Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 63

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 63

"Malah saya tak punya penderitaan apa pun, Nyai," potong Purbajaya.

"Justru karena begitu, engkau semakin sombong!" tukas Nyi Sumirah tanpa basa-basi.

Purbajaya jadi serba salah untuk berdebat dengan gadis itu. "Jadi, saya mesti bagaimana?" keluh Purbajaya akhirnya.

"Mesti bagaimana? Ya, bergabunglah dengan kami. Perlihatkan seolah-olah kau pun punya kesatuan pendapat dalam hal kegembiraan di bulan purnama ini. Lagi pula, kau mesti bergabung sebab ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata Nyi Sumirah.

"Seseorang...?"

"Ya. Sayang, ya..."

"Mengapa sayang?"

"Kau saudaraku. Padahal kalau bukan, aku senang bercengkerama denganmu."

"Oh..."

"Tapi kau bakal punya pasangan. Lihatlah, dia datang!" kata Nyi Sumirah menunjuk seseorang yang datang.

Itu adalah seorang gadis rupawan. Walau hanya diterangi cahaya bulan, wajah gadis itu tampak cantik. Mungkin kulitnya hitam manis sebab ketika terkena cahaya bulan, wajah itu tidak tampak putih pucat.

"Ini dia Nyimas Wulan. Purba, ayo kenalan dengannya!" Nyi Sumirah membetot tangan gadis yang baru datang itu dan menempelkannya pada lengan Purbajaya.

"Ayo cepat kenalan dengan putri terkasih Juragan Ilun Rosa. Eh, kok seperti tikus takut kucing. Wulan, kenapa diam saja? Tadi bukannya kau cari-cari Purbajaya?" Nyi Sumirah terus menggoda keduanya.

"Hus, siapa bilang?"

"Nah, mau bohong, ya? Bila Purbajaya tak ada, kau suka tanya sana-sini. Sekarang malah pura-pura tak butuh," kata Nyi Sumirah lagi.

"Ah, bohong itu. Bohong itu!" Nyimas Wulan pura-pura marah, membuat hati Purbajaya jadi canggung.

"Ah, kehadiran saya jadi mengganggu kalian. Saya mau pulang saja," kata Purbajaya berjingkat karena merasa serba salah. Gadis-gadis Tanjungpura ternyata berani dan amat menantang. Purbajaya tak terbiasa menghadapinya, maka ia memilih pergi dari tempat itu.

"Hai, jangan begitu. Sombong kau, ya?" lagi-lagi Nyi Sumirah mencercanya. Purbajaya tak jadi pergi. Ia riskan dengan tuduhan sombong itu. Purbajaya kembali duduk di bale-bale, namun hatinya tidak enak sebab para pemuda di ruangan bale gede terlihat memperhatikannya.

"Saya mau pergi saja," Purbajaya kembali berjingkat. Ia takut disatroni para pemuda yang tersinggung karena ia terlihat "dikepung" dua gadis yang sebetulnya tadi tengah bergabung dengan mereka.

Untung saja dalam suasana serba kikuk itu hadir Raden Yudakara. Keadaan agak berubah sebab pemuda pesolek ini mengambil alih kendali percakapan. Namun, Purbajaya merasa sebal. Sudah pasti, bila pemuda ini berhadapan dengan wanita, penyakitnya akan kambuh.

"Oh hai, rembulan di atas sana sudah sedemikian indahnya..." Raden Yudakara berpuisi dengan suara mendayu-dayu.

Para gadis yang mendengar buaian merdu ini pasti akan berbunga-bunga hatinya, tapi tidak dengan Purbajaya. Ia sudah hafal betul taktik gombal pemuda hidung belang ini. Hati Purbajaya menduga, sebentar lagi ia pasti akan melanjutkan puisinya, "...tapi indahnya rembulan tidak akan sanggup mengalahkan indahnya paras gadis-gadis ini."

