Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 66

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 66

Ketaatan kepada agama hampir tersisihkan karena tak pernah ada yang mengingatkan. Di lingkungan tempatnya kini, jarang sekali terlihat orang melakukan shalat menghadap Tuhan.

Hal yang membuat Purbajaya mau melayani rayuan gadis itu adalah karena Nyimas Wulan mengaku hanya mencintai Purbajaya seorang dan hanya ingin menjadikan Purbajaya sebagai satu-satunya teman hidup. Purbajaya menghargai gadis itu karena Nyimas Wulan memiliki harapan. Sementara itu, dirinya menghargai harapan orang lain dan tidak ingin melihat harapan itu terputus di tengah jalan. Purbajaya merasa harus melindungi Nyimas Wulan agar harapan gadis itu tidak hancur oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.

Namun, ketika gadis itu bicara soal perkawinan, Purbajaya menolak dan meminta waktu.

"Belum saatnya, belum saatnya, Nyimas..." bisik Purbajaya.

"Mengapa?" tanya gadis itu lirih dan manja sambil berteduh di dada Purbajaya yang bidang.

Ya, mengapa? Purbajaya tidak bisa menjawab dengan tegas. Banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Menikahi gadis ini memang sudah menjadi kewajibannya, namun ia teringat lagi akan ucapan Raden Yudakara yang katanya akan sengaja membiarkan Purbajaya bercinta dan semakin mendekatkan diri kepada Nyimas Wulan agar kelak bisa dekat dengan penguasa Tanjungpura. Hal inilah yang mengkhawatirkannya. Ia takut, perilakunya dalam mengencani gadis itu dijadikan oleh Raden Yudakara sebagai upaya untuk melancarkan rencana-rencana jahatnya.

Itulah sebabnya, kendati tetap dekat dengan Nyimas Wulan, sejauh ini Purbajaya tidak pernah mencoba mendekatkan diri kepada kerabat gadis itu. Bahkan kepada kedua orang tuanya, Purbajaya enggan memperkenalkan diri. Setiap kali melakukan pertemuan, mereka selalu sembunyi-sembunyi. Purbajaya bukannya pengecut, melainkan tidak ingin keluarga gadis itu menjadi korban kejahatan Raden Yudakara dan Ki Jayasena. Kalau pun suatu saat ia bertemu dengan keluarga Nyimas Wulan, itu karena Purbajaya sudah siap untuk meminang, dan pinangan itu baru bisa dilakukan jika semuanya sudah aman dari ancaman kejahatan Raden Yudakara.

Itulah sebabnya Purbajaya tidak bisa menjawab pertanyaan dan keinginan Nyimas Wulan. Ia tidak bisa mengemukakan alasan yang sebenarnya karena kejahatan Ki Jayasena dan Raden Yudakara sulit dibuktikan, dan Purbajaya tidak bisa bicara sembarangan. Purbajaya hanya berjanji bahwa dirinya bersedia menikahi gadis itu. Ia sanggup sehidup semati dengan Nyimas Wulan.

"Namun, kita tak melakukannya dengan tergesa-gesa. Perkawinan harus dilakukan dengan persiapan yang matang," tutur Purbajaya.

Janji ini diucapkan dengan serius kendati hati kecilnya berkata kalau sebenarnya ia tidak mencintai gadis ini. Tapi, mengapa pula hidup bersama harus selalu didasarkan pada cinta kasih semata? Tidak selalu. Rasa iba, kasihan, bahkan tanggung jawab, bisa mengalahkan perasaan bernama cinta. Hatinya berkata bahwa cinta kasihnya sebenarnya telah direbut oleh Nyimas Waningyun, wanita pertama yang ia temukan. Namun demikian, sejak saat itu pun ia sudah menyadari bahwa dirinya tidak mungkin bersatu dengan gadis bangsawan Nagri Carbon tersebut.

Nyimas Yuning Purnama yang sudah bersedia dinikahi pun ia lepaskan sebab Purbajaya tahu bahwa gadis itu tidak mencintainya, melainkan hanya ingin menaati keinginan orang tua. Dan kini, Purbajaya tidak mencintai Nyimas Wulan namun bersedia mengawini gadis itu. Sungguh aneh memang, bersedia menikahi padahal tidak merasa mencintai. Namun, Purbajaya tetap bertekad dalam hatinya. Ia harus mengawini gadis itu untuk menolong kehidupannya.

Lingkungan di mana Nyimas Wulan berada tidak mendukung agar gadis itu mempertahankan keberadaan dirinya sebagai perempuan terhormat. Godaan dan cobaan akan membuat gadis itu mudah terjerumus ke jurang penderitaan dan kehinaan. Kehidupan di Tanjungpura sepertinya demikian bebas. Kaum lelaki dengan amat mudah mencumbu dan mengawini kaum perempuan untuk kemudian dicampakkan begitu saja demi merayu yang lainnya.

Nyimas Wulan, begitu bertemu Purbajaya, langsung akrab dan mesra. Melihat kenyataan ini, hati Purbajaya merasa terenyuh. Ia akan bersedih jika gadis secantik, sejujur, dan semudah itu mempercayai lelaki, justru akan dipermainkan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Itulah sebabnya ia akan berusaha melindungi gadis itu. Ia akan menyelamatkan gadis itu melalui sebuah perkawinan yang sah dan murni. Selain itu, Purbajaya pun akan bertanggung jawab. Nyimas Wulan yang ramah, penyayang, dan begitu rela menyerahkan cintanya, akan disambut oleh Purbajaya dengan sebuah perasaan tanggung jawab. Ya, dia harus menikahi gadis itu!

***

Hingga sampai pada suatu saat, cinta dan cumbu Nyimas Wulan tak bisa dibendung lagi oleh pertahanan iman Purbajaya. Ketika itu, panen padi telah usai dengan hasil yang cukup melimpah. Untuk menghormati Dewi Sri sebagai dewi pemberi padi-padian menurut kepercayaan karuhun (nenek moyang) orang Pajajaran, di Tanjungpura diadakan upacara *ngidepkeun*.

Itu adalah suatu upacara tradisi menyimpan padi di *leuit* (lumbung) sesudah dikurangi untuk membayar *seba* (pajak), membayar para pekerja di huma, dan sesudah disisihkan sebagian untuk bibit. *Ngidepkeun*, atau upacara menyimpan padi di lumbung, akan dilalui pula dengan berbagai keramaian. Berbagai kesenian rakyat seperti pantun, wawayangan, ngekngek, atau jentreng, diadakan dengan meriah.

Upacara menyimpan padi ini diadakan di beberapa tempat, terutama di perkampungan besar yang banyak dihuni para tuan tanah. Juragan Ilun Rosa dan Ki Jayasena adalah dua orang tuan tanah yang banyak memiliki kekayaan huma, bahkan *ranca* (rawa) yang saat kemarau bisa ditanami padi dan di musim hujan diambil ikannya. Di dua perkampungan tempat kedua tuan tanah itu tinggal, sering diadakan pesta *ngidepkeun* secara besar-besaran. Keduanya seolah bersaing mengadakan pesta hajatan. Kalau yang satu mengundang juru pantun terbaik, maka yang satunya lagi mencari juru pantun terbaik. Kalau salah satu dari mereka mengundang penembang dan penari ngekngek yang muda dan cantik, maka yang satunya pun melakukan hal yang sama. Keduanya sepertinya tak mau kalah satu sama lain.

Malam itu, kampung terang benderang karena cahaya *oncor* (obor) yang dipasang di mana-mana. Bahkan *damar sewu* (pelita berjajar seribu) turut meramaikan malam indah itu. Baik Juragan Ilun Rosa maupun Ki Jayasena sama-sama bersaing membuat kampung masing-masing menjadi terang benderang. Malam itu, di kediaman Juragan Ilun Rosa diadakan kesenian jentreng dan pantun, sementara di kediaman Ki Jayasena, selain jentreng yang sudah baku, juga ditampilkan pertunjukan wawayangan.

Seni pantun yang dipanggungkan di kediaman Juragan Ilun Rosa menampilkan cerita *Pua-pua Bermana Sakti*, sementara di kediaman Ki Jayasena, pertunjukan wawayangan menampilkan cerita mengenai Pandawa Lima yang menjemput Dewi Sri (*Mapag Dewi Sri*) yang tengah berada di sorga maniloka agar sudi turun ke buana panca tengah untuk menyejahterakan umat manusia dengan menebar padi-padian. Dewi Sri demikian lekat di hati masyarakat Pajajaran. Seolah benar, pemberi hidup di muka bumi ini adalah seorang dewi dari kayangan.

Dalam upacara *ngidepkeun*, ada cara *Mapag Dewi Sri*. Lagu *Pamegat* yang dilantunkan oleh rombongan kesenian jentreng adalah sebuah lagu untuk mengundang Dewi Sri hadir di tempat itu. Setelah itu, disusul lagu *Panimang*, yaitu menurunkan seikat padi sebagai lambang turunnya Dewi Sri dari kayangan. Padi yang diturunkan dijemput oleh *wali-puun* (sesepuh) sambil membawa pakaian wanita, yang kemudian dikenakan kepada ikatan padi sambil diiringi oleh lagu *Pamapag* (penjemput Dewi Sri). Di belakangnya, satu barisan wanita berpakaian indah melakukan tarian sambil membawa mangkuk-mangkuk yang berisi bunga-bungaan, minyak kelapa, pohon hanjuang, beras, dan *tektek* (lipatan daun sirih). Ikatan padi yang dijemput itu ditaburi beras dan bunga-bungaan sebagai penghormatan kepada "Dewi Sri" yang telah berkenan "hadir".

Setelah upacara *netepkeun*, yaitu menyimpan padi di lumbung, maka berlangsunglah acara hiburan. Kaum lelaki memakai bendo, berpakaian bedahan lima, dan berkain batik dengan keris bersampur (diikat selendang sutra) di pinggang, menari bersama kaum wanita yang berpakaian indah dan berparas elok. Sementara yang muda-muda, terutama para gadis, saling berebutan untuk mendapatkan bekas sesaji, bahkan butir-butir kemenyan untuk berbagai keperluan, seperti ingin awet muda, cantik, atau karena ingin segera mendapatkan jodoh.

Ketika melihat pertunjukan ini, Purbajaya teringat Nyimas Wulan. Purbajaya berada di tempat pesta keluarga Ki Jayasena, sementara Nyimas Wulan berada jauh di sebelah selatan di kediaman Juragan Ilun Rosa, ayahandanya. Apakah gadis itu tengah mengingat dirinya pula? Maka, ketika muda-mudi lain larut dalam kegembiraan, Purbajaya malah menyelinap pergi menuju kediaman Juragan Ilun Rosa.

Ya, sejauh ini Purbajaya masih tetap mengaku tidak mencintai gadis itu, namun bukan berarti tidak menyayanginya. Kini Purbajaya telah menyayangi gadis itu setelah ia merasa banyak menerima kebaikan cinta yang diberikan Nyimas Wulan. Dan manakala melihat muda-mudi bersuka ria, Purbajaya tak bisa menahan kerinduan untuk menemui Nyimas Wulan. Itulah sebabnya dia menyelinap pergi untuk menemui gadis itu.

Rumah kediaman Juragan Ilun Rosa tidak begitu jauh. Letaknya agak ke sebelah selatan dari kediaman Ki Jayasena. Kedua orang itu termasuk keluarga *santana* (masyarakat pertengahan), bahkan Juragan Ilun Rosa disebut-sebut sebagai keluarga bangsawan karena kekerabatan yang dekat dengan Kandagalante Subangwara. Namun baik Juragan Ilun Rosa maupun Ki Jayasena sama-sama orang kaya yang memiliki tanah pertanian yang luas. Huma dan palawija di sekitar wilayah Tanjungpura boleh dikata mereka yang punya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment