Chapter 70
Menurut orang tua ini, musuh selamanya akan membuat kita waspada dan memaksa kita melakukan introspeksi karena dengan gamblang dan jujur, seorang musuh akan selalu mencari-cari kejelekan kita. Sebaliknya, keberadaan seorang sahabat bisa tak berguna sebab sahabat biasanya tak akan berani atau merasa segan memberitahu perihal kejelekan kita. Terkadang sahabat hanya akan meninabobokan kita dengan hal-hal yang baik saja karena ingin membuat kita senang dan sebaliknya khawatir kalau kita tersinggung oleh kritiknya.
Ya, akhirnya Purbajaya mengerti akan makna lantunan Paman Jayaratu ini. Namun demikian, sampai kini Purbajaya sulit memilih salah satu. Atau barangkali Purbajaya sulit menolak salah satu. Dia butuh cinta dan cinta bisa bersemi melalui persahabatan. Dia pun butuh banyak teman sebab teman yang banyak akan memberinya banyak keragaman dalam berpikir dan bertindak. Sementara kalau Purbajaya tak memiliki teman, rasanya hidup ini hampa. Semuanya memang bisa dilihat namun tak bisa dijamah. Semuanya ada di kejauhan dan semuanya tidak bisa dimiliki. Padahal seperti kata hatinya, semua orang perlu memiliki sesuatu.
Purbajaya memang belum bisa mengimbangi apa yang telah dicapai oleh pemikiran gurunya. Namun demikian, sebagai pengisi sepi, Purbajaya terus berdendang. Sampai pada suatu saat dia menghentikan tembangnya karena jauh di depannya terdengar pula lantunan lain.
"Ketika kau dikalahkan maka hatimu sakit penuh dendam, namun ketika kau menang, kegembiraan tak memiliki kesempurnaan sebab orang yang kau kalahkan hatinya sakit penuh dendam. Maka, berbahagialah orang yang mencapai kemenangan tanpa mengalahkan; dia tak menyakiti ataupun disakiti!"
Purbajaya tertegun. Siapakah yang tengah melantun jauh di depannya? Itu suara lantunan laki-laki. Pelan namun jernih dan kuat. Lantunannya bersahaja namun menggugah rasa. Mengapa pula orang di depannya sama melantunkan tembang? Apakah orang itu mau mengimbangi dan menyainginya? Mustahil. Purbajaya berdendang dengan suara pelan sekali, asal bisa didengar sendiri saja. Mungkin lelaki di depannya secara kebetulan saja berdendang, sama maksudnya sekadar mengusir rasa sepi. Berpikir seperti itu, Purbajaya pun tak ragu lagi melangkah ke depan, namun kali ini dia menghentikan lantunannya.
Sampai pada suatu kelokan jalan, di depannya terlihat seorang lelaki usia lima puluhan duduk bersila di atas batu bundar. Lelaki itu di kepalanya terlihat sorban putih yang ujungnya berkibar-kibar karena tertiup angin pagi. Pakaiannya serba putih dan ditutupi kain lebar sejenis jubah. Purbajaya coba mengingat-ingat, serasa pernah melihat orang berpakaian seperti ini, namun di mana dan kapan, dia tak tahu. Purbajaya tak mau berpikir lama, sebab dia sudah lantas menyapanya dengan sebuah salam yang biasa diucapkan orang yang telah memeluk agama baru. Pakaian yang digunakan lelaki ini biasanya dipakai oleh orang yang telah memiliki agama baru.
"Bapak yang tengah duduk, maafkan saya numpang lewat..." kata Purbajaya hormat sekali karena sorot mata orang itu sungguh tajam berwibawa.
"Silakan lewat. Tapi kalau boleh tanya, engkau anak muda datang dari mana dan hendak ke mana? Sepertinya engkau anak orang berada. Pakaianmu menunjukkan kau golongan santana (masyarakat pertengahan) dan bawaan di gendonganmu rupanya cukup berisikan barang berharga..." tanya lelaki asing ini.
Purbajaya ingin bersikap hati-hati. Banyak orang jahat di sekelilingnya. Dan lelaki asing ini berani menilai keadaan dirinya. Namun Purbajaya tak percaya kalau orang yang punya sorot berwibawa ini hanya seorang penjahat belaka. Apalagi lelaki ini pandai melantunkan syair yang isinya padat penuh filsafat, kendati isinya tidak benar-benar baru. Lantunan syair seperti ini Paman Jayaratu pun pernah mendendangkannya. Bahkan kalau Purbajaya tak salah mengingat, Pangeran Suwarga, Manggala (Panglima Prajurit) Nagari Carbon pun pernah berujar seperti ini.
"Tembangmu bagus, Bapak. Hanya sayang di dalam kehidupan sebenarnya hal itu tak pernah ada," Purbajaya mengkritik lantunan ini.
Mendengar kritik ini, sebentar dahinya terlihat berkerut, namun sebentar kemudian sudah terdengar tawa renyahnya. "Betul. Itu karena orang telah memiliki penyakit bernama ambisi. Orang cenderung ingin memiliki kelebihan dari yang lainnya, maka terjadilah saling kalah-mengalahkan," jawab lelaki berjubah putih dan berjanggut tebal ini.
"Aneh sekali, hampir semua orang berkata kalau ambisi itu penyakit, namun toh dilakukan juga," kata lagi Purbajaya.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, anak muda..." potong orang tua setengah baya itu.
"Saya tak punya ambisi, Bapak!"
"Benarkah?" Sejenak keduanya saling pandang, namun akhirnya Purbajaya mengangguk pasti.
"Kau pernah merasa sakit hati?"
Purbajaya perlahan mengangguk. "Nah, itulah ambisi!"
Purbajaya tercengang, tak mengerti akan ucapan orang tua ini. Purbajaya ikut duduk di sebuah batu lainnya sehingga akhirnya dua orang itu saling berhadapan. "Saya tak mengerti, Bapak..." tukas Purbajaya masih mengerutkan dahi.
"Kau punya kehendak untuk tak disakiti. Mungkin kau pernah ditinggal cinta, maka kau sakit hati. Rasa sakit hati itu muncul karena kau punya ambisi agar cinta tak lepas dari genggamanmu, agar gadis yang engkau cinta selamanya jadi milikmu dan tak ada orang lain yang ganggu. Mungkin kau marah dan benci pada lelaki yang merebut cintamu. Nah, bukankah ini terjadi karena ambisi?" Lelaki itu bicara panjang lebar membuat Purbajaya terdesak karena benar dia pernah sakit hati karena urusan kehendak. Kehendak, bukankah ini pun ambisi?
"Bisakah manusia menghilangkan ambisinya?" tanya Purbajaya sesudah termenung sejenak.
"Mungkin tak bisa. Ambisi itu hawa nafsu. Tuhanlah yang memberinya. Namun Tuhan pun memberi kita sebuah akal. Akal disimpan di otak. Orang bijaksana bisa memainkan perasaan, akal, dan pikiran agar ambisi yang dipunyainya tidak menimbulkan huru-hara dan membahayakan kehidupan. Kau sudah diberi semuanya, tinggal kau pilih bagaimana cara memainkannya agar tak membahayakan kehidupan," kata lelaki itu masih tetap bersila dan bersuara tenang.
Purbajaya menghela napas mendengar uraian ini. Itulah sulitnya. Tidak semua orang sanggup memainkan akal, pikiran, dan perasaannya untuk digunakan secara wajar tanpa membahayakan kehidupan. Terkadang orang hanya memainkan perangkat jiwanya untuk kepentingan pribadinya semata. Dan kalau sudah begini, maka perang ambisi akan timbul di mana-mana dan mencari kemenangan tanpa mengalahkan orang lain adalah bohong belaka.
"Saya ini anak keluarga santana dan buntalan ini berisi pakaian dan kepingan uang logam. Dengan bekal yang cukup ini, saya ingin bertualang ke wilayah barat," kata Purbajaya mencoba memindahkan percakapan dari hal yang ruwet-ruwet.
"Bertualang ke wilayah barat tentu bukan untuk mencari keuntungan dan kesenangan, anak muda..." kata lelaki itu.
Purbajaya kembali menatap penuh selidik. "Ya, bukankah keramaian ada di wilayah timur seperti Carbon, misalnya?" lelaki itu menegaskan dengan nada khusus.
"Saya tak bermaksud berniaga..."
"Kalau begitu, hati-hatilah. Kehidupan niaga penuh tipu daya karena yang dicari hanyalah keuntungan. Kalau perniagaan tidak dilandaskan kepada aturan agama, itu akan membahayakan," kata lelaki itu. "Namun harap kau ketahui, ada jenis tipu daya yang lebih berbahaya ketimbang tipu daya dalam urusan dagang."
"Apakah itu?" tanya Purbajaya melirik.
"Bukankah sudah aku katakan kalau manusia itu penuh ambisi? Jagalah ambisimu agar ketika sampai di wilayah barat kau tidak terperosok ke dalam tindak-tanduk yang membahayakan kehidupan umat," kata lelaki itu amat mencurigai Purbajaya.
"Siapakah Bapak ini? Saya punya keyakinan, Bapak bukan orang sembarangan. Barangkali Bapak sudah mengenal siapa saya sebenarnya," Purbajaya berjingkat dan berdiri. Dia siap menghadapi segala kemungkinan.
Lelaki itu pun ikut berdiri dan jubahnya berkibar-kibar kena tiupan angin pesisir utara. "Kalau ketika berada di wilayah Sagaraherang kau tidak mabuk seperti Raden Yudakara, barangkali kau akan tahu siapa aku," jawab orang itu bertolak pinggang dan tertawa.
Maka terbayang kembali di puri Ki Sunda Sembawa ada lelaki asing mencegat Raden Yudakara, bahkan memukul roboh pemuda bangsawan itu. Purbajaya amat terkejut setelah mengingatnya.
"Anda Ki Rangga Guna?" teriak Purbajaya kaget dan memasang kuda-kuda siap untuk bertempur.
"Hahaha, aku memang Rangga Guna!" jawab lelaki itu.
Dan Purbajaya mengeluh. Belum lagi bergerak memasuki Pakuan, sudah diketahui musuh. Ya, Ki Rangga Guna adalah pencinta Pajajaran. Bagaimana pun, tetap akan menganggap Purbajaya sebagai musuhnya sebab diketahui berkomplot dengan Raden Yudakara. Purbajaya mengeluh. Ki Rangga Guna ini memiliki ilmu kewiraan amat tinggi. Terbukti Raden Yudakara yang pandai, hanya dalam satu gerakan santai saja telah terlontar tak berdaya oleh pukulan Ki Rangga Guna. Urat-urat di tubuh Purbajaya menegang keras. Dia siap menghadapi ancaman baru yang datang dari Ki Rangga Guna. Namun aneh, Ki Rangga Guna hanya tertawa-tawa saja.
"Lanjutkanlah kalau kau mau melakukan perjalanan ke Pakuan," ujarnya membingungkan.
Purbajaya tetap terpaku di tempatnya. "Mengapa masih diam? Katanya mau pergi?" Ki Rangga Guna berkata seperti mengejek.
"Mengapa engkau tidak menahanku, Ki Rangga?" tanya Purbajaya masih bercuriga.
"Karena engkau tengah mengemban misi!" kata Ki Rangga Guna.
"Misiku jahat!" Purbajaya langsung mengaku sebelum dituding orang.
"Tidak, asalkan engkau pandai memilih, anak muda..."
Purbajaya tercengang. Aneh sekali, masa orang Pajajaran membiarkan negerinya disusupi musuh? Sepertinya Ki Rangga Guna mengerti akan isi hati Purbajaya. Buktinya dia berkata dan mencoba menerangkan perihal sikapnya. "Aku memang orang Pajajaran. Namun kuanggap, Carbon pun Pajajaran juga. Paling tidak, penguasa di Carbon adalah keturunan Pajajaran."