dita.

"Gara-garanya Si Purba ini. Kalau tidak terjadi kejadian seperti itu, Si Purba ini tidak akan mau bergabung lagi denganku. Dia hampir menjadi pengkhianat. Makanya, aku ciptakan masalah agar Si Purba punya keterikatan dan ditekan oleh masalah itu."

Ki Dita melongo, apalagi Purbajaya.

"Sudahlah. Ketiga muridmu adalah orang yang tidak berguna. Kerjanya hanya membesar-besarkan masalah kecil. Tidak pantas untuk menjadi abdi negara. Kalau ikut kita, mungkin hanya mengganggu gerakan kita saja," kata Raden Yudakara.

Namun, Ki Dita masih terlihat tidak puas. "Aku malah punya masalah dengan Si Aditia. Anak ini kerjanya menjelek-jelekkan aku. Hampir saja aku tidak bisa menikahi Nyimas Yuning karena gangguan pemuda brengsek itu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment