Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 53

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 53

"Coba, apakah kau merasa terhormat memiliki murid manja dan tidak hormat kepada orang yang semestinya dihormati dan disegani?" tanya Raden Yudakara.

Lantas pemuda itu ikut duduk dan segera mengambil daging burung walik yang terpanggang di atas api unggun. Daging burung itu dimakannya sendiri dengan lahap tanpa menawari yang lainnya. Perut Purbajaya keruyukan ketika melihat Raden Yudakara makan dengan lahap. Sejak kemarin siang, mereka berdua memang belum makan apa-apa.

"Ketiga orang murid saya memang bodoh. Dan mereka sungguh tidak tahu apa-apa perihal kegiatan kita ini," gumam Ki Dita masih murung.

"Justru karena tidak tahu apa-apa, maka kemungkinan mengganggu kita semakin mudah. Sementara kalau mereka kita libatkan... Ah, orang-orang itu memang dungu, kekanak-kanakan, dan selalu membesar-besarkan masalah sepele saja. Aku benci anak-anak. Mereka rewel dan manja. Aku malah heran, engkau yang setangguh ini hanya memiliki murid-murid sampah seperti itu," omel Raden Yudakara.

"Saya sebetulnya hanya pekerja biasa, Raden. Ketiga orang itu anak-anak bangsawan semata dan pengaruh orang tua mereka lumayan. Saya hanya diberi kemudahan, makanan, pakaian, dan perumahan yang layak. Sesudah itu, saya tidak bisa apa-apa untuk menolak keinginan para pejabat itu," kata Ki Dita dengan pandangan mata sayu tak bersemangat.

Hanya dikomentari oleh Raden Yudakara dengan dengus ejekan.

"Selanjutnya saya mesti bagaimana, Raden?" tanya Ki Dita setelah lama berdiam diri.

"Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih sedang kembali ke wilayahnya. Kuanggap untuk sementara, tugas mereka selesai. Yang aku inginkan, engkau tetap berada di Sumedanglarang," Raden Yudakara memerintah sambil masih mencemili sisa-sisa daging di sela-sela tulang burung walik panggang.

"Tapi saya susah untuk memberikan alasan perihal korban yang begitu banyak yang diderita oleh anggota pasukan kami. Bayangkanlah, Raden, dari seluruh pasukan, hanya saya sendiri yang selamat. Ki Bagus Sura dan Ki Ranu tewas karena luka-lukanya terlambat menerima pengobatan." Purbajaya terkejut setengah mati ketika Ki Dita melaporkan hal ini.

"Mengapa engkau begitu takut menghadapi masalah ini, padahal jauh sebelumnya engkau telah tahu kalau misi kalian ini akan gagal?" tanya Raden Yudakara menegur, tidak suka akan ucapan Ki Dita.

"Saya memang tahu kalau misi kami pasti gagal. Tapi yang saya tidak duga, mengapa semua orang mesti tewas? Akhirnya saya sendiri pasti mesti mempertanggungjawabkan perkara ini," keluh Ki Dita.

"Sudahlah. Wajar kalau setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan karena pasti akan ada yang menjadi korban, kita mesti memilih jangan sampai kita sendiri yang jadi korban. Sejauh ini kau kan selamat, bukan?" tanya Raden Yudakara enteng saja. "Lagi pula, jangan salahkan pasukan siluman bila Ki Bagus Sura dan Ki Ranu tewas. Kesalahan terletak pada mereka sendiri, mengapa punya kepandaian tidak seberapa? Kau yang berkepandaian hebat, bukankah tidak mengalami suatu apa dalam pertempuran melawan pasukan siluman itu, bukan?" lanjutnya.

Serasa menggigil tubuh Purbajaya karena menahan amarahnya. Bagaimana tidak begitu, Raden Yudakara semakin nyata selalu menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya. Purbajaya sedih dan marah. Ki Bagus Sura, Paman Ranu, bahkan siapa pun, tewas sia-sia karena permainan orang lain. Dan semua musibah ini terpusat kepada perilaku Raden Yudakara.

Yang tak kurang menyebalkannya, orang tua bernama Ki Dita ini. Purbajaya menyangka kalau Ki Dita hanya sekadar anak buah Ki Sanjadirja yang selalu berseteru dengan Ki Bagus Sura. Kenyataan membuktikan kalau Ki Dita di Sumedanglarang itu tidak ikut ke mana-mana selain kepada Raden Yudakara. Purbajaya berpikir kalau gerakan Raden Yudakara ini terasa semakin berbahaya karena jaringannya meluas dan ada di mana-mana.

Siapakah pengendali utama dalam gerakan ini? Benarkah hanya Raden Yudakara seorang diri? Purbajaya jadi semakin penasaran untuk lebih mengetahui gerakan sesungguhnya. Untuk melampiaskan rasa penasarannya, tidak ada jalan lain selain Purbajaya terus ikut ke mana Raden Yudakara pergi.

"Tidak. Apa pun yang terjadi, engkau harus tetap kembali ke Sumedang." Suara Raden Yudakara memerintah dengan pasti dan tidak boleh dibantah.

Ki Dita menatap, sepertinya mencoba mengajukan penawaran.

"Kau diperlukan di sana guna memata-matai gerakan Kangjeng Pangeran. Dia curiga padaku tapi belum bisa mencari bukti. Namun demikian, aku tidak mau perasaan curiga ini semakin menyebar ke sana ke mari. Makanya engkau aku tempatkan di sana. Kau pun bertugas mengikis habis paham-paham yang sekiranya merugikan perjalananku," kata Raden Yudakara.

Dan akhirnya Ki Dita tidak bisa membantah lagi kendati di wajahnya tampak ada keraguan. Malam itu mereka tidur di gua. Tapi Purbajaya hanya tiduran saja. Hatinya penuh rasa gelisah. Dia gelisah memikirkan tindakan Raden Yudakara yang kesemuanya selalu di luar perkiraannya. Sampai malam menjelang pagi, Purbajaya tidak tidur barang sekejap.

Raden Yudakara yang semalaman tidur mendengkur, malah bangun duluan. Serta-merta dia membangunkan Purbajaya yang kepalanya terasa berat dan matanya merah karena kurang tidur.

"Ada apa?" tanya Purbajaya heran. Dia sangka, pasti ada hal-hal yang mengejutkannya lagi.

"Cepat ajak Ki Dita menangkap burung hutan yang seperti tadi malam, atau binatang tangkapan apa saja yang sekiranya bisa kita gunakan sebagai sarapan pagi," kata Raden Yudakara menarik tangan Purbajaya agar cepat bangun.

Purbajaya mengangguk, demikian pula Ki Dita yang juga telah ikut bangun karena diganggu celoteh pemuda bangsawan itu yang ribut. Dari sini tersirat keyakinan Raden Yudakara. Menyuruh Purbajaya pergi tanpa kawalannya hanya menandakan bahwa dia yakin kalau Purbajaya tidak akan pergi memisahkan diri. Tapi Purbajaya memang tidak berniat lari. Selain akan percuma saja, juga karena dia memang ingin terus mengikuti pemuda aneh itu.

Hanya yang dia khawatirkan adalah Ki Dita. Purbajaya disuruh berburu binatang bersama orang itu dan Ki Dita terlihat begitu bersemangat untuk melaksanakan perintah ini. Purbajaya khawatir kalau Ki Dita bergegas menerima perintah itu sebenarnya untuk berurusan dan melakukan perhitungan atas kematian ketiga orang muridnya.

"Cepat berangkat Purba! Ki Dita sudah berangkat duluan!" kata Raden Yudakara kembali memerintah.

Dengan sedikit waswas, Purbajaya akhirnya pergi juga menuju luar gua. Di luar memang sudah dinantikan oleh Ki Dita.

"Mari berangkat. Kau pergi di depan!" Ki Dita berkata dingin, semakin hati Purbajaya menjadi waswas.

Purbajaya memang berjalan duluan di muka. Mula-mula berjalan biasa. Namun, karena langkah kaki yang menyusulnya dari belakang terdengar cepat, Purbajaya pun jadi mempercepat langkahnya. Begitu Purbajaya mempercepat langkah, Ki Dita pun semakin mempercepat langkah pula. Dan karena ini, maka Purbajaya segera berlari cepat. Ki Dita pun sama berlari cepat. Maka dalam sebentar saja, dua orang itu seperti saling susul.

Yang berlari di depan berusaha tidak ingin tersusul, sebaliknya yang di belakang seperti berusaha menyusul. Purbajaya berlari kencang menggunakan ilmu larinapaksancang (berlari cepat meringankan tubuh) yang pernah diajarkan Paman Jayaratu, gurunya. Larinya seperti tidak menapak tanah saking cepatnya. Bahkan ketika menginjak rumput, ujung rumput hampir tidak bergoyang. Namun celakanya, Ki Dita pun memiliki ilmu yang sama. Ketika Purbajaya menengok ke belakang, nyatanya Ki Dita tidak terpaut begitu jauh jaraknya. Hanya menandakan bahwa ilmu mereka seimbang.

Sekarang Purbajaya mencoba menambah tenaganya. Namun Ki Dita pun sama menambah tenaganya. Purbajaya mencoba menaiki lereng bukit, berloncatan dari satu tonjolan batu ke tonjolan batu lainnya, namun Ki Dita pun melakukan hal yang sama. Sampai pada suatu ketika, Purbajaya terpaksa mesti menghentikan langkahnya sebab di depannya jurang menganga lebar. Purbajaya tidak tahu seberapa dalam dasar jurang itu. Melihat ke bawah, keadaan gelap oleh tebalnya kabut. Dan karena tidak berani meloncat, akhirnya Purbajaya hanya pasrah apa yang akan dilakukan Ki Dita terhadapnya.

"Engkau lihat binatang buruan di bawah sana?" tanya Ki Dita.

Purbajaya undur setindak. Ki Dita tampak tengah bersiap dengan kuda-kuda menyerang.

"Mana saya tahu, dasar jurang tertutup kabut," ujar Purbajaya sambil sama-sama memasang kuda-kuda untuk bertempur.

"Coba loncatlah kau ke sana!" Ki Dita menyuruh tapi dengan sikap mengancam.

Purbajaya diam mematung tapi dengan urat-urat nadi menegang keras.

"Ayo loncat!" teriak Ki Dita. Dia membuat gerakan seperti akan melakukan pukulan jarak jauh dan Purbajaya pun mencoba membuat gerakan seolah-olah akan menahan serangan jarak jauh itu.

"Ha, kau takut mati, ya?"

"Siapa pun takut mati selama belum bosan hidup," jawab Purbajaya.

"Kau pandai bicara dan sepertinya hanya engkau sendiri yang masih betah di dunia. Dengarkan, anak pengecut, ketiga orang muridku penuh dengan cita-cita tapi dengan entengnya kau pupuskan harapan hidup mereka. Sekarang cobalah kau rasakan, betapa sakitnya orang yang ingin bertahan hidup tapi selalu di bawah ancaman kematian," kata-kata Ki Dita ini disusul sebuah serangan jarak jauh.

Purbajaya tidak berani menahan pukulan ini, melainkan jongkok menghindar. Dahan pohon di belakangnya berkerotokan karena patah. Daunnya rontok berterbangan dan akhirnya melayang ke bawah jurang.

"Saya memang bersalah membunuh muridmu..." gumam Purbajaya sedih.

"Kalau begitu, terimalah hukumannya!" lagi-lagi Ki Dita melakukan serangan. Kali ini Purbajaya meloncat ke atas dan tangannya bergayut pada batang pohon lain.

"Berilah saya kesempatan untuk menjelaskannya!" teriak Purbajaya.

"Apa yang mesti dijelaskan?"

"Saya tidak sengaja melukai Aditia karena pemuda ini akan membunuh Yaksa. Dengan amat kejamnya Aditia membabat kutung tangan Yaksa. Hati siapa tidak teriris melihat kejadian mengerikan ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment