Chapter 73
Dia mencoba menahan kantuknya ketika suara berkeresik kembali hilang dan suasana sunyi untuk waktu yang cukup lama. Purbajaya hampir saja terlelap ketika suara berkeresik itu muncul kembali.
Purbajaya sudah sejak tadi memadamkan pelita minyak kelapa sehingga suasana di dalam kamar gelap gulita. Dengan demikian, bila dia bergerak, si pengintip tidak bisa mengawasinya. Ketika untuk kesekian kalinya terdengar lagi suara ganjil di atap rumah, Purbajaya segera melayangkan pukulan jarak jauh ke atas. Bersamaan dengan itu, Purbajaya melesat ke langit-langit dan tubuhnya menerobos ke atap. Namun, ketika Purbajaya berhasil membobol atap, yang dicari sudah hilang entah ke mana.
Purbajaya celingukan ke bawah. Ternyata di pekarangan ada bayangan yang melesat. Purbajaya langsung meloncat dan mengejar orang misterius itu. Sebentar kemudian, terjadilah kejar-mengejar di malam yang gelap dan sunyi. Purbajaya merasa tingkat kepandaian orang itu berada di bawahnya; buktinya, kecepatan berlari orang itu bisa dia atasi. Semakin lama jarak mereka semakin dekat hingga akhirnya bisa terkejar.
Namun, di tempat yang agak lapang, orang yang dikejar tak berusaha lari. Malah sebaliknya, dia berdiri menunggunya sambil bertolak pinggang dan sepasang kaki terpentang lebar. Sebentar kemudian, terjadilah pertempuran kecil. Purbajaya tak sanggup melihat wajah orang ini. Selain suasana malam yang gelap, wajah orang itu ditutupi semacam cadar dari hidung hingga dagunya. Siapakah orang ini? Purbajaya belum bisa menduganya. Namun, jika orang ini menggunakan topeng, pertanda dia tak mau dikenali, atau bisa juga orang itu merasa kalau Purbajaya sudah mengenali dirinya sebelumnya.
Purbajaya tidak bisa menduga mengapa orang ini mengintai rumah Ki Jongjo. Siapakah yang sebenarnya sedang dia intai? Ki Jongjo atau dirinya sendiri? Untuk mengetahui hal ini, tak ada jalan selain berupaya menangkap orang tersebut. Purbajaya merasa yakin bakal bisa menangkapnya. Dalam pertarungan yang baru berlangsung beberapa jurus, Purbajaya terbukti bisa mendesak lawan. Purbajaya memperhitungkan bahwa dalam beberapa jurus mendatang dia sudah bisa melumpuhkan lawan.
Namun, ketika dia hampir berhasil mengalahkan lawan dengan pukulan ke arah ulu hati, tiba-tiba dari berbagai arah bermunculan beberapa orang yang memakai cadar hitam dan langsung menyerang Purbajaya. Setelah kedatangan lawan-lawan baru yang jumlahnya lebih dari lima orang, situasi berbalik dan Purbajaya didesak habis-habisan. Hanya dalam satu-dua jurus, tubuh Purbajaya jatuh terjengkang terkena tohokan seorang penyerang yang menjotos ulu hatinya. Ketika dia hendak bangkit, serangan lain datang bertubi-tubi sehingga tubuh Purbajaya bergulingan. Perlawanan pemuda ini berhenti sama sekali ketika beberapa senjata tajam sudah ditodongkan ke leher dan dadanya. Purbajaya tak bisa berkutik.
"Berdiri! Ayo ikut kami!" teriak seseorang.
Purbajaya tetap tak bisa mengenali siapa mereka. Satu-satunya cara adalah mengikuti kehendak mereka agar dia tahu ke mana akan dibawa. Purbajaya berdiri dengan perasaan tenang. Dia tahu orang-orang ini tak berniat mencelakainya, kecuali hanya ingin menangkapnya. Namun, Purbajaya menyadari betapa hati-hati dan penuh rahasia tindak-tanduk mereka. Ketika Purbajaya diiringi oleh mereka, sepasang matanya ditutup ikatan kain.
Purbajaya belum hafal seluk-beluk Kota Pakuan, sehingga ketika dibawa dalam keadaan mata tertutup, dia tak bisa menduga dibawa ke mana. Yang dia rasakan, setelah berjalan beberapa lama, tubuhnya dibawa meloncati benteng yang tingginya hampir tiga depa (satu depa kurang lebih 1,698 meter). Hatinya berdebar tegang. Dia menduga dirinya dibawa ke wilayah dalem khita. Mungkinkah dia dibawa ke wilayah benteng kota dalam, tempat para bangsawan, pejabat, dan kerabat istana tinggal? Kalau benar begitu, untuk siapakah orang-orang ini bekerja?
Yang jelas, orang-orang ini tidak akan membawanya kepada Ki Jaya Perbangsa. Jika mereka anak buah Ki Jaya Perbangsa, rasanya tidak perlu memperlakukan Purbajaya seperti itu. Sesudah memasuki benteng, Purbajaya tidak langsung dibawa pergi, melainkan diseret hingga mepet ke dinding benteng. Berjalan lagi beberapa puluh depa, untuk kemudian berhenti dan bersembunyi. Hal itu memperjelas dugaan bahwa gerakan mereka dilakukan dengan penuh rahasia.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Purbajaya merasa dirinya dibawa memasuki sebuah puri milik orang penting di Pakuan. Hal ini dirasakan saat terdengar derit pintu gerbang besar dibuka dan beberapa penjaga menyuruh rombongan agar masuk ke halaman dengan cepat. Mereka berjalan beberapa puluh langkah di atas jalan berbalay, belok kiri, belok kanan, naik ke sebuah anak tangga batu, kemudian berjalan di atas lantai kayu. Sesudah itu, Purbajaya dipaksa duduk di atas sebuah bangku. Purbajaya menunggu beberapa saat sampai akhirnya terdengar langkah kaki berat mendekatinya.
"Coba buka penutup matanya," kata orang yang mendekat pada Purbajaya.
Penutup mata segera dibuka. Purbajaya mengucek-ucek sepasang matanya karena pandangannya terasa kabur. Matanya sulit melihat sekitar, bukan saja karena terlalu lama ditutup, tetapi juga karena ruangan itu suasananya remang-remang. Ada bayangan seseorang berdiri di hadapannya. Wajahnya tidak bisa dikenali dengan baik, namun bentuk tubuhnya terlihat agak gemuk dengan perut buncit.
"Betulkah tadi senja kau bersama Ki Jongjo?" tanya orang gempal itu dengan suara parau.
Untuk sementara Purbajaya diam membisu.
"Jawablah, anak muda!"
Purbajaya masih terdiam.
Plak!
Orang lain yang berdiri di samping si penanya menampar pipi Purbajaya. "Engkau tidak sopan menolak permintaan Juragan!" desis orang itu marah.
"Bagaimana mau jawab, saya tak tahu siapa kalian ini," jawab Purbajaya seraya mengusap pipinya yang terasa pedas.
"Kau tak perlu tahu. Yang jelas, Juragan adalah orang penting di Pakuan ini. Cepat jawab!"
"Ya!"
"Ya apa?"
"Tadi tanya apa?" Purbajaya seolah mempermainkan.
Plak!
Kembali tamparan mendarat di pipi Purbajaya. "Jawab yang benar!"
"Ya, saya tadi bersama Ki Jongjo!"
"Kau sengaja dijemput olehnya?"
"Betul."
"Kau anak buah Ki Sunda Sembawa?"
Purbajaya diam.
"Jawab!"
"Bukan."
Plak!
"Mengapa saya kau tampar terus, padahal saya sudah menjawab apa yang kalian minta!" Purbajaya jengkel karena pipinya terus jadi bulan-bulanan.
"Karena kau tak menjawab dengan benar!"
"Apanya yang tak benar?"
"Kau dijemput Ki Jongjo, tapi tak mengaku kalau kau anak buah Ki Sunda Sembawa!"
"Mustinya saya menjawab bagaimana?"
"Seharusnya kau anak buah Ki Sunda Sembawa, atau paling sedikit kau punya hubungan dengan orang itu."
"Ya, sesukamu sajalah!"
"Maksudmu apa?"
"Kalau kau inginkan begitu, ya aku jawab begitu saja. Bolehlah, aku ini anak buah Ki Sunda Sembawa!"
Orang itu terlihat melayangkan kembali tamparannya, namun kali ini Purbajaya mendahuluinya dengan cepat. Plak! Giliran orang itu yang terkena tampar, bahkan tubuhnya sampai terjengkang karena tak menduga Purbajaya akan balik menyerang. Namun, baru saja Purbajaya menurunkan tangannya, serangan berhamburan dari sana-sini. Sebentar saja terdengar suara bak-bik-buk karena Purbajaya dihujani bogem mentah. Akhirnya tubuh Purbajaya terlontar membentur dinding kayu. Purbajaya hampir dikeroyok lagi kalau saja lelaki gempal itu tidak melarangnya.
"Biarkan dia bicara benar," kata lelaki itu.
Purbajaya disuruh berdiri lagi dan kembali dihujani pertanyaan serupa. "Saya memang bukan anak buah Ki Sunda Sembawa. Hanya saja saya tak tahu mengapa Ki Jongjo menjemput saya," jawab Purbajaya jujur.
"Kalau begitu, siapa yang mengutusmu ke sini?"
Purbajaya berpikir, jawaban mana yang bisa membuatnya tidak dihadiahi bogem mentah lagi. Apakah dia harus bilang diutus Cirebon atau sebagai utusan Raden Yudakara?
"Saya datang dari wilayah Tanjungpura," akhirnya Purbajaya memilih jalan tengah.
"Dari Tanjungpura? Siapa yang mengutusmu?"
"Ki Jayasena," Purbajaya berspekulasi.
"Coba kau sebutkan tujuan Ki Jayasena mengutusmu, anak muda!"
"Bekerja di Puri Yogascitra," jawab Purbajaya pelan.
"Kalau begitu, anak muda ini orang sendiri. Mengapa tidak kau katakan sejak awal?" lelaki gempal itu menepuk-nepuk pundak Purbajaya sambil terkekeh-kekeh.
"Saya harus hati-hati berhadapan dengan orang yang tak saya kenal," kata Purbajaya sedikit menguji kalau-kalau orang itu akhirnya mau membuka identitas dirinya.
"Ya, kau orang sendiri sebab kau adalah utusan Raden Yudakara," kata lelaki itu masih menepuk-nepuk pundak Purbajaya.
Purbajaya kecewa karena orang itu tetap tidak mengungkapkan siapa dirinya.
"Kau hampir saja terperosok ke tangan Ki Jaya Perbangsa. Harap kau hati-hati, jangan sampai terpengaruh oleh orang-orang Ki Sunda Sembawa," kata lelaki gempal berperut buncit itu. "Tapi kendati begitu, kau harus tetap memiliki hubungan dengan Ki Jaya Perbangsa. Kau harus meneliti dan menyelidiki keberadaan orang itu dan sejauh mana hubungannya dengan Ki Sunda Sembawa."
Purbajaya puyeng menyimaknya.