Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 71

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 71

Aku menghargai keturunan yang mau mencoba meningkatkan keberadaan dan kebesaran leluhur. Namun, menjaga kebesaran leluhur tidak selalu mesti mengikuti tata cara hidup leluhur. Kalau ada tata cara kehidupan baru yang lebih sempurna dan dijalankan untuk memperkaya kualitas hidup, aku setuju saja. Itu yang aku artikan tentang sikap-sikap Carbon selama ini.

"Tapi..." bantah Purbajaya.

"Ya, aku tahu, ada beberapa orang Carbon yang tergelincir karena ambisi pribadinya. Itulah sebabnya aku katakan, kau harus pandai-pandai di Pakuan kelak. Sekali kau ikut tergelincir, maka tak akan ada maaf bagi petualang-petualang politik," kata Ki Rangga Guna.

"Benarkah perkataanmu, Ki Rangga?" Purbajaya masih tidak percaya akan kesungguhan Ki Rangga Guna.

"Apa maksudmu, anak muda?" Ki Rangga Guna balik bertanya.

"Sebab saya tahu Anda adalah orang Pajajaran yang ingin membela Pajajaran. Jadi, bagaimana mungkin membiarkan bahkan mendorong saya melakukan penyusupan ke Pakuan?" tanya Purbajaya masih belum yakin.

Ki Rangga Guna tersenyum mendengarnya. "Tidak salah. Apa pun yang terjadi, aku tetap orang Pajajaran. Namun, aku pun pernah katakan, hanya kepada orang-orang yang akan merusak, aku akan lawan dan halau; sementara kepada yang ingin membuat Pajajaran menjadi lebih besar, aku akan bantu. Aku percaya kepada Kangjeng Susuhunan Jati dan aku pun percaya kepada pembantunya bernama Pangeran Suwarga," tutur Ki Rangga Guna lagi.

"Benarkah begitu? Lantas bagaimana dengan Raden Yudakara, misalnya?" tanya Purbajaya.

"Aku menentang orang itu sebab ia tidak berdiri di atas kepentingan Carbon, melainkan karena ambisi pribadi semata," tutur Ki Rangga Guna lagi.

"Banyak yang memiliki kepentingan pribadi seperti itu..." gumam Purbajaya sambil mengerutkan dahi, kemudian menundukkan wajah.

"Ya, aku tahu itu. Itulah sebabnya selama ini aku mengawasi mereka. Tujuan-tujuan mulia dari Kangjeng Susuhunan Jati jangan sampai ternoda oleh perilaku petualang-petualang macam mereka."

"Syukurlah Ki Rangga Guna berpikiran seperti itu," kata Purbajaya gembira.

"Ya, pergilah engkau segera sebab perjalanan masih jauh dan marabahaya akan selamanya mengancammu, anak muda..." Ki Rangga Guna berjingkat, sepertinya memberi kesempatan kepada Purbajaya agar segera melanjutkan perjalanannya.

"Engkau bijaksana terhadap negerimu, Ki Rangga..." Purbajaya memuji orang tua itu setulus hatinya.

Mendengar pujian ini, Ki Rangga Guna hanya tersenyum tipis. Dia berpaling dan menatap ke arah barat, ke dataran rendah wilayah Muaraberes nun jauh di sana.

"Kehidupan terus berputar, meninggalkan yang lama dan menghadirkan yang baru. Ibarat sebuah pertunjukan wayang, ki dalang sudah tahu jauh sebelumnya akan rentetan cerita, sehingga dia bisa menjajarkan golek: kapan yang sudah berlakon dan mesti masuk kotak, dan kapan pelakon baru yang mesti naik panggung. Yang baru datang tak perlu sombong dan mencemooh kepada yang lama, dan sebaliknya, yang lama tak perlu dengki melihat kehadiran yang baru," kata Ki Rangga Guna, dan akhirnya dia bersenandung dengan nada-nada penuh perasaan.

Tak akan ada yang baru bila tak ada yang lama,

yang lama peletak dasar kehidupan yang baru,

penerus sejarah yang lama memperjuangkan kesempurnaan,

yang baru menyempurnakan.

Kalau hidup dan mati untuk kebaikan,

maka tak perlu disesalkan yang hidup,

dan tak perlu disesalkan yang mati.

Hidup dan mati sama-sama penuh arti!

***

Mudah diduga kalau Raden Yudakara tidak mau melanjutkan hingga Pakuan. Di wilayah pusat kekuasaan Pajajaran ini, Raden Yudakara sebetulnya tidak terlalu bisa bergerak. Kalau pun dia memiliki pengaruh, itu terbatas di wilayah Pajajaran sebelah timur saja. Sementara di lingkungan dayo (ibu kota), Raden Yudakara tidak berarti apa-apa. Pengaruh yang dia miliki di sana hanya terbatas pada pejabat-pejabat yang sudah berpaling kesetiaannya pada penguasa sekarang.

Ketika Purbajaya tiba di tepian Sungai Cihaliwung (Ciliwung), hari sudah mulai senja. Namun demikian, biduk-biduk kecil tampak hilir mudik membawa muatan barang. Hanya biduk-biduk kecil semata, menandakan bahwa kehidupan perdagangan di perairan tidak seramai manakala muara sungai ini masih dikuasai oleh Pajajaran.

Dulu, semasa Pajajaran diperintah oleh Sang Prabu Sri Baduga Maharaja (1462-1521 Masehi), perdagangan internasional amat berkembang di sini sebab Pajajaran memiliki tujuh pelabuhan penting yang menghubungkan jalur ekonomi laut ke negeri-negeri seberang. Perdagangan internasional ini terus berlanjut sampai Pajajaran diperintah oleh Sang Prabu Surawisesa (1521-1535 Masehi). Hubungan dengan bangsa asing kian dekat, sampai pada suatu saat, situasi ini dianggap tidak menguntungkan Kerajaan Demak.

Sebagai negara yang berhaluan agama baru, Demak memiliki hubungan dagang dengan pedagang-pedagang muslim dari Gujarat. Ketika Pajajaran mengadakan kerja sama dagang dengan Portugis, saudagar muslim ruang geraknya dibatasi oleh bangsa asing itu. Apalagi ketika Portugis menguasai Selat Malaka, para pedagang muslim terputus kegiatannya di Nusantara. Hal-hal semacam ini tentu merugikan Kerajaan Demak.

Itulah sebabnya, Demak yang dibantu Carbon yang sudah memisahkan diri dari Pajajaran, segera menyerang dan merebut Banten, salah satu pelabuhan penting Pajajaran. Mengapa Banten yang pertama kali direbut? Sebab penduduk Banten kebanyakan sudah masuk agama baru, tapi kehidupannya dibatasi oleh Portugis. Maka, Banten mudah direbut sebab penduduknya membantu pihak penyerbu. Demikianlah, Banten menjadi milik Demak dan Carbon pada tahun 1526. Kemudian setahun sesudah itu (1527), Pelabuhan Kalapa (Sunda Kalapa kini) direbut pula oleh Demak dan Carbon dan namanya berubah menjadi Jayakarta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment