Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 62

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 62

"Di mana kemenakanku? Di mana dia?" katanya tergopoh-gopoh mendekati Purbajaya.

"Oh, engkaukah Purbajaya? Benar, engkau rupanya kemenakanku!" Purbajaya tak sempat menghindar ketika orang tua itu menubruk dan memeluk dirinya erat-erat.

"Kau kemenakanku, kasihan nasibmu buruk. Oh, nasibmu buruk..." lelaki itu menepuk-nepuk punggung Purbajaya.

"Dia Ki Jayasena, pamanmu sendiri, Purba. Berbaktilah kepadanya..." ujar Raden Yudakara tersenyum tipis.

Ada sedikit ganjil memang. Namun apa pun, rasa haru ternyata menyelinap juga ke sanubari Purbajaya. Betapa tidak, selama belasan tahun dia hidup, baru kali ini ada orang mengaku kerabatnya. Lantas Purbajaya digandeng dibawa ke rumah besar, rumah yang tadi dikunjungi Raden Yudakara.

"Ini adalah peristiwa yang mengagetkan semua orang. Maafkan aku kalau kau tak langsung dibawa serta. Aku perlu menjelaskan secara rinci dan hati-hati agar tak mengagetkan dan juga agar kita dipercaya," kata Raden Yudakara seolah bisa menebak keheranan di hati Purbajaya.

"Memang tadinya sulit dipercaya. Aku sudah mengira kalau semua handai taulanku tewas dalam penyerbuan itu. Tak diduga masih tersisa kau. Maafkan aku. Kalau tak ada jasa Raden Yudakara, tak nanti kita bisa bertemu..." kata Ki Jayasena duduk dekat-dekat bersama Purbajaya.

Malamnya Purbajaya dijamu besar-besaran. Berbagai makanan dan minuman disediakan sebanyak-banyaknya. Malam itu seisi kampung diundang hadir, dan Purbajaya diperkenalkan sebagai keturunan satu-satunya dari Kandagalante Sura Manggala yang tewas dalam peperangan melawan Carbon, belasan tahun silam.

"Namun, itu adalah peristiwa lama dan anak muda ini tak akan mengutak-atiknya lagi," kata Ki Jayasena.

Ucapan ini menyiratkan maksud kalau masalah permusuhan dengan Carbon jangan dibesar-besarkan. Begitu arti ucapan yang tertangkap oleh Purbajaya. Ki Jayasena ingin masalah dengan Carbon ditutup sampai di situ. Sebab kalau dibesar-besarkan, berarti Purbajaya punya niat balas dendam kepada Carbon. Dan kalau Ki Jayasena bicara begitu, hanya mengisyaratkan bahwa dirinya telah berkiblat pula ke Carbon.

Purbajaya tak berarti harus gembira dengan pernyataan ini. Pamannya ini sudah jadi orang Carbon, atau sekurang-kurangnya dia adalah orang Pajajaran yang hatinya telah berpaling ke Carbon. Namun siapakah yang mempengaruhinya? Purbajaya bisa tegar menerima kenyataan ini karena sejak kecil dia hidup dan dibesarkan dengan jiwa Carbon. Namun, Ki Jayasena tetap berdiri sebagai orang Pajajaran. Amat mengherankan, kematian seorang saudara tidak menimbulkan kebencian kepada si penyebabnya, bahkan sebaliknya dengan entengnya berpihak kepada lawan.

Purbajaya menduga kalau yang mempengaruhi Ki Jayasena ini adalah Raden Yudakara. Dan kalau benar begini, Purbajaya pun harus hati-hati. Ki Jayasena boleh jadi saudara, tapi dalam politik tidak. Purbajaya merasa kalau Ki Jayasena walaupun berkata Carbon, namun bukan berarti bekerja untuk kepentingan Carbon. Purbajaya yakin begitu karena melihat siapa yang berdiri di belakang Ki Jayasena ini. Kebenarannya memang belum tentu begitu sebab Purbajaya baru menduga-duga saja. Namun demikian, Purbajaya akan menyelidikinya. Bila belakangan diketahui Ki Jayasena terseret pengaruh Raden Yudakara, maka Purbajaya harus memperingatkannya.

***

Purbajaya masih sangsi akan kenyataan ini. Benarkah Ki Jayasena ini pamannya? Dia belum sepenuhnya percaya. Sikap Ki Jayasena mencurigakan. Purbajaya pernah memergoki Ki Jayasena marah habis-habisan kepada orang yang pernah mengobrol dengan Purbajaya di saat Purbajaya menunggu saat pertemuan dengannya. Purbajaya teringat, waktu itu pembantu Ki Jayasena heran ketika Purbajaya mengaku kerabat penghuni di sini. Bahkan ketika disebutkan bahwa Ki Jayasena adalah kerabat ayahanda Purbajaya, pembantu itu pun heran. Sepertinya pembantu itu menyangsikan ucapannya ini. Dan Ki Jayasena memarahi pembantu itu karena masalah ini.

"Kalau kau banyak bicara lagi, kau akan kubunuh!" desis Ki Jayasena kepada pembantunya.

Purbajaya penasaran melihat peristiwa ini. Maka dia memutuskan untuk menemui pembantu itu. Namun, sudah beberapa hari si pembantu tak kelihatan batang hidungnya. Bahkan sepertinya orang itu lenyap ditelan bumi karena Purbajaya tidak bisa menemukan di mana dia berada. Purbajaya coba tanya sana-sini, tidak seorang pun berkata pernah kenal pembantu itu.

"Siapa sih namanya?" tanya seorang pembantu yang sempat Purbajaya tanyai.

Ditanya begini, Purbajaya garuk-garuk kepala. Dia memang tak sempat mengetahui nama orang itu. "Dia bertubuh gemuk, kumisnya jarang, dan sudah beruban," kata Purbajaya menjelaskan. Namun, yang ditanya hanya mengerutkan alis. "Juragan Jayasena banyak memiliki pembantu. Kadang-kadang kerja belum begitu lama, sudah minta berhenti. Dengan begitu, kami tak sempat lama berkenalan dengan sesama pembantu," kata orang itu membuat Purbajaya kecewa.

Akhirnya pencarian dihentikan. Dia tanya sana-sini secara diam-diam karena tak mau dicurigai Ki Jayasena. Namun karena mengambil cara seperti itu, maka upaya pencarian semakin sulit. Pembantu yang dia cari hilang misterius. Namun ini bukan berarti Purbajaya putus asa. Hilangnya si gemuk berkumis jarang itu bahkan semakin menambah kecurigaan di hatinya. Rasanya seisi kampung ini bersikap aneh. Masa ada seorang pembantu yang hilang, seorang pun tak pernah mempertanyakannya.

***

Ki Jayasena punya seorang anak gadis bernama Nyi Sumirah. Gadis ini sudah tak memiliki ibu karena sejak kecil telah ditinggal mati. Yang kaya dimiliki oleh gadis itu malah ibu tirinya. Kata penghuni di sini, bulan lalu Ki Jayasena baru saja melangsungkan pernikahan dengan gadis yang usianya sebaya putrinya. Herannya, Nyi Sumirah sendiri belum mau menikah. Usianya sudah cukup, sekitar tujuh belasan. Padahal di tempat itu, banyak anak gadis usia dini sudah cerai-kawin beberapa kali.

Dalam beberapa hari saja, Purbajaya sudah kenal baik kepada Nyi Sumirah. Ternyata dia adalah gadis manja. Setiap hari kerjanya hanya ingin dilayani oleh inang pengasuhnya saja. Tak pernah mengerjakan pekerjaan yang bersifat kewanitaan kecuali bermain-main saja. Nyi Sumirah pun banyak temannya, baik sesama wanita maupun kaum pria. Dan nampaknya hubungan di antara mereka terlalu akrab dan hampir tak ada batasnya. Kalau bulan lagi purnama, katanya anak-anak muda di sini senang bergerombol saling bercengkerama.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment