Chapter 76
Paseban begitu indah, apalagi rumah kediaman pemiliknya, begitu pikir Purbajaya. Namun, ditunggu cukup lama, tuan rumah yang dinanti tak kunjung menemui mereka. Sesudah merasa penat menunggu, barulah terlihat ada yang datang. Mungkin seorang badega sebab datang dengan tergopoh-gopoh dan ketika melangkah, tubuhnya sengaja dibungkukkan sebagai tanda hormat.
"Ada apa, Paman?" tanya Purbajaya heran.
"Bagaimana, ya..." Badega terlihat gugup.
"Katakan ada apa?" desak Purbajaya lagi.
"Juragan terserang sakit amat mendadak. Terlihat amat mengkhawatirkan," suara badega semakin panik dan gagap.
"Sakit mendadak?" gumam Purbajaya heran.
"Benar. Padahal belum lama beliau tengah sarapan pagi. Secara tiba-tiba wajahnya membiru, pernapasannya seperti tersekat, kemudian muntah-muntah dan pingsan," tutur badega lagi menceritakan peristiwa yang dialami tuannya.
"Coba saya beri kesempatan untuk menengok dan memeriksa," kata Purbajaya.
Namun, sang badega terlihat ragu-ragu.
"Saya sedikit mengerti obat-obatan," ujar Purbajaya sungguh-sungguh karena wajah orang itu penuh kesangsian.
Badega berpikir sebentar, kemudian berkata, "Kalau begitu, bolehlah..."
Selanjutnya, Ki Jongjo dan Purbajaya dibawanya ke sebuah bangunan besar yang dikatakan badega sebagai rumah kediaman pemilik puri. Benar saja, di dalam rumah terlihat sedikit kepanikan. Para badega lainnya hilir mudik melakukan tugas seraya memperlihatkan wajah yang tegang dan khawatir.
"Harap beri izin masuk, tamu ini ahli pengobatan," kata badega yang mengantar Purbajaya masuk, sementara Ki Jongjo tetap tinggal di luar.
Maka masuklah Purbajaya ke sebuah kamar. Di dalam, terlihat seorang lelaki berusia enampuluhan terbaring dengan tubuh kejang-kejang, dikerumuni beberapa orang pria dan wanita. Mereka semua memang tengah merawat lelaki tua itu namun seperti tidak tahu musti berbuat apa.
"Maaf, saya akan mencoba memeriksanya," Purbajaya berinisiatif.
Yang tak berkepentingan disuruhnya keluar, maka di sana tinggallah dua orang muda, lelaki dan wanita. Purbajaya menduga dua orang muda itu tentu kerabat lelaki yang terbaring, yang diduga Purbajaya sebagai Ki Yogascitra, pemilik puri dan pejabat istana Pakuan.
Purbajaya mula-mula memeriksa denyut nadi di tangan. Terasa denyut nadi itu cepat, kencang, serta tidak teratur, menandakan aliran darah orang tua itu bermasalah. Di bagian lainnya, aliran darah malah seperti tersumbat karena mengental dan membiru.
"Dia terkena racun," kata Purbajaya dalam hatinya.
Karena tidak terlihat luka di luar, Purbajaya merasa yakin kalau racun yang memasuki tubuh Ki Yogascitra terjadi melalui makanan.
"Tolong perintahkan pembantu agar menumbuk bawang putih sebanyak-banyaknya, peras airnya, dan bawa ke sini," kata Purbajaya sibuk namun bersikap tenang.
Tidak berapa lama kemudian, apa yang diminta Purbajaya pun tersedia. Maka Purbajaya mencoba menyuapkan air perasan bawang putih ke mulut Ki Yogascitra. Tentu saja sulit, apalagi rasa air perasan bawang putih sungguh pedas dan pengar. Namun, Purbajaya memaksa agar orang tua itu mau meminumnya sedikit demi sedikit.
"Kalau cairan ini habis, harap berikan air garam yang dicampur gula aren sebanyak-banyaknya," kata Purbajaya lagi sambil menyuruh pembantu agar segera menyiapkannya.
Selang beberapa saat, tubuh Ki Yogascitra sudah tidak kejang-kejang lagi. Begitu pun wajahnya tidak membiru. Itu menandakan racun sudah bisa diusir dari aliran darah. Sekarang pejabat tua itu terlihat pulas dalam tidurnya.
"Terima kasih, Adikku, kau amat baik telah menolong Ayahanda dari penyakit yang amat mendadak ini," kata seorang pemuda tampan yang ditaksir usianya sekitar delapanbelas tahun.
Sementara di sampingnya duduk seorang gadis berusia enambelas tahun. Dia tersenyum manis dan wajahnya penuh rasa terima kasih kepada Purbajaya. Purbajaya terpana. Sejak tadi memang dia tahu di ruangan itu duduk bersimpuh seorang gadis, tapi Purbajaya tidak menyangka di samping pemuda yang amat tampan itu juga terdapat seorang gadis yang sulit diukur kecantikannya. Dada Purbajaya berdebar dan serasa hampir berhenti. Mengapa ada pohaci turun dari langit tanpa memberi tahu?
Kalau Purbajaya pernah bertemu bidadari, maka kecantikan bidadari tidak bisa mengimbangi keelokan paras wajah gadis itu. Nyimas Waningyun mungkin cantik, begitu pun Nyimas Yuning Purnama atau Nyimas Wulan. Namun, dibandingkan dengan kecantikan gadis yang kini duduk bersimpuh di hadapannya dan tersenyum sejuk menawan seraya menatapnya, semuanya tidak berarti. Kecantikan dan keelokan seluruh gadis yang telah dia kagumi digabung menjadi satu, masih tetap tidak bisa mengalahkan kecantikan gadis puri Yogascitra ini.
Purbajaya menghela napas seraya memuji nama Tuhan, betapa Tuhan demikian berkuasa dan bermurah hati menurunkan wajah demikian elok kepada yang bernama wanita. Purbajaya menunduk dibuatnya.
"Perkenalkan, saya bernama Banyak Angga dan adikku ini adalah Nyimas Banyak Inten," kata pemuda itu membuat Purbajaya malu dan terkejut karena sejak tadi sebenarnya pemuda itu memperhatikan dirinya yang tengah terbengong-bengong menatap paras gadis cantik itu.
Purbajaya tersipu dan memerah wajahnya karena malu dipergoki oleh pemuda itu.
"Nama saya Purbajaya. Saya datang dari wilayah Tanjungpura untuk melamar pekerjaan sebagai puhawang, sesuai dengan bidang yang ditangani Juragan Yogascitra," kata Purbajaya masih tersipu saking malunya.
Wajah Purbajaya tertunduk, bukan karena kepura-puraan, melainkan karena segan dan hormat kepada pemuda tampan ini. Dia hormat bukan karena keduanya anak pejabat, melainkan karena mereka demikian ramah dan sopan kepadanya.
"Tapi saya sungguh amat menyinggung perasaan kalian. Saya bertamu di saat yang tidak tepat," ujar Purbajaya merendah.
"Tidak, tidak mengganggu. Bahkan kami berdua merasa bersyukur, di saat gawat menimpa Ayahanda, kami kedatangan seorang ahli pengobatan. Kami heran, Ayahanda begitu mendadak terserang penyakit aneh. Kalau Ayahanda tidak menderita sakit begitu, beliau sebenarnya tidak sulit menerima kehadiran tamu," kata Banyak Angga tetap ramah dan sopan.
Purbajaya hampir saja mengatakan kalau Ki Yogascitra menderita sakit karena keracunan makanan, namun hal ini diurungkannya. Dia tak mau sembarangan berkata karena takut ada seseorang yang merasa ditekan atau dicurigai. Purbajaya yakin ada seseorang yang menaruh racun dengan niat membunuh pejabat tua itu. Apakah para pekerja dan pembantu di puri ini? Kalau benar begitu, pejabat ini pasti punya musuh yang berniat melenyapkannya. Purbajaya akan menyelidiki, namun secara diam-diam.
"Saya ingin mengatur jenis makanan yang hari ini boleh atau tidak boleh dimakan oleh Juragan. Jadi, kalau diizinkan, saya ingin mengunjungi dapur. Dan mohon pula sisa makanan yang tadi pagi dimakan Juragan diberikan kepada saya," kata Purbajaya.
Dengan senang hati, baik Banyak Angga maupun Nyimas Banyak Inten mengangguk mengiyakan. Penganan pagi yang dimakan Ki Yogascitra diperiksa Purbajaya. Sejumput makanan sisa dilemparkan ke sudut berumput yang didatangi banyak semut. Semut biasanya akan menghampiri makanan, namun kali ini malah menjauh. Itu menandakan semut curiga kepada makanan tersebut. Purbajaya yakin, kalau makanan itu diberikan kepada anjing, kucing, atau ayam, mereka pasti akan mati kena racun.
Sekarang tugas Purbajaya adalah meneliti secara diam-diam, siapa yang menaruh makanan beracun ini. Kalau memang merupakan musuh Ki Yogascitra, maka Purbajaya ingin tahu, berada di pihak mana musuh itu. Yang pertama kali musti diselidiki tentu saja juru masaknya. Namun, juru masak di sana adalah seorang perempuan tua yang sudah puluhan tahun mengabdi di puri itu. Susah untuk mencurigainya berlaku jahat kepada tuannya. Begitu pula dua orang petugas pengantar makanan yang juga perempuan tua dan telah mengabdi amat lama.
"Tapi makanan pagi ini, Ki Bonen yang antar..." kata petugas dapur.
"Siapa Ki Bonen?" tanya Purbajaya.
"Dia petugas di sini juga, hanya tidak mengurus makanan. Kebetulan saja dia menghadap Juragan karena tadi malam Juragan ingin mengatakan sesuatu," kata petugas dapur.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanyanya heran karena Purbajaya banyak bertanya.
"Tidak. Saya ini juru obat. Selama Juragan sakit, saya ingin mengatur jenis makanan yang cocok untuk beliau," jawab Purbajaya untuk menepis kecurigaan pegawai puri.
Namun secara diam-diam pula, Purbajaya meneliti. Penyelidikan hampir buntu sebab Ki Bonen waktu itu juga menyerahkan makanan kepada Nyimas Banyak Inten. Jadi, siapa di antara mereka yang menaruh racun? Ki Bonen jelas tak punya waktu untuk melakukan hal itu.
"Hai, Direja ke mana?" tanya Ki Bonen sambil menoleh ke sana ke mari.
"Cari siapa?" tanya Purbajaya heran.
"Ki Direja. Den Banyak Angga ingin titip surat untuk Nyimas Layang Kingkin," jawab Ki Bonen.
Purbajaya walau selintas ada melihat seorang lelaki yang tergesa-gesa meninggalkan tempat itu tadi pagi. Tidakkah dia yang bernama Ki Direja? Tapi, mengapa orang itu pergi tergesa-gesa?
"Apakah Ki Direja bekerja di sini?" tanya Purbajaya.
"Tidak. Dia pegawai di puri Ki Bagus Seta."
"Ki Bagus Seta?"
"Beliau pejabat di Pakuan juga. Punya anak gadis cantik bernama Nyimas Layang Kingkin. Den Banyak Angga menaruh hati pada gadis cantik itu dan kerap kali melayangkan surat daun lontar melalui perantara," kata Ki Bonen.
"Apakah Ki Direja yang jadi perantaranya?"
"Tidak selalu. Namun, dia cukup sering juga ke sini sebab Nyimas Layang Kingkin pun sering mengirimkan surat untuk Den Angga."