Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 75

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 75

Pemberontakan terjadi di mana-mana. Di antara para pejabat, terjadi saling curiga, bahkan mereka berlomba-lomba untuk menjatuhkan Raja. Musuh Pajajaran bahkan bukan berada jauh di barat atau di timur, melainkan ada di sekitar pusat kekuasaan.

Menyimak perbincangan Ki Jongjo dan Ki Jaya Perbangsa, hanya menyiratkan betapa dayo (ibu kota) sudah dikepung oleh kelompok-kelompok yang ingin memberontak kepada penguasa. Ada berapa kelompokkah itu? Sulit menghitungnya sebab Purbajaya belum tahu secara persis. Yang jelas, beberapa pejabat Pakuan telah disebut-sebut oleh Ki Jaya Perbangsa sebagai kelompok yang ingin menjatuhkan penguasa, seperti Ki Bagus Seta dan Bangsawan Soka, misalnya.

Ki Jongjo tempo hari mengatakan kepada Purbajaya bahwa Ki Jaya Perbangsa adalah anak buah Ki Sunda Sembawa. Namun, belakangan dari percakapan mereka sendiri ketika diintip Purbajaya, terbukti Ki Jaya Perbangsa sebenarnya menginduk kepada Ki Banaspati. Pengetahuan-pengetahuan ini amat menjelaskan bahwa bahaya yang mengancam Pakuan bukan semata datang dari Raden Yudakara belaka. Kegiatan pemuda bangsawan ini memang mengarah kepada pemberontakan, namun ini hanyalah secuil dari macam-macam bahaya yang akan menerjang Pakuan.

Ki Banaspati, siapakah dia? Di wilayah Sagaraherang, Ki Sunda Sembawa bilang bahwa dirinya dibantu oleh Ki Banaspati. Kalau ingat ini, Purbajaya jadi tertawa masam. Ternyata Ki Sunda Sembawa hanya punya kebanggaan semu. Disangkanya semua orang berdiri di belakangnya, padahal yang terjadi sesungguhnya tidak. Barangkali Ki Sunda Sembawa hanya akan dimanfaatkan oleh siapa saja, baik oleh Ki Banaspati maupun oleh Raden Yudakara.

Bagaimana pula peranan Ki Bagus Seta atau Bangsawan Soka? Purbajaya pusing memikirkannya. Banyak kelompok ingin melawan penguasa Pakuan, tapi masing-masing berjalan sendiri-sendiri karena punya ambisi berbeda. Celakanya, siapa kawan dan siapa lawan, segalanya serba tak jelas. Ambil contoh Ki Sunda Sembawa atau tokoh yang menculiknya kemarin malam. Keduanya sama-sama mengklaim bahwa Raden Yudakara adalah anak buah mereka, padahal Purbajaya pun telah mengetahui bahwa pemuda aneh itu sebenarnya berdiri sendiri. Kalau pun dia selalu mengaku sebagai "bawahan" siapa saja, itu barangkali hanya untuk mendompleng kekuatan.

Persis seperti pemuda itu mendompleng kepada jalan pikiran beberapa pejabat Carbon yang memperlihatkan garis keras dalam menghadapi Pajajaran. Dan berbicara mengenai dompleng-mendompleng, Purbajaya menjadi terkejut dan merasa sebal juga. Bagaimana tidak? Ternyata tanpa sepengetahuan Purbajaya, dirinya telah dijadikan ajang rebutan kelompok pemberontak ini. Mereka ingin Purbajaya bekerja kepada pihaknya sebab dengan menguasai Purbajaya, mereka menyangka bakal bisa menguasai Carbon pula. Ini jalan pikiran gila dan berlebihan. Namun gila atau tidak mereka, nyatanya kedudukan Purbajaya di Pakuan semakin terjepit dan dihimpit oleh berbagai kepentingan ambisi. Ini tentu membahayakan.

Tadinya Purbajaya menyangka, dengan tidak beraninya Raden Yudakara memasuki wilayah dayo, hatinya agak sedikit lega sebab Raden Yudakara tak bisa menekan dirinya secara langsung dan terus-terusan. Namun belakangan sesudah tiba di Pakuan, ternyata yang menekan dirinya kini bukan hanya seorang saja seperti manakala dia dikuasai Raden Yudakara. Ini amat menyebalkan dan membahayakan. Bukan saja berbahaya terhadap dirinya, namun juga amat membahayakan kedudukan Carbon sendiri. Bila Carbon lengah dan terjebak ke dalam jalan pikiran kelompok-kelompok ini, maka misi Carbon yang menginginkan Pajajaran masuk menjadi bagian Carbon tanpa kekerasan apalagi banjir darah, bisa gagal total karena ulah para petualang politik, baik yang berada di luar Pajajaran maupun yang berada di dalam negeri Pajajaran sendiri.

Purbajaya jadi capek memikirkan ini semua. Dengan demikian, dia akan terus terseret arus secara berlarut-larut. Ya, dia pusing memikirkan hal ini. Perjalanannya jadi semakin jauh dan semakin tak menentu. Padahal ketika di Tanjungpura beberapa hari silam, dia masih dibuai cinta kasih dan berahi panas dari tubuh molek Nyimas Wulan. Purbajaya berjanji akan menikahi gadis itu. Dia memang tidak mencintai gadis itu, namun cinta dan tak cinta tak ada hubungannya dengan perkawinan. Tak berarti kalau mencintai maka seseorang bisa sukses menginjak jenjang perkawinan; namun juga sebaliknya, tak cinta bukan berarti tak perlu pernikahan.

Bagaimana boleh, sementara gadis Tanjungpura itu telah menyerahkan segalanya tapi Purbajaya menampik pernikahan? Tidak. Itu pengecut dan tak berjiwa ksatria. Mungkin juga kejam dan keji. Karena itu, Purbajaya harus tetap menikahi gadis itu. Tapi ingat ini, hati Purbajaya malah jadi mengeluh. Dia tak bisa kembali ke Tanjungpura sebelum tugasnya selesai. Kalau tugas tak diselesaikan, Raden Yudakara pasti akan menghukumnya. Namun, sampai kapan pula tugasnya akan selesai? Lantas kalau keadaan kian berlarut-larut juga, sampai kapan Nyimas Wulan masih bisa menunggunya? Sementara gadis itu dijegal kebosanan dalam penantian, di sekelilingnya banyak serigala mengganggunya. Purbajaya tahu, betapa Ki Jayasena yang sudah tua dan gemar kawin-cerai ini menaruh minat kepada Nyimas Wulan. Belum lagi gangguan dari "serigala" lain berwajah Raden Yudakara. Pemuda ini pandai merayu dan mudah mempengaruhi orang. Ingat ini, Purbajaya pun semakin mengeluh. Dia khawatir peristiwa buruk yang mengelilingi nasib percintaannya akan kembali mengganggunya lagi.

***

Esok paginya, Purbajaya diantar secara tergesa-gesa oleh Ki Jongjo untuk menemui Ki Yogascitra. Mengapa tergesa-gesa? Purbajaya sendiri pun tak tahu. Namun dugaan yang paling tepat, barangkali Ki Jongjo khawatir peristiwa penyerangan dari kelompok lain akan terulang kembali.

"Banyak orang tak benar di sini. Agar kau tak terperosok, kau harus sering berhubungan denganku dan jangan percaya kepada omongan orang lain," tutur Ki Jongjo.

Purbajaya hanya mengiyakan saja.

"Tapi, tinggal di puri Yogascitra, engkau akan aman. Memang benar, penghuni puri itu selalu bersikap hati-hati. Namun mereka amat menjunjung tinggi kejujuran. Orang jujur mudah mempercayai siapa pun. Itulah sebabnya kau aman di sana," kata Ki Jongjo memberi tahu sifat-sifat calon majikan Purbajaya.

Akhirnya, Purbajaya dibawa memasuki sebuah kompleks puri yang amat indah dan megah. Puri itu pun demikian bersih dan rapi. Ada beberapa bangunan di sana. Setiap bangunan yang terdiri dari rumah kayu berbentuk panggung diberi atap genting sirap yang hitam mengkilap. Setiap rumah dikelilingi halaman rumput hijau dan taman dengan bunga-bunga indah tumbuh di sana-sini secara teratur.

Ada beberapa sangkar burung di beberapa tempat. Banyak burung hias berloncatan di dahan-dahan buatan yang berada di dalam sangkar. Anehnya, sangkar yang luas itu tidak diberi pintu, atau pintu memang ada namun tidak tertutup rapat, sehingga dengan demikian, burung-burung itu bebas keluar-masuk sangkar. Kalau mau terbang jauh dan tak akan kembali, sebenarnya burung-burung itu bebas melakukannya. Namun nyatanya, binatang berbulu indah itu semuanya tidak mau meninggalkan tempat itu. Ada beberapa yang terbang mengelilingi halaman, namun beberapa saat kemudian sudah kembali ke dalam sangkar dan mematuki berbagai jenis makanan yang ditempatkan di sana. Burung-burung itu nampaknya tak menganggap sangkar sebagai tempat perenggut kebebasan, melainkan menganggapnya sebagai sebuah rumah dan tempat mencari kehidupan sebab di dalam sangkar makanan bertebaran.

Purbajaya menyukai tempat ini; sepertinya penghuninya memiliki hati yang bebas pula. Ini terlihat dari gambaran beberapa patung yang berdiri di sana. Ada patung kayu menggambarkan orang sedang giat bekerja namun dengan wajah ceria. Ada pula patung yang menggambarkan kaum perempuan sedang menenun tapi sambil bersenda gurau. Mereka bekerja dengan kebebasan dan kegembiraan. Kalau patung diukir menggambarkan kegembiraan, maka mudah diduga kalau pembuatnya bekerja dengan hati yang sukacita tanpa paksaan. Kalau orang di dalam puri bekerja dengan penuh kegembiraan, mengapa di luar tembok istana, orang-orang bekerja penuh kegelisahan? Purbajaya dengan mudahnya menuduh bahwa para bangsawan ini kerjanya hanya senang-senang saja tanpa memikirkan kesulitan yang tengah diderita masyarakat di luar tembok istana.

Ini aneh, padahal Purbajaya menerima kabar kalau Ki Yogascitra ini adalah pejabat jujur dan menjunjung harga diri bangsanya. Purbajaya berkesimpulan, kalau orang yang disebut jujur saja sudah demikian, apalagi pejabat yang sudah jelas-jelas hidupnya tidak memikirkan rakyat. Namun entahlah. Kejujuran dan kebaikan satu dua orang pejabat saja memang tidak berarti apa-apa untuk kebesaran sebuah negeri bila kebanyakan pejabatnya bekerja tidak benar.

Purbajaya dan Ki Jongjo harus melewati sebuah gerbang pemeriksaan. Dua orang penjaga memang memeriksa mereka, namun mereka memeriksa dengan ramah dan sopan. Ini di luar "kebiasaan" sebab pengalaman yang sudah-sudah membuktikan bahwa yang namanya petugas keamanan negara biasanya terkesan angker dan kaku, bahkan terlihat tegas dan kasar, seolah-olah tugas mereka begitu amat penting dan setiap kehadiran orang asing perlu dicurigai. Ki Jongjo tidak mengalami kesulitan yang berbelit, begitu pula dengan Purbajaya. Ketika pemuda itu diperkenalkan sebagai seorang puhawang (ahli kelautan), para penjaga terkesan kagum dan amat menghormatinya.

"Juragan Yogascitra amat menghargai orang pandai, tentu beliau senang menerima kehadiranmu," kata penjaga sambil mempersilakan Ki Jongjo dan Purbajaya memasuki sebuah paseban.

Ki Jongjo dan Purbajaya duduk bersila di atas lantai kayu yang mengkilap licin, bahkan hampir bisa digunakan untuk bercermin. Purbajaya pun melihat atap sirap di atas disangga oleh tiang-tiang kayu palem berukir indah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment