Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 74

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 74

"Ayo, antarkan kembali dia ke tempat semula!" kata orang itu lagi.

Tanpa diberi kesempatan lebih lanjut, mata Purbajaya kembali ditutup. Dia dikembalikan ke tempat semula dengan pandangan gelap karena penutup yang ketat. Baru saja tiba di suatu tempat, bagian belakang kepalanya terasa nyeri akibat pukulan. Purbajaya lunglai dan tak sadarkan diri untuk beberapa saat.

Ia siuman ketika hari sudah siang, itu pun karena banyak orang membangunkannya.

"Hai, Ki Silah, mengapa kau tidur di tengah jalan seperti ini? Minggirlah, sebentar lagi akan banyak roda pedati yang lewat," tutur seseorang keheranan.

Purbajaya bangkit dan celingukan karena dirinya telah menjadi tontonan orang banyak. Belakang kepalanya masih terasa berdenyut-denyut akibat pukulan para penculiknya. Ketika Purbajaya bangkit, kebetulan Ki Jongjo datang ke tempat itu. Tanpa banyak bicara, Purbajaya ditolong berdiri dan segera diajak berlalu dari sana.

Sesampainya di rumah, Purbajaya ditanyai perihal kejadian semalam. Tentu saja Purbajaya tidak berani mengemukakan hal yang sebenarnya. Jika perkataan para penculik bisa dipercaya, maka majikan Ki Jongjo harus diperhatikan secara khusus. Dari kejadian tadi malam, tersirat bahwa kelompok yang ingin menjatuhkan Pajajaran memang tersebar di mana-mana dan masing-masing berdiri sendiri. Raden Yudakara, yang sepintas tampak menjadi bagian kecil dari pergerakan yang dipimpin oleh Ki Sunda Sembawa, nyatanya menjalin hubungan tersendiri dengan pejabat di Pakuan dan sama sekali terpisah dari Ki Sunda Sembawa. Para penculiknya tadi malam mungkin menempatkan diri sebagai sekutu Raden Yudakara. Ini terbukti setelah Purbajaya memiliki hubungan dengan Raden Yudakara, ia dianggap "orang sendiri" dan dilepas kembali.

"Kau pun tahu Paman, kalau tadi malam kita diintip orang tak dikenal. Maka saya kejar dia, tapi kepandaian orang ini sungguh hebat. Dalam pertempuran kecil saya terdesak dan kalah. Mungkin saya dipukul hingga tak sadarkan diri sampai pagi menjelang," kata Purbajaya menyembunyikan sebagian penemuannya.

Mendengar penjelasan ini, Ki Jongjo termangu-mangu. "Kira-kira, siapakah orang atau kelompok itu, Paman?" Purbajaya balik bertanya.

"Mana aku tahu. Sementara maksud dia melakukan pengintaian pun aku tak tahu," jawab Ki Jongjo masih termangu-mangu.

Purbajaya menatap orang tua itu, meski hanya sekilas. Sebetulnya ia ingin mengorek keterangan lebih jauh, namun Ki Jongjo tampak bersikap hati-hati dan menyembunyikan sesuatu.

"Saya khawatir, kehadiran saya sudah diketahui orang-orang Pakuan," gumam Purbajaya.

"Tidak mungkin. Perjalananmu sebenarnya tidak akan dihadang oleh orang-orang Pakuan. Apalagi engkau berbekal surat dari Ki Subangwara, kepercayaan Ki Yogascitra. Yang aku khawatirkan... Ah, mungkin tidak begitu. Sudah pagi, seharusnya kau segera berkemas untuk memasuki puri Yogascitra," kata Ki Jongjo, mengalihkan pembicaraan ke tugas penyusupan.

"Mungkin tidak hari ini, Paman," keluh Purbajaya sambil memijat belakang kepalanya.

"Mengapa?"

"Kepalaku sedikit luka dan rasanya tubuh ini tak enak. Bagaimana kalau malam ini saya diberi kesempatan istirahat lagi di sini?"

Ki Jongjo termenung sebentar, namun kemudian menyetujuinya. Malam itu, Purbajaya kembali bermalam di rumah Ki Jongjo. Namun, tepat seperti dugaannya, Ki Jongjo keluar rumah setelah memastikan Purbajaya telah "mendengkur". Purbajaya pun menguntit Ki Jongjo yang diam-diam memasuki wilayah dalem kota dengan cara melompati benteng.

Purbajaya menduga Ki Jongjo pasti akan menghubungi majikannya, Ki Jaya Perbangsa. Ketika memasuki halaman puri, Ki Jongjo tidak mengalami gangguan berarti sebab penjaga sudah mengenalnya. Purbajaya harus mencari bagian benteng yang penjagaannya tidak ketat. Kebetulan ada pohon sawo di sisi benteng, maka ia pun memanjatnya dan melompat ke sisi dalam.

Dari atas benteng, terlihat Ki Jongjo tergopoh-gopoh menuju bangunan rumah panggung yang besar dan artistik. Setelah memastikan suasana sepi, Purbajaya melompat turun dan menghampiri rumah yang dituju. Dengan hati-hati, ia mengerahkan tenaga dalam, menotolkan ujung jari kaki, dan melambung ke atap sirap. Ia bergerak tanpa suara agar penghuni rumah tidak curiga.

Melalui celah genting sirap yang ia korek sedikit, Purbajaya melihat Ki Jongjo tengah menghadap seorang lelaki berusia empat puluhan dengan wajah gagah dan berkumis tipis. Purbajaya menduga, inilah Ki Jaya Perbangsa, bangsawan Pakuan.

"Jadi begitu, Juragan. Malam tadi Purbajaya diculik sekelompok orang. Namun ketika anak muda itu kembali, ia tak berterus terang memaparkan pengalamannya. Rasanya ada yang ia sembunyikan. Saya malah khawatir, pemuda itu membocorkan rahasia ini kepada pihak lain," kata Ki Jongjo penuh hormat.

Purbajaya terkejut; ternyata Ki Jongjo sudah menduga ia tidak mengatakan hal sebenarnya mengenai pengalaman semalam.

"Kau katakan apa kepada anak muda itu ketika baru kau jemput kemarin sore di tepian Sungai Cihaliwung, Jongjo?" tanya Ki Jaya Perbangsa.

"Saya katakan kalau dia dijemput oleh Juragan," jawab Ki Jongjo pendek.

"Bagaimana tanggapannya?"

"Dia tidak menanggapi hal-hal penting, Juragan. Dengan mudahnya dia menuruti kemauan saya."

"Seharusnya memang begitu. Anak muda bernama Purbajaya itu sejauh ini tidak mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Raden Yudakara dan Ki Sunda Sembawa. Mungkin dia menyangka kalau Ki Sunda Sembawa tetap menganggap Raden Yudakara sebagai pengikut setianya. Tidak. Kalau perjuangan Ki Sunda Sembawa berhasil, Raden Yudakara yang sok tahu itu akan segera disingkirkan," kata Ki Jaya Perbangsa sambil menggerakkan tangan di depan lehernya, sebuah isyarat kematian.

"Tapi..."

"Tapi apa, Juragan?"

"Peristiwa tadi malam yang dialami anak itu, kira-kira apa, ya? Kalau benar dia diculik kelompok tertentu, siapakah kira-kira penculiknya?" tanya Ki Jaya Perbangsa heran.

"Tidakkah itu kelompok Ki Bagus Seta?" tanya Ki Jongjo. Namun, Ki Jaya Perbangsa belum menanggapi perkiraan itu.

"Ataukah Bangsawan Soka?" tanya Ki Jongjo lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment