Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 68

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 68

"Ah, hanya masalah kecil saja, gadis cantik," jawab Raden Yudakara, membuat Nyimas Wulan tersipu karena pujian itu. "Sesudah kau menjadi istri adikku, Purbajaya, maka semua urusan bereslah sudah," lanjut Raden Yudakara. Nyimas Wulan tersenyum bahagia, wajahnya penuh rasa terima kasih kepada Raden Yudakara yang terasa begitu memperhatikannya.

"Terima kasih bila begitu," sambut Nyimas Wulan ceria. "Selama ini Paman Jayasena selalu baik, bahkan terlalu baik kepada saya. Makanya, sungguh tak percaya kalau engkau bisa membenci ayahanda," tutur Nyimas Wulan lugu.

Sementara itu, dari kejauhan arah selatan, terlihat gelebur beberapa cahaya obor.

"Wulan, kau pasti dicari keluargamu..." desis Raden Yudakara memperingatkan.

Purbajaya pun menduga bahwa yang datang adalah rombongan yang tengah mencari Nyimas Wulan karena gadis itu pergi sendirian tanpa meminta izin kepada siapa pun. Jika benar begitu, kejadian ini tentu akan menjadi perhatian pihak keluarga Juragan Ilun Rosa.

"Cepat kau hampiri dan pulang bersama mereka," kata Raden Yudakara.

Rupanya Nyimas Wulan mengerti situasi. Sesudah berpandangan sejenak dengan Purbajaya, gadis itu segera berlari kecil menuju ke arah datangnya rombongan.

"Ayo kita pulang dan jangan biarkan mereka tahu kalau kita berada di sini..." kata Raden Yudakara sambil berlalu lebih dulu.

"Si Purba ini yang menculik gadis itu, mengapa malah kita yang kelabakan?" tanya Ki Jayasena tak puas.

"Tentu. Tapi kesalahan dari kita seorang akan menjadi tanggung jawab bersama. Makanya, kesulitan ini jangan sampai terjadi. Ayo, cepat kita pergi!" ajak Raden Yudakara. Akhirnya, mereka beriringan kembali ke wilayah utara.

Di kediaman Ki Jayasena terjadi lagi kegaduhan. Kali ini, Ki Jayasena kembali mendapat giliran kena semprot Raden Yudakara. Purbajaya mencuri dengar dari tempat persembunyian, betapa Raden Yudakara amat kesal terhadap ulah Ki Jayasena yang dianggapnya kekanak-kanakan.

"Si Purba itu bodoh dalam bercinta. Akan tetapi, engkau yang sudah bangkotan malah mau merendahkan diri berebut perempuan dan menjadi pesaingnya!" cerca Raden Yudakara.

"Tapi Si Wulan sejak masih ingusan telah saya intip dan amati. Jadi, siapa yang tidak akan kesal sesudah dia ranum dan dewasa malah diambil orang, anak setan lagi!" jawab Ki Jayasena gemas.

Namun, kembali Raden Yudakara mencerca orang tua itu sebagai bangkotan yang dungu. "Sudah aku katakan, Si Purba itu bodoh dalam bercinta. Coba saja simak, sebentar lagi gadis itu sudah lepas dari pelukannya," kata Raden Yudakara, yang terdengar amat menyakitkan telinga Purbajaya.

"Tapi bukankah Raden tadi katakan kalau anak setan itu akan Raden jodohkan dengan Nyimas Wulan?" Ki Jayasena bertanya khawatir.

"Yang namanya 'akan' itu artinya belum, tolol! Mengapa perasaan khawatirmu sudah kau dahulukan? Uh, dasar bangkotan bodoh!" cerca Raden Yudakara.

"Maksud Raden, di saat Si Wulan akan dijodohkan, maka gadis ranum itu cepat-cepat kita sabet, begitu?" tanya Ki Jayasena penuh semangat.

"Tidak persis seperti itu..." gumam Raden Yudakara.

"Jadi, bagaimana?" Ki Jayasena tak sabar. "Bagaimana kalau Si Sumirah anak saya saja kita berikan pada Si Purba agar pupuslah sudah persaingan kami?"

"Apa?" potong Raden Yudakara dengan suara geram.

