Chapter 55
Kalau ada minyak samin buatan Negeri Paras, tentu akan lebih bagus. Sambil digarang di atas bara api, daging burung itu dilaburi minyak samin. Harum daging yang dibakar berpadu dengan aroma khas bumbu-bumbu, membuat perut yang sedang lapar semakin meronta. Pagi ini, daging burung itu hanya dibakar tanpa bumbu maupun garam sedikit pun. Namun, bagi orang yang perutnya lama tak terisi, ini adalah makanan yang amat istimewa.
Hanya dalam waktu singkat, semua daging telah habis dilahap oleh mereka bertiga. Yang tersisa hanyalah tulang-belulangnya saja.
"Mari!" ajak Raden Yudakara sambil beranjak setelah membersihkan mulut dan tangannya.
"Ke mana?" tanya Ki Dita dengan heran.
"Ke mana? Apa kau sangka kita ini sedang pesiar?" Raden Yudakara balik bertanya dengan nada ketus.
Namun, Ki Dita masih enggan beranjak.
"Kau harus kembali ke Ciguling!" perintah Raden Yudakara.
Ki Dita tetap diam.
"Kalau begitu, kau ikut aku langsung ke wilayah barat! Kau takut bertemu orang-orang Sumedanglarang, kan?" tanya Raden Yudakara.
"Benar, Raden."
"Kau pengecut. Tapi tak mengapa. Ayo ikut saja ke wilayah barat."
"Saya juga tak mau ikut. Saya ingin di sini saja..." jawab Ki Dita pelan dengan menunduk.
"Maksudmu, di dalam gua ini?" Lagi-lagi Ki Dita tidak menjawab.
"Kalau tak ikut aku, kau tak bisa ke mana-mana," tutur Raden Yudakara dingin. Kemudian, dia menepuk-nepuk bagian belakang pakaiannya yang kotor oleh debu.
"Benar kau tak akan ke mana-mana?"
"Tidak, Raden..."
"Mau tinggal di sini saja?"
"Mungkin begitu, Raden..."
"Benar?" Nada suara Raden Yudakara semakin dingin.
"Saya ini orang kecil, Raden. Ikut dengan orang besar dan pintar sepertimu, saya tak akan mengerti. Jalan pikiranmu terlalu tinggi dan susah dimengerti. Daripada saya pusing sendiri, lebih baik saya tak ikut saja," kata Ki Dita akhirnya.
"Kau akan mati di sini..." desis Raden Yudakara.
"Tidak. Justru saya akan mati bila terus-terusan ikut Raden..." kata Ki Dita. "Jauh-jauh hari sebelum kenal engkau, hidup saya tenteram. Namun setelah kau hadir, hidup saya kacau. Saya dipaksa untuk menilai orang, untuk bercuriga ke sana kemari, padahal jauh sebelumnya, mereka baik-baik saja terhadap saya. Jadi, jalan pikiran Radenlah yang meracuni saya..." kata Ki Dita mulai berani karena Raden Yudakara terus memaksanya.
Wajah Raden Yudakara merah padam. Purbajaya tahu bahwa pemuda ini paling murka jika pendapatnya tidak diikuti. Dia khawatir Ki Dita akan menghadapi marabahaya karena hal ini.
"Jadi, kau tak akan ikut aku, ya?"
"Betul, Raden..."
"Sudah kau putuskan, ya?"
"Sudah saya putuskan, Raden..."
"Baik kalau begitu. Tinggallah kau di sini!" teriak Raden Yudakara.
Dengan kecepatan yang sulit diduga, pemuda itu melayangkan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat. Saking dahsyatnya, suara angin berdesing dan batu-batu di dalam gua berguguran. Purbajaya hanya sanggup berdiri mematung dengan mulut ternganga. Dia sudah punya firasat bahwa Raden Yudakara akan mencelakai Ki Dita, namun gerakan dahsyat itu sama sekali tak bisa diduganya.
Dengan pedih, Purbajaya menyaksikan tubuh Ki Dita yang tak bersiap diri terlontar keras dan menghantam dinding gua. Tubuh itu melosot ke bawah, kemudian tertimbun reruntuhan batu. Tak ada gerakan apa pun dari tubuh Ki Dita, kecuali sebelah tangannya yang tersembul tak berdaya dari sela-sela gundukan bebatuan.
Purbajaya tersadar dari keterpakuannya dan segera menghambur ke arah reruntuhan untuk menolong Ki Dita.
"Sudahlah, dia sudah tewas..." kata Raden Yudakara dengan nada datar, seolah-olah itu bukan peristiwa penting dan mencekam.
Purbajaya mencoba memeriksa nadi di tangan Ki Dita yang menyembul. Benar saja, sudah tak ada denyut nadi.
"Kau membunuhnya, Raden..." desis Purbajaya.
"Dia yang minta..." jawab Raden Yudakara enteng.
"Kau kejam. Kau tanpa perasaan sehingga nyawa begitu tak berarti bagimu!" kecam Purbajaya.
Dikecam seperti itu, wajah Raden Yudakara kembali merah padam. Namun, Purbajaya tak takut. Paling-paling dia akan dibunuh. Mengapa takut dibunuh? Toh, selama ini hidup-matinya sudah ada di tangan pemuda kejam ini.
Raden Yudakara tidak memukulnya, melainkan hanya menjambak baju di bagian dada Purbajaya dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
"Dengarkan kau, manusia dungu. Justru aku melakukan hal ini karena aku menghargai nyawa. Tapi nyawa siapakah? Apa kau pikir kita mesti menghargai nyawa orang lain ketimbang nyawa kita sendiri? Aku bunuh orang itu karena kalau dibiarkan, maka nyawa kita yang terancam. Dia sudah tahu perjalanan dan rencana kita. Kalau dia memisahkan diri, tentu hanya untuk menghalangi jalan kita saja."
"Aku tak paham jalan pikiranmu!"
"Memang tidak akan paham, sebab orang kecil sepertimu tak akan mengerti jalan pikiran orang besar sepertiku. Kau orang kecil dan bodoh yang hanya mampu berpikir mengenai masalah-masalah kecil dan tidak akan memahami masalah besar yang tengah aku pikirkan."
"Tapi perkara nyawa bukanlah urusan kecil!" bantah Purbajaya dengan dada sesak karena dihina seperti itu.
"Itulah sebabnya aku bunuh orang dungu itu; sebab kalau kubiarkan lepas, akan banyak nyawa melayang. Keselamatanku, keselamatan kau, dan keselamatan banyak nyawa lainnya," kata Raden Yudakara.
"Siapa yang lainnya?"
"Siapa? Tentu mereka yang sepaham dengan kita," tukas Raden Yudakara tegas. "Sudahlah. Kau memang dungu. Dengarkan, selama dunia berkembang, selama itu pula akan selalu terdapat perbedaan pendapat di antara manusia. Bila semua orang memiliki keinginan untuk berkembang, maka akan terjadi persaingan dan pertikaian. Kau harus pahami itu. Hanya orang bodoh dan tanpa keinginan yang sanggup melahirkan kedamaian, tapi kedamaian sepi yang tak berarti. Dan aku tak mau itu. Aku tak mau jadi orang mati hanya karena mendambakan kedamaian. Aku harus jadi orang nomor satu kendati dunia dalam keadaan apa pun. Dan untuk menjadi orang nomor satu, aku harus berjuang, apa pun perjuanganku!"
Raden Yudakara berkata lantang. Barangkali burung dan binatang hutan pun akan takut mendengar suara Raden Yudakara daripada suara halilintar di siang bolong.
"Cita-citamu akan mengancam keselamatan orang lain," gumam Purbajaya parau karena bulu kuduknya berdiri.
"Aku bukan orang sadis sebab aku pun butuh teman. Namun, terang-terangan aku katakan, aku tak bisa menyelamatkan banyak nyawa di tengah persaingan yang saling menekan dan mengalahkan. Kalaupun harus menyelamatkan nyawa, maka itu adalah nyawa kita sendiri, atau nyawa orang-orang yang membantu kita, bukan nyawa orang-orang yang memusuhi atau menyaingi kita," kata pemuda itu lagi.
Purbajaya hanya termangu-mangu.
"Nah, ini perkataanku yang terakhir. Kalau kau banyak bertanya dan apalagi banyak mendebat lagi, maka kuanggap kau bukan orang sehaluan denganku," desis Raden Yudakara dengan suara dingin.
Setelah itu, pemuda ini keluar dari gua lebih dahulu, meninggalkan Purbajaya yang masih termangu. Dengan perasaan tak menentu, Purbajaya bangun dari duduknya dan ikut keluar gua. Jasad Ki Dita dibiarkan terkubur bebatuan karena Raden Yudakara tak memberi waktu untuk mengurusnya.
Purbajaya memang harus ikut ke mana pemuda itu pergi. Bukan karena takut mati oleh ancaman Raden Yudakara, tapi semakin lama meneliti perilaku pemuda itu, semakin besar rasa penasaran di hati Purbajaya. Kalau benar Raden Yudakara orang jahat, biarlah Purbajaya tahu secara keseluruhan sampai di mana kejahatan pemuda itu. Purbajaya merasa bahwa Raden Yudakara ini bukan sekadar bekerja sebagai mata-mata. Menjadi mata-mata hanyalah perangkat untuk menutupi kegiatan sesungguhnya. Kepada siapa dia menutupi identitas sebenarnya?
***
Raden Yudakara terus membawanya ke utara. Purbajaya tidak bertanya lagi sepanjang jalan sebab dia tahu bahwa pemuda bangsawan ini akan menuju wilayah Pajajaran.
"Kita akan singgah di wilayah Kandagalante Sagaraherang," kata Raden Yudakara sambil menebas tetumbuhan yang menghalangi jalan dengan ranting kayu.
Selama perjalanan, Raden Yudakara memang tak mau lewat jalan pedati yang banyak dilalui umum, melainkan memotong belukar atau bahkan ngarai. Kentara sekali bahwa di wilayah yang berdekatan dengan Ciguling, ibu kota Sumedanglarang, dia tak berani menampakkan diri. Pusat kota Sumedanglarang tidak mereka lewati.
Sagaraherang adalah daerah yang terletak di dataran rendah sebelah utara Sumedanglarang. Bila di wilayah Sumedanglarang mereka harus berjalan turun-naik bukit dan meniti jurang terjal, maka ketika memasuki wilayah Sagaraherang, jalanan mulai rata. Di daerah ini, untuk bersembunyi dari pandangan umum sebetulnya agak sulit sebab dataran rendah ini banyak terdiri dari padang alang-alang terbuka dan rawa. Satu dua memang terlihat bukit dengan pepohonan, namun jumlahnya tidak banyak.
Sagaraherang adalah wilayah yang masih dikuasai Pajajaran. Namun demikian, pengaruh dari pusat kekuasaan sudah terasa lemah. Wilayah ini bahkan sudah begitu dekat dengan pesisir utara, padahal pesisir utara hampir semuanya dikuasai Negeri Carbon. Sebagai daerah perbatasan, kontak penduduk dari dua wilayah mudah dilakukan. Seperti kata Raden Yudakara, orang kecil memang tak bisa berpikir besar. Namun, karena ini pula, jalan pikiran orang kecil ternyata bisa bebas dari kemelut besar karena secara lugu hanya mengartikan nilai kehidupan secara sederhana. Buktinya, dua penduduk dari dua wilayah berlainan paham ini secara politis antara Carbon dan Pajajaran sedang bermusuhan.