Chapter 69
"Itu adalah surat daun nipah dari Kandagalante Subangwara. Hanya dia yang dipercaya oleh Ki Yogascitra. Kau pasti diterima di sana. Maka bekerjalah dengan baik di sana," kata Raden Yudakara.
Purbajaya mengangguk kendati ia sangsi apa yang dimaksud dengan "bekerja dengan baik" di sana.
"Percayakah dia pada saya?" tanya Purbajaya kemudian.
"Kalau kau ingin melihat tipe orang Pajajaran, maka simaklah sikap hidup Ki Yogascitra. Dia adalah pejabat jujur. Sedangkan orang jujur biasanya bodoh, mudah ditipu, dan mudah dipermainkan orang," kata Raden Yudakara.
Purbajaya menatap wajah pemuda itu dengan senyum getir.
"Begini. Ki Yogascitra memang manusia cerdik. Itulah sebabnya, sejak Pajajaran dipimpin oleh Sang Prabu Surawisesa (1521-1535 M), sampai kepada Sang Prabu Ratu Dewata (1535-1543 M), dan hingga kini di bawah kepemimpinan Sang Prabu Ratu Sakti (1543-1551 M), Ki Yogascitra tetap bertahan sebagai pejabat negeri. Menurut orang Pajajaran, dia adalah pemikir yang arif. Kalau mengeluarkan kritik, dia tidak terdengar seperti mengkritik; bahkan Ratu (penguasa) menganggap pendapat Ki Yogascitra sebagai masukan yang berharga. Ki Yogascitra pun diakui sebagai pejabat yang sabar. Dia tak pernah haus kekuasaan, juga tak pernah menyingkirkan saingan. Baginya, jabatan adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dan bukannya anugerah yang harus diterima. Tidak pendendam, tidak pula pendengki. Tidak bercuriga dan tidak menganggap orang lain jahat," kata Raden Yudakara.
"Itulah sikap mulia..." seru Purbajaya.
"Bukan. Itulah kebodohan," potong Raden Yudakara.
"Mengapa?"
"Kebaikan-kebaikan pejabat itu yang barusan aku paparkan adalah sebuah kelemahan. Sudah aku katakan tadi, orang jujur cenderung bodoh sebab si jujur mudah dibodohi oleh sesuatu bernama siasat. Hanya karena dia tak pernah berbuat bohong, maka dia percaya kalau orang lain tidak akan membohonginya. Hanya karena dia tidak pernah berbuat khianat, maka dia pun percaya kalau orang lain pun tidak akan berlaku khianat padanya. Itulah sebuah kedunguan; disangkanya semua kehidupan akan bersifat alamiah seperti air sungai yang mengalir selamanya dari hulu ke hilir atau seperti benda yang jatuh dari atas ke bawah dan tak akan terjadi kebalikannya. Tidak. Dan jangan dungu seperti itu sebab manusia bisa bicara hitam, bisa bicara putih, atau bahkan bicara hitam untuk putih atau malah sebaliknya, bicara putih untuk hitam. Dan karena kita tahu Ki Yogascitra orang dungu, maka dari sudut itu pulalah kita mempermainkannya," kata Raden Yudakara panjang lebar.
Purbajaya termangu-mangu mendengarnya. Ia memuji jalan pikiran pemuda ini yang sanggup menebak "kelemahan" orang lain, namun sekaligus juga bergidik. Ini adalah jalan pikiran yang tak pernah dipikirkan oleh orang yang berpikiran wajar, kecuali atas dasar rencana-rencana jahat.
"Jangan bengong saja. Ayo cepat terima kotak kayu cendana ini dan simpan baik-baik sebab sebentar lagi kau harus segera pergi dari tempat ini," kata Raden Yudakara memotong lamunan Purbajaya.
"Kapan saya harus berangkat?"
"Malam ini juga!"
"Malam ini juga?"
"Ya, mengapa tidak?" Raden Yudakara balik bertanya.
"Rasanya perintah ini terlalu tergesa-gesa..." Purbajaya mengerutkan dahi.
"Jangan kau katakan tergesa-gesa sebab inilah pekerjaan yang mesti dilakukan dengan cepat. Lebih cepat lebih baik sebab sesudah tugas ini, kau punya rencana kehidupan untuk mengukir masa depan," kata Raden Yudakara.
"Apakah itu?" tanya Purbajaya.
"Bukankah engkau akan menikahi Nyimas Wulan? Semakin cepat kau menyelesaikan tugas di Pakuan, maka akan semakin cepat pula kau bersatu dengan kekasihmu," jawab Raden Yudakara.
Itu mengisyaratkan bahwa Purbajaya baru boleh menikahi Nyimas Wulan bila sudah menyelesaikan tugasnya. Purbajaya masih termangu.
"Apa yang engkau pikirkan?"
"Saya mesti bertemu dulu dengan Nyimas Wulan..."
"Gadis itu, biar aku yang urus!"
"Seperti halnya Raden 'mengurus' Nyimas Waningyun tempo hari di Cirebon?" Purbajaya menyindir, membuat Raden Yudakara sedikit terhenyak malu. Pemuda itu melengos ke samping dan tertawa masam.
"Anggaplah aku bersalah padamu karena telah mengambil dan mempersunting gadis pujaanmu. Tapi kau harus ingat kepentingan yang lebih luas. Aku terpaksa menikahi Nyimas Waningyun karena semuanya demi kepentingan kita. Pangeran Arya Damar harus punya ikatan denganku agar kepercayaan yang ia berikan tidak setengah-setengah," kilah Raden Yudakara enteng.
Purbajaya merasa sebal. Setiap Raden Yudakara bicara perihal kepentingannya, selalu dikatakannya sebagai kepentingan "kita".
"Dan apa pula 'kepentingan kita' atas diceraikannya Nyimas Yuning Purnama dari Sumedanglarang itu, Raden?" sindir Purbajaya lagi tak kepalang.
"Oh, ya?" Raden Yudakara garuk-garuk kepala. "Buat apa aku tinggal berlama-lama di wilayah itu? Dengan penguasa di sana aku tidak memiliki persesuaian paham, maka aku ceraikan gadis itu," jawab Raden Yudakara.
Namun rupanya dia merasa kalau jawaban ini tidak memuaskan Purbajaya. Buktinya, pemuda itu melanjutkan bualnya, "Lagian kau harus tahu, Purba, bahwa semua yang aku lakukan tidak semata-mata karena urusan pribadi. Semuanya demi sesuatu kepentingan lebih besar. Kalau aku sudah tak punya kesesuaian paham dengan pihak penguasa, buat apa aku capek-capek punya istri di sana? Ingatlah, bukan cinta yang aku kejar, melainkan ambisi untuk mengejar kedudukan. Perkawinan hanyalah jembatan untuk menghubungkan diri kepada cita-cita sebenarnya sebab pada dasarnya kepercayaan penguasa hanya bisa diberikan melalui jalur kekerabatan. Kau harus tahu itu!" kilahnya.
"Pantas kau bunuh semua orang yang tak mendukung ambisimu, Raden..." gumam Purbajaya.
"Hm, mungkin benar begitu. Namun kematian murid-murid Ki Dita tak berkaitan dengan politik. Mereka mati mungkin karena alasan balas dendam saja. Si Aditia itu membenciku. Syukurlah kau telah membunuh orang itu. Sementara Si Wista, pemuda dungu bernyali kecil itu, pernah mengadu pada ayahandanya perihal keberadaanku. Itu berbahaya. Makanya aku bunuh."
"Keji..." gumam Purbajaya seolah lebih berkata pada dirinya sendiri.
"Tidak keji, sebab itu untuk menjaga keselamatan diri. Kau lihatlah seekor harimau mengoyak-ngoyak tubuh banteng. Kalau dia tak berbuat begitu, maka tubuhnyalah yang dikoyak tanduk banteng yang runcing dan kuat," kilah Raden Yudakara lagi tak habis-habisnya mengeluarkan alasan, sehingga Purbajaya hanya sanggup menghela napas.
"Sudahlah. Kau jangan tanya yang bukan-bukan. Jangan pula bercuriga padaku kalau gadismu takut kuganggu. Yang penting, pusatkan dulu pikiranmu dalam mengemban tugas di Pakuan," kata Raden Yudakara seperti ingin menutup obrolan.
"Tapi paman saya sepertinya ingin mengganggu keberadaan Nyimas Wulan..." kata Purbajaya masih penasaran dan mengingatkan pemuda itu akan "sifat" Ki Jayasena.
"Dia takut padaku. Kalau aku katakan jangan ganggu, dia yakin takkan ganggu. Sudahlah, jangan kau rewelkan perihal perempuan. Aku jamin, bila kau sudah tiba di Pakuan, maka sebentar kemudian kau akan melupakan gadis lamamu, sebab di Pakuan adalah surganya segala kecantikan duniawi," potong Raden Yudakara yang mulai jengkel oleh kerewelan Purbajaya. "Sebentar hari kau akan bermain-main di Taman Milakancana (taman bunga istana Pakuan). Itulah surga dunia," lanjut Raden Yudakara lagi yang amat tak mengenakkan perasaan Purbajaya.
Namun demikian, akhirnya Purbajaya menerima kotak kayu cendana berisi lembaran surat daun nipah yang kata Raden Yudakara amat penting untuk dijadikan pembuka gerbang Pakuan. Purbajaya berdiri dengan tubuh lunglai. Betapa tidak, sebab kepergiannya ke Pakuan tak sempat ia kabarkan kepada Nyimas Wulan. Tentu saja ini menyedihkan. Betapa kelak gadis itu akan kehilangan dan pasti akan merasa sedih.
***
Kalau kau punya teman satu, maka yang bisa dilihat cuma satu. Kalau kau punya banyak teman, maka tak satu pun bisa dilihat. Tapi kalau kau tak punya teman, maka siapa pun bisa dilihat. Ini adalah lantunan ciptaan Paman Jayaratu dan suka ditembangkan di saat santai atau di saat Paman Jayaratu termenung seorang diri.
Purbajaya kurang menyimak apa makna lantunan ini. Kadang-kadang dia pun kurang kerasan mendengarnya sebab tembang itu dilantunkan dengan nada yang kurang enak didengar. Namun di saat Purbajaya dalam kesendirian seperti ini, dia mencoba melantunkannya dengan suara amat perlahan. Nada lantunannya ia coba ubah agar terdengar sedikit merdu seperti tembang-tembang yang biasa didengar di wilayah Pajajaran. Orang Pajajaran kalau menyanyi selalu penuh perasaan, baik tembang-tembang sedih maupun gembira.
Sambil berjalan santai menyusuri jalan setapak dan buntalan pakaian menggandul di bahu, Purbajaya bersenandung menahan sepi. Dendang ciptaan Paman Jayaratu ini semakin dicerna, semakin terasa maknanya. Kalau punya teman seorang, maka kita hanya bisa mengenal luar dalam sahabat yang seorang ini. Purbajaya teringat ketika masih bersama Paman Jayaratu. Dia benar-benar tak mau berpisah dengan orang tua itu sebab Purbajaya menganggap hanya Paman Jayaratulah orang terbaik baginya. Hanya Paman Jayaratu yang sayang padanya dan yang mau mengerti perasaannya. Tak ada orang sebaik Paman Jayaratu.
Demikian pun halnya ketika dekat dengan seorang wanita. Maka wanita itu pula yang ia anggap paling baik. Ketika Purbajaya semakin dikelilingi banyak orang, maka tidak seorang pun perangai dan karakternya ia kenal dengan baik. Mereka bahkan bersaing mendekatinya dengan hati palsu. Atau bisa juga Purbajaya salah memilih karena tak hafal akan karakter sebenarnya. Dan menurut Paman Jayaratu, akan lebih baik bila kita tak memiliki teman, sebab dengan demikian kita akan menilai mereka secara objektif dan orang lain pun menilai kita secara objektif pula.
"Terkadang keberadaan seorang musuh masih lebih berguna ketimbang orang yang mengaku sahabat," tutur Paman Jayaratu ketika itu.