"Maksud saya, kalau Raden sudah bosan kepada Si Sumirah, bolehlah dilepaskan dan berikan sama Si Purba..." Ki Jayasena berkata penuh rasa takut.

"Engkau ini mengoper-oper perempuan seperti orang mengoper kambing saja, Sena..." omel Raden Yudakara dengan nada sebal.

"Bukan itu maksud saya, Raden..."

"Sudahlah, jangan ganggu aku, aku tengah berpikir!"

Diam sejenak. Sampai pada suatu saat, Purbajaya mendengar siasat-siasat yang tengah dirancang pemuda aneh itu.

"Hanya Kandagalante Subangwara yang bisa mengirimkan Si Purbajaya ke Pakuan..." gumam Raden Yudakara.

"Mengapa tidak Raden saja yang mengirimkannya?" tanya Ki Jayasena.

"Tidak. Tidak mungkin. Pamanku yang bodoh, Ki Sunda Sembawa, kerjanya buruk dan ceroboh. Aku sudah dengar kalau Ki Yogascitra, pejabat Pakuan, sudah mencurigai tindak-tanduk Ki Sunda Sembawa yang selalu kasak-kusuk di Sagaraherang. Kalau aku datang ke Pakuan dan diketahui sebagai kerabat Ki Sunda Sembawa, bisa pupuslah semua rencanaku. Mati aku kalau semua orang Pakuan mencurigaiku..."

"Ki Yogascitra? Bukankah dia pejabat puhawang (ahli kebaharian) di Pakuan?" tanya Ki Jayasena.

"Benar, Sena..."

"Bukankah Si Purbajaya mau Raden pekerjakan di puri Yogascitra sebab anak dungu itu dianggap ahli kelautan?" tanya Ki Jayasena lagi.

"Memang benar sekali, Sena. Aku ingin menyusupkan Si Purbajaya ke puri Yogascitra untuk mengamati tindak-tanduk pejabat itu," jawab Raden Yudakara.

"Sungguh riskan melepas anak bengal itu berjalan sendirian. Bagaimana kalau dia malah bergabung dengan Pakuan dan membuka rahasia keberadaan kita?" Ki Jayasena bertanya penuh rasa khawatir.

"Anak itu rewel, gemar bertanya ini-itu, dan sesekali suka membantah pendapatku. Namun sudah aku teliti, anak itu memang bodoh dan lugu. Dia buta politik. Hanya karena dia putra dari penguasa Tanjungpura yang amat disegani pihak Pakuan saja, maka aku tetap mau memanfaatkan anak itu. Si Purba di Pakuan akan dihargai dan dipercaya karena ayahandanya amat dihargai kesetiaannya. Itu amat menguntungkan kita. Itulah sebabnya aku tetap butuh dia. Dan aku pun percaya, dia akan tetap ikut kita. Di samping dia lugu dan awam terhadap kehidupan politik, dia pun terikat oleh sesuatu yang tak mungkin dia lepas. Dia banyak salah. Di Sumedanglarang dia bersalah, begitu pun di Cirebon. Hanya aku yang bisa melindunginya. Itulah sebabnya dia akan tetap ikut aku untuk bisa kembali ke Cirebon."

"Kalau dia tetap mau memisahkan diri dari kita?"

"Hm... Di Pakuan belasan bahkan puluhan orang-orangku sudah siap sedia mengawalnya. Kalau terlihat mencurigakan, anak buahku akan membunuhnya di Pakuan sana..." Raden Yudakara mendengus.

Ki Jayasena memuji jalan pikiran Raden Yudakara. "Baru saya mengerti mengapa Raden begitu 'membela' anak setan itu. Saya pun mengerti mengapa Si Purba harus punya hubungan baik dengan Ki Subangwara, penguasa Tanjungpura yang sekarang," kata Ki Jayasena.

"Nah, otakmu mulai cemerlang, Sena. Memang begitulah maksudku," ujar Raden Yudakara. "Kandagalante Subangwara dihargai oleh penguasa Pakuan karena kesetiaannya juga. Jadi kalau Si Purba dikirim ke Pakuan atas nama Kandagalante Subangwara, ini akan sangat memudahkan rencana-rencana kita," ujar Raden Yudakara lagi.

"Saya percaya padamu dan saya berjanji akan selalu menaatimu, Raden..." kata Ki Jayasena amat merendah dan hormat sekali.

Purbajaya tak pernah punya ketenangan hati. Sampai dengan hari ini hidupnya tetap berada di bawah bayang-bayang orang lain. Raden Yudakara tak mau melepaskannya dan tetap berupaya agar Purbajaya ada di bawah kendalinya. Entah siasat apa yang dia lakukan. Yang jelas, Raden Yudakara telah berhasil menjalin hubungan dengan Kandagalante Subangwara secara mudah. Bahkan tak lebih dari satu bulan, Raden Yudakara sudah menghasilkan kepercayaan yang membuat Purbajaya berdebar.

Di pagi hari yang cerah, Purbajaya dipanggil ke bale-gede rumah kediaman Ki Jayasena.

"Purba, sudah terlalu lama engkau tertahan di sini. Kali ini kau harus mulai melanjutkan tugasmu yang terhenti ini," kata Raden Yudakara bicara serius.

"Tugas apakah itu?" tanya Purbajaya dengan perasaan khawatir karena telah menduga sesuatu.

"Ini kotak surat daun nipah. Jangan kau sia-siakan sebab ini adalah surat untuk mengantarmu memasuki gerbang kehidupan di Pakuan. Kau harus menghubungi Ki Yogascitra, pejabat terkenal di Pakuan. Berikan surat ini padanya dan engkau akan diterima di sana," kata Raden Yudakara seraya menyodorkan sebuah kotak mungil terbuat dari kayu cendana berukir dan berbau harum.

Purbajaya menerimanya dengan tangan agak gemetar. Mengapa tidak? Penyusupan dirinya ke Pakuan dengan pura-pura menjadi ahli kelautan sudah merupakan siasat yang diatur secara resmi oleh penguasa Nagari Cirebon, namun kini dia menerima perintah itu dari pemuda bernama Raden Yudakara yang dia tahu memiliki ambisi pribadi dalam urusan besar ini.

Dia tegang dan khawatir. Dia akan segera bisa menyusup ke pusat kota Pajajaran dengan gandulan urusan pribadi pemuda bangsawan aneh ini. Dan Purbajaya sulit untuk menghindar. Sejauh ini dia tak punya hubungan dengan orang-orang Cirebon selain kepada Raden Yudakara. Sementara itu, Cirebon telah mengatur agar selama bekerja sebagai mata-mata, Purbajaya harus selalu berhubungan dengan Raden Yudakara. Jadi, bila melihat kenyataan ini, tidak terlihat kejanggalan dan secuil pun tidak melenceng dari perencanaan.

Siapa yang bakal menyangka kalau dalam misi negara ini terselip pula kepentingan pribadi? Purbajaya sudah menduga bahwa Raden Yudakara memanfaatkan gerakan yang dilakukan Cirebon guna melaksanakan ambisi politik tertentu. Hari ini dia menjadi mata-mata Cirebon, hari lain dia sebagai mata-mata untuk kepentingan orang-orang Sagaraherang. Namun, bila rencana sudah dilakukan dengan matang, maka hasil akhir ingin dia miliki sendiri.

Purbajaya tidak bisa melarikan diri dari genggaman pemuda itu sebab Purbajaya akan dihadang tuduhan sebagai pengkhianat karena terbukti melawan dan menggagalkan misi Cirebon ke puncak Cakrabuana. Purbajaya bahkan gurunya, Ki Jayaratu, akan dianggap pengkhianat dan pembelot sebab kegagalan misi di Cakrabuana juga karena "andil" mereka. Baik Paman Jayaratu maupun dirinya kukuh dengan pendapat bahwa pengiriman pasukan ke puncak Cakrabuana adalah tindakan sia-sia. Purbajaya pun tidak bisa pulang ke Sumedanglarang sebab kematian beberapa orang dari Sumedanglarang yang ikut misi muhibah akan dipertanyakan kepadanya. Dengan demikian, Purbajaya hanya bisa tetap bersama Raden Yudakara, kendati dirinya amat muak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment