Halo!

Kemelut Di Cakrabuana - Chapter 77

Memuat...
Kemelut Di Cakrabuana

Chapter 77

"Ki Direja tadi pagi pun dipanggil Nyimas Banyak Inten sebab Den Angga menitipkan surat melalui adiknya pula," kata Ki Bonen. "Penganan untuk Juragan Yogas sementara ditinggal di meja sebab Nyimas mengambil dulu surat," lanjutnya.

"Kau lihat penganan untuk Juragan ditinggal begitu saja di atas meja?" Purbajaya mengerutkan dahi.

"Ya. Ada yang aneh?"

"Ah... tidak! Tapi saya ingin tahu apakah penganan untuk Juragan tidak kemasukan debu, misalnya?"

"Saya rasa tidak. Begitu Ki Direja datang, Nyimas hanya pergi sebentar dan kembali lagi membawa surat. Penganan langsung dibawa masuk," kata Ki Bonen lagi.

Purbajaya termangu-mangu.

"Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Seperti yang tadi kukatakan, saya hanya ingin memastikan kalau makanan itu tidak kena debu ketika ditinggal di atas meja."

"Ah, pegawai kami mencintai kebersihan. Di rumah Juragan tidak pernah ada debu menempel," ujar Ki Bonen seolah tersinggung dengan ucapan Purbajaya.

"Maafkan, saya hanya ingin agar makanan yang diberikan kepada Juragan benar-benar terpilih dan terjamin kesehatannya," kata Purbajaya ketika melihat Ki Bonen agak mengerutkan dahi.

Setelah Purbajaya bicara begitu, kerut di dahi Ki Bonen pun hilang. Ki Bonen berlalu, dan kini giliran Purbajaya yang mengerutkan dahi. Dia merasa ada hal mencurigakan pada diri Ki Direja. Untuk itu, Purbajaya harus menyelidikinya.

Purbajaya berjalan kembali menuju tempat Banyak Angga dan Nyimas Banyak Inten berada. Banyak Angga dengan hati tulus mengucapkan terima kasih atas susah payah Purbajaya dalam membantu kesembuhan ayahnya.

"Saya berjanji akan membantumu sehingga ayahanda tidak ragu dalam menerima kehadiranmu, Adikku," kata Banyak Angga sungguh-sungguh. "Inten, jangan diam saja. Kau cepat haturkan terima kasih padanya," Banyak Angga menyikut lengan adiknya yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum.

"Terima kasih, Saudara Purba, karena Ayahanda telah kau sembuhkan," kata Nyimas Banyak Inten pelan namun terdengar merdu.

Purbajaya menganga melihat gerakan mulut mungil yang merah merona itu. Karena ditatap sedemikian rupa, wajah Nyimas Banyak Inten bersemu merah dan ia cepat-cepat menunduk.

"Saya tidak melakukan apa-apa, tak patut rasanya ucapan terima kasih ini..." Purbajaya berkata gagap karena hatinya kacau setelah melihat mulut mungil itu.

"Tidak, engkau amat berjasa kepada kami. Kalau tak ada engkau, bagaimana pula nasib Ayahanda," puji Banyak Angga dengan tulus.

Sejenak Purbajaya bimbang. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa Ki Yogascitra telah diracuni orang dan dia mencurigai Ki Direja. Namun, penemuan ini tidak mungkin ia katakan kepada mereka. Banyak Angga tampaknya amat menginginkan hubungan baik dengan keluarga Ki Bagus Seta. Purbajaya tahu, Banyak Angga mendambakan Nyimas Layang Kingkin. Itulah sebabnya, Purbajaya tidak bisa mengganggu perasaan pemuda itu dengan mengatakan bahwa pegawai dari puri Bagus Seta telah berupaya meracuni ayahnya.

"Di sekeliling kita banyak hal bermanfaat, namun tak kurang pula yang membahayakan diri kita sendiri, makanan misalnya..." kata Purbajaya menyiratkan sesuatu yang entah dimengerti atau tidak oleh Banyak Angga dan adiknya. Yang jelas, keduanya terlihat menganggukkan kepala.

"Saya ingin mohon diri. Ki Jongjo, mari kita pulang," kata Purbajaya seraya menoleh ke arah Ki Jongjo yang sejak tadi hanya diam menyaksikan tingkah Purbajaya.

"Bukankah engkau akan melamar pekerjaan kepada Ayahanda?" tanya Banyak Angga kecewa.

"Tentu, namun tidak hari ini saat Ayahandamu sedang mengalami gangguan," jawab Purbajaya.

"Lekaslah datang lagi ke sini, kau pasti aku bantu menghadap Ayahanda," kata Banyak Angga sungguh-sungguh.

"Terima kasih. Saya pasti segera mengunjungimu," jawab Purbajaya menunduk. Ia kemudian bergegas mengundurkan diri dari tempat itu karena dadanya berdebar keras setelah beradu pandang dengan Nyimas Banyak Inten.

***

"Kau nampaknya amat memperhatikan keselamatan jiwa pejabat tua itu, Purba. Hati-hati, jangan terlalu mencampuradukkan perasaan pribadi dalam urusan ini," Ki Jongjo memperingatkan ketika mereka sudah tiba di rumah.

"Saya tidak bermain dengan perasaan," jawab Purbajaya mencoba mengelak.

"Kau mati-matian menyelamatkan jiwa Yogascitra," Ki Jongjo tetap penasaran.

Purbajaya menatap tajam kepada Ki Jongjo. Terkesan sekali seolah Ki Jongjo menginginkan Ki Yogascitra tidak tertolong.

"Kita harus punya kesepakatan pendapat. Carbon menugaskan saya bekerja pada pejabat puhawang (pejabat urusan kebaharian). Supaya bisa diterima dengan baik, maka saya harus mencari jasa," kilah Purbajaya.

"Bagus kalau begitu. Tapi sekali lagi aku ingatkan, kita tidak berusaha keras agar pejabat tua itu selamat. Tujuan kita bukan menjaga keselamatan keluarga itu. Bahkan, mungkin suatu waktu kita ditugaskan melenyapkan nyawa mereka karena dalam upaya merebut kekuasaan Pakuan, mereka adalah tulang punggung negara. Pakuan susah direbut selama keluarga Yogascitra masih ada," kata Ki Jongjo.

Purbajaya menatap tajam ke arah Ki Jongjo. Dalam satu dua hari bersamanya, sudah terlihat bahwa orang ini bukanlah rakyat biasa, apalagi sekadar tukang perahu. Mungkin di kalangan pemberontak, Ki Jongjo adalah orang penting. Benar saja, malam harinya, Ki Jongjo bercerita bahwa ia dulu adalah prajurit setia di istana. Namun, puluhan tahun mengabdi, hidupnya tak pernah baik karena ia tidak suka menjilat atau mencari-cari jasa.

"Aku sakit hati, kesetiaanku kalah oleh kelompok penjilat," gumam Ki Jongjo.

"Mungkin yang menerima pangkat tinggi hanya yang memiliki kepandaian tertentu saja," ujar Purbajaya.

Ucapan itu menambah kepedihan orang tua tersebut. "Aku akui, kepandaian berpikir dan lahiriahku memang di bawah mereka. Tapi apakah kesetiaanku tidak mereka hargai? Sekarang terbukti, tanpa kesetiaan dan kejujuran, negara sebentar lagi akan runtuh."

Malam itu, Purbajaya sulit tidur. Ucapan Ki Jongjo terus terngiang. Memang benar, negara membutuhkan orang pandai, namun apalah artinya kepandaian tanpa kejujuran dan kesetiaan? Namun, jika kesetiaan dan kejujuran hanya diberikan karena mengharap balasan, maka ketika balasan itu tidak datang, orang akan berbalik merongrong negara seperti yang dilakukan Ki Jongjo.

Purbajaya merenung, bukankah kesalahan Ki Jongjo adalah mengartikan kesetiaan sebagai barang dagangan? Jika tidak dibeli, maka tidak diberikan. Harusnya kesetiaan dan kejujuran diberikan tanpa syarat.

Purbajaya masih tidak bisa memejamkan mata. Bayangan gadis dari puri Yogascitra kembali muncul. Nyimas Banyak Inten rupanya bukan hanya memiliki kecantikan wajah, namun juga cantik dalam perilaku. Jika Nyimas Waningyun, putri Pangeran Arya Damar, terlihat periang dan terkadang bawel, Nyimas Banyak Inten justru sosok yang pendiam dan tidak sembarangan mengeluarkan perkataan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment