Chapter 57
"Sekarang, bagaimana mungkin mau kau belokkan lagi untuk melawan Pajajaran?" tanya Ki Sunda Sembawa.
"Ah, mereka orang-orang dungu yang mudah dihasut. Mereka hanyalah orang-orang yang mendambakan kehidupan masa lalu. Saya memang memengaruhi mereka karena Pajajaran bagi mereka adalah sisa masa lalu. Namun, harus diingat, kerinduan mereka sebenarnya hanya kepada ratunya saja, yaitu Nyi Rambut Kasih. Jadi, kalau kelak saya katakan bahwa Pajajaran pun tidak pernah membela ketika Sindangkasih digempur Cirebon, maka otomatis mereka akan membenci Pajajaran. Mudah, kan?" jawab Raden Yudakara sambil tertawa.
Ki Sunda Sembawa pun ikut tertawa.
"Hanya saja yang saya masih kesal," sambung Raden Yudakara, "tindakan Pangeran Suwarga sebagai Manggala atau Hulu-jurit (panglima perang) Nagari Cirebon bertele-tele. Kendati sudah saya hembuskan bahwa Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih yang mengacau Sumedang dan Talaga kekuatannya dipasok dari Pajajaran, namun pejabat pikun dan kurang tenaga itu tetap tak mau mengerahkan kekuatannya untuk menyerang Pajajaran. Ini tentu menjengkelkan. Sebab bila pasukan resmi Cirebon tetap tak mau menyerbu Pakuan, maka hanya punya arti bahwa kita bekerja sendirian," kata Raden Yudakara.
"Hm... Bila benar begitu, maka tugas kita menjadi berat dalam menghimpun jumlah pasukan. Beruntung ada Ki Banaspati yang membantu," kata Ki Sunda Sembawa.
"Ki Banaspati, siapakah dia?" suara Raden Yudakara bernada heran.
"Dia adalah pembantu dekat Bangsawan Soka, pejabat muhara (pejabat urusan pajak) untuk wilayah timur Pajajaran."
"Apakah dia pun orang kita?"
"Lebih dari itu, sebab bahkan aku pun memiliki ide dan rasa semangat dalam mengambil hak di Pajajaran karena dia juga. Betapa dia tak henti-hentinya memberikan pengertian kalau aku sebenarnya paling berhak dalam menerima warisan kekuasaan negeri ini. Kalau aku mau mengambil apa yang sudah jadi hakku, maka dia bersedia membantu apa saja. Katanya, sebagai petugas muhara, segala kekuatan dana sebenarnya ada padanya. Ini amat menguntungkan bagi kita," kata Ki Sunda Sembawa dengan nada ceria.
Hanya saja, ucapan gembira ini tak ditanggapi oleh Raden Yudakara. Kalau pemuda itu berperilaku begini, Purbajaya hapal, Raden Yudakara pasti tak berkenan mendengar pernyataan Ki Sunda Sembawa ini. Purbajaya tak bisa lama-lama bersembunyi di rumpun dedaunan. Bila dia tak mau dicurigai, maka Purbajaya harus segera bergabung kembali dengan mereka.
Ketika Purbajaya muncul, obrolan penting pun selesai. Terlihat jelas bahwa obrolan barusan bersifat rahasia.
"Kalian lelah, tentu harus beristirahat dengan nyaman dan penuh kegembiraan di sini," kata Ki Sunda Sembawa sambil berteriak menyuruh para pembantunya datang ke tempat itu. Tak berapa lama kemudian, dua orang pelayan, dua-duanya wanita muda dan berwajah cantik, datang mendekat dan dengan amat hormat duduk bersimpuh.
"Hari ini kita kedatangan tamu penting. Lekas sampaikan pada yang lain agar nanti malam menyiapkan segala sesuatunya di bale kambang (bangunan panggung tempat bersantai yang terletak mengambang di tengah kolam). Amah, datangkan juru kawih (ahli menembang) yang terbaik ke tempat kita," perintah Ki Sunda Sembawa. Pelayan yang muda dan ranum itu segera mengundurkan diri.
"Kalian harus percaya, betapa gadis Sagaraherang molek-molek," kata Ki Sunda Sembawa tertawa renyah ketika dilihatnya mata Raden Yudakara tak pernah lepas menatap kedua pelayan itu.
Dengan tak malu-malu, Raden Yudakara tertawa ceria dengan mata berbinar-binar. Sepertinya dia tahu bahwa dirinya dijanjikan sesuatu yang amat didambakan hatinya oleh tuan rumah. Benar saja, sesudah Purbajaya sembahyang isya, dia diundang menghadiri acara pesta di bale kambang.
Sebetulnya Purbajaya tak mau bergabung dengan mereka. Badannya terasa lelah karena perjalanan tiada henti dari wilayah Sumedanglarang. Namun, Purbajaya merasa tak enak bila menolak ajakan ini, padahal sudah jelas pesta diadakan hanya untuk menyambut kedatangan mereka berdua. Hal yang membuat Purbajaya waswas adalah karena penguasa wilayah ini "menjanjikan" wanita cantik. Namun, diputuskan juga untuk beranjak dari kamarnya.
Purbajaya diantar oleh seorang prajurit yang berbekal pelita minyak kelapa. Bale kambang terletak agak terpisah dari semua bangunan dan letaknya agak di bagian bawah. Ketika Purbajaya dipandu menuruni trap tanah berbalas kerikil, bangunan bale kambang sudah terlihat jelas karena ruangan terbuka yang hanya diberi atap ijuk itu tampak benderang oleh cahaya pelita yang dipasang di berbagai sudut dalam jumlah cukup banyak. Ada lentera besar tergantung di tengah ruangan yang menerangi seluruh bagian bale kambang.
Ketika Purbajaya masuk, di sana sudah banyak orang; pria dan wanita duduk bercampur baur. Hampir semuanya larut dalam kegembiraan, padahal sepertinya acara belum dimulai jika yang dimaksud adalah pesta pertunjukan kesenian seperti yang dikatakan Ki Sunda Sembawa tadi sore.
Ki Sunda Sembawa pun sudah tampak larut dalam kegembiraan. Dia bersila di tengah, dikelilingi beberapa gadis cantik yang masih muda. Dua gadis yang duduk menghimpitnya dari kiri dan kanan terkekeh-kekeh genit dan menggeliat kegelian karena tangan Ki Sunda Sembawa ngelayap ke sana kemari. Sementara itu, dua gadis lainnya sibuk memijiti bagian-bagian tubuh pejabat tersebut.
Di sudut lainnya, Raden Yudakara tak kalah "gesit" dalam mengerjai tubuh wanita-wanita molek itu. Dia malah tampak garang dan cabul. Dua gadis di kiri-kanannya dikempit erat dan dicium pipinya secara bergantian. Kalau ada gadis pelayan yang lewat untuk membagikan minuman, dia menjawil pantat, dagu, bahkan buah dada mereka. Anehnya, diperlakukan tak sopan seperti itu, para gadis malah tertawa senang. Memang ada sikap pura-pura marah dengan cemberut dan mencubit tangan Raden Yudakara, namun terlihat jelas itu hanyalah marah manja.
Purbajaya melihat betapa sebetulnya Raden Yudakara tengah mabuk berat karena minuman tuak. Kepalanya oleng ke sana kemari dan kulit wajahnya merah. Ketika Purbajaya baru tiba, dia disambut tawa renyah Ki Sunda Sembawa.
"Ah, anak muda ini, ke mana sajakah? Ayo jangan sungkan, ini semua untuk kalian semata. Di saat bulan purnama, di saat langit demikian cerah, kita berpesta sepuasnya!" kata Ki Sunda Sembawa yang tampak sudah mulai oleng.
Purbajaya hendak berjingkat untuk mengambil tempat duduk agak terpisah, namun tangannya ditarik oleh Ki Sunda Sembawa.
"Hai, ayo layani pemuda ini dengan baik," katanya sambil menyodorkan tangan Purbajaya kepada seorang gadis. Sesudah tangan Purbajaya digenggam gadis itu, Ki Sunda Sembawa terkekeh dan menepuk pantat gadis tersebut agar membawa Purbajaya pergi. Purbajaya mencoba melepaskan tangannya yang digenggam erat.
"Ayo, apa yang Kakang mau?" tanya gadis itu sambil menjawil dagu Purbajaya.
"Saya... saya hanya mau menonton pergelaran kesenian saja, Nyai..." jawab Purbajaya gagap dan panik karena perlakuan gadis itu. Untuk kesekian kalinya, dia terpaksa menepis tangan gadis itu karena hendak berbuat mesum.
"Wah... ini kan sudah pergelaran, Kakang!" kata gadis itu, lagi-lagi pipi Purbajaya dijawilnya.
Purbajaya merasa kesal. Minuman keras dan bermain perempuan adalah maksiat. Purbajaya melihat berkeliling; nyatanya semua orang memang larut dalam pesta dengan perilaku yang tak terkendali. Purbajaya ingin pergi namun segan terhadap tuan rumah. Bagaimana pun Ki Sunda Sembawa adalah pejabat dan penguasa di daerah ini. Kalau dia menolak bergabung, barangkali akan dianggap tak hormat. Itulah sebabnya, kendati amat sebal, Purbajaya tetap bertahan.
Untung saja para penembang sudah datang sehingga Purbajaya punya alasan untuk tetap tinggal. Ketika rombongan kesenian hadir, mereka yang tengah berpesta pora mendadak menghentikan kegiatan dan berbalik memperhatikan. Beberapa nayaga (penabuh gamelan) naik ke panggung bale kambang sambil menenteng tatabeuhan (gamelan) guna mengiringi tembang. Ada yang menjinjing kecapi, rebab, kulanter (gendang ukuran kecil), angklung, dan bende (gong ukuran kecil). Sesudah semuanya siap, pergelaran pun dimulai.
Sederetan juru kawih yang berwajah cantik, secara bergiliran melantunkan tembang. Jenis lagunya bermacam-macam, mulai dari nada anca (pelan) sampai kepada nada gerakan karatagan (cepat dan bersemangat). Ada lagu yang syairnya memelas penuh kesedihan sampai kepada lagu gembira berisi sindiran yang lucu.
Saat para juru kawih melantunkan lagu segar, para penonton ikut larut. Hanya saja mereka menembang tidak tertib dan tak sesuai dengan ketukan gendang. Penonton menembang dengan nada sumbang seadanya dan terkesan dimain-mainkan sambil tertawa. Para gadis bahkan kerjanya hanya menjerit-jerit kecil karena acap kali tubuhnya digerayangi tangan-tangan jahil.
Malam semakin larut dan jenis kesenian yang ditampilkan pun datang silih berganti. Sebagai acara penutup, ditampilkan pertunjukan pantun. Pantun adalah seni bercerita yang dipaparkan dengan lantunan merdu dan diiringi dawai kecapi. Pembawa ceritanya adalah seorang lelaki tua tunanetra. Dia membawakan cerita perihal kegagahan ksatria Pajajaran.