Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 58

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 58

"Ada yang datang, ada yang pergi. Yang datang membawa napas baru, yang pergi menutup masa lalu. Pergilah pergi, datanglah datang. Yang pergi dan yang datang tidak perlu bersilang paham." Purbajaya menyimak pertunjukan pantun ini dengan saksama dan amat setuju dengan lantunan Ki Juru Pantun yang barusan dilantunkan.

Purbajaya membayangkan kalau yang dimaksud dan tengah digambarkan Ki Juru Pantun adalah kehadiran Nagari Carbon untuk menggantikan Pajajaran sebagai simbol kehidupan lama. Namun, lain orang lain penafsiran. Ki Sunda Sembawa malah menafsirkan lain.

"Ya, akulah si pembawa kehidupan baru!" teriaknya parau karena sejak tadi kerjanya berceloteh saja seperti orang mengigau.

"Tapi akulah yang paling sempurna dalam mengembuskan napas pembaharuan!" timpal Raden Yudakara sambil mengangkat wadah tempat tuak tinggi-tinggi sehingga isinya tumpah ke wajahnya.

Ki Sunda Sembawa tampak kaget mendengar teriakan Raden Yudakara ini. Penguasa Sagaraherang ini bahkan menatap tajam ke arah Raden Yudakara dengan penuh curiga. Namun, pemuda bangsawan itu menanggapinya dengan tatapan yang sama pula.

"Maksud saya, pembawa kehidupan baru bagi Pajajaran haruslah orang yang paling sempurna segalanya," kata Raden Yudakara akhirnya, masih menatap Ki Sunda Sembawa dengan tajam.

"Siapakah itu?" tanya Ki Sunda Sembawa penuh selidik.

"Ya, siapa lagi kalau bukan yang pada hari ini memiliki kekuasaan?" Raden Yudakara menjawab dengan sebuah pertanyaan pula.

"Bukankah itu aku?" tanya lagi Ki Sunda Sembawa sambil menepuk dada sendiri.

Raden Yudakara masih menatap tajam wajah Ki Sunda Sembawa. Sesudah itu, dia menyeringai dan diakhiri dengan tawa terbahak-bahak. Tangannya menyodorkan tempat tuak ke arah Ki Sunda Sembawa.

"Tuaknya penuh, jadi jangan sampai air tuak muncrat ke mana-mana. Itulah seorang sempurna, sanggup menghimpun seluruh kekuatan tanpa yang dihimpun bercerai-berai!" kata Raden Yudakara menyorongkan tempat tuak agar ditangkap Ki Sunda Sembawa sehingga permukaannya muncrat keluar dan kembali membasahi wajah pemuda itu.

Ki Sunda Sembawa serentak menerima tempat tuak, namun dia tak berhasil menjaga air tuak tidak muncrat. Maka, giliran wajahnyalah kini yang terkena tumpahan. Karena dua-duanya bernasib sama, lantas dua-duanya saling pandang beberapa saat dan saling mengumbar tawa.

Purbajaya tak bisa menduga tawa mereka menyiratkan apa. Apakah punya maksud dan arti yang sama atau masing-masing saling menilai keberadaannya? Maka, pertunjukan pun dilanjutkan lagi. Ki Juru Pantun mendayu-dayu lagi memaparkan kisah-kisah kepahlawanan ksatria Pajajaran.

"Itulah aku! Itulah aku!" teriak Ki Sunda Sembawa keras-keras sambil mengacungkan guci kecil berisi tuak.

Hampir menjelang dini hari, barulah pesta usai. Ki Sunda Sembawa dipapah dari balekambang oleh dua orang prajurit, sementara para bawahannya bergeletakan ketiduran di lantai, baik pria maupun wanita. Raden Yudakara pun pulang meninggalkan balekambang dengan dipapah dua orang.

"Biarkan aku jalan sendiri! Biarkan aku jalan sendiri! Aku sanggup berdiri tegak tanpa dibantu siapa pun!" teriaknya menepis bantuan orang.

"Biarkan dia jalan sendiri," kata Purbajaya yang mengawal di belakangnya. Namun, karena tubuh Raden Yudakara beberapa kali limbung dan hampir masuk kolam, Purbajaya terpaksa memapahnya.

Di sepanjang jalan, Raden Yudakara berceloteh sambil sesekali tertawa sendirian. "Hahaha! Dasar dungu! Tak akan ada tikus bernyali harimau. Sekali tikus, tetap tikus! Heh, atau dia bukan tikus sebab badannya memang gede. Keledai cukuplah. Tubuhnya gede tapi dungunya tak ketulungan. Hahaha!" celoteh Raden Yudakara tak berketentuan.

Rumah panggung tempat Raden Yudakara beristirahat terletak agak terpisah dari yang lainnya sehingga agak lega ocehan ngawur Raden Yudakara tidak didengar penghuni puri ini. Ya, ocehan pemuda bangsawan ini bisa membuat penghuni puri marah sebab Purbajaya mengerti kalau Raden Yudakara tengah menyumpahi Ki Sunda Sembawa.

Namun, dari sini saja sebetulnya Purbajaya sudah harus mengerti, kendati dua orang itu kerabat dekat dan sepertinya bahu-membahu, di hati kecil mereka masing-masing sedang memiliki ambisi tersendiri. Ambisi untuk kepentingan sendiri tapi membonceng kepada kekuatan lain. Ya, betapa tidak. Ki Sunda Sembawa membutuhkan pasukan besar dari Carbon, begitu pun yang dilakukan Raden Yudakara. Pasukan selalu dikaitkan dengan pertempuran. Tidakkah kedua orang itu memang punya cita-cita untuk menggempur Pakuan guna kepentingan masing-masing?

Purbajaya berdebar memikirkan hal ini. Benarkah Ki Sunda Sembawa akan membawa pasukan ke dayo (ibukota) Pajajaran? Betulkah Pakuan akan diserbu? Siapa yang akan menyerang? Jelas bukan Carbon, namun mereka terkesan amat membutuhkan bantuan Carbon. Atau dengan kata lain, serbuan ke Pakuan harus dilakukan Carbon sehingga Carbon yang bertanggung jawab, namun mereka berdua yang memetik keuntungannya.

Benarkah begitu cita-cita mereka? Siapa pula yang dimaksud "mereka" ini? Benarkah hanya Ki Sunda Sembawa dan Raden Yudakara saja? Bila menyimak percakapan mereka, sepertinya hanya Ki Sunda Sembawa tokoh utamanya. Namun, Raden Yudakara pun sepertinya memiliki cita-cita pribadi yang sama pula. Di saat dalam keadaan mabuk berat seperti ini, Raden Yudakara terus mengoceh membuat hati Purbajaya terkejut.

"Hahaha! Dasar dungu. Cobalah lihat, siapa penguasa sebenarnya. Hahaha!" celotehnya lagi.

Saking mabuknya, akhirnya Raden Yudakara tak sanggup berdiri lagi. Dia ambruk di tengah jalan. Purbajaya hendak mencoba membangunkan tubuh pemuda itu ketika secara tiba-tiba ada desiran angin di hadapannya. Dengan terkejut, Purbajaya melihat ada seseorang berdiri di sana. Dia seorang lelaki tegap, berdiri dengan kaki terpentang lebar. Purbajaya tak kenal siapa lelaki ini karena cahaya bulan tak sanggup menerangi wajah orang itu. Hanya yang jelas, dia berpakaian jubah dan sorban kepala seperti biasa dipakai ulama Carbon.

"Siapa Anda?" Purbajaya bertanya sambil siap-siap menjaga kemungkinan yang tak diharapkan. Raden Purbajaya mencoba tengadah dan mencoba menyipitkan matanya agar bisa meneliti siapa yang datang.

"Aku Rangga Guna," jawab lelaki asing itu.

"Rangga Guna? Aku pernah dengar namamu. Kau adalah murid Ki Darma dan seperti gurumu, kau pun dikejar-kejar penguasa Pakuan karena dianggap membangkang dan suka mengkritik Raja," kata Raden Yudakara dengan suara parau.

Purbajaya terkejut dan mengeluh. Kalau orang ini murid Ki Darma, pasti akan mengganggunya.

"Minggirlah, kau pemberontak!" kata Raden Yudakara.

"Tidak disenangi Raja bukan berarti pemberontak sebab aku tetap cinta Pajajaran dan akan membela Pajajaran," jawab Ki Rangga Guna menegaskan.

Purbajaya semakin bersiap untuk menghadapi hal-hal tak diinginkan.

"Tapi kau sudah ikut agama baru, kan?"

"Betul..."

"Nah, kalau begitu, mari kita hancurkan Pajajaran. Kemudian di atas puing-puingnya kita dirikan kehidupan baru," kata lagi Raden Yudakara. Kepalanya tak mau diam, mungkin menahan pusing karena mabuk yang berat.

"Tatanan negeri Pajajaran sudah bagus. Kerajaan Sunda yang kemudian berlanjut menjadi Pajajaran telah hidup sejak tahun 669. Kini usianya sudah lebih dari delapan ratus tahun. Tidak mudah sebuah negeri bisa berumur ratusan tahun seperti ini kecuali punya tatanan yang kuat. Kalau pun sekarang sedang sakit, itu karena para pemegang tampuk pemerintahannya sedang sakit. Orang sakit harus disembuhkan dan bukannya dibunuh atau dihancurkan. Kalau kini Pajajaran sedang sakit, maka aku ingin menyembuhkannya dengan tatanan agama baru. Aku ingin agama baru berkembang di Pajajaran dan Pajajaran menjadi besar karena agama baru ini," kata Ki Rangga Guna panjang lebar.

Raden Yudakara tidak mengiyakan atau menolaknya. Yang terdengar hanya kekehnya saja.

"Bagus juga jalan pikiranmu. Dan aku akan dukung itu asal engkau pun mendukungku. Kau boleh pertahankan Pajajaran dengan tatanan agama baru, tapi akulah kelak penguasa Pajajaran," kata Raden Yudakara sambil tertawa-tawa kembali.

"Pajajaran sudah sakit karena banyak diperebutkan orang-orang penuh ambisi. Engkau akan kuhalangi bila berniat menerjang Pajajaran," kata Ki Rangga Guna dengan suara mengancam.

"Ouw, begitukah? Aku ingin tahu sejauh mana kehebatan ilmu yang dimiliki murid Ki Darma ini," kata Raden Yudakara sambil bangkit, namun dengan limbung. "Akulah penguasa pembaharuan. Ayo, lawanlah aku!" tantang Raden Yudakara bertolak pinggang.

Namun, hanya satu gerakan tangan kiri, angin deras berdesir dan tubuh Raden Yudakara terlontar ke belakang, hampir mencapai empat depa, lalu jatuh berdebuk.

"Pajajaran terlalu besar untukmu. Negeri ini tak membutuhkan orang sombong tapi tak punya kepandaian apa-apa," ejek Ki Rangga Guna. Sesudah menatap sebentar, lelaki itu menghilang di balik rimbunnya pohon.

Purbajaya terpana saking kagetnya. Peristiwa ini begitu cepat terjadi sehingga Purbajaya tak bisa berbuat apa-apa. Ki Rangga Guna sungguh hebat. Raden Yudakara yang menurut penilaian Purbajaya memiliki ilmu tinggi, hanya dalam satu gebrakan saja tubuhnya terlontar ke belakang bagaikan daun kering tertiup angin.

Melihat ini, Purbajaya bergidik. Kalau muridnya saja demikian tinggi ilmunya, apalagi gurunya. Pantas saja di Cakrabuana Ki Darma tak punya selera untuk ambil bagian dalam perkelahian. Barangkali pertempuran seru antara pasukan Carbon dan pasukan Pajajaran waktu itu hanya berupa permainan anak kecil belaka dalam pandangan Ki Darma.

Purbajaya memburu tubuh Raden Yudakara dan mencoba memeriksa kalau-kalau pemuda itu terluka parah. Namun, sungguh aneh, tak ada luka sedikit pun di tubuh pemuda itu. Buktinya, Raden Yudakara sudah bangkit sendiri dan tetap tertawa-tawa.

"Sialan Si Rangga Guna. Dia mempermainkan aku di saat aku tak berdaya..." celotehnya sambil disambung oleh kekehnya lagi. Kembali hati Purbajaya terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment