Chapter 67
Baik Juragan Ilun Rosa maupun Ki Jayasena sama-sama memiliki usaha perikanan payau dan usaha perairan di sepanjang Sungai Citarum. Keduanya dikenal oleh masyarakat Tanjungpura sebagai orang-orang kaya, tetapi keduanya tak pernah saling bersatu. Mereka memang tak bermusuhan, namun juga tidak bersahabat. Keduanya selalu menjaga jarak untuk tidak saling berhubungan. Mudah diduga bila hal ini terjadi sebab Ki Jayasena memiliki kebencian kepada Kandagalante Subangwara, sementara Juragan Ilun Rosa adalah kerabat dekatnya.
Namun dasar bandot, kendati kepada bapaknya benci, kepada putrinya, Nyimas Wulan, Ki Jayasena malah cinta setengah mati. Tempo hari, Purbajaya ditegur karena diketahui berdekatan dengan gadis itu. Teguran Ki Jayasena diartikan Purbajaya sebagai memiliki tujuan ganda. Ki Jayasena melarang Purbajaya mendekati Nyimas Wulan karena gadis itu kerabat musuh besarnya. Namun, Ki Jayasena juga melarangnya mencintai gadis itu karena dia sendiri yang ingin mengambil "bunga mekar" itu.
Purbajaya sebal dengan kejadian ini. Cintanya tak pernah mulus karena selalu dihadang pihak-pihak lain yang juga amat berkepentingan dengan urusan ini. Tak dinyana, pesaingnya kini adalah bandot tua yang mengaku "paman"nya lagi. Namun kali ini, rasanya dia tak perlu mengalah. Kepada Raden Ranggasena dari Carbon ataupun kepada Aditia dari Sumedanglarang, dia mau mengalah sebab ingin memberi kesempatan kepada sesama kaum muda. Tapi kepada Ki Jayasena, lain lagi urusannya. Orang tua bangkotan itu sudah terbiasa kawin-cerai dan kepada gadis-gadis muda begitu lahapnya bagaikan kambing melahap daun muda. Jangan hanya karena gemar mengalah dalam urusan cinta, maka kali ini Purbajaya pun mesti mengalah kepada bandot tua. Tidak, dia tak terima itu. Maka keputusan batinnya ini telah dijadikannya sebagai pemicu semangat dalam mendapatkan kasih Nyimas Wulan.
Jalan berbatu dan terkadang bercampur debu tanah merah tak dijadikannya halangan ketika Purbajaya berjalan di malam gelap. Yang penting, dia bisa menemui gadis itu. Ketika dia tengah berjalan cepat, di depannya ada gelebur cahaya obor. "Siapakah malam-malam berjalan sendirian berbekal obor?" Purbajaya menyipitkan matanya karena ingin melihat jelas.
"Wulan!" teriak Purbajaya gembira. Dadanya berdebar. Gadis pembawa obor itu sejenak berhenti karena kaget ditegur orang. Dia menyipitkan mata karena silau oleh cahaya obor. Setelah yakin yang memanggilnya adalah Purbajaya, Nyimas Wulan serta-merta melemparkan batang obor dan segera menghambur ke arah Purbajaya. Purbajaya pun sama, berlari mendekat hingga keduanya saling bertubrukan disertai peluk cium.
"Nyimas..."
"Purba..."
Diam sejenak, kecuali napas-napas dengan dengus keras karena hentakan berahi yang tak tertahankan.
"Nyimas, mengapa kau kemari?"
"Engkau pun mengapa kemari, Purba?"
"Karena ingin bertemu denganmu..."
"Itu pula yang aku inginkan, Purba..."
"Oh, Nyimas..."
"Purba..."
Sepasang insan muda-mudi ini saling peluk erat, saling kecup mata, saling kecup pipi, dan berakhir pada saling kecup bibir. Dua tubuh yang berkuketan tak mau lepas ini akhirnya jatuh berdebum di atas tanah berdebu warna merah. Namun, debu kotor tidak mereka hiraukan sebab dua tubuh yang menyatu erat ini bergulingan ke sana kemari bagaikan cacing kepanasan. Tanah berdebu yang kotor mereka jadikan alas tidur empuk dan udara terbuka dengan terpaan angin pesisir mereka jadikan selimut penghangat. Semuanya sudah tak perlu lagi sebab gelora cinta mereka sudah merupakan penghangat berahi.
Entah berapa lama mereka bergumul, tiba-tiba di tempat itu sudah berdiri seseorang berbekal obor. Purbajaya sungguh terkejut sebab yang datang ternyata Ki Jayasena. Maka buru-buru dia dan Nyimas Wulan bangun sambil menepuk-nepuk debu yang melekat di badan. Ki Jayasena menatap adegan cumbu rayu dengan mata melotot dan gigi berkerot saking marahnya.
"Hm... Bagus. Bagus sekali, ya!" gumamnya dengan tubuh menggigil seperti kena demam. Serta-merta Ki Jayasena mencabut golok yang telah siap di pinggang. Obor yang dibawanya dilemparkan ke tubuh Purbajaya. Sesudah itu, Purbajaya pun segera diserangnya dengan sabetan-sabetan golok. Purbajaya terpaksa mendorong tubuh Nyimas Wulan yang ketika itu masih memeluk erat tubuhnya. Dia ingin serangan ganas ini hanya mengarah padanya saja dan tidak melukai tubuh molek Nyimas Wulan.
Lemparan batang obor yang cahayanya menggelebur bukanlah lemparan biasa, melainkan lemparan yang disertai tenaga dalam yang cukup tinggi. Demikian pula sabetan-sabetan golok itu tidak sekadar ganas, namun juga disertai tenaga dalam yang kuat. Desiran angin karena golok menyabet terasa dingin menerpa pipi Purbajaya. Kalau saja yang menerima serangan ini orang biasa, bukan saja tubuhnya akan hangus terpanggang api, namun juga akan kena sabetan golok yang terlihat mengkilap saking tajamnya.
Namun sebodoh-bodohnya Purbajaya, bagaimanapun dia adalah murid terkasih Ki Jayaratu, tokoh yang disegani di Nagari Carbon. Maka ketika menerima serangan deras dan membabi-buta dari Ki Jayasena, tangan kanannya segera melakukan tangkisan. Percikan bunga api muncrat ke sana kemari ketika gagang obor hancur berantakan. Purbajaya terus mengebut-ngebutkan kedua tangannya agar bunga api tidak menempel, baik pada pakaian Nyimas Wulan maupun pada pakaiannya sendiri.
Purbajaya masih belum mau membalas serangan, selain tidak berniat, ditambah lagi oleh ganasnya serangan Ki Jayasena yang datang tiada hentinya. Melihat serangan-serangan ganas ini, Purbajaya merasa kalau Ki Jayasena berniat membunuhnya atau paling tidak ingin membuatnya terluka parah. Oleh karena itu, Purbajaya terpaksa melakukan tangkisan-tangkisan yang menyertakan tenaga dalam pula. Terasa ngilu dan nyeri pergelangan tangan Purbajaya manakala melakukan sampokan ke arah golok, pertanda Ki Jayasena memiliki tenaga dalam yang kuat pula.
Purbajaya harus melakukan perkelahian dengan amat hati-hati agar tubuhnya tidak terluka oleh serangan ganas ini. Dia menahan serangan sambil berusaha melindungi Nyimas Wulan. Untunglah, Ki Jayasena rupanya tak berniat mencelakakan Nyimas Wulan sebab yang dicecarnya hanya Purbajaya seorang. Ketika serangan golok Ki Jayasena bisa ditepis, terlihat ada pertahanan yang kosong pada bagian tubuh orang tua ini. Pertahanan kosong terkuak karena serangan golok arahnya melenceng oleh tepisan tangan Purbajaya. Namun, peluang untuk melakukan serangan balik amatlah tipis karena Purbajaya yakin, Ki Jayasena pasti akan mengulangi serangannya yang barusan gagal.
Namun sebelum golok kembali disabetkan mengarah ubun-ubun, dari arah bawah Purbajaya segera menohok ulu hati Ki Jayasena dengan kecepatan yang sulit diukur. Tohokan ini telak mengarah ulu hati dan terdengar Ki Jayasena mengeluh pendek, tanda kesakitan. Sebelum Ki Jayasena hilang rasa terkejutnya, tohokan kedua sudah datang lagi. Kali ini lebih telak dan lebih keras. Akibatnya, tubuh Ki Jayasena terlontar ke belakang dan jatuh berdebuk di atas tanah yang mengandung bebatuan. Sudah barang tentu sakitnya bukan alang-kepalang sehingga tak sadar mulut Ki Jayasena terkaing-kaing seperti anjing kena gebuk batang rotan.
Purbajaya terkejut oleh ulahnya ini dan segera berjingkat hendak membangunkan tubuh Ki Jayasena, ketika secara tiba-tiba datang pula seseorang ke tempat itu. Untuk kedua kalinya Purbajaya terkejut sebab yang datang kali ini adalah Raden Yudakara.
"Anak kurang ajar, masa kepada pamanmu sendiri berlaku tak senonoh seperti ini? Apa kesalahan dia, hah?" cerca Raden Yudakara menghambur mendekati Purbajaya.
Purbajaya tak mau menjawabnya, apalagi Raden Yudakara langsung melakukan serangan. Hanya anehnya, serangan tidak dilakukan sepenuh hati. Buktinya, serangan itu bisa dihindarkan dengan amat mudahnya. Siasat apa pula sehingga pemuda aneh ini tak melakukan serangan secara sungguh-sungguh? Serangan kedua tak dilakukan Raden Yudakara. Dia hanya berkacak pinggang saja sambil menatap Purbajaya.
"Hati-hati, Purba, dia adalah pamanmu sendiri," kata pemuda itu. "Aku tak suka ada orang muda tak menghargai yang tua," lanjutnya lagi.
Purbajaya tahu, kemarahan Raden Yudakara ini hanya sandiwara belaka, namun apa perlunya? Toh yang dia bela sebenarnya jelas-jelas kaki tangannya sendiri. Mustinya kalau mau bela, belalah dengan benar. Mengapa Raden Yudakara tidak menyerang sungguhan sehingga Purbajaya menderita luka, misalnya? Nampaknya dia pura-pura marah hanya agar Ki Jayasena merasa puas karena Purbajaya didamprat "atasan"nya. Dan kali ini Purbajaya pun terpaksa ikut bersandiwara, tak melakukan pembelaan apa-apa. Kerjanya hanya menunduk saja seperti seorang murid dimarahi gurunya.
"Ada apa ini, paman dan keponakan saling gebot seperti ini? Memalukan sekali..." tanya lagi Raden Yudakara dengan nada menunjukkan tak senang.
"Dia!" Ki Jayasena menunjuk hidung Purbajaya.
"Dia apa?" tanya lagi Raden Yudakara.
"Dia bercinta dengan gadis itu!" jawab Ki Jayasena memberengut seperti anak kecil.
"Sudah biasa sesama anak muda saling bercinta, apanya yang aneh?" tanya Raden Yudakara heran.
"Tapi..."
"Tapi apa, Jayasena?"
"Dia bercinta dengan anak seseorang yang saya tidak suka!" jawab Ki Jayasena akhirnya.
"Ah, malah sungguh mulialah bila kita sanggup berbesan dengan orang yang tidak kita sukai. Dengan demikian kita bisa mengukir hidup baru melalui persahabatan. Bukan begitu, hai gadis elok?" tanya Raden Yudakara seraya mengerling tajam kepada Nyimas Wulan yang tersipu-sipu karena percakapan yang menyangkut dirinya ini.
Namun demikian, gadis itu masih memiliki rasa penasaran. Buktinya dia mengajukan pertanyaan kepada Ki Jayasena, "Sebenarnya apakah kesalahan Ayahanda kepadamu, Paman?"