Chapter 56
Namun, apalah arti perbedaan politik bagi orang yang tak mengerti politik. Sebab yang sebenarnya dipahami oleh mereka hanyalah bagaimana cara bertahan hidup sesuai kemampuan. Penduduk dari dua negeri yang berlainan paham ini satu sama lain sebetulnya tetap saling memerlukan.
Penduduk pedalaman (Pajajaran) amat memerlukan garam, ikan asin, atau barang-barang hasil produksi orang pesisir, bahkan kain halus buatan negeri seberang seperti kain satin dari Campa atau kain sutra buatan Cina. Sebaliknya, penduduk pesisir memerlukan hasil bumi dari wilayah pedalaman, seperti kapas, asam, berbagai rempah-rempah, atau bahkan anggur agar kelak bisa dijual kembali oleh orang pesisir ke negeri seberang. Oleh sebab itu, politik bagi orang awam dan kaum pedagang tidak terlalu diperhatikan karena mereka tetap saling membutuhkan.
Di pinggiran wilayah Sagaraherang, bahkan amat sulit membedakan mana orang Cirebon dan mana orang Pajajaran. Logat bahasa mereka malah seperti campur aduk. Tak mengapa orang Pajajaran logatnya jadi "ke-Cirebon-cirebonan" karena kental dan baur oleh perdagangan. Jenis pakaian yang digunakan pun sudah bercampur baur. Ada orang Sagaraherang yang sudah terbiasa menggunakan bendo citak atau baju takwa, padahal pakaian itu biasanya digunakan oleh orang Demak ataupun Cirebon. Orang Pajajaran di wilayah ini adat istiadatnya memang terpengaruh oleh orang Cirebon.
Namun, kesederhanaan perilaku penduduk ini sering dimanfaatkan oleh "orang pintar" yang mengaku tahu politik. Hubungan perdagangan dari kedua penduduk ini dimanfaatkan untuk kepentingan penyamaran dan penyelundupan dengan tujuan politis pula. Kerap terjadi orang Pajajaran memasuki Cirebon melalui perbatasan ini, ataupun sebaliknya, orang Cirebon memasuki wilayah Pajajaran dengan maksud kepentingan politik.
Sesudah tiba di wilayah Sagaraherang, Raden Yudakara tak mengajak Purbajaya untuk bersembunyi lagi. Mereka berdua malah kembali menyusuri jalan pedati yang ramai digunakan untuk lalu lintas perdagangan. Apalagi sesudah memasuki lawang kori (gerbang) kota, di mana orang yang hilir mudik semakin banyak. Kata Raden Yudakara, keberadaan Purbajaya sudah tidak diketahui sebagai orang Cirebon lagi.
"Kau hanya perlu menyelaraskan bahasa yang dipakai saja. Ini adalah wilayah Sunda dan tidak banyak orang menggunakan bahasa Demak," kata Raden Yudakara sambil menyebutkan bahwa di wilayah Pajajaran, Purbajaya harus belajar bahasa setempat.
"Sedikit-sedikit saya sudah dilatih bahasa Pajajaran oleh Paman Jayaratu..." jawab Purbajaya.
"Itu malah lebih bagus!" Raden Yudakara mengacungkan jempol memuji.
Kini Purbajaya dibawa menghadap kepada penguasa wilayah itu. "Jangan sungkan. Kandagalante Sunda Sembawa adalah kerabat dekatku," kata Raden Yudakara.
"Oh..." Purbajaya hanya bergumam.
"Betul. Sementara itu, Ki Sunda Sembawa pun punya kekerabatan yang erat dengan penguasa Pajajaran sekarang. Dengan demikian, kalau ditelusuri, sebetulnya aku pun masih kerabat Pajajaran juga. Tapi jangan cemas, Ki Sunda Sembawa adalah teman sendiri," kata Raden Yudakara.
Purbajaya termangu. "Teman sendiri" punya arti khusus. Secara politis, apakah Ki Sunda Sembawa pun sudah memihak Cirebon? Purbajaya tersenyum kecut, sekaligus tidak mengerti mengapa hal ini terjadi. Purbajaya pernah menerima penjelasan dari Paman Jayaratu bahwa antara Pajajaran dan Cirebon sebenarnya punya kaitan kekerabatan yang amat erat. Kangjeng Pangeran Cakrabuana, pendiri Nagari Cirebon (asal kata dari caruban, artinya negeri bermacam-macam bangsa), adalah salah seorang putra Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Pajajaran. Pangeran Cakrabuana dulunya bernama Walangsungsang. Sementara itu, penguasa Nagari Cirebon kini, yaitu Sang Susuhunan Jati, adalah cucu dari Sri Baduga Maharaja dan memiliki kekerabatan sebagai keponakan dari Kangjeng Pangeran Cakrabuana. Sang Susuhunan Jati ditunjuk sebagai penguasa Cirebon pun oleh Kangjeng Pangeran Cakrabuana.
Namun, kekerabatan yang kental ini tidak lantas membangun sebuah persaudaraan dan persahabatan antarnegeri. Oleh keyakinan yang berbeda, kedua negeri malah menjadi seteru. Kalau benar Kandagalante Sunda Sembawa kini menjadi "orang sendiri", padahal dia jelas-jelas orang Pajajaran, maka semakin kecut hati Purbajaya. Betapa karena urusan keyakinan, sesama kerabat menjadi saling seteru dan saling ingin menjatuhkan. Ataukah karena keadaan seperti ini dikipasi dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan? Purbajaya melihat perbuatan Pangeran Arya Damar dan Raden Yudakara sebagai kelompok yang memperkeruh keadaan karena memiliki ambisi tertentu dari kekeruhan ini.
"Bila kau kusebutkan sebagai anak buahku, maka Ki Sunda Sembawa tak akan ragu-ragu menyambutmu sebab kau akan dianggap sebagai orang sendiri baginya," kata Raden Yudakara membuyarkan lamunan Purbajaya. "Kau pasti akan gembira. Setiap kedatangan tamu, Ki Sunda Sembawa selalu mengadakan pesta penyambutan. Dia senang berfoya-foya," sambung pemuda itu sambil tertawa-tawa, seolah tengah membayangkan hal yang amat menyenangkan baginya.
Memasuki sebuah kompleks rumah-rumah besar dari kayu berukir dan genting sirap, harus melalui pintu jaga terlebih dahulu. Ada dua orang jagabaya mencegat dan memeriksa. Namun, setelah mereka tahu yang datang adalah Raden Yudakara, mereka terbungkuk-bungkuk menghormat. Dengan tergopoh-gopoh, salah seorang dari mereka bahkan mengantarkan Raden Yudakara dan Purbajaya menghadap Ki Sunda Sembawa.
Kediaman Ki Sunda Sembawa adalah bangunan rumah panggung paling besar yang posisinya ada di tengah, dikelilingi empat bangunan lain yang ukurannya lebih kecil. Rumah yang berdiri kokoh di tengah ini punya beranda besar. Masih berupa panggung dengan lantai papan kayu jati berwarna coklat kehitam-hitaman yang amat halus serta mengkilap. Raden Yudakara dipersilakan duduk di hamparan alketip beludru buatan Negeri Campa, sementara Purbajaya duduk di belakangnya.
"Saya akan sampaikan perihal kedatangan Raden berdua..." kata penjaga sambil pergi dengan tergopoh-gopoh.
Raden Yudakara serta Purbajaya perlu menunggu waktu agak lama untuk menerima sambutan tuan rumah. Ketika pintu kayu berderit terbuka, muncullah Ki Sunda Sembawa. Usianya barangkali sekitar lima puluhan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi namun berpostur tegap dengan kumis melintang tipis di bawah hidungnya yang sedikit mancung. Yang membuat hati Purbajaya tertarik, Ki Sunda Sembawa datang menyambut tamu sambil menggunakan jenis pakaian yang biasa digunakan oleh bangsawan Istana Pakungwati, Cirebon.
Ki Sunda Sembawa memakai pakaian jenis bedahan lima dan kainnya jelas bukan buatan negeri sendiri. Purbajaya tahu bahwa jenis kain ini sering diturunkan di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon, melalui kapal-kapal jung bangsa asing. Lelaki gagah ini pun menggunakan tutup kepala dari jenis bendo citak dengan ornamen logam warna emas sebagai penghiasnya. Bila ornamen itu bergoyang-goyang, maka ada pantulan cahaya berkeredip dengan amat indahnya.
Ki Sunda Sembawa tertawa renyah ketika menerima penghormatan baik dari Raden Yudakara maupun dari Purbajaya. "Siapa pemuda tampan ini, Yuda?" tanya pejabat itu menunjuk ke arah Purbajaya.
"Dia Purbajaya, anak buah saya..." jawab Raden Yudakara hormat.
"Datang dari Cirebon?" Ki Sunda Sembawa penuh selidik.
"Benar. Tapi masih orang sendiri," jawab lagi Raden Yudakara. "Kendati Pajajaran baginya adalah negerinya juga," sambungnya melirik ke arah Purbajaya.
Ki Sunda Sembawa mengerutkan alis. "Anak ini punya kekerabatan erat dengan penguasa wilayah Tanjungpura yang lama."
Hati Purbajaya tidak enak, mengapa seluruh riwayat hidupnya harus diceritakan di sini.
"Bagus. Semua orang yang merasa berhak atas tanah kelahirannya harus merasa memiliki negeri ini. Baguslah engkau mau bergabung dengan kami, anak muda..." kata Ki Sunda Sembawa.
Lagi-lagi ucapan ini amat membingungkan Purbajaya. Tadi Ki Sunda Sembawa menatapnya dengan penuh curiga ketika Raden Yudakara mengenalkan dirinya sebagai orang Cirebon. Namun, ketika disusul dengan pernyataan tambahan sebagai "orang sendiri", barulah Ki Sunda Sembawa terlihat lega. Ini hanya membuktikan bahwa kendati Raden Yudakara mengabarkan bahwa Ki Sunda Sembawa pun sudah berkiblat ke Cirebon, namun harus diperjelas lagi "Cirebon yang mana".
Dan lagi-lagi Ki Sunda Sembawa mengerutkan alis manakala dikatakan Purbajaya pun sebagai orang Pajajaran juga. Namun, sesudah tahu dari mana Purbajaya "berasal", maka pejabat itu kembali lega. Dengan demikian, Purbajaya pun mengambil kesimpulan bahwa kendati Ki Sunda Sembawa adalah pejabat Pajajaran, nama "Pajajaran" bisa bermacam-macam maknanya baginya. Ya, amat membingungkan, tapi sekaligus membuat Purbajaya semakin merasa penasaran. Purbajaya merasa bahwa pemuda bernama Raden Yudakara ini semakin banyak mengandung misteri.
Ki Sunda Sembawa dan Raden Yudakara saling bertutur sapa namun tidak secuil pun membicarakan hal-hal khusus. Begitu yang mereka lakukan sampai hari menjelang senja. Namun, manakala kembali dari sembahyang Magrib, ia mendengar obrolan yang amat menarik perhatiannya. Purbajaya harus menyelinap di balik pepohonan rimbun sebelum ia bisa menyimak apa yang mereka obrolkan.
"Apakah Paman sudah menyiapkan segalanya sedemikian rapi?" terdengar pertanyaan Raden Yudakara.
"Aku sudah menempatkan orang-orangku di lingkungan Karaton Pakuan, Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Boleh dikata, satu dari sepuluh pejabat Pakuan adalah orang-orangku. Kita sedang melatih pasukan di sini. Namun, jumlahnya masih kurang, perlu dibantu pasukan Cirebon." Ini adalah jawaban dari Ki Sunda Sembawa.
"Jangan khawatir. Pada saatnya nanti, saya kerahkan Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih," jawab Raden Yudakara.
Mendengar jawaban ini, ada hela napas terdengar. Purbajaya yakin, itu adalah hela napas Ki Sunda Sembawa.
"Ada apa, Paman?" tanya Raden Yudakara.
"Kau ini membingungkan, Yuda. Katanya pasukan itu kau pengaruhi agar membenci Cirebon dan mencintai Pajajaran."