Dan benar saja, Raden Yudakara melantunkannya dengan mendayu. Purbajaya melengoskan wajahnya ke samping.

"Tak disangka Ki Jayasena pandai menyembunyikan bunga-bunga indah di taman rumahnya," sambung Raden Yudakara.

Kalimat ini terasa menyebalkan karena bukan sekali saja ia berkilah seperti itu. Mungkin dulu Pangeran Arya Damar terpikat sampai menyerahkan Nyimas Waningyun pun karena mendengar puisi gombal ini.

"Nyimas Wulan tidak tumbuh di taman pekarangan Ayahanda, sebab dia adalah putri tunggal Juragan Ilun Rosa," Nyi Sumirah menegaskan bahwa di taman rumahnya, bunga indah hanyalah dirinya seorang.

"Oh, ya? Nyatanya banyak pemilik halaman pandai menyemai bunga indah. Aku belum kenal Juragan Ilun Rosa. Namun wahai gadis berparas elok seelok rembulan, engkau semerbak, tubuhmu bertabur bintang. Kalau saja engkau belum dihinggapi kumbang..."

"Hei, bukankah itu ucapanmu tadi malam padaku, Raden?" Nyi Sumirah mendelik marah.

"Oh, ya?"

"Oh ya, oh ya! Yang benar saja. Sebetulnya siapakah gadis yang engkau puja, engkau puji, dan engkau cintai itu? Aku ataukah yang lain?" Nyi Sumirah berkata lantang sepertinya semua orang yang ada di situ bisa mendengarnya.

Keduanya bersilang pendapat. Maka sebelum mendengar lebih jauh pertengkaran itu, Purbajaya segera meninggalkan tempat itu. Ia semakin sebal kepada Raden Yudakara, sekaligus sebal pula kepada dirinya sendiri. Hanya karena kemampuannya yang terbatas, selama ini ia tak bisa melepaskan diri dari kungkungan pemuda bangsawan aneh itu.

Tak dinyana, ketika ia berjalan sendirian, ada gerakan orang yang sepertinya mengikutinya dari belakang. Purbajaya cepat menengok, "Nyimas Wulan..." katanya perlahan.

"Nyimas, kau mengikutiku?" tanya Purbajaya heran.

"Tidak, saya mau pulang..." jawab gadis itu.

"Pulang? Purnama belum sirna, pesta belum usai, dan teman-temanmu masih bergelimang kegembiraan. Maka alangkah anehnya bila engkau malah memilih pulang," kata Purbajaya "menegur" gadis itu.

"Kau sendiri pun tak suka hura-hura. Kau bahkan angkuh dan sombong!" tukas gadis itu.

"Angkuh dan sombong?" Purbajaya melongo. Sudah dua orang gadis Tanjungpura yang menuduh ia berlaku sombong. Karena heran, Purbajaya menghentikan langkahnya sehingga akhirnya mereka berdua bisa jalan berdampingan. Bulan semakin benderang dan malam semakin indah.

"Saya tak mau diganggu Raden Yudakara, makanya lekas pulang," ujar gadis itu.

"Sendirian begini?"

"Mengapa tidak? Tak ada yang sudi mengantar saya pulang..." jawab gadis itu.

"Banyak gadis merasa bahagia disanjung Raden Yudakara, mengapa kau tidak? Padahal nampaknya Raden Yudakara menyenangimu dan kau pasti akan diantar pulang," kata Purbajaya menguji.

Karena jalanan agak berbatu, Purbajaya mencoba memegang tangan gadis itu untuk membimbing mencari jalan yang rata. Gadis itu balik memegang tanpa sungkan dan ragu.

"Gadis memang perlu disanjung. Tapi bila berlebihan seperti itu, saya tak senang. Seorang gadis bahkan tak bakal senang bila sanjungan dan pujian malah dibagi ke mana-mana," kata Nyimas Wulan.

Purbajaya mengangguk puas karena pemuda hidung belang itu dicerca gadis ini. "Tapi saya pun tak menyenangi pemuda angkuh dan sombong," kata gadis itu lagi.

Purbajaya merandek. "Akukah itu?" tanyanya menuding hidung sendiri.

"Ya, mengapa tidak? Engkau pria sombong yang tak mau menegur gadis. Masa mesti gadis duluan yang menegurmu?" tanya Nyimas Wulan.

"Aku berbuat seperti itu karena takut menyinggung perasaan orang lain," jawab Purbajaya. Ia tahu, beberapa pemuda Tanjungpura yang tengah berkumpul di sana sudah memperhatikan dirinya dengan penuh curiga dan rasa tidak senang ketika Purbajaya dikerubuti dua gadis sekaligus. Purbajaya hafal pengalaman, banyak pemuda benci dirinya karena disenangi gadis.

"Tapi saya malah tersinggung dengan sikapmu. Sepertinya saya tak ada harganya di matamu," kata Nyimas Wulan dengan nada ketus namun manja.

Purbajaya melongo. Ia tak bisa mengerti kalau kelakuannya yang jujur dan sopan malah menyinggung perasaan gadis. "Jadi, mesti bagaimana?" tanyanya.

"Ya, bergabunglah secara wajar. Kalau orang lain bersenda gurau, maka ikutlah bersenda gurau, jangan seenaknya memisahkan diri."

"Kalau orang lain merayu wanita?"

"Ya... Ah, kau ini dungu amat, sih?" Nyimas Wulan mencubit lengan Purbajaya keras sekali sehingga pemuda itu berteriak kesakitan.

"Hai, lelaki malah teriak-teriak kesakitan. Bagaimana kalau ada orang lari ke sini mau menolongmu? Apakah kau tega kalau saya dituding mengganggu dan menganiaya pria?" tanya gadis itu pura-pura cemas. Kepalanya celingukan ke sana kemari sepertinya benar-benar takut ada orang lain mendatangi tempat itu.

Wajah Purbajaya bersemu merah namun tertawa ceria. Baru kali ini ia tertawa karena melihat seorang gadis melucu. "Gadis-gadis Tanjungpura gemar mengganggu pria, ya?" tanyanya.

"Ih, maunya!" sergah Nyimas Wulan sambil bersiap hendak mencubit lengan Purbajaya. Namun pemuda ini sudah siap-siap karena sudah menduganya. Maka dua pasang tangan saling berkutat; yang satu hendak mencubit, lainnya hendak menghalau. Lantas, keduanya tertawa gembira.

Mereka berdua baru bertemu, baru berkenalan, tapi keduanya sudah saling akrab. Melangkah pun sudah saling bergandengan tangan. Aneh rasanya. Purbajaya pun tak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Mungkin karena rasa akrab yang diberikan gadis itu, atau bisa juga karena naluri kelelakian Purbajaya yang haus akan kasih sayang seorang gadis.

Ketika secara berani gadis itu mengecup pangkal lengannya, pemuda itu pun tak ragu membalasnya. Purbajaya diantar pulang ke pekarangan rumahnya, namun gadis itu akan masuk rumah secara sembunyi-sembunyi.

"Engkau sudah terbiasa keluar-masuk rumahmu secara sembunyi, Nyimas?" tanya Purbajaya heran.

"Siapa bilang?"

"Kalau begitu, mengapa tak berani jalan belakang?" tanya Purbajaya lagi.

"Saya pergi ke rumah Nyi Sumirah bersama sepupuku, Sedabanga. Sekarang malah pulang diantar lelaki asing. Coba, berani tidak engkau berhadapan dengan ayahandaku yang pemberang, sementara kau sudah berani pegang-pegang tangan saya?" tanya gadis itu sambil melihat pergelangan tangannya yang dipegang erat Purbajaya.

Purbajaya terkejut dan langsung melepaskan tangan gadis itu dengan wajah terasa merah karena malu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment