Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 61

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 61

Kecurigaan bisa ditujukan kepada pedagang yang datang dari pesisir, bisa juga kepada nelayan yang mengarungi Sungai Citarum, dengan sangkaan mereka bekerja ganda sebagai mata-mata.

Mereka menaruh curiga ke sana kemari karena sadar Tanjungpura dan Karawang seluruhnya sedang dijadikan ajang rebutan pengaruh antara pihak yang tengah mempertahankan dan pihak yang ingin merebut.

Sementara karena wilayah ini amat berdampingan dengan wilayah batas, sulit dibedakan mana yang benar-benar penduduk asli dan mana yang datang dari wilayah utara.

Mana orang-orang utara yang benar-benar pedagang dan mana pula yang hanya datang karena urusan politik.

Penguasa Tanjungpura tidak bisa bekerja pukul rata, misalnya menetapkan orang utara tak boleh masuk selatan atau pun sebaliknya. Karena mereka butuh perdagangan, hal-hal yang bersifat ekonomi lebih dipentingkan.

Oleh karena itu, tampaknya orang-orang Pajajaran tidak bersikap atau berupaya membuat pencegahan, melainkan hanya melakukan tindakan bagi mereka yang terbukti membuat kekisruhan politik saja.

Namun demikian, Purbajaya harus tetap berhati-hati. Toh bagi dirinya, Pajajaran adalah wilayah yang baru dikenalnya. Kalau tidak perlu benar, dia jarang bicara.

"Engkau akan kuperkenalkan dengan salah seorang kerabatmu, Purba," kata Raden Yudakara sambil membelokkan arah kuda menuju ke jalan simpang yang lebih kecil.

Jalanan itu penuh bebatuan bercampur tanah merah. Berdebar hati Purbajaya. Ini memang janji Raden Yudakara bahwa bila Purbajaya ikut padanya, maka ia akan diperkenalkan kepada kerabat-kerabatnya. Siapakah kerabatnya itu? Apa hubungan keluarganya dengannya? Purbajaya begitu bergairah untuk segera mengetahuinya.

"Engkau akan bertemu dengan paman misanmu sendiri," kata Raden Yudakara seolah ingin menjawab rasa penasaran di hati Purbajaya.

"Maksud Raden, adik ayahandaku?"

"Ya, tidak persis begitu. Namun, Ki Jayasena benar-benar merupakan kerabat dekatmu yang tersisa oleh..."

"Maksud Raden yang tersisa oleh peperangan antara Cirebon dan Pajajaran, bukan?" sambung Purbajaya karena Raden Yudakara terlihat ragu-ragu membicarakannya.

"Benar. Tapi maafkan mertuaku," gumam Raden Yudakara sambil tersenyum pahit.

Purbajaya menerimanya dengan senyum kecut. "Tidak ada urusan pribadi di sini. Mertuaku, Pangeran Arya Damar, berjuang melaksanakan misi negara dan ayahandamu berjuang membela serta mempertahankan negeri. Kesalahannya mungkin terletak pada siapa yang kalah dan siapa yang menang saja," Raden Yudakara mencoba meluruskan persoalan.

Namun, Purbajaya masih tersenyum kecut. Bukan saja karena urusan peperangan yang melibatkan dua negeri yang telah menewaskan ayahanda dan keluarganya, tetapi juga karena mendengar sebutan "mertua" yang diucapkan Raden Yudakara untuk Pangeran Arya Damar. Ia tersenyum kecut karena dengan demikian, Raden Yudakara hanya mengingatkan perihal kelicikannya kepada Purbajaya dalam urusan Nyimas Waningyun.

Ya, bukankah pemuda pecumbu gadis ini telah "merebut" cinta Nyimas Waningyun dari genggaman Purbajaya? Purbajaya berpikir betapa sebenarnya Raden Yudakara tak pernah memiliki perasaan bersalah terhadap tindakan apa pun yang sebenarnya bisa melukai hati orang. Purbajaya khawatir, kalau orang-orang yang hanya bergelut dengan urusan dan kepentingannya sendiri bisa menguasai dunia, maka isi dunia akan kacau oleh peperangan dan ketidakadilan.

Kalau orang seperti Raden Yudakara diberi keleluasaan berkuasa, maka kemelut akan terus terjadi sebab ia tidak pernah merasa bersalah atas tindakan-tindakan yang merugikan orang lain.

"Singkirkan perasaan pribadimu. Engkau adalah milik negara, maka hanya negara yang harus engkau pikirkan, Purba," kata Raden Yudakara memecahkan lamunan Purbajaya.

Purbajaya tersenyum kecil. Aneh rasanya orang seperti Raden Yudakara bisa memberi petuah sebagus ini. Namun, berbarengan dengan pujian ini, hatinya pun merasa bergidik. Begitulah mungkin orang yang tak pernah introspeksi terhadap perilakunya sendiri. Karena tak pernah sadar akan kekeliruannya, ia tidak akan malu-malu memberikan nasihat kepada orang lain seolah dirinya orang benar dan tak pernah cacat perilakunya.

Purbajaya bergidik sebab orang seperti ini hanya melihat keluar saja. Hanya orang lain yang terlihat banyak kekurangan dan banyak salah sehingga perlu dikoreksi dan dinasihati, sementara dirinya dibiarkan lolos berbuat kesalahan karena ia tidak merasakannya.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, saya sudah terlalu kangen untuk bersua dengan satu-satunya kerabat saya, Raden," kata Purbajaya karena hatinya kesal dengan nasihat Raden Yudakara ini.

"Jalannya ke arah sini, Purba," kata Raden Yudakara sambil membedal tali kekang kudanya. Ia memang berbelok ke simpang lainnya lagi. "Kau nanti bisa bicara banyak. Kau akan tahu siapa ayahandamu," kata Raden Yudakara di tengah perjalanan.

Berjalan beberapa lama melewati tanah luas beralang-alang, tibalah mereka di sebuah perkampungan kecil. Disebut kecil karena hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Namun yang mencolok, dari kelompok rumah ini ada satu yang terlihat besar dan bagus. Rumah panggung yang cukup tinggi disangga kayu jati pilihan. Atapnya dari rumbia. Di depan ada beranda luas terbuka dan di tengahnya dipasang meja setinggi setengah depa. Purbajaya menduga rumah besar ini milik Ki Jayasena yang disebut-sebut sebagai kerabatnya.

Untuk masuk ke perkampungan ini mesti melewati lawang kori (gerbang) yang kalau malam mungkin ditutup rapat untuk menjaga diri dari gangguan binatang buas atau pun orang jahat. Siang hari ini gerbang terkuak lebar sehingga Raden Yudakara dan Purbajaya leluasa memasuki halaman. Di sana, mereka segera disambut seseorang.

"Kami mau bertemu Ki Jayasena," kata Raden Yudakara.

"Kebetulan beliau ada di rumah. Mari saya antarkan," kata orang itu dengan hormat.

Purbajaya mau ikut di belakang ketika tiba-tiba Raden Yudakara mencegahnya.

"Engkau tinggal dulu di sini, Purba," kata pemuda itu, yang amat mengherankan Purbajaya. Ia berpikir, mengapa pertemuan dengan kerabatnya mesti ditunda dulu, padahal tidak ada salahnya langsung dipertemukan saja. Sementara Purbajaya berpikir begitu, Raden Yudakara sudah memasuki halaman rumah besar itu.

"Engkau bisa duduk menunggu di bale besar, anak muda," kata penghuni yang akan mengantar Raden Yudakara. Purbajaya yang sudah menambatkan kudanya segera menuju tempat yang sudah ditunjukkan, yaitu sebuah bangunan berupa paseban yang terletak di tengah tanah terbuka.

Orang itu tak berapa lama kemudian datang dan menemani Purbajaya. "Engkau datang dari mana, anak muda?" tanyanya. Tindak-tanduknya tidak begitu hormat seperti tadi. Barangkali dia sadar kalau yang perlu dihormat hanya Raden Yudakara saja. Purbajaya mungkin dianggapnya badega (pelayan) Raden Yudakara, makanya disuruh menunggu di luar saja.

"Saya dari wilayah Sagaraherang," jawab Purbajaya singkat.

"Dia tadi majikanmu, ya?"

"Benar."

"Dia pejabat di Sagaraherang, ya?"

"Mana saya tahu?"

"Lho?"

"Saya belum begitu lama mengabdi padanya. Lagi pula, masa seorang badega berani tanya ini-itu sama majikan?" Purbajaya berkata ketus karena jengkel. Ia memang sedang jengkel. Ia merasa tersinggung oleh perlakuan Raden Yudakara yang tidak segera mempertemukan dirinya dengan Ki Jayasena, kerabatnya.

"Bekerjalah lebih lama pada majikanmu agar kau mendapatkan kemajuan," kata orang itu akhirnya.

Purbajaya menoleh. "Bagaimana bisa bicara begitu? Engkau kan belum kenal majikan saya?" Purbajaya heran dibuatnya.

"Aku hanya bisa menduga saja. Setiap yang berhubungan dengan Juragan Jayasena pasti orang penting. Jadi aku pikir, yang bekerja pada orang penting suatu saat hidupnya terangkat juga," jawab orang itu.

"Saya ini kerabat majikanmu," kata Purbajaya untuk menghapus rasa penasaran orang itu.

Diberitahu perihal ini, orang tersebut malah semakin penasaran. Matanya terlihat membelalak. Tahu rasa, kini kau harus membungkukkan punggungmu padaku, pikir Purbajaya. Namun nyatanya, orang itu tidak mengubah sikap, kecuali menunjukkan rasa heran.

"Kok aneh, Juragan selama ini tak pernah bilang punya kerabat dari Sagaraherang atau dari mana pun juga. Lagi pula, kalau kau benar kerabat Juragan Jayasena, mengapa tak lantas masuk saja ke rumah beliau?" tanya orang ini dengan sangat menyangsikan, membuat mulut Purbajaya cemberut karena tidak dipercaya.

Kembali hati Purbajaya jengkel. Mau menerangkan, ceritanya bakal panjang. Lagi pula tak ada untungnya bicara pada orang ini.

"Aku putra penguasa Tanjungpura!" tandas Purbajaya agar orang itu jadi segan kepadanya.

Namun, kembali Purbajaya kecele. Ketika Purbajaya mengatakan hal ini, orang itu malah tertawa. "Jangan mengaco kamu. Keluarga dari penguasa Tanjungpura tak mungkin keluyuran ke sini. Juragan Jayasena tak menyukai Kandagalante Subangwara," kata orang itu sambil tertawa lepas.

"Dulu, dulu!" potong Purbajaya.

Orang itu sejenak menatap, tidak mengerti ucapan Purbajaya. "Maksud saya, saya ini anak Kandagalante yang dulu."

"Dulu yang mana? Sejak dulu sudah belasan yang jadi penguasa wilayah ini," giliran orang itu yang jengkel karena Purbajaya dianggapnya bicara ngawur.

"Dulu ada Kandagalante yang tewas saat diserbu pasukan Cirebon! Nah, kau ingat, kan? Apalagi penguasa yang tewas itu adalah kerabat Ki Jayasena!" tandas Purbajaya jengkel.

"Kerabat?" Keheranan orang itu tidak bisa tuntas sebab Raden Yudakara keburu datang bersama seorang lelaki setengah baya berpakaian jenis santana. Yang membuat Purbajaya heran, lelaki itu datang sambil air mata deras bercucuran. Tampak sekali ia ingin dilihat orang bahwa dirinya tengah menangis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment