Chapter 60
Otomatis, keberadaan Purbajaya tak bisa mengelak dari incaran bahaya yang datang dari tokoh ini. Rencana penyusupan ke wilayah pusat kekuasaan Pajajaran paling tidak sudah diketahui oleh Ki Rangga Guna.
"Apakah Ki Rangga Guna akan menggagalkan rencana penyusupanku?" pikirnya seorang diri.
Purbajaya mengeluh. Bahaya memang mengancam dari mana-mana. Dia tak bisa mengelak dari tugas sebagai penyusup karena selalu berada di bawah ancaman Raden Yudakara, namun untuk melanjutkan pergerakan pun sudah diketahui lawan. Ya, akhirnya Purbajaya terperangkap di tengah-tengah.
Lari dari tugas, dia sulit sembunyi. Pulang ke Cirebon akan dituding sebagai pengkhianat, begitu pun kembali ke Sumedanglarang, akan dipertanyakan perihal korban-korban yang berjatuhan. Boleh dikata, dari semua anggota muhibah ke Karatuan Talaga yang tak pernah tiba, semuanya telah tewas dan hanya dia sendiri yang selamat. Bagaimana dia bisa bertanggung jawab, padahal kematian semua anggota muhibah tak menentu. Mereka tewas oleh cara-cara yang amat memalukan walaupun macamnya berbeda-beda.
Melarikan diri ke wilayah Pajajaran? Ah, ini pengkhianatan lebih berat lagi. Kendati orang mengatakan dia punya darah Pajajaran, namun Purbajaya menegaskan kalau dirinya adalah orang Cirebon dan hanya mau mengabdi kepada kepentingan Cirebon saja. Cirebon adalah tanah airnya dan Paman Jayaratu adalah satu-satunya keluarganya. Tak ada kecintaan lain pada dirinya selain Cirebon dan Paman Jayaratu.
Walaupun dia sebal kepada Pangeran Arya Damar, juga kepada Raden Yudakara, namun Purbajaya tak menganggap bahwa mereka adalah figur *wong grage*. Dua orang itu tak mewakili karakter orang Cirebon. Hanya yang menyebalkannya, agar dia bisa menempatkan diri sebagai orang Cirebon, maka dia harus selalu dekat kepada Raden Yudakara sebab hanya orang ini saja yang bisa "melindungi" dirinya dari tuduhan sebagai pengkhianat Cirebon. Purbajaya pun bahkan memutuskan kalau dirinya tak boleh lepas dari genggaman pemuda aneh itu.
Purbajaya menganggap Raden Yudakara ini misterius dan membahayakan Cirebon. Namun karena ini, Purbajaya jadi ingin lebih tahu sejauh mana pemuda itu merancang tipu muslihat dalam melicinkan jalan ke arah ambisinya. Kalau ternyata gerakan Raden Yudakara telah amat mendekati titik-titik rawan bagi Cirebon, apa pun yang terjadi, Purbajaya harus memutuskan sesuatu demi keselamatan negara. Namun tak dibantah oleh hatinya, bahwa Purbajaya ikut ke mana Raden Yudakara pergi juga berkenaan dengan kepentingan pribadinya sendiri. Benar atau tidak dia keturunan pejabat di wilayah Pajajaran, yang jelas kabar ini amat menggelitik hatinya dan membuatnya merasa penasaran. Ya, siapa pun akan merasa punya keinginan untuk mengetahui siapa orang tuanya. Sementara itu, Raden Yudakara mengaku tahu siapa orang tua Purbajaya. Jadi, mau tak mau, antara Raden Yudakara dengannya telah terjalin sesuatu yang intinya saling memerlukan. Purbajaya perlu Raden Yudakara karena berkaitan dengan penelusuran keluarga, sementara Raden Yudakara butuh tenaga Purbajaya untuk melicinkan kepentingan politiknya.
***
Purbajaya tak sempat tidur sebab pagi sudah menjelang. Baru saja dia menyelesaikan sembahyang Subuh, seorang prajurit Sagalaherang telah mengetuk daun pintu kamarnya. Prajurit itu mengabarkan kalau Raden Yudakara telah bersiap akan pergi dan mengajak Purbajaya agar berkemas.
Benar saja, Raden Yudakara telah siap-siap. Kali ini dua ekor kuda gagah telah disiapkan Ki Sunda Sembawa.
"Aku harap kalian tidak mengalami gangguan di Pakuan nanti," kata Ki Sunda Sembawa mengantarkan sampai halaman rumah.
Raden Yudakara diberi bekal uang logam sepundi banyaknya. Lain daripada itu, Ki Sunda Sembawa pun membekali sebuah ikatan daun lontar yang diikat pita sutra warna merah.
"Surat apakah ini, Paman?" tanya Raden Yudakara menerima sambil alis berkerut.
"Ini adalah surat untuk mempertemukan engkau dengan Ki Banaspati. Pejabat ini tak sembarangan menerima tamu. Tapi bila dibekali surat dariku, dia akan mementingkannya. Kekuatanmu dan pengaruhmu di Pakuan akan berlipat kalau mau berkenalan dengan Ki Banaspati," tutur Ki Sunda Sembawa bangga dengan nama itu.
Walau dengan sedikit kerut di dahinya, Raden Yudakara menerima lipatan daun lontar dengan penuh hormat.
"Hati-hatilah..." untuk kesekian kalinya pejabat Sagalaherang ini memberikan amanatnya.
"Tentu, saya akan hati-hati, Paman..." jawab pemuda itu.
Keduanya saling pandang dengan penuh arti. Namun Purbajaya tak memahami makna ini. Bisa saja dua-duanya saling memberikan pengertian sama, namun bisa juga masing-masing berbicara dengan maksud sendiri-sendiri. Apalagi isi hati Raden Yudakara susah diduga. Apa yang dikatakan, belum tentu itu yang dimaksud.
Keyakinan Purbajaya terbukti tak lama kemudian. Setelah kuda mereka mencongklang agak jauh dari wilayah kota, serta-merta Raden Yudakara menghancurkan bekal surat yang diberikan Ki Sunda Sembawa.
"Mengapa kau hancurkan, Raden? Bukankah dengan surat itu perjalanan kita di Pakuan agak lebih lancar?" tanya Purbajaya, tapi dengan nada biasa karena sudah tak heran akan keganjilan jalan pikiran Raden Yudakara.
"Ah, aku benci orang bernama Ki Banaspati. Siapa pun dia, aku tak mau tunduk di bawah pengaruhnya."
Purbajaya termangu-mangu. Jelas di sini, apa pun terjadi, Raden Yudakara hanya menginginkan dialah nomor satu. Bukan dia yang memohon pada orang lain, melainkan orang lainlah yang harus tunduk kepadanya. Raden Yudakara mungkin punya firasat kalau Ki Banaspati bukan sekadar bertindak sebagai pemberi semangat semata, melainkan jauh lebih dalam dari itu. Barangkali Raden Yudakara menganggap kalau kehadiran Ki Banaspati tak ubahnya sebagai pesaing yang membahayakan kedudukannya.
***
Perjalanan menggunakan kuda tentu jauh lebih cepat ketimbang dengan berjalan kaki. Tenaga pun bisa dihemat dengan baik. Oleh karena itu, perjalanan menuju wilayah Tanjungpura tidak terlalu sulit dan tidak pula terasa lelah. Apalagi dari Sagalaherang menuju Tanjungpura, perjalanan selalu melalui dataran rendah dan tidak banyak melewati pegunungan. Hanya saja, jalan pedati di wilayah ini terdiri dari tanah merah dan berdebu bila kemarau seperti ini. Kalau kaki-kaki kuda berlari agak cepat, maka akan menimbulkan debu-debu yang beterbangan di belakangnya.
Ketika memasuki kampung di mana ada orang lalu-lalang, Raden Yudakara tidak mau mengurangi kecepatan lari kuda. Maka tak ayal terdengar sumpah serapah karena debu beterbangan ke wajah pejalan kaki. Purbajaya merasa tak enak hati. Namun, dia pun terpaksa ikut memacu kuda cepat-cepat karena takut jalannya tertinggal. Di sepanjang jalan Raden Yudakara tak banyak berceloteh. Kerjanya memacu kuda keras-keras seperti orang dikejar setan. Mungkin ada sesuatu yang diburu, mungkin juga kesal karena ingatannya tentang Ki Banaspati.
Tidak makan waktu sampai dua hari, kuda yang dipacu cepat sudah tiba di wilayah kerajaan kecil bernama Karawang. Sementara Tanjungpura sendiri berupa wilayah yang dipimpin oleh seorang *kandagalante* (pejabat setingkat wedana kini). Tanjungpura ini memiliki wilayah yang luas. Ke sebelah barat dibatasi Sungai Citarum dan ke utara berupa lautan perhumaan. Dulu sebelum wilayah pesisir dikuasai Cirebon, maka pesisir dan laut pun adalah wilayahnya juga. Namun kini, Tanjungpura hanya punya lautan huma saja dan akan berubah jadi payau serta rawa di saat musim penghujan.
Dulu ketika Tanjungpura masih memiliki wilayah seutuhnya, Sungai Citarum benar-benar menjadi wilayah perdagangan air yang amat maju. Hasil dari wilayah selatan (pegunungan) dibawa berlayar sampai ke Ujung Karawang dan dijual atau ditukar dengan barang dagangan milik bangsa asing seperti Portugis, Cina, Campa (Kamboja), Madagaskar, Parsi (Iran kini), atau negeri-negeri seberang seputar Nusantara. Atau sebaliknya, kaum pedagang di wilayah pesisir mengangkut hasil pesisir untuk ditukar dengan hasil dari wilayah selatan.
Sekarang pelayaran di Sungai Citarum tidak dilakukan secara utuh. Derasnya dan lancarnya alunan Sungai Citarum seperti terputus dan tak sampai menuju wilayah Ujung Karawang karena garis politik telah memisahkannya. Sampai sekarang, wilayah Tanjungpura tetap menjadi wilayah "panas" sebab selalu terjadi tarik-menarik pengaruh antara Cirebon dan Pakuan. Hal ini terjadi karena Tanjungpura berada di daerah utara yang potensial untuk jalur ekonomi internasional. Pajajaran tetap bertekad agar wilayah ini tetap berada di bawah pengaruhnya. Sementara Cirebon pun berupaya agar sedikit demi sedikit pengaruh yang sudah masuk di wilayah pesisir bisa semakin merembes ke wilayah pedalaman (selatan).
Tanjungpura dan Karawang strategis karena aliran Sungai Citarum itulah. Sementara sungai lebar itu kini dianggap benteng alam bagi wilayah Pakuan. Bila Citarum seutuhnya bisa dikuasai Cirebon, maka satu "benteng" bisa ditembus. Sungai Citarum adalah jalur lalu lintas menuju pedalaman. Kalau sungai ini dikuasai Cirebon, artinya wilayah pedalaman Pajajaran bisa dikuasai. Padahal tak mudah menguasai wilayah pedalaman di wilayah barat ini. Itulah sebabnya, Purbajaya dikirim menyelusup ke wilayah barat. Tugasnya adalah membantu para penyusup yang lainnya agar ikut "membobol" wilayah-wilayah pedalaman ini.
Namun ketika memasuki wilayah ini, tidak terlihat hal-hal istimewa. Di pasar, orang sibuk dengan urusan ekonomi. Mereka mengadakan tukar-menukar barang atau mengadakan transaksi jual-beli bagi pedagang besar yang memiliki persediaan uang logam, baik uang logam Portugis, Cina, atau negeri-negeri lain. Penduduk yang bukan pedagang pun tidak terlihat risau dalam melakukan kegiatan lainnya. Nelayan dengan senangnya mengambil ikan di rawa atau di sungai, petani pun damai menanam padi di huma. Mungkin hanya masyarakat yang kenal politik saja yang risau. Mereka menjalani hidup ini dengan penuh waswas dan curiga. Setiap saat mereka mesti bercuriga kepada siapa saja.