Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 72

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 72

Pelabuhan Jayakarta terletak di muara Sungai Ciliwung. Itulah sebabnya, hingga kini, perdagangan Pajajaran hanya sebatas di pedalaman saja. Negeri Sunda ini sudah tak memiliki wilayah pesisir lagi. Sekarang, Sungai Ciliwung hanya digunakan sebagai jalur pelayaran ekonomi lokal. Kendati aliran sungai yang berair jernih ini masih lancar mengalir sampai muara, pedagang Pajajaran tidak melakukan perdagangan hingga ke sana.

Purbajaya sebenarnya tidak banyak diberi bekal penjelasan mengapa ia diperintah melakukan penyusupan ke Pakuan dengan menyamar sebagai *puhawang* (ahli kelautan), sementara kehidupan kebaharian di Pajajaran tidak lagi berkembang seperti masa lalu. Namun, pertanyaan itu segera terjawab ketika dirinya dijemput seseorang di tepian sungai. Ini bukan pertemuan tak sengaja sebab Purbajaya memang telah dijadwalkan untuk dijemput.

Di tepian Sungai Ciliwung, Purbajaya dijemput oleh seorang "tukang perahu".

"Nama saya Jongjo. Saya anak buah Ki Jaya Perbangsa," kata lelaki bertubuh gempal berusia sekitar lima puluh tahunan itu.

Purbajaya menyeberangi Sungai Ciliwung dengan perlahan sebab si tukang perahu terus mengajaknya bercerita.

"Ki Jaya Perbangsa... saya belum mengenalnya," gumam Purbajaya. Seingatnya, Raden Yudakara tidak memberi tahu perihal keberadaan orang ini.

"Nanti kau akan dihubungi beliau. Namun demikian, boleh aku terangkan sedikit," kata Ki Jongjo. "Ki Jaya Perbangsa adalah pejabat di Pakuan, namun punya hubungan erat dengan penguasa Sagaraherang."

"Ki Sunda Sembawa?"

"Boleh dikata, Ki Jaya Perbangsa adalah tangan kanan Ki Sunda Sembawa," ujar Ki Jongjo, membuat Purbajaya bingung. Ia heran, apakah benar Raden Yudakara mengutusnya untuk bergabung dengan kaki tangan Ki Sunda Sembawa, sementara Purbajaya tahu bahwa secara diam-diam Raden Yudakara tidak mengakui dirinya sebagai anak buah Ki Sunda Sembawa.

"Saya akan dibawa ke kediaman Ki Jaya Perbangsa?" tanya Purbajaya lagi.

"Tidak. Kau akan diantar ke puri Yogascitra," jawab Ki Jongjo.

"Memang itu yang telah diatur," kata Purbajaya.

"Engkau memang cocok memasuki lingkungan itu," ucap Ki Jongjo sambil mengayuh pelan.

"Tapi saya sangsi bisa diterima di puri itu, Paman. Kehidupan kebaharian tidak berjalan semenjak semua pelabuhan penting milik Pajajaran dikuasai Carbon. Bagaimana mungkin Ki Yogascitra menerima pegawai baru di bidang kelautan sementara lapangan kerja di bidang itu tidak ada?"

"Kau salah mengira. Sang Prabu Ratu Sakti, penguasa Pakuan, kini malah punya ambisi besar untuk mengembalikan kejayaan di lautan. Pajak semakin berat dan anggaran militer ditingkatkan karena Raja punya cita-cita besar. Kaum *puhawang* tetap diperlukan untuk menghadapi dan mempersiapkan ke arah itu," kata Ki Jongjo memberikan penjelasan, membuat Purbajaya mengangguk-angguk.

"Ayo, cepat mendarat. Sebelum tiba di *jawikhita* (benteng kota luar) kita jangan sampai kemalaman karena gerbang akan ditutup," kata Ki Jongjo sambil mengayuh sampan dengan cepat.

Sesudah sampai di tepi, Purbajaya segera meloncat ke darat. Begitu pun Ki Jongjo; setelah menambatkan perahunya, ia ikut meloncat ke darat.

"Terus menuju arah barat," kata Ki Jongjo sambil melangkah di depan.

Menurut Ki Jongjo, pertahanan *dayo* (kota) Pakuan sangat kuat. Sebelum bisa memasuki wilayah istana, orang harus melewati dua lapisan benteng. Satu bernama *jawikhita*, sebuah rentangan benteng yang melindungi kota luar, dan satunya lagi bernama *dalem khita* (benteng kota dalam), yaitu benteng yang melindungi pusat kota tempat kaum bangsawan, raja, beserta kerabat dan seluruh keluarganya tinggal. Tidak sembarang orang bisa memasuki wilayah *dalem khita* kecuali orang-orang tertentu.

Purbajaya sangat beruntung dijemput sejak awal. Dengan begitu, ia tidak akan kesusahan memasuki wilayah istana. Hanya saja, Purbajaya heran, mengapa yang menjemputnya adalah kaki tangan Ki Sunda Sembawa? Mengapa bukan kaki tangan Raden Yudakara langsung? Atau mungkin Purbajaya tidak perlu pusing memikirkan hal ini karena di antara keduanya sama-sama memiliki tujuan yang sama: meruntuhkan Pajajaran.

Purbajaya memasuki wilayah *jawikhita* tanpa melalui kesulitan yang berarti. Ketika diperiksa di gerbang, Purbajaya memperlihatkan surat daun nipah dari Kandagalante Subangwara yang ditujukan kepada Ki Yogascitra. Penjaga gerbang tidak mempersulit dirinya, bahkan bersikap segan dan amat menghormatinya.

"Malam ini engkau bermalam di rumahku dan esok pagi baru kuantar ke puri Yogascitra," kata Ki Jongjo. Purbajaya hanya mengiyakan.

Di rumah panggung beratap ijuk yang agak terpencil karena letaknya di pojok kampung, Ki Jongjo hidup seorang diri. Ia dikenal sebagai tukang perahu yang memberikan pelayanan kepada para pedagang yang mengangkut hasil bumi dari pedalaman. Menurutnya, ia dulu datang dari wilayah kerajaan kecil bernama Tanjungbarat, yang berada di tepian Sungai Cisadane atau di tepian jalan besar yang menuju wilayah Banten. Tanjungbarat adalah daerah transisi; masih dikuasai Pajajaran, namun pengaruh Banten sudah mulai terasa di sana. Masyarakatnya pun sudah banyak yang memeluk agama baru. Jadi, kalau Ki Jongjo kini bekerja untuk kepentingan kelompok yang ingin menjatuhkan Pakuan, Purbajaya tidak merasa heran.

"Pajajaran memang harus dihancurkan," kilahnya sambil mengepal tinju. Purbajaya hanya menatapnya.

"Penguasa Pakuan yang kini memerintah tidak seperti para pendahulunya. Sang Prabu Ratu Sakti ini selalu menekan kehidupan rakyat dan bertindak kejam. Wilayah-wilayah yang tidak mau membayar *seba* (pajak) diperangi sehingga rakyatnya menderita," tutur Ki Jongjo.

Menurut Ki Jongjo, di wilayah Pajajaran kini sudah sulit melihat orang tersenyum cerah. Tak ada kebahagiaan, tak ada masa depan.

"Kalau kau datang lebih awal, maka engkau akan menyaksikan keramaian pesta tradisi bernama *Kuwerabakti*," kata Ki Jongjo seraya menyodorkan singkong rebus dan air jahe panas kepada Purbajaya. Purbajaya yang perutnya kosong sejak pagi, makan singkong itu dengan lahap.

"Apakah *Kuwerabakti* itu, Paman?" tanya Purbajaya sesudah minum air jahe.

"Itu adalah pesta tradisi tahunan. Setiap tahun, seluruh rakyat dari semua negeri bawahan Pajajaran datang ke Pakuan mengirim *seba* tahunan seusai panen. Maka pada perayaan *Kuwerabakti* seharusnya terjadi keramaian yang sangat besar sebab pada hari itu Pakuan banjir kekayaan hasil bumi, mulai dari ternak hingga kapas, palawija, dan buah-buahan. Ratusan bahkan ribuan *dongdang* (tempat pikulan berisi hasil bumi) akan berbaris menuju alun-alun *jawikhita*. Usungan padi akan diangkut ke *leuit salawe jajar* (lumbung padi dua puluh lima baris). Betapa banyaknya lumbung itu sebab tiap barisnya terdiri dari dua puluh lima buah lumbung padi pula. Dulu lumbung itu terisi semua, kini sudah tidak lagi," papar Ki Jongjo.

"Apakah masyarakat sudah tidak menyukai pesta *Kuwerabakti* lagi, Paman?"

"Bukan begitu. Masyarakat masih menghargai dan merindukan pesta *Kuwerabakti*. Namun yang mereka inginkan, pesta bukan lahir dari paksaan dan tekanan, melainkan dari kegembiraan serta rasa syukur karena keberhasilan dalam bertani. Sekarang hasil pertanian kian berkurang. Rakyat tak tenang dalam mengolah tanah karena selain banyak diganggu peperangan, juga ditekan oleh peraturan pajak yang kian tinggi dan banyak ragamnya," ujar Ki Jongjo.

"Jadi, kalau pun sekarang masih terdapat pesta *Kuwerabakti*, pengorbanan mereka tidak dilakukan sambil tersenyum karena kerelaan, melainkan karena keterpaksaan belaka. Betapa menderita orang yang disuruh berpesta di saat hati risau dan kepercayaan berkurang karena ditekan," lanjut Ki Jongjo, membuat Purbajaya termenung melihat situasi negeri Pajajaran.

"Penguasa di Pakuan menganggap wilayah timur Pajajaran yang amat berdekatan dengan kekuasaan Carbon sebagai wilayah rawan. Setiap saat bisa tergoda untuk memindahkan kesetiaannya kepada penguasa agama baru. Untuk itulah, urusan pajak di wilayah timur memerlukan petugas khusus. Kalau di wilayah-wilayah lain pajak diantar sendiri ke pusat kota, untuk wilayah timur disusul sendiri oleh *muhara* (petugas penagih pajak). Ini karena Raja tak percaya negeri-negeri kecil di wilayah timur mau datang sendiri mengirimkan pajak ke Pakuan. Itulah yang membuat negeri-negeri di wilayah timur geram dan bersepakat mengadakan perlawanan. Kau datang dari wilayah timur, salah satunya adalah untuk memberikan bantuan dalam urusan ini, Purba..." kata Ki Jongjo panjang lebar.

Purbajaya menguap beberapa kali, menandakan kantuk sudah datang menyerang. Lagi pula, dia sudah jemu mendengar tujuan-tujuan perlawanan kepada penguasa Pakuan. Untung Ki Jongjo memaklumi kalau pemuda ini sudah sejak pagi melakukan perjalanan berat. Purbajaya disuruhnya beristirahat di sebuah kamar khusus berdipan.

Purbajaya langsung merebahkan diri. Matanya segera dipejamkan. Namun, kendati lelah dan mengantuk, Purbajaya tidak segera tidur. Ia justru berbaring sambil mencoba mendengarkan suara berkeresek di atas atap rumah. Purbajaya sadar sejak tadi kalau pembicaraannya dengan Ki Jongjo sedang diintip orang. Dia yakin sekali suara itu bukanlah suara ranting pohon, melainkan gerakan tubuh orang yang sedang mengintip. Ki Jongjo mungkin tak menyadarinya sebab lelaki gempal itu sudah terdengar mendengkur. Purbajaya merasa bersyukur Ki Jongjo sudah tertidur pulas. Ini artinya, ia bebas melakukan penyelidikan terhadap si pengintip. Purbajaya terus menunggu saat yang tepat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment