Chapter 64
"Nah, takut, ya? Jadi apalagi kalau mesti ketemu muka," Nyimas Wulan menakut-nakuti.
"Lantas, mengapa kau tak pulang bersama sepupumu itu?"
"Dia mabuk berat. Jangankan bisa jalan, duduk saja sudah oleng. Makanya saya pulang sendirian saja. Tapi, apakah engkau menyesal telah mengantar saya pulang?" kata gadis itu.
"Ah... bukan itu maksudku, Nyimas..."
"Kalau begitu, maukah kau mengantarku lagi?" Nyimas Wulan terus mendesak dengan pertanyaan susulan.
"Apakah engkau akan terus-terusan pulang malam, Nyimas?"
"Uh... baru segini saja sudah mengeluh. Apalagi kalau diperintah bertempur memperebutkan saya!" omel gadis itu cemberut. "Yang benar saja, mana ada gadis keluyuran tiap malam?" lanjutnya ketus.
"Habis pertanyaanmu tadi, Nyimas...?" Purbajaya gagap karena gadis ini aneh-aneh saja bicaranya.
"Dasar dungu. Sekali waktu kan bisa saja ada lagi keramaian. Kalau bulan lagi purnama, anak-anak di sini gemar bergembira. Para orang tua pun gemar berpesta pora, apalagi kalau bulan purnama seusai panen, pesta selalu diadakan meriah," kata Nyimas Wulan. "Makanya tak aneh bila kami keluar malam."
"Kami?"
"Ya, karena ayahandaku pun sama menyenangi kegembiraan. Seperti malam ini, ayahanda pasti minum-minum tuak di kedai," jawab gadis itu membuat Purbajaya agak tertegun.
"Sudahlah, cepat kau pulang. Bila ketahuan orang yang lagi tugur (meronda), kau pasti ditangkap dan digebuki," kata gadis itu mendorong tubuh Purbajaya agar lekas pergi.
Namun sebelumnya, ada kecupan manis dari bibir gadis itu membuat Purbajaya kelabakan karena malu sendiri.
"Eh, malah diam! Awas, kepergok tugur kau pasti dipaksa menikahiku!" celoteh gadis itu menahan tawa dan mencoba menakuti Purbajaya sepertinya urusan menikah amat ditakuti kaum lelaki.
Purbajaya mengangguk dan berniat undur diri ketika secara tiba-tiba gadis itu kembali menciumnya. Hanya sejenak saja, namun cukup membuat tubuh Purbajaya menggigil seperti menderita panas dingin mendadak. Purbajaya pulang sendirian menuju rumah Ki Jayasena dengan perasaan tak berketentuan. Ini adalah kejadian luar biasa dan baru kali ini dialami dalam hidupnya. Bersama gadis seperti Nyimas Waningyun dan apalagi bersama Nyimas Yuning Purnama, tak mudah cium-mencium. Namun bersama gadis Tanjungpura ini, kok segalanya berjalan serba cepat.
Ketika tiba di pelataran rumah, keramaian pesta bulan purnama sudah usai. Yang terlihat duduk sendirian di bale gede adalah Ki Jayasena, sepertinya menunggu seseorang. Nyatanya yang ditunggu adalah Purbajaya.
"Kau baru pulang, Purba?" tanya Ki Jayasena dengan suara dingin menatap tajam.
"Saya baru saja mengantar Nyimas Wulan..." jawab Purbajaya. Perasaannya tak enak.
"Maksudmu mengantarkan putri Juragan Ilun Rosa?" tanya Ki Jayasena.
"Begitu menurut penuturan putrimu..."
"Juragan Ilun Rosa adalah kerabat dekat Kandagalante Subangwara, penguasa Tanjungpura kini," kata Ki Jayasena.
Purbajaya menatap tajam karena tak tahu apa hubungannya dengan ini. Lalu Ki Jayasena mengajak Purbajaya duduk di sana.
"Dengarkan, Ki Subangwara adalah musuh keluargamu," desis Ki Jayasena.
"Bukankah ayahanda tewas dalam peperangan melawan Carbon?" tanya Purbajaya heran.
"Memang benar. Tapi yang menyengsarakan hidup keluargamu bukan peperangan. Mati dalam peperangan ketika mempertahankan negara adalah kebanggaan. Yang disesalkan, ayahandamu adalah pejabat yang tak disukai penguasa Pakuan."
"Berdosakah ayahanda kepada negara?"
"Tidak disukai penguasa bukan karena berdosa. Fitnah dan persaingan tak sehat sesama pejabat pun bisa membuat pejabat lainnya terpuruk. Kandagalante Sura Manggala, ayahandamu, amat setia kepada negara, namun difitnah pesaingnya bernama Ki Subangwara. Tanjungpura ini wilayah rawan karena amat berdempetan dengan wilayah yang sudah dikuasai Carbon. Subangwara melapor ke Pakuan dan mengabarkan seolah-olah ayahandamu sedikit demi sedikit memasukkan pengaruh Carbon ke wilayah Tanjungpura," kata Ki Jayasena.
"Terbuktikah tuduhan itu?"
"Yang jelas, semua orang tahu kalau ayahandamu telah mempertahankan keberadaan negeri sampai titik darah penghabisan. Namun karena kuatnya pengaruh fitnah, kematian ayahandamu tidak memengaruhi penilaian Raja terhadap pengorbanan ayahandamu. Ini yang amat disesalkan. Terbukti atau tidak, aku sebagai kerabat Ki Sura Manggala amat benci kepada Ki Subangwara. Lihatlah, betapa jabatan yang dia miliki sekarang berlumur darah ayahandamu," kata Ki Jayasena geram dan mengepalkan tinjunya. "Aku akan hancurkan Si Subangwara ini!" teriaknya parau.
"Melawan pejabat Pakuan berarti memberontak terhadap negara," gumam Purbajaya namun hatinya sedikit menyelidik isi hati Ki Jayasena.
"Mengapa mesti takut dituduh melawan penguasa? Pakuan sedang menjelang kehancuran sebab sudah banyak negara bawahannya yang telah melepaskan diri," tutur Ki Jayasena.
"Maksud Paman, apakah Paman pun punya cita-cita memisahkan diri dari Pakuan?" tanya Purbajaya.
"Ya, mengapa tidak? Tapi bunuh dulu Si Subangwara, baru memisahkan diri!" kata Ki Jayasena bersemangat.
Tapi Purbajaya mendengarnya dengan hela napas panjang.
"Engkau merupakan keturunan langsung Ki Sura Manggala. Kau harus punya semangat tinggi dalam membalas dendam."
"Saya datang ke sini bukan untuk membalas dendam..." gumam Purbajaya.
"Ya, aku tahu, kau punya tugas lebih berat ketimbang hanya sekadar balas dendam. Namun, dua-duanya sebenarnya amat bersinggungan. Bila kau bekerja satu kali maka akan menghasilkan dua keuntungan," kata Ki Jayasena mengobarkan semangat kebencian. "Ki Subangwara adalah musuh pribadimu tapi juga musuh negerimu, Carbon. Maka kalau kau bunuh Ki Subangwara, berarti kau bela negerimu juga," lanjut Ki Jayasena tetap mengobarkan kebencian.
"Ayahanda mati terhormat karena membela negeri. Itu sudah amat membanggakan," tutur Purbajaya.
Dan untuk kesekian kalinya, Ki Jayasena mengerutkan keningnya karena merasa heran akan sikap Purbajaya.
"Engkau tidak merasa sakit hati atas perlakuan Ki Subangwara yang biadab?" tanya Ki Jayasena.
Dan Purbajaya menggelengkan kepalanya. Ki Jayasena melongo heran dan menatap Purbajaya lama sekali.
"Tentu sakit hati, tapi tak bisa dijadikan alasan untuk membunuh Ki Subangwara begitu saja," jawab Purbajaya. "Tokh ayahanda tetap tak bisa dibuktikan sebagai pengkhianat. Kalau benar ayahanda kena fitnah, kebenaran akan datang sendiri, yang bersalah akan kena hukumannya. Karena pada suatu saat saya mesti berhadapan, maka itu sebagai prajurit Carbon yang membela negerinya dan bukan hanya karena urusan pribadi," kata Purbajaya lagi.
"Bagus kalau begitu. Maka bunuhlah Kandagalante Subangwara karena dia adalah pentolan Pajajaran dan Pajajaran adalah musuh negaramu," kata lagi Ki Jayasena tetap mendesak.
"Benar, dia musuh negeri saya. Tapi musuh tak selamanya mesti dibunuh."
"Ah... kau ini!" Ki Jayasena kecewa melihat sikap Purbajaya. "Mengapa kau bilang musuh tak perlu dibunuh?" tanyanya heran.
"Kalau ada cara lain dalam menundukkan musuh, mengapa pembunuhan mesti dilakukan?" Purbajaya balik bertanya.
"Musuh yang dikalahkan tanpa dibunuh hanya akan menanamkan rasa kebencian dan balas dendam. Dan bibit-bibit seperti ini kalau dibiarkan berkembang, selanjutnya hanya akan merepotkan saja," Ki Jayasena berkilah.
Purbajaya menghela napas mendengar pendapat Ki Jayasena yang keras ini.
"Jangan artikan istilah musuh ini seperti yang kita kemukakan di saat hati kita dipengaruhi kemarahan dan kebencian. Seperti halnya kita memandang suatu penyakit di tubuh kita, kalau kita mau menghilangkan penyakit itu, bukannya dengan cara menghancurkan tubuh ini, melainkan berpikir bagaimana agar penyakit itu bisa diberantas akan tetapi tubuh kita tetap sehat tak kurang suatu apa. Kita pun suatu saat akan melihat orang lain berlaku jahat. Janganlah bunuh orang itu sebab kejahatan itu ada pada jalan pikirannya. Maka usahakanlah agar orang itu menghilangkan pikiran jahatnya. Kalau berhasil, kejahatan akan lenyap tanpa kita melakukan pembunuhan sesama manusia," kata Purbajaya berpanjang lebar.
Demi mendengar perkataan Purbajaya ini, Ki Jayasena nampak tersinggung.
"Kau anak muda bau kencur sudah berani mengguruiku sebagai orang tuamu, anak tolol!" kata Ki Jayasena ketus. "Dari mana kau dapatkan jalan pikiran yang kacau balau ini?" lanjutnya menahan kemarahan.
"Ampunkan saya, Paman..." jawab Purbajaya sabar. "Saya dibesarkan di Carbon. Sudah barang tentu saya mendapatkan jalan pikiran ini dari Carbon. Begitulah kebiasaan berpikir orang-orang Carbon..." kata lagi Purbajaya.
"Tapi Raden Yudakara tidak berpikir ganjil seperti itu," potong Ki Jayasena geram.
Purbajaya kembali hanya menghela napas panjang. Ada banyak perkataan dan pendapat untuk melawan omongan Ki Jayasena, namun Purbajaya tidak mau melakukannya. Dia sadar kalau Ki Jayasena yang disebutkan orang sebagai pamannya sendiri ini sebenarnya sudah terkena cekok jalan pikiran Raden Yudakara ketimbang apa yang sebenarnya dititahkan oleh penguasa Carbon.
"Harap kau camkan, engkau dibawa ke sini oleh Raden Yudakara karena akan diperbantukan kepadaku untuk melawan Ki Subangwara dan bukannya berkilah atau bahkan menolak apa yang diperintahkan olehku. Jangan pula kau kacaukan jalan pikiranku dengan paham-paham baru yang terasa ganjil dan kacau ini," kata Ki Jayasena sebal.
"Akan saya pikirkan dalam-dalam, Paman..." jawab Purbajaya merendah.
Dan setelah menyembah hormat, Purbajaya mohon diri untuk segera beristirahat. Purbajaya tak berkata benar, sebab sebetulnya dia ingin melihat apa yang akan dilakukan kemudian oleh Ki Jayasena. Purbajaya merasa barusan telah terjadi silang pendapat yang keras antara Ki Jayasena dan dirinya. Barangkali Ki Jayasena akan segera melaporkan kejadian ini kepada Raden Yudakara. Purbajaya tak peduli. Tokh selama ini Raden Yudakara telah tahu kalau Purbajaya selalu punya pendapat berbeda dengannya. Namun demikian, Purbajaya pun sebenarnya ingin meneliti keberadaan Ki Jayasena secara utuh.