Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 59

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 59

Bagaimana mungkin Raden Yudakara tidak menderita luka sedikit pun, padahal angin pukulan Ki Rangga Guna begitu keras? Ini bukan karena tubuh Raden Yudakara yang kuat, melainkan karena Ki Rangga Guna pandai mengatur tenaga dalam yang dikeluarkannya.

Keras, tapi tidak memukul. Sungguh hebat. Jarang orang memiliki ilmu seperti yang diperagakan Ki Rangga Guna ini.

"Ayo kita tidur, Purba," kata Raden Yudakara sambil melangkah gontai.

Namun, ketika tiba di depan pintu, serta-merta pemuda itu menendang daun pintu dengan amat marahnya hingga pintu tersebut berantakan.

"Sialan kau, Rangga Guna! Kau hina aku! Kau rendahkan martabatku!" Raden Yudakara marah-marah dan menendang apa pun yang bisa ia tendang.

Dia memang marah. Namun, dalam kemarahannya ini terselip nada kesedihan yang sangat. Mungkin pemuda ini sedih dan kecewa karena dipermalukan Ki Rangga Guna.

"Purba, jawablah! Apakah aku terlalu lemah untuk menguasai Pajajaran?" tanyanya tiba-tiba.

Ini mengejutkan Purbajaya sebab ia tidak punya persiapan untuk menjawabnya.

"Ayo jawab, kalau tidak, kau akan kubunuh!" teriak pemuda aneh itu.

"Saya belum punya jawaban sebab saya baru tahu kalau Raden punya cita-cita besar dalam menguasai Pajajaran," jawab Purbajaya tidak langsung.

"Ya, sekarang kau telah tahu. Jadi, apa pendapatmu?" desak pemuda itu.

"Saya belum tahu kekuatan Raden yang sebenarnya," jawab pula Purbajaya.

"Dasar orang dungu. Dengarkan, kekuatan itu bukan terletak pada kepalan tangan, melainkan pada isi kepala ini. Jangan kau sangka Si Rangga Guna orang pandai hanya karena dalam satu gebrakan melumpuhkanku. Seekor kerbau pun bisa menubruk mati orang sepertimu, namun tak berarti bahwa kerbau itu punya otak dan memiliki kecerdikan. Makanya, engkau harus percaya kepadaku. Apa yang kupikirkan, tak pernah orang lain pikirkan. Itulah kelebihanku," kata Raden Yudakara percaya diri.

Namun, baru saja bicara begitu, pemuda itu segera meraung-raung seperti orang yang menderita kepedihan hebat. Purbajaya hampir panik melihat perilaku aneh pemuda ini, apalagi Raden Yudakara berteriak-teriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Purbajaya khawatir orang-orang akan datang jika mendengar teriakan ini. Namun untunglah, rupanya semua penghuni puri sudah terbius pesta semalam. Semua pulas karena mabuk.

"Sialan kau, Rangga Guna edan! Hati-hati kau. Kalau Pajajaran runtuh, maka satu-satunya yang pertama aku bunuh adalah engkau!" teriak Raden Yudakara berkali-kali.

Purbajaya tahu, pukulan Ki Rangga Guna tidak menyakitkan. Namun, penghinaannya itulah yang membuat Raden Yudakara terlolong-lolong bagaikan serigala yang disakiti. Setelah mengucapkan sumpah serapah kepada Ki Rangga Guna, Raden Yudakara tampak kelelahan sendiri. Lantas, dia duduk termangu di lubang pintu dan matanya menerawang entah ke mana.

Sesudah agak lama, dia tertawa-tawa lagi dan bersenandung dengan suara parau dan perlahan:

"Kalau tak mendapatkan cahaya matahari tidak apa, cahaya rembulan pun kalau tak mendapatkan cahaya rembulan tidak apa, tanpa cahaya pun... Hidup susah dicari dan hidup mudah dicari, yang susah kalau bertahan dengan kejujuran, yang mudah kalau penuh keberanian. Bukan berpikir untuk esok hari, namun berpikirlah esok, sebab yang namanya hidup adalah hari ini."

Lantunan itu benar-benar parau dan tidak punya nada teratur. Kalau orang lain ada yang dengar, mungkin sudah mual menyimaknya. Purbajaya pun sebal. Namun, dia sudah terbiasa dengan lantunan gombal tak bertanggung jawab secara kemanusiaan ini. Ya, inilah karakter Raden Yudakara. Ambisius dan serbaoptimis karena segalanya tak perlu dipertautkan dengan harga diri dan kemanusiaan.

Lantunan yang tidak enak didengar itu kian lama terdengar kian lemah sampai akhirnya hilang sama sekali dan tergantikan oleh dengkurnya. Sungguh hebat, pemuda itu sudah terbebas dari penderitaannya karena dengkurnya mudah muncul.

Yang puyeng adalah Purbajaya. Betapa sesudah kejadian tadi, hatinya jadi tidak tenang. Pertama kali ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa tindak-tanduk Raden Yudakara selama ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepentingan Carbon, atau bahkan dengan ambisi yang dimiliki Pangeran Arya Damar, kecuali pemuda ini hanya ingin memanfaatkan kekuatan orang lain untuk kepentingan ambisinya.

Dia berupaya dengan berbagai akal dan tipu muslihat agar para pengambil kebijakan di Pakungwati bisa memutuskan untuk mengirimkan pasukan guna menyerang Pakuan. Barangkali dia pun terus memanas-manasi mertuanya sendiri, yaitu Pangeran Arya Damar yang ambisius, agar melanjutkan tindakannya dalam menyerang Pajajaran. Hari ini, dia malah memanasi Ki Sunda Sembawa agar merebut kekuasaan dari penguasa Pajajaran yang sekarang.

Namun, apa pun tindakan-tindakannya, kesemuanya pada akhirnya hanya akan diabdikan untuk kepentingan dan cita-citanya sendiri. Sungguh berbahaya orang ini, pikir Purbajaya. Cita-cita apakah ini? Sudah barang tentu cita-cita akan sebuah kepentingan yang menurut Raden Yudakara disebutnya sebagai rencana besar. Dengan ambisinya yang besar, Raden Yudakara ingin menguasai Pajajaran. Memang betul ini rencana besar, sekaligus juga rencana gila.

Raden Yudakara ingin menyaingi ambisi siapa pun yang tengah memiliki ambisi. Kalau Pangeran Arya Damar hanya punya ambisi meruntuhkan Pajajaran secara militer karena kelak dia menginginkan sebuah penghargaan, Pangeran Suwarga hanya ingin menundukkan Pajajaran dengan pendekatan agama, maka Raden Yudakara ingin menguasai Pajajaran untuk kepentingan sendiri. Sungguh sebuah keinginan gila. Pemuda ini tengah bermain api. Bunga api memercik, bahayanya akan muncrat ke mana-mana. Tapi Raden Yudakara memang berani menantang bahaya. Dan orang yang berani menantang bahaya karena sadar punya kekuatan.

Purbajaya berpikir, bisa jadi benar Raden Yudakara memiliki kekuatan. Paling tidak, dia punya kekuatan untuk memengaruhi orang. Pangeran Arya Damar bisa tunduk di bawah pengaruhnya. Pasukan Siluman Nyi Rambut Kasih yang para anggotanya rata-rata memiliki kepandaian tinggi pun bisa dia pengaruhi. Atau paling tidak, pemuda itu pun pandai bergayut kepada kekuatan lain. Sepertinya dia ingin membantu kekuatan lain untuk ikut mendorong cita-cita orang itu, padahal sebetulnya dia tengah berupaya menggiring orang agar bisa dimanfaatkan untuk ambisi pribadinya sendiri. Begitu hebatnya Raden Yudakara memengaruhi orang, sehingga semuanya bisa dia kendalikan, seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Purbajaya bingung, namun sekaligus juga sebal. Semakin hari semakin kentara, betapa selama banyak mengenal orang, banyak pula perilaku yang ia kenal. Dalam urusan Pajajaran ini saja, Purbajaya jadi mengenal macam-macam ambisi orang. Taruhlah Ki Sunda Sembawa. Hanya karena dia kerabat dekat penguasa Pajajaran, lantas dia menepuk dada sendiri bahwa yang paling berhak menguasai Pajajaran adalah dirinya sendiri. Dia semakin bersemangat untuk menyukseskan ambisinya karena ada pihak lain yang mengaku mau melicinkan jalan ke arah cita-citanya. Maka, kenallah Purbajaya dengan nama Ki Banaspati.

Namun, siapa pula dia? Purbajaya hanya diberi tahu kalau orang ini adalah tokoh penting di Pakuan. Dia adalah pejabat muhara (petugas penarik pajak) di wilayah timur dan punya peranan besar dalam memakmurkan pemerintahan dari hasil penarikan pajak, padahal wilayah timur Pajajaran adalah wilayah rawan karena pengaruh musuhnya (Carbon) demikian terasa. Kalau Ki Banaspati sanggup melakukan pekerjaan dengan baik, hanya punya arti dia bekerja dengan sungguh-sungguh untuk negara. Tapi mengapa tokoh sepenting ini malah mau membantu pihak lain yang ingin merebut kekuasaan negeri? Purbajaya jadi tidak mengerti makna hidup.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sebenarnya apa yang dimaui orang? Di Carbon, negerinya sendiri, acapkali ia melihat ada orang menjelekkan pemerintah karena dia merasa tersisih dan dirugikan kepentingannya oleh pihak penguasa. Orang-orang yang tidak puas oleh pergantian agama dari agama lama ke agama baru juga bersembunyi di hutan, memisahkan diri dari keramaian dunia, atau memusuhi penguasa yang baru. Mereka mencari bahaya karena berani melawan penguasa. Untuk hal-hal seperti ini, di mana orang bereaksi berpaling kesetiaannya karena merasa dirugikan, Purbajaya bisa memaklumi.

Namun, perilaku yang diperlihatkan oleh sebagian orang lagi, sungguh Purbajaya tidak mengerti. Taruhlah contoh sikap yang diperlihatkan oleh Raden Yudakara, Ki Sunda Sembawa, atau Ki Banaspati yang Purbajaya belum pernah jumpa itu. Mereka adalah orang-orang yang tengah dipercaya oleh para atasannya dan mereka pun dihargai dengan jabatan tinggi sesuai dengan pekerjaan dan kemampuannya. Namun kenyataannya, mereka sepertinya tengah gelisah dan selalu berkutat memperjuangkan "nasibnya" dengan melakukan hal-hal berbahaya yang bisa merusak reputasi yang telah mereka miliki kini.

Kehidupan apalagi yang mereka inginkan, yang menurut penilaian Purbajaya sebetulnya telah mapan ini? Dan mengingat mereka, Purbajaya jadi ingat dirinya. Sekarang, di tengah pergolakan ambisi ini, apa sebetulnya yang dikejar olehnya? Keuntungan ataukah bahaya? Tugasnya memang tidak pernah berubah, mencoba menyusup ke wilayah kekuasaan Pajajaran, yaitu Pakuan, seperti apa yang diamanatkan penguasa Carbon. Yang jadi atasannya pun tetap tidak berubah, yaitu Raden Yudakara, seperti apa yang diamanatkan pihak penguasa Carbon. Namun benarkah tugasnya ini mulus untuk kepentingan negara, padahal dia curiga atasannya yang bernama Raden Yudakara ini telah membelokkan tujuan negara yang sebenarnya? Inilah mungkin bahaya bagi dirinya.

Belum lagi dia ingat pertemuannya dengan tokoh bernama Ki Rangga Guna. Orang ini mengakui kendati dimusuhi penguasa, namun perjuangannya dalam membela Pajajaran tidak akan musnah. Dia akan melawan siapa saja yang diketahui akan mengganggu Pajajaran. Pertemuan dengan tokoh ini hanya membuktikan bahwa kasak-kusuk Raden Yudakara ataupun Ki Sunda Sembawa sebenarnya sudah diketahui oleh Ki Rangga Guna.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment