Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 54

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 54

"Jadi, saya marah dan tak bisa menahan emosi," tutur Purbajaya dengan sejujur-jujurnya.

Kemudian, Purbajaya menerangkan kembali urutan peristiwa itu.

"Aditia marah karena Yaksa tak mau membunuh saya yang diduganya telah membunuh Wista. Padahal, engkau sendiri telah menduga kalau Wista dibunuh Raden Yudakara," kata Purbajaya.

Mendengar penjelasan ini, Ki Dita mengendurkan urat-uratnya.

"Ah, lagi-lagi pemuda itu!" keluh Ki Dita akhirnya.

"Mengapa Ki Dita bergabung dengan Raden Yudakara? Saya tadinya berpikir, engkau adalah pengabdi setia di Sumedanglarang," Purbajaya berkata dengan nada menyesalkan sikap orang tua itu yang ditudingnya mendua.

"Dan engkau sendiri bagaimana, anak muda?" Ki Dita balik menyindir, membuat sepasang pipi Purbajaya terasa panas.

"Hah, saya terperangkap akal liciknya," jawab Purbajaya mengeluh.

Mendengar keluhan Purbajaya, Ki Dita pun ikut mengeluh. "Mungkin kita bernasib sama, anak muda. Raden Yudakara itu licin dan cerdik. Aku pun memang masuk perangkapnya," kata Ki Dita akhirnya.

Ketegangan berakhir setelah kedua orang ini saling mengeluhkan nasib mereka yang persis sama. Lalu, keduanya duduk di tanah berumput dan saling memaparkan riwayat sampai tergelincir menjadi anak buah Raden Yudakara.

Ki Dita ini sebenarnya seorang pengabdi. Namun, kelemahannya adalah pengabdiannya selalu dipertautkan dengan imbalan.

"Aku ini pengajar kewiraan. Ya, sebenarnya hanya sebagai pengajar belaka dan bukan pengabdi seperti sangkamu. Aku mengajar karena telah mendapatkan berbagai kemudahan di istana. Aku diberi pakaian, aku diberi pangan, aku pun diberi perumahan," kata Ki Dita.

Namun, kata Ki Dita, kadang-kadang fungsi dia sebagai pengajar tidak bisa berjalan sesuai dengan yang sebenarnya. Menurut aturan, tugas Ki Dita adalah menggembleng para pemuda Sumedanglarang agar menjadi ksatria tangguh. Namun, dalam kenyataannya, banyak pemuda pejabat yang ketangguhannya diragukan tetapi lolos menjadi ksatria.

"Mengapa Ki Dita mau membodohi diri sendiri?" tanya Purbajaya.

"Karena dipaksa oleh keinginan orang-orang yang memberiku berbagai kemudahan," jawab Ki Dita.

"Seperti yang terjadi pada pemuda Wista, misalnya?"

"Ya, begitulah kira-kira. Banyak pejabat keliru dalam menafsirkan kasih sayang kepada keluarga. Karena keberadaan anak mereka bisa dilihat orang bila menjadi ksatria negeri, maka banyak pejabat kasak-kusuk agar putranya lolos dalam pelatihan, bagaimana pun caranya."

"Bagaimana caranya?"

Ditanya seperti ini, Ki Dita menghela napas. "Ini memang salahku juga. Aku terlalu silau oleh kekayaan." Nada bicara Ki Dita seperti mengandung penyesalan.

"Para pejabat memberimu kekayaan?"

Ki Dita mengangguk. "Aku butuh kekayaan yang banyak. Keinginan seperti itu terlahir karena di sekelilingku banyak orang yang hidupnya papa menderita. Semakin banyak orang yang papa, semakin tergerak hatiku mengejar harta."

"Untuk menolong orang-orang papa itu?"

"Bukan. Aku ingin kaya karena aku tak ingin seperti mereka, hidup tak punya masa depan dan tak bisa mengurus keluarga dengan baik. Itulah sebabnya aku ingin kaya. Dan karena peluang menjadi orang berkecukupan hanya bisa dicari lewat melatih kewiraan, maka itu pula yang aku kerjakan."

"Kendati tidak menghasilkan perwira-perwira tangguh?" potong Purbajaya sambil tertawa.

"Ya, aku banyak gagal melahirkan perwira tangguh," keluh Ki Dita.

"Lantas, apa hubungannya dengan keberadaan Raden Yudakara?" tanya Purbajaya lagi.

"Dia kan lama tinggal di seputar benteng keraton."

"Ya, bahkan sampai berhasil mempersunting Nyimas Yuning Purnama," sambung Purbajaya. Bicara perihal ini, hati Purbajaya menjadi sakit.

"Betul. Raden Yudakara pandai mempengaruhi orang. Ki Bagus Sura pun mudah dibujuk sehingga dengan amat mudahnya menyerahkan anak gadisnya. Ini hanya karena iming-iming yang dijanjikan anak bangsawan Cirebon itu," kata Ki Dita. "Aku pun tergoda iming-iming. Raden Yudakara menjanjikan jabatan dan harta melimpah asalkan..."

"Asalkan apa?"

"Menyelidiki situasi di lingkungan keraton."

"Apa yang mesti diselidiki di sana?"

"Ah, sebenarnya sungguh membahayakan. Dia ingin mendata orang-orang yang tak menyukai Kangjeng Pangeran."

"Mengapa melakukan ini?"

"Entahlah. Namun, Raden Yudakara berkata kalau dirinya sanggup membantu menyelesaikan masalah."

"Masalah bagi siapa?"

"Tentu, masalah bagi kelompok yang tak menyukai Kangjeng Pangeran," jawab Ki Dita.

"Membahayakan..."

"Tentu membahayakan. Itulah sebabnya, kini rasa sesal menghantuiku," jawab Ki Dita dengan wajah penuh rasa khawatir.

"Tapi engkau telanjur mau karena iming-iming itu, Ki Dita?"

Ki Dita mengangguk lesu. "Namun sebetulnya, yang menekanku bukan semata karena iming-iming itu."

"Ada hal lain lagi yang menekanmu?"

"Raden Yudakara tahu kalau aku gila kekayaan dan gemar menerima suap dari pejabat. Maka itu pula yang digunakan Raden Yudakara dalam menekankan keinginannya. Katanya, apa yang jadi kebiasaanku akan ditutup rapat selama aku ikut dirinya. Yang penting, turuti apa yang jadi perintahnya maka kedudukanku aman. Begitu katanya. Kelemahanku sudah dipegang oleh Raden Yudakara. Aku jadi benar-benar takut didepak dari istana. Makanya aku laksanakan keinginannya."

"Saya tak percaya kalau ada pejabat di bawahnya yang tidak menyukai Kangjeng Pangeran," gumam Purbajaya.

"Banyak orang menilai baik buruknya seseorang karena didasarkan pada kepentingannya sendiri. Kita akan menganggap orang lain baik karena telah menguntungkan kita, sebaliknya akan menilai buruk karena orang itu merugikan kita," kata Ki Dita sambil menatap berkeliling. Hutan lebat itu ternyata sudah tidak diselimuti kabut lagi. Burung walik pun mulai terdengar kicaunya di atas dahan pohon carik angin.

"Apakah Ki Sanjadirja masuk kelompok ini?" tanya Purbajaya penuh minat.

"Kau pandai menebak orang," jawab Ki Dita.

"Bukan karena kecerdikan saya, melainkan karena sudah diketahui betapa Ki Sanjadirja kalah bersaing dengan Ki Bagus Sura dalam mendapatkan perhatian Kangjeng Pangeran," jawab Purbajaya menepiskan pujian orang. Dan Ki Dita mengangguk mengiyakan.

"Kau mengabdi pada Ki Sanja pasti atas saran Raden Yudakara." Purbajaya mencoba menebak dan ternyata tebakannya ini benar.

"Aku disuruh Raden Yudakara untuk memanas-manasi Ki Sanjadirja agar semakin membenci Kangjeng Pangeran," jawab Ki Dita polos.

Purbajaya menghela napas panjang. Dan kelakuan Purbajaya ini ternyata diikuti oleh elahan napas Ki Dita juga.

"Saya bingung," Purbajaya bergumam.

"Aku pun bingung," tiru Ki Dita.

Purbajaya menoleh. "Bayangkanlah Purba, tiga orang pemuda di bawah bimbinganku mati semua. Aku pasti dipecat mereka, padahal aku sudah akan diusulkan sebagai anggota pelatih kewiraan di lingkungan lebih tinggi lagi. Putuslah reputasiku."

"Yang saya bingungkan soal perilaku Raden Yudakara," bantah Purbajaya sebab merasa tak punya kesamaan dalam memiliki kebingungan ini. "Saya bingung, apa pula maksud sebenarnya mengacau dan mengadu domba pejabat di Sumedanglarang?" tanya Purbajaya seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Aku tak pernah ingin tahu apa keinginan pemuda aneh itu. Yang aku pikirkan sekarang, bagaimana nasibku selanjutnya? Kembali ke Ciguling (ibu kota Sumedanglarang) aku tak berani. Namun ikut Raden Yudakara pun aku tak kerasan. Jalan pikirannya aneh-aneh, mungkin terlalu tinggi dan aku tak bisa mengerti maknanya. Padahal keinginanku tak muluk, hanya ingin hidup aman sejahtera hingga akhir hayat. Itu saja," kata Ki Dita sambil mengeluh dan memukul jidatnya sendiri beberapa kali.

Dalam pandangan Purbajaya, Ki Dita sudah tidak tampak sebagai seorang guru kewiraan yang bisa melahirkan generasi bangsa yang tangguh, melainkan hanya tampak berupa seorang pencari upah yang gagal dalam usahanya. Bersyukur ada Raden Yudakara, sebab orang seperti ini bisa terusir dari Sumedanglarang.

Namun, kedua orang itu tidak bisa lama-lama mengobrol sebab tugas berburu binatang harus segera dilakukan. Kalau berlarut-larut tidak kembali, dikhawatirkan Raden Yudakara akan curiga. Itulah sebabnya, baik Purbajaya maupun Ki Dita, berusaha mengejar binatang buruan. Di daerah itu hanya burung-burung walik yang banyak berkeliaran. Mereka beterbangan atau berloncatan dari dahan ke dahan.

Masing-masing siap dengan beberapa kerikil. Dan setiap ada burung menclok, mereka lempar dengan kerikil disertai pengerahan tenaga dalam yang amat kuat. Mereka bersaing mengejar buruannya sebanyak-banyaknya.

"Aku dapat tiga ekor!" teriak Ki Dita gembira.

"Wah, saya hanya dapat dua ekor," kata Purbajaya "tak puas" sambil membuang dua ekor burung walik lainnya yang sudah dia dapatkan. Purbajaya tak mau orang tua itu kalah bersaing. Itulah sebabnya lebih baik dia saja yang mengalah.

"Coba lihat tangkapanmu. Wah, hanya dua ekor, kecil-kecil lagi. Tapi biarlah, untuk sarapan pagi cukup segini saja," kata Ki Dita gembira. Dia pulang duluan menenteng buruannya. Purbajaya mengikuti dari belakangnya.

Di dalam gua, Raden Yudakara sudah siap menunggu. Pemuda itu tertawa renyah ketika melihat Purbajaya dan Ki Dita sama-sama menenteng hasil buruan.

"Cepat buatkan api. Purba, kau giliran mengumpulkan dahan kaso yang sudah kering." Raden Yudakara kerjanya memang hanya memerintah. Tapi ketika makanan sudah terhidang, dia mendapat giliran paling awal dalam melahap makanan itu.

"Mesti dengan nasi yang ditanak di Rajagaluh," kata Raden Yudakara yang mulutnya penuh dijejali serpihan daging walik sampai-sampai minyak berlelehan di sudut bibirnya.

Purbajaya pun mendapat bagian daging walik ini. Ketika makan, dia teringat Paman Jayaratu. Membakar daging burung walik memang kegemaran Paman Jayaratu. Tapi bersama Paman Jayaratu, memasaknya tidak sederhana seperti ini. Sebaiknya, sesudah daging dikuliti, tubuh burung dilabur bumbu tumbuk campuran bawang putih, bawang merah, merica, atau jahe.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment