Chapter 65
Sejak berada di tempat ini, hatinya bimbang karena ada firasat yang mengatakan bahwa Ki Jayasena perlu diragukan keberadaannya sebagai orang yang diakui sebagai pamannya itu. Mengingat hal tersebut, ia pun segera berjingkat mengikuti ke mana Ki Jayasena pergi. Benar dugaannya, Ki Jayasena mencari-cari Raden Yudakara. Namun, setelah yang dicari tak ditemukan, ia segera mengunjungi rumah panggung yang biasa didiami Nyi Sumirah.
Ketika Ki Jayasena mengetuk-ngetuk daun pintu kamar putrinya, terdengar suara lelaki berdehem. Tak berapa lama kemudian, dari balik daun pintu muncul kepala Raden Yudakara dengan mimik wajah memberengut, mungkin kesal karena merasa diganggu.
"Ada apa?"
"Ada yang perlu saya sampaikan, Raden," jawab Ki Jayasena dengan hormat.
"Soal apa?"
"Soal Si Purbajaya, Raden."
"Lagi-lagi anak itu. Sebentar, aku berpakaian dulu." Raden Yudakara kembali menutup daun pintu. Di dalam rumah terdengar rengekan manja dari suara wanita yang enggan ditinggal pergi. Purbajaya hafal betul kalau itu suara Nyi Sumirah.
"Ah, perempuan tahu apa. Nanti aku balik lagi ke sini! Sampai pagi aku layani kau!" kata Raden Yudakara yang didengar jelas oleh Purbajaya yang bersembunyi di rumpun pekarangan.
Raden Yudakara keluar lagi dengan pakaian lengkap. "Kita bicara di bale gede saja," katanya dengan nada masih kesal.
Dua orang itu lantas pergi menuju bale gede yang terletak di tengah perkampungan. Purbajaya terpaksa mengendap-endap mengikuti mereka. Di dalam bale gede, mereka duduk bersila, saling berhadapan, dan mulai berbicara. Ki Jayasena melaporkan perihal Purbajaya kepada Raden Yudakara.
"Saya sulit mengendalikan anak itu, Raden," kata Ki Jayasena bingung.
"Ah, dasar engkau dungu, Sena," gumam Raden Yudakara.
"Dia terus membangkang kepada pendapat saya," kata Ki Jayasena kesal. "Apa sebaiknya kita enyahkan saja si bedebah ini?" tanyanya gemas.
"Jangan."
"Habis dia menolak terus keinginan saya."
"Engkau kurang wibawa, tak bisa memperlihatkan kalau kau sebenarnya pamannya sendiri."
"Bagaimana saya bisa pura-pura memperlihatkan kasih sayang padanya, sementara saya amat benci pada ayahnya. Bahkan, saya pula penyebab kematian ayahandanya..." Ucapan Ki Jayasena amat mengejutkan Purbajaya yang sedang bersembunyi mengintip pembicaraan mereka.
Plak! Terdengar suara tamparan ketika tangan kanan Raden Yudakara hinggap di pipi Ki Jayasena.
"Otakmu dungu, hanya berpikir melulu untuk kepentingan sendiri saja," serapah Raden Yudakara. "Kau bunuh Ki Sura Manggala dengan harapan kau gantikan kedudukannya. Tapi yang dipercaya oleh penguasa Pakuan malah Ki Subangwara, bukannya kau. Kau benci Ki Subangwara, lantas kebencian ini mau kau timpakan kepada Purbajaya dan kau mau pinjam tangan anak muda itu untuk membalaskan dendammu, begitu, kan?"
"Tapi itu pun keinginanmu juga, Raden," jawab Ki Jayasena balik menuduh.
"Memang. Tapi aku tak berpikir tentang balas dendam. Dan yang tengah aku pikirkan pun tidak melulu perihal keinginan kecil sepertimu. Kandagalante, jabatan apa itu, tidak seujung kuku pun bila dibandingkan dengan cita-citaku. Dan kau yang hanya butuh sesuatu yang kecil-kecil saja, amat memuakkan sebab telah mengganggu rencana-rencana besarku," kata Raden Yudakara memarahi habis-habisan Ki Jayasena.
"Jadi, musti bagaimana saya berbuat?"
"Musti bagaimana, musti bagaimana... Huh, dasar dungu!" omel Raden Yudakara. "Apa yang anak muda itu katakan padamu?"
"Purbajaya menolak membunuh Ki Subangwara," jawab Ki Jayasena. "Yang lebih menyebalkan dari itu, dia malah mendekati Nyimas Wulan, putri Juragan Ilun Rosa," sambungnya dengan nada sebal.
"Siapa Ilun Rosa?"
"Dia kerabat dekat Kandagalante Subangwara, Raden."
"Hm... Si Purbajaya bodoh dalam bercinta. Tapi biarkanlah dia bercinta dulu, sehingga pemuda dungu itu semakin dekat kepada Ki Subangwara. Dari sana kita akan tentukan kemudian," gumam Raden Yudakara dengan nada dingin.
"Kalau itu keinginanmu, Raden..." suara Ki Jayasena terdengar lesu, sepertinya ia tak rela Purbajaya diberi kesempatan bercinta dengan Nyimas Wulan.
"Kau seperti kecewa mendengar anak gadis Ilun Rosa jatuh ke pelukan Si Purbajaya. Apakah kau pun berminat terhadap gadis molek itu?" tanya Raden Yudakara sinis.
Ki Jayasena tidak memberikan jawaban apa pun. Malah yang terdengar adalah kekeh Raden Yudakara. "Dasar bandot..." ejek Raden Yudakara.
***
Malam itu, Purbajaya tidak bisa tidur. Percakapan Raden Yudakara dan Ki Jayasena membuatnya merasa sebal, namun sekaligus telah memecahkan salah satu misteri di wilayah Tanjungpura ini. Benar, ia adalah putra dari penguasa Tanjungpura yang lama dan tewas dalam pertempuran melawan Cirebon. Namun, penyebab kematian ayahandanya tidak berdiri sendiri. Ayahandanya tidak tewas semata oleh penyerangan, tetapi juga oleh semacam rekayasa orang atau kelompok yang tak menyukai keberadaannya.
Ayahanda Purbajaya adalah korban perebutan pengaruh dan kekuasaan di wilayah ini. Mendengar obrolan mereka, Purbajaya bisa memastikan bahwa Ki Jayasena punya peranan kuat dalam kematian ayahandanya. Kalau saja Purbajaya tidak bertahan dengan pendapatnya dan mendengar percakapan itu, niscaya ia akan terlibat ke dalam kancah permasalahan dan kepentingan orang lain atas namanya sendiri.
Sungguh keji Ki Jayasena. Ia melakukan kejahatan dengan menipu orang lain. Pertama, ia menipu Purbajaya seolah-olah ia adalah satu-satunya kerabatnya. Kedua, ia mengipasi kebencian sehingga seolah-olah Ki Subangwara merupakan pelaku utama kematian ayahandanya. Amat beruntung Purbajaya mendengar percakapan mereka, sebab jika tidak, ia akan terjerumus ke jurang kejahatan dengan mengobarkan dendam membunuh Ki Subangwara seperti yang dikehendaki Ki Jayasena.
Purbajaya paham dengan tujuan Ki Jayasena, namun ia belum bisa mengungkap teka-teki mengenai siasat yang tercetus dari benak Raden Yudakara. Katanya, ia sengaja membiarkan Purbajaya bercinta dengan putri Juragan Ilun Rosa agar semakin dekat dengan Ki Subangwara. Jika benar Purbajaya akhirnya bisa dekat dengan penguasa Tanjungpura ini, apa pula yang hendak dikerjakan pemuda aneh dan berbahaya ini? Purbajaya belum bisa menebak siasat yang tengah dibangun Raden Yudakara. Namun, apa pun yang mereka rancang, tujuannya tetap untuk melakukan kejahatan dengan memanfaatkan dirinya. Oleh karena itu, di samping tetap menyelidiki, Purbajaya harus semakin berhati-hati.
***
Masalah dan godaan terus datang silih berganti. Purbajaya sudah memutuskan dalam hatinya untuk tidak melibatkan perasaan cinta. Ia telah memutuskan untuk tidak melayani perilaku panas Nyimas Wulan. Di samping memang tidak memiliki perasaan apa-apa kepada gadis itu, ia pun tidak mau hubungan tersebut dimanfaatkan orang lain untuk hal-hal yang membahayakan.
Terus terang, ia memuji betapa elok gadis-gadis Tanjungpura ini. Namun, udara panas wilayah pesisir yang setiap saat menerpa telah membuat kaum wanita di wilayah ini berperilaku panas pula. Gadis-gadis di sini mudah bergelora, mudah diganggu, dan juga mudah mengganggu. Mereka pemberani jika tidak disebut tak tahu malu. Lihat saja Nyi Sumirah, dengan tak canggung ia pernah berkata bersedia bercinta dengan Purbajaya kalau saja tidak terikat sebagai saudara. Belakangan, Nyi Sumirah kecewa karena pertalian saudara ini dan dengan mudah memindahkan perasaan cintanya kepada Raden Yudakara.
Yang tak kalah menyebalkan adalah sikap kaum lelakinya. Ki Jayasena, si bandot tua ini, gemar gonta-ganti perempuan. Berapa kali ia menikah tidak terhitung, sebab perempuan yang tidak ia nikahi namun diperlakukan sebagai istrinya pun sudah tak terhitung jumlahnya. Sebalnya, bandot ini sepertinya tak mau kenyang. Buktinya, hari-hari ini ia sedang mabuk kepayang karena seleranya mengarah kepada Nyimas Wulan. Sekurang-kurangnya itu yang dituduhkan Raden Yudakara malam itu. Tuduhan ini mungkin benar, sebab kedua orang itu perilakunya setali tiga uang. Keduanya sama-sama doyan perempuan.
Namun, bagaimana dengan perilaku Nyimas Wulan, anak keluarga kerabat bangsawan Tanjungpura ini? Samakah ia dengan gadis-gadis lainnya yang mudah terperangkap gelora cinta? Purbajaya memang sedikit bangga karena malam itu Nyimas Wulan menjauhkan diri dari arena bale gede tempat yang lain sibuk berpesta pora. Apalagi Nyimas Wulan berkata ia meninggalkan tempat itu karena tak mau diganggu dan dirayu Raden Yudakara. Purbajaya bangga sebab gadis itu mengaku terus terang hanya mau menerima dirinya. Siapa yang takkan bangga mendapat kenyataan seperti ini?
Namun demikian, pemuda ini tetap saja mencurigai kalau Nyimas Wulan pun mudah berperilaku panas, sama seperti yang lainnya. Masa baru bertemu sekali saja, gadis itu sudah tak canggung mengecup dirinya. Tentu saja, lelaki mana yang tak senang dikecup seorang gadis? Tapi kalau dipikir-pikir, bisa saja aksi kecup-mengecup itu sudah biasa dilakukan gadis tersebut. Jika ingat ini, Purbajaya jadi mengeluh. Susah memang mendapatkan cinta sejati kalau yang dimaksud cinta hanya berbicara perihal berahi.
"Aku perlu hati-hati... perlu hati-hati," bisiknya dalam hati.
Namun, kenyataan yang terjadi tak demikian. Ketika berjauhan, Purbajaya boleh berjanji akan mengekang diri. Tetapi saat terjadi pertemuan rahasia, cinta berahi tak bisa dibendung. Saat itu pula cinta berahi bergalau ramai. Segalanya serba panas; udara Tanjungpura juga berahi gadis-gadisnya. Dan Purbajaya tak bisa menolaknya.